Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 79


"Sayang, kamu ngantuk ya."


"Iya nih, Mas. Aku nggak kuat lagi, pengen merem rasanya."


"Ya sudah, kalau ngantuk tidur sajalah, sayang. Buat apa juga ditahan. Nanti yang ada malah kamu pusing."


"Tapi apa kamu nggak apa apa, Mas kalau aku tinggal tidur?"


"Nggak apa apa, sayang. Kamu tidur saja, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan kamu."


"Iya, Mas. Kamu jangan ngebut ngebut, ya."


"Iya, sayang. Aku ngerti, kok."


Tak ku jawab lagi ucapan Mas Rohman. Mata ini benar benar sudah tidak mampu untuk bertahan. Hingga akhirnya mata ini mulai tertutup dengan sendirinya. Aku tertitur sepanjang perjalanan.


Aku merasakan seseorang sedang menggoyangkan tubuhku. Hingga aku terbangun dari tidurku. Mataku masih sedikit samar samar belum bisa melihat jelas karena masih dalam pengaruh setengah sadar.


Aku mengucek ngucek mataku, hingga dapat kulihat jelas seseorang sedang menatapku dengan tersenyum. Wajah tampan, senyum manis dengan lesung pipi membuatku bersemangat untuk bangun.


"Kamu bangunin aku, Mas?"


"Iya maaf, sayang. Kita sudah sampai hotel. Jadi Mas bangunin kamu."


"Udah sampai ya, Mas."


"Iya, sayang."


"Ya udah, ayo kita turun, Mas. Minta tolong kamu bawakan tas yang aku bawa tadi, Mas."


"Iya, sayang aku bawakan."

__ADS_1


Kami berdua masuk ke dalam kamar, dan memesan sebuah kamar untuk istirahat semalam. Setelah Mas Rohman sudah selesai mendaftar, kami diantarnya pegawai hotel untuk menuju kamar.


Kamarnya sangat mewah buat aku. Aku sangat bahagia sekali rasanya. Meskipun tadinya aku sempat kecewa sama suamiku, namun semua terbayarkan saat kami sudah sampai ke hotel ini.


"Gimana, sayang? Apa kamu suka sama kamarnya?"


"Iya, Mas. Aku suka banget. Ini kamarnya bagus banget, mewah lagi."


"Iya, sayang. Apapun akan aku lakukan untuk buat kamu bahagia, sayang."


"Aku sayang banget sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu, sayang. Aku mohon, apapun yang terjadi tolong jangan tinggalkan aku."


"Kok kamu ngomongnya gitu, mas?"


"Aku cuma mengutarakan isi hatiku saja, sayang. Karena aku merasa suatu saat kamu akan meniggalkan aku. Entah itu kapan aku tidak tahu."


"Astaga, Mas. Kok kamu gitu, sih."


"Sudah lah, sayang. Jangan dibahas lagi, kita ke mari untuk bersenang senang. Kita lupakan saja yang sudah sudah."


"Iya, sayang. Aku minta maaf."


"Ya sudah, Mas. Mumpung belum larut, kita jalan jalan ke Maliobor yuk. Aku kangen banget pengen ke sana."


"Udah malem loh, sayang. Apa nggak besok pagi saja kita ke sana."


"Kan deket, mas. Lagian suasananya bagus kalau malem."


"Ya sudahlah, buat kamu apasih yang nggak. Pasti bakal aku lakukan, asal kamu bahagia."


"Makasih, Mas. Sepontan aku memeluk tubuh Mas Rohman. Entah mengapa rasanya aku sangat bahagia sekali. Walaupun hanya ke Jogja satu hari saja, aku sangat bahagia.


Aku berjalan di sepanjang Malioboro. Melihat lihat batik batik yang sangat bagus di dipajang oara penjual. Aku iseng mampir di toko pakaian. Memilih milih baju yang mana nanti mungkin ada yang aku suka.

__ADS_1


Dan akhirnya aku mengambil beberapa daster batik. Harganya hanya dua puluh ribuan saja. Sangat murah sekali bukan. Begitu pupa dengan Mas Rohman. Dia juga memilih milih celana kolor dan baju baju batik.


Dan setelah sudah puas memilih, kami membawa belanjaan ke meja kasir. Lagi lagi Mas Rohman yang membayar semua belanjaan. Dia tersenyum padaku.


