
Keesokan harinya, Kamal benar-benar datang kembali ke rumah Kalila. Pemuda itu menepati janjinya untuk datang bersama Paklek. Adik almarhum Bapaknya yang tinggal di Surabaya.
Kedua lelaki itu kini sudah duduk di sofa. Berhadapan dengan Bapak dan Ibuku. Aku memakai gamis terbaik. Mengoleskan bedak, dan lipstik agar tampak cantik.
Entah kenapa hatiku tak berhenti berdetak cepat. Apa begini rasanya dilamar lelaki. Hati jadi dag dig dug tak karuan. Keringat dingin membasahi kedua telapak tangan.
Setelah saling berkenalan Paklek dan Bapak saling berbasa-basi perihal pekerjaan, berita-berita terkini, menanyakan aktivitas Mas Kamal. Mereka bertiga terlibat dalam suatu prolog yang menurutku sangat membuang waktu
"Ayo silahkan di minum dulu teh nya."
Ujar Ibu mencairkan suasana yang nampak tegang.
Mas Kamal meneguk teh di hadapan. Begitu juga dengan Paklek Hasan.
"Jadi kedatangan saya dengan paklek kesini bermaksud melamar Kalila Pak"
Ucap Mas Kamal.
"Sebelumnya saya ingin mengatakan dulu kepada Bapak, Ibu bahwa status saya adalah duda cerai hidup. Saya harap status saya ini tidak menjadikan suatu keberatan bagi Bapak dan Ibu."
Lanjut Mas Kamal hati-hati.
Aku menunduk. Meremas kedua tangan menunggu jawaban dari Bapak.
"Bapak tidak keberatan dengan status Nak Kamal. Begitu juga dengan Ibu. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada Kalila saja Nak Kamal, kalo dia mau ya monggo. Bapak juga setuju."
Bapak melihatku yang tengah duduk si samping ibu.
"Gimana nduk?"
Tanyanya.
"InsyaAllah Pak."
Jawabku pendek. Rasa hati begitu bergetar.
"Alhamdulillah."
Paklek berujar sembari merangkul ponakannya.
"Saya hanya meminta satu kepada Nak Kamal. Jaga dan bahagiakan Kalila dengan baik. Ingatkan dia apabila melenceng. Sayangi dia dengan sepenuh hati."
Kulihat Bapak menghela nafas dalam. Seolah bwgitu berat untuk melepas anak semata wayangnya ini.
__ADS_1
Aku menggenggam tangan ibu yang tengah menitikkan air mata bahagia. Inilah hari yang begitu beliau tunggu. Merelakan anak gadisnya untuk dipinang oleh seorang lelaki pilihannya.
Mas Kamal menatapku dengan bahagia. Sejenak netra kami beradu. Senyum merekah dari masing-masing bibir kami.
Terima kasih Ya Allah!
Batinku tiba-tiba gerimis. Sungguh hari ini adalah hari yang membahagiakan dalam hidupku. Allah mengabulkan doa hambanya di saat yang tepat.
Selamat tinggal Azzam. Akan kututup rapat-rapat kisah kita. Lembaran baru sudah menanti kehidupanku dan akan kuisi dengan kebahagiaan bersama Mas Kamal.
Pembicaraan dilanjutkan dengan memiilih tanggal akad. Ijab qobul akan dilaksanakan 2 bulan lagi. Acara pernikahan di adakan di rumahku dan ibu akan mengaturnya sendiri. Aku dan Mas Kamal sepakat untuk tidak menggelar pesta mewah, hanya kecil-kecilan saja. Dengan mengundang kerabat dan teman-teman dekat.
****
[Assalamualaikum, Kalila aku sudah di depan ya]
Segera kubalas pesan itu.
[Waalaikumsalam Ya Mas, ini masih tapping]
Hari ini Mas Kamal menjemputku pulang kerja. Kami berencana mencoba gaun pengantin yang dipesan di sebuah butik di dekat kampus tempat Mas Kamal mengajar.
Kulihat jam di ponselku. 17.25
Terlihat antrian karyawan yang akan tapping out pabrik lumayan ramai. Wajar karena ini Jumat, jadi semua orang ingin segera sampai ke rumah. Menikmati akhir pekan bersama keluarga. Aku bergegas mengambil antrian di antara mereka.
