Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 65


"Aku sakit, Lis. Aku lupa ingatan, aku benar benar tidak ingat semuanya waktu itu."


"Kenapa kamu tega sama aku? Apa kamu tidak bisa menunggu aku sampai sembuh?"


"Menunggu? Aku sudah menunggu kamu dengan sabar mas Rendy. Tapi kesabaran orang itu ada batasnya."


"Apalagi melihat kamu berjalan dengan Dilla sangat mesra. Tidak hanya itu, bahkan Dilla kemarin juga mendorong aku hingga terjatuh. Masih untung bayi dalam kandunganku kuat. Sehingga tidak terjadi apa apa."


"Coba bayangkan jika aku sampai keguguran. Apa itu bukan pembunuh namanya?"


"Apa? Kamu hamil?"


'Deg.'


Astaga, kenapa juga aku harus bilang jika aku sedang hamil. Gawat, masalah ini pasti akan bertambah panjang.


"Kamu bilang kamu sedang hamil, Lissa?"


"Ehm, i... iya."


"Bukannya kamu sama dia baru menikah? Tapi kenapa sudah hamil? Perutmu juga sudah kelihatan agak besar."


"Kamu hamil berapa bulan, Liss?"


"Itu bukan urusan kamu. Maaf mas Rendy, ibu, kami harus pamit karena ada urusan."


"Tunggu Liss, kamu jangan menghindar begitu saja."


"Jangan jangan anak yang ada di perutmu itu adalah anakku?"


"Ka.. kamu ngomong apa sih, mas? Aku nggak ngerti maksud kamu apa."


"Kok aku jadi ngerasa itu anakku. Kamu jujur saja, Liss."


"Apa kamu lupa, aku sering ngelakuin hubungan intim ke kamu? Aku juga yang pertama kali dapatkan perawan kamu."


"Maaf mas Rendy, ini anak dari mas Rohman."


"Jika benar begitu adanya, apa kamu bersedia test DNA jika anak itu sudah lahir?"


"Apa?"


"Kenapa kamu terkejut, Liss. Aku hanya mau buktikan saja jika itu bukan anak ku."


"Aku permisi dulu, ayo mas Rohman kita pulang saja."


Aku dan mas Rohman bergegas pergi meninggalkan Rendy dan juga ibunya. Kali ini aku benar benar sedang menghadapi masalah besar. Aku bingung harus bagaimana.

__ADS_1


Jika nanti terbukti bahwa anak ini adalah anak dari Rendy, pasti dia akan memintanya. Tapi tidak mungkin juga ini anak dari mas Rohman. Karena dia mandul. Dan akupun menikah dengannya baru beberapa hari. Sedangkan usia kandungan ini sudah menginjak tiga bulan.


Astaga, cobaanku tidak ada hentinya. Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam sambil memeluk erat mas Rohman. Begitu pula sebaliknya, mas Rohman menggenggam erat tanganku. Aku yakin dia tahu apa yang sedang aku fikirkan saat ini.


Kendaraan mas Rohman berhenti di sebuah resto. Kami mampir dulu karena memang hari sudah siang dan perut juga sudah terasa lapar.


Aku duduk di kursi paling pojok. Sedangkan mas Rohman memesankan. Aku merasa sangat gelisah dan tidak tenang. Saat ini yang aku rasakan adalah panik.


Mas Rohman duduk di hadapanku. Dia menggenggam erat tanganku. Senyum manis menghiasi wajahnya. Mungkin dia tahu saat ini aku sedang dalam keadaan panik.


"Sayang, jangan tegang seperti itu. Kamu harus relax, nggak bopeh banyak fikiran."


"Tapi mas, aku takut."


"Iya, aku tahu apa yang kamu fikirkan saat ini. Kamu jangan tertekan, ya."


"Untuk saat ini kamu fikirkan saja kesehatanmu. Jangan fikir yang lain."


"Iya mas, aku tahu itu. Tapi aku khawatir jika."


"Begini ya sayang, nanti jika anak kamu lahir. Dan Rendy meminta untuk test DNA, kita ikuti saja apa mau dia."


"Tapi kalau benar anak ini adalah anak dia gimana, mas?"


"Jika benar itu anak dia, kamu kasih saja kebebasan untuk bisa jenguk kapan saja dia mau. Asalkan kamu tetap bersama aku."


