Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 48


Sontak semua anggota keluargaku menatapku heran namun juga terkejut. Mungkin mereka juga tidak menyangka aku bisa secepat itu mendapatkan ganti.


"Iya bu, namanya mas Rohman. Usia dia lebih tua satu tahun dari aku. Tapi dia sangat baik, bu. Dia bekerja di BPN dan tinggalnya juga tidak jauh dari kost ku."


"Nak, apa kamu sudah yakin sama Rohman?"


"InsyaAllah, bu. Dan dia juga meminta aku segera mengabarinya kapan bisa berkunjung kemari."


"Nak, semua keputusan ada di kamu. Kelak kamu juga yang akan menjalaninya. Tapi ibu hanya ingin kamu fikirkan dulu semuanya secara matang matang."


"Iya,bu. Aku mengerti maksud ibu. Tapi aku sudah mantap dengan mas Rohman. Buat apa aku menunggu yang tidak pasti, bu. Bukankah semua orang itu butuh kepastian, bukan harapan."


"Ya sudahlah, nak. Untuk pertemuan kamu tentukan saja ibu ngikut."


"Baik bu, bagaimana jika minggu besok. Jika hari hari biasa semua kan pada sibuk kerja."


"Iya, nak. Semoga semua berjalan lancar."


"Amin, bu."


Aku meminta tolong juga kepada adik adikku dan juga kakakku untuk hadir di pertemuan keluarga nanti. Aku ingin semuanya berkumpul. Karena aku sangat membutuhkan semua anggota keluargaku. Terutama ibu dan kakak ku. Karena ayahku sudah meninggal beberapa tahun silam. Dan kakak ku nantinya yang akan menjadi wali nikahku.


Kakak bernama Eko, usianya empat tahun lebih tua dari aku. Dan mas Eko memiliki istri yang cantik dan baik pada keluargaku. Namanya mbak Lala. Namun sayang, hingga kini belum diberi momongan. Namun walaupun demikian, mas Eko dan mbak Lala terlihat baik baik saja dan saling mendukung satu sama lain.


Setelah aku mendapat restu dari ibu, aku segera mengirim pesan untuk mas Rohman. Aku memberitahu kabar gembira ini. Aku menentukan hari kapan keluargaku dan keluarga mas Rohman bisa bertemu untuk melangsungkan acara lamaran.


[Mas, aku sudah menceritakan semuanya. Alhamdulillah ibu berkenan.]


[Dan insyaallah besok minggu keluarga kita bisa bertemu. Untuk jam aku ngikut saja.] Tak berselang lama pesan yang aku kirim sudah berwarna biru. Itu artinya pesanku sudah dibaca.

__ADS_1


[Alhamdulillah. Aku sangat bahagia sekali.]


[Nanti aku bicarakan dulu sama orang tuaku ya, sayang. Untuk jam nanti akan aku kabari lagi.]


[Baik, mas.]


[Sayang, kamu mau dibawakan apa besok kalau aku ke sana.]


[Aku nggak minta apa apa, mas. Yang penting kamu sampai sini selamat aku udah seneng banget.]


[Jangan begitu, sayang. Aku kan harus bawa mahar buat kamu. Kamu minta apa, sebutin saja. Jika aku mampu pasti aku usahakan buat kamu.]


[Untuk masalah mahar kamu saja yang nentukan, mas. Aku tidak mau banyak menuntut. Asalkan kamu mampu dan tidak keberatan itu saja pesanku.]


[Baiklah, nanti itu biar jadi urusanku. Kamu tidak perlum memikirkan yang lain lain. Terima beres saja.]


[Iya mas, aku mengerti.]


[Iya, mas.]


Setelah saling berkabar via whatsap, mataku terasa sangat berat sekali. Padahal baru beberapa jam aku bangun dari tidur. Tak perlu basa basi, aku bergegas ke kamar untuk istirahat lagi.


**********


Hari demi hari berganti, keseharianku saat ini hanya di rumah. Terkadang jika bosan, aku membantu ibuku berjualan. Karena memang sehari hari ibuku berjualan di kanting sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumah. Lumayan biar ada kesibukan. Capek juga tidak ada kegiatan.


