
Eps. 95
Dalam fikiranku, bagaimana nasibku ke depan nanti. Ibu mertua sekarang sangat membenci aku. Bahkan beliau juga bilang jika aku ini wanita pembawa sial. Apa yang dikatakan ibu mertua ada benarnya juga. Apakah mungkin aku ini memang wanita pembawa sial. Karena setiap oarng yang ada bersama ku, pasti kena sial. Hingga sampai meninggal dan ini kejadian untuk ke dua kalinya
Dulu Mas Rendy, dia mengalami kecelakaan hingga membuatnya lupa ingatan dan adiknya pun meninggal. Jimmy, yang sempat dekat dengan aku dan sempat akan menikah. Dia juga meninggal saat akan melamar aku tepat di hari ulang tahunku. Sekarang Mas Rohman, pria yang sudah berstatus menjadi suami ku telang pergi jauh dan tak akan kembali lagi.
Andai saja waktu bisa diputar kembali. Aku pasti tidak akan mengajaknya jalan jalan malam itu. Andai saja aku tahu apa yang akan terjadi, pasti aku lebih memilih di rumah. Mungkin saat ini Mas Rohman masih ada bersama aku.
Tidak ada gunanya aku hidup di dunia ini. Mungkinkah aku harus mengakhiri semua ini agar tidak ada lagi beban hidup yang harus aku lalui. Fikiranku sangat tidak karuan. Sudah tidak ada lagi semangat untuk hidup.
Tenggorokan ini terasa sangat kering. Aku memutuskan untuk keluar kamar dan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Tampak sepi sekali rumah ini. Mungkin Mas Rendy sedang keluar.
Saat aku akan membuka kulkas, aku melihat sebuah pisau tergeletak di meja. Ku hampiri dan ku ambil pisau tersebut. Sepertinya pisau ini sangat tajam sekali. Ku putar putar dan terus ku perhatikan pisau ini. Terlintas sesuatu dalam fikiranku. Entah setan apa yang sedang merasuki aku saat ini.
Rasanya ingin sekali aku mengakhiri hidup ini. Agar aku tidak terus menerus menanggung beban penderitaan ku selama ini. Sepertinya tidak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini. Ya, mungkin lebih baik aku mati.
Saat aku akan menggoreskan pisau ini ke nadi tanganku, ternyata Bu Rita dan Mas Rendy melihatnya. Mereka bergegas merebut pisau itu dari tanganku. Aku yang tak sadar akan kedatangan mereka tampak terkejut. Aksiku untuk bunuh diri gagal karena ketahuan.
"Astaga, nak. Kamu kenapa melakukan hal yang sangat berdosa ini. Sadar sayang, sadar!"
"Lis, kenapa kamu bisa nekat melakukan hal seperti ini?"
"Bu, tidak ada gunanya aku hidup. Mungkin lebih baik aku mati saja. Penderitaan ini sangat berat sekali, Bu. Aku sudah tidak sanggu lagi."
"Kamu istigfar, sayang. Kamu harus sabar."
"Aku ini wanita pembawa sial, Bu. Biarkan aku pergi saja. Aku takut nanti ibu sama Mas Rendy akan dapat sial dari aku."
"Ini semua takdir, sayang. Ibu tidak pernah menyalahkan kamu walaupun anak ibu juga meninggal saat itu."
"Itu bukan salah kamu. Ini semua sudah kehendak Tuhan."
__ADS_1
"Lis, plis jangan lakukan ini. Kamu harus sabar, biar mental kamu tetap aman."
"Kamu tahu kenapa aku bawa kamu ke mari?"
"Karena aku takut hal ini terjadi."
"Nak, dengarkan ibu bicara. Kamu wanita baik dan kamu sangat cantik. Kamu bukan wanita pembawa sial. Kamu harus tetap semangat untuk menjalani semua ini."
"Kamu itu butuh istirahat dan dukungan sayang. Kamu harus kuat."
Berbagai nasehat dari Bu Rita dan Mas Rendy aku dengarkan. Ya, memang benar apa yang dikatakan Bu Rita, mungkin aku butuh dukungan dari orang orang sekitar. Dan aku juga butuh istirahat. Agar otak ku tidak ada fikiran yang negatif.
