Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa lalu


__ADS_3

Eps. 87


Aku dan Mas Rohman saling diam. Entah apa yang ada dalam fikiran suami aku, hingga dia bisa berbicara seperti itu padaku. padahal aku tidak ada maksud apa apa padanya. Hanya ingin menunjukkan film yang sedang aku tonton. Tapi kenapa malah jadi runyam seperti ini.


Kepalaku mendadak pusing, dan aku memutuskan untuk beranjak dan masuk ke kamar tanpa basa basi. Pun denga Mas Rohman, dia hanya diam dan menunduk saat aku berlalu darinya.


Aku tidak ingin berdebat dan aku tidak ingin ada pertengkaran sekecil apa pun itu. Diam adalah jalan yang terbaik. Aku memutuskan untuk tidur saja. Karena aku juga masih merasakan lelah karena perjalanan kemarin.


**********


Hari sudah berganti pagi. Seperti biasa aku sibuk dengan pekerjaan rumah. Menyiapkan sarapan pagi untuk Mas Rohman. Lalu aku beberes mencuci pakaian. Aku memang sengaja tidak menemani Mas Rohman sarapan pagi. Mengingat kejadian kemarin dengan sikap Mas Rohman yang sedikit sensi padaku.


Saat Mas Rohman akan berangkat kerja, dia bersikap seperti biasa. Berpamitan dan mencium keningku.


"Aku berangkat kerja dulu, sayang."


"Iya." Jawaban ku yang cukup singkat. Dan Mas Rohman berlalu dari hadapanku. Pergi dengan mengendarai motor matiknya.


Rasa jengkel dalam hati pasti ada. Tapi aku memilih untuk diam dan berbicara seperlunya. Aku hanya tidak ingin memperpanjang masalah. Jika dia mengajak ku untuk berbicara, aku juga akan menjawabnya. Karena aku takut jika salah dalam berucap seperti kemarin.


Ponselku berdering, seketika aku menghentikan aktifitasku. Ku geser tombol warna hijau dan aku pu segera berbicara.


"Iya, hallo."


"Lis, Apa aku bisa menjemput kamu sekarang?"


"Ibu ku dari kemarin menunggu kamu, tapi kamu malah nggak ada kabar sama sekali."


"Ehm, iya maaf. Aku kemarin capek banget. Ditambah Mas Rohman juga nggak enak badan."


"Ya kali aku meninggalkannya." Dapat ku dengar jelas suara Mas Rendy membuang nafasnya dengan kasar.


"Ya sudah, aku jemput kamu sekarang. Pliss, jangan nolak lagi."


"Tapi..." Belum jadi aku melanjutkan kata kata, Mas Rendy tidak mau tahu lalu menutup teleponnya.

__ADS_1


"Nggak ada tapi tapian, Lis."


Ku hembuskan nafas dengan kasar. Ku letakkan ponselku di nakas. Lalu aku menjatuhkan tubuhku di atas sofa. Hatiku seolah ragu ragu untuk datang menjenguk Bu Rita. Tapi tempo hari Mas Rohman sudah mengijinkan aku untuk ke sana untuk memenuhi keinginan Bu Rita.


Tanpa fikir panjang, lu bergegas mandi lalu berdandan rapi. Sesekali aku melihat ponsel jika ada pesan dari Mas Rendy. Sudah hampir tiga puluh menit aku menunggu. Tapi tidak ada kabar darinya. Aku masih standby untuk menunggu. Mana tahu di jalan dia sedang ada kendala. Tapi semoga saja tidak ada apa apa.


Untuk menghilangkan rasa bosan, aku bermain ponsel dan membuka aplikasi tok tok. Yah, hitung hitung untuk menghilangkan kejenuhan. Karena menunggu itu adalah sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku. Menit demi menit dan waktu terus berjalan, sudah tepat satu jam aku menunggu. Dan sampai detik ini belum ada kabar.


Aku berniat untuk meneleponnya, dan bertanya kepastian apakah dia jadi menjemput aku. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Daat aku hendak meneleponnya, ponselku terlebih dulu berdering. Tanda ada panggilan masuk, dan ternyata dari Mas Rendy. Aku bergegas menekan tombol warna hijau dan segera berbicara.


"Hallo, Mas. Gimana, kamu jadi nggak sih?"


