
Eps. 70
Sebuah panggilan masuk dari mas Rendy. Aku ragu ragu untuk mengangkatnya. Ku biarkan panggilan itu hingga terhenti dengan sendirinya. Aku masih bingung untuk menjawab ajakannya.
Tak berselang lama panggilan dari mas Rendy kembali masuk. Aku memutuskan untuk menganggkatnya.
[Hallo, mas.]
[Lissa, kamu sedang apa?]
[Ehm, aku baru saja selesai beberes.]
[Oh. Lalu bagaimana dengan tawaranku tadi?]
[Aku, aku belum siap mas.]
[Kenapa, Lis?]
[Maaf mas, aku belum bisa bertemu sama kamu.]
[Kamu takut sama aku?]
[Aku tidak tahu, mas.]
[Apa tidak ada kesempatan lagi untukku buat ketemu sama kamu, Lis?]
[Entahlah, mas.]
[Baik lis, aku tahu aku salah. Aku tahu aku ini egois. Tapi aku mohon sama kamu, kasih aku satu kesempatan satu kali, Lis.]
[Aku mau memperbaiki semuanya. Aku sayang banget sama kamu.]
[Dan satu hal lagi, aku akan menceritakan hubunganku dengan suami kamu. Mungkin ini sudah saatnya kamu tahu semuanya.]
[Maksud kamu apa, mas?]
[Sebenarnya aku dengan Rohman sudah kenal lama. Namun kita ada suatu masalah hingga akhirnya sama sama menjauh.]
[Apa, mas? Kamu serius?]
[Untuk apa juga aku bohong. Nggak ada gunanya.]
[Baiklah kalau begitu, kita akan bertemu di mana?]
[Nanti jika kamu sudah siap, segera hubungi aku. Akan aku jemput kamu di ujung gang.]
__ADS_1
[Tapi kamu janji tidak akan macam macam denganku kan, mas?]
[Emang kenapa kalau aku macam macam? Ingat Lis, aku ayah dari anak yang kamu kandung.]
[Karena aku tahu, kalau suami kamu itu mandul.]
'Deg.'
Kenapa mas Rendy bisa tahu kalau suamiku ini mandul. Jangan jangan dia tahu semua tentang mas Rohman. Baiklah mungkin melalui mas Rendy aku akan mengetahui semua kedok mas Rohman.
[Akan aku kabari lagi nanti, mas. Aku akan siap siap dulu.]
[Baik, aku tunggu kabar baik dari kamu.]
Sambungan telepon terputus secara sepihak. Aku sempat berfikir jika mas Rohman bukan pria baik baik. Semoga yang ada dalam fikiranku itu tidak benar.
Aku segera membersihkan diri lalu bersiap siap untuk bertemu dengan mas Rendy. Rasa penasaranku sangat tinggi. Rasanya sangat tidak sabar ingin segera bertemu mas Rendy.
Tepat pukul sembilan aku sudah siap. Aku segera menghubungi mas Rendy jika aku sudah siap. Dan dia pun segera berangkat untuk menjemput aku.
Tak butuh waktu lama, sebuah notif pesan melalui whatsap masuk. Mas Rendy mengabarkan jika dia sudah sampai di ujung gang. Aku bergegas mengunci pintu dan berjalan untuk menghampiri mas Rendy di ujung gang.
Lumayan capek juga berjalan dari rumah hingga ujung gang yang tembus ke jalan raya. dia memberitahu jika parkir di mini market sebrang jalan. Aku hafal mobilnya, dan segera aku menghampiri.
Ku ketuk kaca mobil, dan mas Rendy keluar dari mobil. Dia tersenyum padaku lalu menyuruhku untuk segera masuk ke mobil. Dia membukakan pintu di samping kemudi.
Ragu dengan apa yang akan dia ceritakan tentang suami aku nanti. Semoga apa yang dia katakan tentang mas Rohman adalah hal yamg baik baik. Begitu juga dengan rasa cemas yang melanda diriku. Cemas akan dia melakukan sesuatu padaku.
Ya, mungkin untuk sekarang memang aku yakin jika anak yang aku kandung adalah anak mas Rendy. Tapi tidak semestinya juga aku melakukan sesuatu dengannya. Jujur hati ini sangat merasa bersalah sekali dengan mas Rohman. Karena telah melakukan dosa dengan Mas Rendy.
