
Eps. 93
Sedikit demi sedikit makanan mulai masuk ke dalam perutku. Sebenarnya aku juga merasakan lapar. Namun nafsu makan sama sekali tidak ada.
Aku tidak sanggup lagi menghabiskan makanan yang aku makan. Rasanya perutku ini sangat mual. Bu Rita buru buru memberikan aku segelas air putih. Dan aku pun meneguknya.
"Nak, ibu turut berduka atas kepergian suami kamu."
"Jujur, nak ibu juga merasakan sakit melihat kamu seperti ini."
"Ibu juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan, nak."
Aku tak mampu untuk membalas ucapan Bu Rita. Hanya air mata yang menetes di pipi ku. Ingin sekali rasanya aku berada di tempat yang sepi lalu berteriak sekencang kencangnya. Begitu miris sekali hidupku ini.
Baru juga merasakan kebahagian. Namun itu semua hanya sekejap saja dan kini Mas Rohman dan calon bayiku sudah pergi untuk selamanya. Tak ada harapan lagi untuk hidup. Ingin sekali rasanya aku menyusul mereka.
Membayangkan kita bertiga berkumpul bersama. Menikmati hari hari berkumpul bersma. Membayangkan aku yang akan dipanggil ibu oleh anakku. Ya Tuhan, kenapa semuamya jadi seperti ini. Apa salah dan dosaku selama ini hingga kau tega membuat hidupku seperti ini.
Apakah aku tidak diijinkan hidup bahagia, hingga orang yang bersamaku selalu diambilnya. Kebahagiaan yang sudah di ujung tanduk, kini mendadak sirna. Rasanya ingin sekali aku mengakhiri hidup ku ini yang tiada artinya lagi.
Aku menangis dalam pelukan Bu Rita. Saat ini yang aku butuhkan hanyalah sebuah pelukan hangat. Agar emosiku dapat dikendalikan. Kehilangan orang yang kita sayang sangt sangat menyakitkan sekali. Sakit tetapi tidak berdarah. Ya, itulah yang sedang aku rasakan saat ini.
*********
Sudah beberapa hari aku di rawat di Rumah Sakit. Dan alhamdulillah hari ini aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Selama aku di Rumah Sakit, yang setia menemani aku adalah Bu Rita dan Rendy. Sedangkan keluargaku sesekali kadang menjenguk aku. Itu karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.
Karena jauh, dan aku juga merasa kasihan pada ibuku jika menemani aku di sini. Aku sangat tidak tega rasanya. Maka dari itu aku memaksanya untuk pulang ke Salatiga saja. Karena kondisi aku yang semakin hari semakin membaik.
Sedangkan keluarga Mas Rohman, aku belum pernah menemuinya selama aku di rawat. Apakah mereka semua membenciku hingga tidak ada yang sudi menjenguk aku walau cuma sekejap saja.
Tidak, aku tidak boleh berprasangka buruk. Mungkin apa sebaiknya aku pulang ke rumah ibu mertua ku saja dulu. Ingin sekali aku melihat bagaimana kondisi keluarga Mas Rohman. Apakah mereka masih menganggap aku sebagai menantunya alias istri dari almarhum Mas Rohman.
Semua barang sudah aku bereskan. Seketika itu pula Mas Rendy datang. Kali ini dia datang sendiri tidak bersama Bu Rita. Aku merasa canggung dan bingung juga. Aku takut nanti jika tiba tiba saja ada yang lihat, dan ada omongan yang tidak mengenakkan. Aku berinisiatif untuk menyuruh Mas Rendy pulang saja. Dan aku ingin ke rumah Ibu mertua dengan naik taxi online saja.
__ADS_1
"Mas, kamu kenapa ke sini? Ibu mana?"
"Aku cuma mau mastiin saja kalau kamu baik baik saja."
"Iya aku baik baik saja, Mas. Ini aku baru beberes karena diperbolehkan pulang hari ini."
"Oh iya, ibu mana?"
"Kebetulan ibu tadi ada urusan. Ini aku habis mengantarkan ibu dan kebetulan lewat sini. Jadi aku mampir sekalian saja."
"Oh gitu. Kalau begitu lebih baik kamu pulang saja, Mas. Karena aku juga sudah swhat dan mau pulang ke rumah ibunya Mas Rohman."