Kulihat lelaki itu sudah berdiri di samping mobilnya. Mas Kamal melambaikan tangan ke arahku seraya melempar senyum manis ciri khasnya. Aku membalas dengan senyuman yang tak kalah manis untuknya.
"Maaf ya Mas lama,"
Ujarku.
"Nggak apa."
Mas Kamal membuka pintu mobil untukku.
"Let's go, udah gak sabar lihat baju pengantin."
Senyumnya kembali merekah.
Sesaat kemudian mobil hitam itu melaju meninggalkan pabrik tempatku bekerja. Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke tempat itu. Sepanjang perjalanan kami mengobrol santai sesekali bercanda dan tertawa bersama. Mas Kamal adalah pemuda yang humoris. Di sampingnya aku selalu terbawa ceria. Kami bercerita tentang kehidupan rumah tangga seperti apa yang kami inginkan masing-masing. Perkenalan yang lumayan singkat memang membuatku belum begitu mengenal sosok Mas Kamal. Namun dari sikap dan perilakunya, aku tahu betul bahwa lelaki ini adalah orang yang sangat baik. Tidak neko-neko dan seserhana. Wawasan agama dan pengetahuan sangat luas. Hal itu yang membuatku suka dengan dirinya.
"Kalila kita maghriban dulu di Masjid depan ya."
__ADS_1
Titah Mas Kamal.
"Iya Mas,"
Mas Kamal segera membelokkan mobilnya ke halaman masjid.
Setelah kuda besi itu terparkir sempurna, kami bergegas melangkah ke serambi masjid.
Aku berpisah dengan lelaki itu di serambi, Menuju ke arah tempat wudhu yang sudah disiapkan untuk pria dan wanita.
"Ups...maaf mbak!"
Aku bertabrakan dengan seorang wanita di ruang wudhu.
"Iya nggak apa-apa."
Jawabnya sambil tersenyum menatapku. Kemudian berlalu dari hadapan.
"Cantik sekali." Gumamku lirih.
Segera kuambil wudhu. Setelah itu bergegas melangkah kembali ke shaf wanita.
Kulihat shaf wanita begitu padat. Ada lima orang wanita termasuk diriku yang tidak kebagian tempat. Akhirnya aku memilih untuk menunggu sampai kloter pertama selesai.
Sepuluh menit kemudian, jamaah pertama sudah menyelesaikan sholatnya. Aku segera mengambil mukena dari lemari yang ada di pojokan ruang shaf wanita. Kemudian melaksanakan sholat tiga rokaat itu.
Saat sholat usai, kulantunkan doa dengan begitu khusuk. Salah satunya adalah doa agar acara pernikahanku nanti dilancarkan oleh Allah.
Usai berdoa, aku melipat mukena dan mengembalikan ke tempat semula. Kurapikan hijabku di depan kaca yang menempel di dinding masjid. Memulas bibir dengan lipstik tipis dan meangplikasika bedak ke wajah. Agarbterlihat cantik dan segar di hadapan Mas Kamal.
Setelah itu melangkah keluar menuju serambi masjid.
Sepertinya Mas Kamal sudah lama menunggu. Karena aku sempat melihat dia berada di barisan jamaah pertama sholat. Jadi dia pasti sudah lebih dahulu menyelesaikan solatnya darioada aku
Saat tepat di pintu keluar shaf wanita.
Dari jauh kulihat lelaki itu berbincang dengan seorang wanita. Dan sepertinya wajah itu pernh aku lihat. Ya dia ternyata perempuan itu adalah seseorang yang bertabrakan denganku di tempat wudhu tadi. Dari gesture mereka aku dapat melihat, mereka tengah membicarakan sesuatu yang serius.
Deg!
Tiba-tiba hatiku memanas. Aku cemburu.
Siapa wanita itu. Aku bahkan tak pernah melihatnya di kampus tempat Mas Kamal mengajar. Yang jelas wanita itu bukan teman sesama dosen Mas Kamal.
__ADS_1
Aku memutuskan menghentikan langkahku. Berbalik ke shaf wanita. Bersembunyi di balik pintu sembari mengamati mereka berdua dari kejauhan.
Ada apa sebenarnya, apa yang tengah mereka bicarakan sehingga raut wajah Mas Kamal berubah, tak seperti biasanya.