Dan akhirnya hari yang ditunggu tunggupun tiba. Hari tepat hari minggu, di mana keluarga Rohman akan datang untuk melamarku. Aku sudah mengirimkan lokasi rumahku kepada mas Rohman. Dan tinggal menunggu kabar saja kapan mereka akan berangkat


Dan pagi ini kami sekeluarga disibukkan dengan kegiatan masak memasak. Untuk suguhan para tamu nanti yang akan datang. Sedangakan yang lainnya sibuk beberes bersih bersih rumah.


Selama dua jam kami semua sibuk dengan tugas masing masing. Hingga akhirnya semua sudah selesai. Hidangan sudah tertata rapi di meja. Aneka jenis kue camilan dan minuman kemasan juga sudah tertata rapi di ruang tamu.

__ADS_1


Juru bicara juga sudah stanby di ruang tamu. Aku memang sengaja menyewa juru bicara yang tak lain adalah tetanggaku sendiri. Agar nanti bisa berjalan dengan baik.


Ku ambil ponsel dan membuka aplikasi whatsap, ternyata keluarga mas Rohman sudah dalam perjalanan. Ku perhatikan pesan tersebut masuk sekitar satu jam yang lalu. Itu tandanya sekitar setengah jam lagi mereka akan tiba.


Aku segera memberi tahu ibu anggota keluargaku semua agar bersiap siap. Aku segera mandi tanpa lama lama, dan segera mengenakan pakaian sesopan mungkin. Ku rias wajah dengan makeup yang lain dari biasanya. Karena ini adalah acara penting dan aku harus tampil seanggun mungkin.


Ku pakai gamis brukat berwarna biru muda dengan hijab senada. Dengan polesan makeup sedikit tebal dari biasanya. Tak lupa ku semprotkan sedikit parfum. Aku berdiri tepat di depan kaca. Ku perhatikan busana yang aku pakai sudah pas menurut aku.


Keluargaku sudah berkumpul di ruang tamu. Sebelumnya kita juga berfoto selfi bersama. Kapan lagi kita semua berkumpul seperti ini. Rasanya sangat bahagia sekali memiliki keluarga seperti ini.


Tak berselang lama dua buah mobil masuk ke halaman rumah. Aku yakin jika itu adalah rombongan keluarga mas Rohman. Lumayan banyak juga yang hadir.


Jantungku berdetak tak beraturan. Rasanya sangat gugup sekali. Mereka semua berjalan dengan membawa beraneka seserahan. Aku tidak menyangka banyak sekali seserahan itu.


Satu persatu keluarga Rohman masuk dan kami menyalaminya. Setelah semua sudah duduk dan berkumpul, kami saling mengenalkan anggota keluarga. Dan kemudian dilanjutkan pada acara inti.


Ayahnya mas Rohman menjadi juru bicara. Dan lamaranpun dilangsungkan. Dan alhamdulillah semua berjalan lancar. Aku menerima lamaran mas Rohman dengan senang hati. Kami saling bertukar cincin. Dan tidak lupa mengambil foto saat sudah saling memakau cincin.


Senyum bahagia terpancar pada semua keluarga. Rencana acara pernikahan akan dilangsungkan tiga minggu lagi. Karena keluarga Rohman tidak mau berlama lama. Namun aku memberanikan diri untuk sedikit berbicara.


"Ehm, maaf sebelumnya bapak ibu semua keluarga mas Rohman. Ada sedikit yang mau saya sampaikan."


"Ada apa, nak?" Ucap bapaknya mas Rohman.


"Bapak, ibu berhubung keluarga saya hidup sederhana, maka saya tidak mengadakan pesta besar besaran. Saya hanya melangsungkan ijab kabul dan syukuran kecil kecilan saja. Tapi nanti selebihnya terserah keluarga mas Rohman."


"Ya nanti kita atur bagaimana baiknya saja, nak. Jika di pihak keluarga kamu tidak mengadakan pesta, kami tidak mempermasalahkan. Itu terserah kamu saja. Dan untuk keluarga kami, nanti akan dibicarakan lagi di rumah. Dan bagaimana ke depannya akan secepatnya kami kabari."


"Iya ibu, bapak. Sebelumnya terimakasih sudah memahami maksud kami."


"Iya nak, keluarga kami mengerti bagaimana maksud kamu. Nanti secepatnya akan kami kabari."

__ADS_1


__ADS_2