"Aku dah siap dari satu jam yang lalu, kamu ke mana saja?"


"Maaf, Lis. Tadi motorku bocor ban. Jadi aku harus cari tambal ban dulu."


"Aku juga nggak sempat menghubungi kamu. Karena aku baru saja sempat pegang ponsel."


"Lalu bagaimana? Jadi tidak, kalau tidak jadi aku mau istirahat saja."


"Nanti kalau sudah sampai mini market yang kemarin aku kabari."


"Apa kamu tidak apa apa jalan sampai ujung gang?"


"Ya udah iya, nggak apa apa. Ini aku sambil jalan saja biar nanti kamu nggak nunggu kelamaan."


"Iya."


Ku kunci pintu rumah, lalu aku berjalan hingga ujung gang. Seperti biasa aku ketemuan dengan Mas Rendy di depan mini market sebrang gang menuju rumahku. Tujuanku bertemu di sana, supaya tidak ada tetangga yang tahu. Aku hanya takut saja nanti jadi omongan di sini. Yah, walaupun Mas Rohman sudah tahu dan sudah memberikan ijin. Tapi aku harus tetap was was.


Kurang lebih selama sepuluh menit aku berjalan, akhirnya aku sampai juga di ujung gang. Ku perhatikan di mini market seberang sudah ada Mas Rendy yang meninggu. Dengan menggunakan motor matik dan mengenakan kemeja putih. Aku perhatikan penampilannya cukup menarik.


Aku segera berjalan menyeberang menuju mini market. Gegas ku hampiri Mas Rendy, dan dia pun tersenyum padaku. Aku menjaga dan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa apa di waktu lalu.


"Ayo, naik."

__ADS_1


"Tunggu, Mas. Aku helmnya?"


"Oh iya, ini aku sudah bawa. Sini aku pakaikan."


Saat Mas Rendy memakaikan helm di kepalaku, seketika aku teringat akan sesuatu. Di mana saat aku pertama kali kenal dan bertemu dengannya. Namun sepintas aku juga teringat dengan Mas Rohman. Yang juga pernah melakukangal serupa dengan ku dulu, saat pertama kali kenal dan bertemu dengannya.


Tak hanya itu saja, aku kembali teringat akan seseorang yang pernah melakukan hal yang sama juga. Dia adalah Jimmy, seseorang yang pernah juga menjalin kasih denganku dan hampir saja menikah denganku. Namun takdir berkata lain. Tuhan lebih sayang padanya, sehingga dia diambil dariku.


Jimmy seorang sahabat lama saat kami masih sekolah. Dan kami dipisahkan karena jarak dan keadaan. Dan kita dipertemukan lagi, namun akhirnya harus berpisah untuk selama lamanya.


Sebuah goncangan membuyarkan aku dari sebuah lamunan. Mas Rendy mengguncangkan tubuhku hingga aku sedikit terkejut. Entahlah, aku tidak tahu jalan fikiranku itu. Sekitika selalu saja teringat sesuatu yang sudah aku kubur dalam dalam. Niat hati ingin melupakan, malah semakin ke sini jadi semakin teringat.


"Lis, kamu kenapa kok malah ngelamun?"


"Kamu lagi mikirin apa, sih?"


"Eh, emm aku nggak mikirin apa apa kok. Hanya saja tadi aku sempat kepikiran sesuatu."


"Sesuatu? Emang kamu lagi mikirin apa, Lis?"


"Bukan apa apa, Mas. Sesuatu yang sangat tidak penting dan tidak baik untuk diingat kembali."


"Kamu selalu saja seperti itu."


"Ya sudah, Mas. Apa kita bisa berangkat sekarang? Takutnya nanti keburu sian, aku keburu ngantuk."


"Ngantuk ya tidur saja."


"Ihh,.."


"Ya sudah ayo buruan naik."


Aku segera naik ke motor matik milik Mas Rendy. Ku tahan agar aku tidak memeluk tubuhnya. Cukup dengan berpegangan di pundak saja. Aku hanya ingin menjaga agar tidak menimbulkan perasaan yang begitu dalam.


Mencintai dua orang sekaligus itu sangatlah tidak mudah. Maka dari itu aku harus merelakan salah satunya. Karena aku tidak ingin menyakiti hati pasanganku. Karena dia sangat baik dan sangat mengerti aku.

__ADS_1


__ADS_2