Lagi lagi air mata ini menetes denga sendirinya. Bu Rita memeluk aku dengan erat. Beliau bukan ibu kandung dan bukan pula ibu mertuaku. Namun perlakuan beliau sungguh melebihi itu semua. Beliau sangat menyayangi aku sepenuh hati.
Bu Rita kembali membawa aku masuk ke dalam kamar. Beliau menyuruh aku untuk istirahat. Sebuah belaian membuat hati ini sedikit tenang. Beliau memperlakukan aku seperti anaknya sendiri.
"Istirahtalah, nak. Jika kamu perlu apa apa, panggil saja Rendy atau ibu Tidak perlu sungkan, anggap saja ini rumah kamu dan kami ini keluarga kamu."
"Sudahlah jangan bicara seperti itu. Lebih baik cepat pejamkan mata kamu. Nanti jika sudah waktunya makan, akan ibu bangunkan."
"Iya, Bu. Terimakasih banyak."
Senyuman kecil menghiasi wajah Bu Rita yang sangat amat cantik. Meskipun usianya sudah tidak muda, namun beliau masih terlihat sangat segar bugar dan juga kulitnya kencang. Aku sangat kagum sekali padanya.
Mata ini benar benar sangat lelah. Dan akkhirnya aku bisa memejamkan mata. Larut dalam sebuah mimpi yang sangat indah. Di mana aku bertemu dengan Mas Rohman dengan wajah yang sangat manis dan senyum yang khas dengan lesung pipi.
***********
Sudah lebih dari satu minggu aku tinggal di rumah Mas Rendy. Lama lama tidak enak juga yang hanya berdiam diri saja di sini. Mungkin lebih baik aku pupang saja ke kampung dan memulai hidup baru di sana. Mencari pekerjaan dan berkumpul bersama keluarga. Ya, mungkin itu lebih baik.
Saat Bu Rita dan Mas Rendy sedang duduk bersama, aku berniat untuk menghampiri dan membicarakan hal yang sudah aku rencanakan tadi. Semoga saja ini dengan pulang kampung perjalanan hidupku akan berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
"Ibu, Mas Rendy, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
"Kamu mau bicara apa, nak? Duduklah di sini, ayo." Aku duduk disamping Bu Rita. Dan aku mulai menarik nafas untuk memberanikan diri berbicara.
"Ehm, Ibu, Mas Rendy, aku mau mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan kalian. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara balas budinya."
"Aku senang sekali tinggal di sini. Tapi..., aku ingin pulang ke kampung. Mungkin memulai kehidupan baru di sana akan jauh lebih baik."
"Ehm, aaku ingin meminta ijin sama ibu dan sama Mas Rendy untuk pulang kampung."
"Maaf bu, mas kalau aku banyak merepotkan."
"Apa tidak sebaiknya kamu cari kerja di sini saja, nak?"
"Mungkin ibu bisa buka usaha buat kamu."
"Tapi aku ingin pulang kampung saja, bu. Ingin sekali beekumpul bersama keluarga."
"Jika aku masih di sini, aku tidak bisa melupakan semua kenangan selama aku tinggal di kota ini. Aku tidak mau terus terusan tersiksa batin ku, bu."
"Apa kamu tega meninggalkan ibu di sini sendiri?"
Sebuah pertanyaan yang membuat aku melongo. Jika difikir ucapan Bu Rita seolah tidak mengijinkan aku untuk pulang ke kampung halaman. Entah apa yang sedang difikirkannya. Beliau sangat bauk sekali. Tapi tidak mungkin jika aku terus terusan menumpang gratis di sini lama lama.
"Bu, buka begitu maksud aku."
"Aku bisa saja mengunjungi ibu kapan pun jika aku mau. Aku hanya ingin hidup tenang, bu."
"Aku tidak punya siapa siapa di sini. Aku jauh dari keluarga."
"Kamu keluarga kami, nak."
__ADS_1
"Bu.." Ku genggam erat tangan Bu Rita. Dia menatapku dengan tatapan yang penuh arti.