Tapi sebenarnya aku juga tidak mau itu terjadi. Dia yang memaksa aku dengann sedikit kekerasan. Hati ini sempat ini menceritakan tentang apa yang terjadi pada mas Rohman, namun tertahan karena sesuatu.
Mobil yang dikendarai mas Rendy belik ke sebuah hotel yang lumayan mewah menurut aku. Sempat ragu untuk mengikutinya, namun rasa penasaran ku dengan apa yang diucapkan mas Rendy sangat tinggi.
"Mas, kenapa kita ke sini?"
"Kenapa? Apa kamu keberatan?"
"Kenapa kita tidak pergi ke taman atau tempat lainnya saja?"
"Dengar ya Liss, jika kita pergi ke tempat terbuka, akan ada resiko seseorang mengenali kamu."
"Dan apa jadinya nanti jika keluarga suami kamu atau siapa pun yang kenal kamu lihat kamu jalan sama aku?"
"Di sini jauh lebih aman karena tempatnya tertutup."
__ADS_1
"Tapi mas,.." Belum sempat aku melanjutkan kata kata, mas Rendy sudah menyuruhku untuk turun dan mengikutinya.
"Sudahlah, ayo turun. Kita masuk ke dalam."
Aku segera mengikuti mas Rendy masuk ke dalam hotel. Dia memesan kamar melewati resepsionis. Lalu petugas hotel mengantarkan kami ke depan pintu kamar. Aku dan mas Rendy segera masuk dan menutup pintu.
Akus egera duduk di ujung tempat tidur. Sedangkan mas Rendy melepas jaket lalu duduk di sebelahku. Dia merangkul pundakku dan mencium pipiku.
Aku sudah mulai tegang dengan kelakuan mas Rendy. Aku tidak mau melakukan perbuatan yang semestinya tidak aku lakukan dengan laki laki selain suami aku. Aku hanya takut mas Rohman menanggung dosaku. Segera ku tepis tangan mas Rendy.
"Kamu kenapa, Lissa?"
"Kamu kenapa takut dan wajahmu tegang seperti itu?"
"Ma... Maaf mas, aku hanya takut saja sama kamu."
"Astaga, Lissa."
"Lis, sudahlah kamu jangan munafik. Aku tahu kamu juga masih ada perasaan kan sama aku."
"Hanya saja kita terhalang oleh seseorang. Tapi itu tidak akan jadi masalah buat aku. Ingat Lis, ada darah dagingku di perut kamu."
Lagi lagi mas Rendy menggunakan senjatanya. Dia selalu mengungkit tentang anak yang ad di kandungan aku. Aku tidak bisa berkutik jika dia sudah menyebut tentang anak.
"Mas, kamu bilang akan menceritakan tentang suami aku."
"Kamu beneran mau tahu?"
"Iya, mas. Tolong cerita sama aku ada apa dengan kalian?"
"Baik aku akan ceritakan semuanya." Mas Rendy membuang nafas dengan kasar. Dia mulai bercerita mulai dari awal.
"Aku dan Rohman dulu adalah sahabat. selalu bersama kemana pun. Namun ada sesuatu yang membuat aku dan dia sama sama menjauh."
"Suatu ketika aku sedang jalan dengan Chika, dia adalah pacar aku."
"Tunggu dulu, mas. Maksud kamu Chika yang dulu pacar mas Rohman dan sudah meninggal itu juga pacar kamu?"
"Ya, dia dulunya adalah pacar aku. Aku hanya tidak menyangka jika mereka bisa berbuat setega itu denganku."
"Aku dan Chika pacaran sudah satu tahun lebih. Hungga akhirnya kita memutuskan akan menikah. Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi."
"Aku mendapati Rohman dan Chika sedang berboncengan dengan berpelukan mesra. Aku membuntuti mereka berdua. Dan ternyata mereka menuju di sebuah hotel."
"Entahlah aku tidak tahu kenapa mereka bisa jalan bersama. Tapi dalam fikiranku berkata mereka bermain di belakang aku."
__ADS_1
"Lalu dia masuk ke dalam hotel dan menuju resepsionis. Setelah itu dia menuju kamar. Selang setengah jam aku juga masuk menuju resepsionis untuk menanyakan pada karyawan dan menunjukkan foto Chika dan Rohman. Dengan alasan aku sudah janjian dengan mereka agar aku tahu kamar tempat mereka berdua."