"Non, kamu itu istriku. Aku harus memenuhi apa yang kamu butuhkan. Selama itu semua aku mampu, tidak masalah buat aku."


Aku tersenyum padanya. Ya, aku memang istrinya Mas Rohman. Tapi aku juga tidak bisa seperti ini. Aku hanya takut nanti Mas Rohman kehabisan uang. Karena aku tahu, dia juga butuh uang untuk pegangan dia. Bahkan dia juga punya kebutuhan yang mungkin harus dibeli.


Setelah itu, kami berdua kembali berjalan jalan di sepanjang Malioboro. Melihat berbagai macam makanan yang dipajang, aku ingin sekali untuk membelinya. Namun Mas Rohman mencegahku. Dia bioang nanti saja belinya di pusat oleh oleh sekalian. Yang dibuat secara fresh.


Aku hanya menurut saja dengan apa yang dikatakan Mas Rohman. Mungkin lebih baik memang membeli oleh oleh di pusat oleh oleh. Karena dibuat secara fresh dan masih hangat.


Telingaku samar samar mendengar suara musik angklung. Aku terus berjalan mencari sumber suara tersebut. Hingga suara angklung itu semakin terdengar jelas. Dan aku sampai juga di sebuah pertunjukan musik angklung.


Ada beberapa pemuda pemain angklung dan tiga penari wanita. Aku memperhatikan salah satu dari pemain angklung tersebut. Aku tidak lupa siapa dia.


Faqih Prasetyo, seorang oemain musik angklung yang berasal dari Temanggung. Dulu kami saling mengenal melalui akun sosial media. Kami saling bertukar nomor ponsel dan sering berkirim pesan. Bahkan tak jarang kami juga sering melakukan panggilan vidio call.


Rasanya sangat senang sekali bisa melihat dia secara langsung. Awalnya aku dulu suka sekali melihat Faqih di youtube. Karena saking kagumnya, aku berusaha mencari tahu tentang dirinya dengan cara mengirim komentar di youtube tersebut. Dan diberi tahulah akun sosial medianya.


Iseng aku kirim pertemanan, dan akhirnya dikonfirmasi. Aku selalu like postingan dia, selalu nonton dia saat sedang live main angklung. Dan pada akhirnya kami saling mengirim pesan melalui messenger dan akhirnya berujung ke whatsap.


Namun itu semua sudah berlalu. Karena kesibukan dia yang mungkin karena banyak job, kami jadi saling berkirim kabar. Hanta bisa melihat dia saja di youtube. Aku juga pernah kirim pesan untuknya, namun tidak dibalasnya.


Dan pada saat itu pula, aku berhenti untuk tidak menghubunginya lagi. Namun sampai saat ini aku masih menyimpan nomor whatsap dia. Tapi tidak pernah lagi aku melihat storynya. Mungkinkah nomor aku sudah dihapusnya.


Sudahlah, aku tidak perlu lagi mengingat yang sudah sudah. Aku bisa melihat dia bermain angklung di hadapanku saja aku sudah bahagia sekali. Aku senyum senyum sendiri melihannya.


Wajahnya manis, dengan ciri khas rambut jambul. Entah apa yang aku suka darinya hingga aku sangat mengagumi Faqih. Hingga aku tak sadar jika Faqih melihatku.


Kami saling beradu pandang. Dia melihatku dengan sangat keheranan. Ingin sekali rasanya aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Namun mengingat dia yang sudah tidak merespon aku saat aku kirim pesan, niatku aku urungkan.


Namun dia terus menatap aku. Hingga akhirnya diapun tersenyum padaku. Saat musik selesai, dia melambaikan tangan, namun aku enggan untuk membalasnya. Takutnya salah sangka saja ternyata dia sedang tersenyum dan melambai pada orang lain.

__ADS_1


Aku menoleh ke kana dan ke kiri. Tapu pandangan Faqih tetap mengarah kepadaku. Itu tandanya dia merespon aku. Dan begitu pula dengan aku. Aku juga membalas senyuman Faqih dengan melambai tangan. Ingin sekali aku menghampirinya, namun aku sadar jika aku sedang bersama suamiku. Hanya mampu berdiri melihat dia dengan jarak tertentu.


__ADS_2