"Mengancam itu sudah masuk pidana sayang, kita bisa saja laporkan dia ke Polisi jika itu benar benar terjadi."


"Sekarang kamu tenang saja. Jangan mikir yang lain lain. Fokus sama kesehatan kamu."


"Iya, mas. Makasih udah ngertiin aku."


"Sama sama, sayang. Udah seharusnya aku ngertiin kamu. Karena kamu itu punyaku."


Aku sedikit lega mendengar nasihat dari mas Rohman. Benar benar beruntung sekali aku menjadi istrinya. Dia memberi aku nasehat dengan tutur kata yang lembut dan bijak. Dia juga bisa mengerti suasana dan keadaanku.


Makanan yang kami pesan sudah tersedia di meja. Steak ayam dan just alpokat adalah menu favoritku di resto ini. Aku segera memakannya dengan lahap.


*********


Pagi yang cerah sudah menyambutku. Sorot sinar matahari masuk melalui celah kaca. Aku terbangun dari tidurku. Rasanya sangat nyenyak sekali tidurku malam ini. Mungkin karena sangat lelah.


Aku menilah ke samping, ternyata mas Rohman sudah tidak ada di sebelahku. Ku ambil ponsel di meja dan ku lihat layar ternyata sudah pukul tujuh.


'Astaga, ternyata sudah siang sekali. Aku harus segera bangun untuk menyiapkan sarapan untuk mas Rohman.'


Aku bangkit dari tempat tidur dan swgera menuju dapur. Tapi alangkah terkejutnya, ternyata mas Rohman sudah selesai masak. Makanan sudah siap di meja.


Senyum manis menyambutku yang baru saja bangun dari tidur. Aku jadi merasa tidak enak karena bangun kesiangan. Sampai sampai mas Rohman yang menyiapkan sarapan.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun, sayang?"


"Mas, kok tadi nggak bangunin aku?"


"Aku lihat sepertinya kamu capek sekali, sayang. Tidurnya pules banget.Ya udah aku biarin saja kamu tidur. Mungkin kamu capek banget. Soapnya nggak biasanya kamu bangun siang."


"Maaf ya, mas. Jadi kamu yang masak."


"Kenapa harus minta maaf? Masak itu bukan tugas yang berat, sayang. Aku seneng kok bisa masakin kamu."


"Ya sudah kamu sarapan dulu, sini. Selagi nasinya masih hangat."


"Aku cuci muka dulu, mas."


"Iya, sayang."


Aku bergegas ke kamar mandi untuk buang air dan juga cuci muka. Aku benar benar sangat beruntung sekali memiliki mas Rohman. Tutur katanya yang lembut membuat aku semakin sayang padanya.


Usai mandi aku duduk di sebelah mas Rohman. Sepiring nasi goreng dengan telur ceplok adalah menu favorit aku di pagi hari. Tampilannya sangat menggugah selera. Segera ku sendokkan nasi goreng ke dalam mulut. Rasanya sungguh luar biasa enaknya. Masakan mas Rohman tidak kalah dengan masakanku.


"Mas, nasi gorengnya enak sekali."


"Kamu suka, sayang?"


"Suka banget, mas. Ternyata kamu jago masak juga, ya."


"Sedikit sayang. Aku rasa kalau cuma nasi goreng, semua orang juga bisa. Kan gampang bikinnya."


"Tapi ini enak banget, mas."


"Ya sudah dihabiskan. Bentar lagi aku tinggal kerja. Kamu nggak apa apa kan, sayang kalau aku tinggal?"


"Iya, mas. Aku nggak apa apa kok."


Aku dan mas Rohman menikmati sarapan pagi sambil bersenda gurau. Namun tiba tiba mas Rohman melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat aku sedikit kaget. Pertanyaan yang ada sangkut pautnya dengan Rendy.


"Sayang, aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"


"Tanya apa, mas?"


"Apa benar dulu kamu sering ditiduri sama Rendy?"


"Kenapa mas, tiba tiba tanya seperti itu?"


"Nggak apa apa, sayang. Aku hanya ingin tahu saja."


"Apa kamu akan marah, mas kalau aku jawab jujur?"


"Aku lebih suka orang yang jujur. Aku tidak suka ada yang ditutupi lagi."

__ADS_1


__ADS_2