"Kalau begitu aku antar saja, kebetulan kan kita satu arah.
"Jangan, Mas. Nggak perlu repot repot. Lagian barang bawaanku cuma ini saja."
"Di samping itu aku juga nggak enak nanti sama keluarganya Mas Rohman kalau tahu aku pulang dari Rumah sakit diantar sama laki laki lain."
"Bukan begitu, Lissa. Niatku kan cuma mau ngasih kamu tumpangan. Lagian kita searah ini. Apa salahnya kalau kita barengan saja."
"Maaf, Mas aku nggak bisa. Aku mau naik taxi online saja."
"Liss, kamu kenapa? Niatku itu baik lho. Aku cuma mau anterin kamu saja. Aku hanya takut nanti kamu kenapa kenapa."
"Itu saja, nggak lebih. Lagian orang tua Rohman juga tahu siapa aku."
"Aku dulu juga temenan sama Rohman."
"Aku mohon, Mas. Biarkan aku pulang sendiri. Kalau kamu mau nganterin aku, cukup kamu ikutin saja dari belakang untuk memastikan jika aku baik baik saja dan tidak terjadi apa apa."
Belum jadi Mas Rendy menjawab pertanyaan ku, Aku sudah melangkah pergi berlalu meninggalkan Mas Rendy. Tanpa aku menunggunya dia lagi. Aku hanya saja tidak enak dengan omongan orang orang saja yang nanti akan melihatku jika pulang diantarkan Mas Rendy.
Aku menuju meja administrasi untuk menyelesaikan keuanganku selama dirawat di Rumah Sakit ini. Untungnya aku bawa dompet dan alhamdulillah semua ATM Mas Rohman aku yang pegang dan aku tahu semua pinnya.
__ADS_1
Namun betapa terkejutnya aku, baru saja aku menyebutkan namaku dan hendak mengetahui biaya perawatanku. Ternyata sudah terbayar lunas. Dan ketika aku bertanya siapa yang membayarkan, aku kembali terkejut lagi. Ternyata Mas Rendy yang sudah mengurus semua biaya selama aku di Rumah Sakit.
Aku jadi sangat merasa bersalah pada Mas Rendy. Aku buru buru minta maaf dan hendak mengganti uangnya. Karena kemungkinan biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit.
Namun Mas Rendy justru menolak uangnya. Dan dia bilang ibu yang membayarkannya. Dia juga bilang jika tidak perlu mengembalikan uangnya.
"Mas, aku minta maaf karena tadi sudah bentak bentak kamu."
"Aku nggak ada maksud seperti itu."
"Kamu santai saja, Liss. Sudah tidak perlu diingat lagi."
"Kalau begitu, ini uang adiministrasinya aku kembalikan. Rasanya sangat tidak pantas saja jika kamu dan ibu yang membayar semua ini."
"Ibu bipang itu sebagai ucapan terimakasih. Jadi aku mohon, kamu jangan mengembalikannya."
"Aku takut nanti ibu bisa sedih."
"Tapi, itu jumlahnya nggak sedikit lho Mas Rendy. Aku yakin di ATM ini uangnya lebih dari cukup."
"Kamu bawa saja, Mas. Anggap saja aku bayar hutang ke kamu. Karena aku udah pinjam uangmu untuk bayar Rumah Sakit."
"Sudah lah, Lis. Itu semua ibu yang ngelakuin bukan ibu. Kalau kamu mau, kembalikan saja uang itu pada ibu."
"Tapi, Mas.."
"Sudah, tidak ada tapi tapian. Lebih baik kita pulang sekarang. Sebentar lagi hari akan gelap."
"Iya, Mas."
"Dan satu lagi, Liss. Pulanglah bersama aku, karena aku menghawatirkan kamu."
Setelah aku fikir fikir akhirnya keputusan sudah aku putuskan. Aku memutuskan untuk pulang dengan diantarkan Mas Rendy. Aku menuju rumah Ibu Mertua. Karena aku tidak mau jika harus tinggal sendiri di rumah yang dibeli Mas Rohman. Apalagi suamiku juga baru saja meninggal. Dan acara ngaji untuk suamiku diadakan di rumah mertua.
__ADS_1