Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 23


"Semoga langgeng terus ya, Cha.


"Iya, terimakasih. Kalau begitu saya permisi, masih banyak yang harus saya layani."


"Ya, silahkan."


Kami membubarkan diri dan kembali ke tempat masing masing. Aku tidak habis fikir, cobaanku bertambah berat sekarang. Orang yang dulu pernah aku suka dan tidak ada kabar bertahun tahun, kini kembali muncul di hadapanku.


Yang bikin aku shock, ternyata Resto ini adalah milik Jimmy. Dan aku baru tahu sekarang. Semoga tidak ada lagi cinta lama bersemi kembali. Aku hanya ingin fokus dengan satu orang saja.


Di sela kesibukkanku, ternyata Jimmy memperhatikan aku dari kejauhan. Aku tidak sengaja bertatap mata dengannya. Dia tersenyum padaku. Aku membalasnya juga dengan senyuman.


Lama lama aku merasa risih jika seperti ini. Aku berusaha tidak memperdulikannya. Dan aku juga berusaha profesional kerja. Lebih fokus pada para pengunjung dan melayaninya.


Tak terasa hari sudah semakin sore. Pengunjung juga sudah berkurang. Resto tidak seramai tadi siang.


Aku memutuskan untuk istirahat. Karena tubuh ini juga sudah sangat lelah. Seperti biasa, aku bersama dua temanku jalan bareng. Kebetulan perut juga sudah sangat terasa lapar, kami bertiga mampir di kedai bakso.


Letaknya tidak jauh dari Resto tempatku kerja. Hanya butuh waktu tujuh menit jika berjalan kaki. Kedai bakso tidak terlalu ramai, hanya ada bebarapa pengunjung saja. Kami duduk di bangku paling pojok.


Sambil menunggu pesanan datang, aku membuka ponsel. Krena saking sibuknya, sampai aku tidak membuka pesan.


[Sayang, aku tidak mau melihat kamu dekat dekat dengan pria lain. Apalagi di depan mataku.] (Pesan dari Rendy)


Sebegitu cemburunyakah Rendy denganku. Aku sangat senang jika sikap dia seperti itu. Tandanya dia benar bebar serius denganku. Aku segera membalas pesan darinya.


[Maaf mas, tadi resto ramai. Dan aku baru sempat buka pesan dari kamu. Aku tadi tidak ada maksud seperti itu. Hanya saja kebetulan bertemu dia di sini. Lagian kan kita juga tidak ada hubungan apa apa. Hanya teman lama saja mas.]

__ADS_1


[Mungkin kamu memang menganggap dia teman sayang, tapi tatapan matanya pria itu sesuatu yang lain.]


[Sudahlah mas, aku sedang capek. Aku tidak mau berdebat hanya masalah seperti ini. Ingat mas, kita sebentar lagi menikah. Nggak usah membahas sesuatu yang tidak penting. Aku hanya untukmu, jika kamu percaya padaku.]


Pesan terakhir dariku hanya diread saja oleh Rendy. Dalam fikiranku mungkinkah dia marah padaku. Sehingga tidak lagi membalas pesan dariku.


Aku tidak mau ambil pusing. Aku juga merasa sangat lelah sekali. Ku masukkan ponselku ke dalam saku. Lalu aku menikmati bakso yang sudah aku pesan tadi.


Saat tengah asik menikmati hidangan, kami bertiga dikejutkan oleh kedatangan dua sejoli. Mereka adalah Chika dan Rohman. Chika tengah bergelayut manja di lengat Rohman sambip melirikku.


Kami bertiga saling pandang. Bahkan Rohmanpun juga salah tingkah saat menyadari keberadaan kami bertiga.


Tatapan sinis terpancar dari Chika. Akupun tak begitu memperdulikannya. Aku menganggap mereka berdua hanya angin yang lewat.


Entah apa yang merasuki Chika, dengan tiba tiba dia menghapiriku. Tak segan dia mengeluarkan kata kata yang sangat tidak pantas. Hinaan dan cacian keluar dari mulutnya.


"Oh, ternyata ini ya pekerjaan kamu. Haha, kamu itu memang pantas jadi pelayan. Dasar cewek kampung. Jangan pernah mimpi kamu bisa sama Rohman."


"Enggak apa apa, sih. Hanya saja itu sangat pantas saja buat kalian orang orang yang berpendidikan rendah. Jangan pernah berharap kalian bisa kerja kantoran seperti calon suami aku."


Saat aku akan membalas ucapan Chika, Andry lebih dulu membalasnya. Karena aku yakin, Andry lebih pandai berbicara.


"Maaf nona yang terhormat, meskipun kami ini hanya pelayan. Tapi setidaknya kami punya atitude yang bagus dan sopan santun saat berbicara kepada orang di depan umum. Walaupun kami hanya berpendidikan rendah, tapi setidaknya kami bisa menghasilkan uang dengan halal. Bukan dari hasil jual diri dengan oom oom."


"Heh, kurang ajar kamu. Berani kamu bicara seperti itu."


Karena aku sudah tidak mampu menahan emosi, aku memberanikan diri untuk ikut berbicara. Karena aku merasa dihina di depan umum.


"Hai, kenapa jadi kamu yang marah? Kamu yang menghina, kenapa kamu juga yang seolah tidak terima. Harusnya kami dong yang marah karena perkataan kamu."

__ADS_1


Rohman berusaha menengahi kami agar tidak terjadi keributan. Namun usahanya sia sia saja. Chika terpancing emosi, sehingga dia marah marah kepada kami.


"Apakah ada kata kata kami yang salah nona Chika yang terhormat. Jika kamu tidak merasa menjual diri, santai saja bicaranya."( Sambung Rere yang juga tengah geram dengan kata kata Chika.)


"Dengar ya mbak Chika yang terhormat. Aku sebentar lagi akan menikah. Jadi tolong stop kamu teror aku terus. Aku nggak ada niatan sedikitpun merebut Rohman dari kamu. Aku nggak ada hubungan apa apa sama dia."


"Apa non, kamu diteror Chika?" (Jawab Rohman seketika melihat ke arah Chika dengan tatapan tidak suka.)


"Ya, aku sering di teror calon istrimu ini. Aku selama ini diam bukan berarti takut. Hanya saja aku menunggu waktu yang tepat. Tolong mas Rohman, ajari calon istrimu ini sopan santun."


"Maaf non, maafkan semua perbuatan Chika yang kurang baik sama kamu."


"Aku nggak habis fikir Rohman, kamu dapat calon istri seperti ini. Saran saja bro, lebih baik kamu selidiki dulu siapa Chika sebenarnya. Biar kamu tidak menyesal di kemudian hari." (Ucap Andry sambil menepuk pundak Rohman.)


"Maksud kamu apa?"


"Aku nggak ada maksud apa apa. Biarkan waktu saja nanti yang membuka semuanya. Biar kamu tahu siapa dia."


"Heh, dasar cowok miskin. Jaga ucapan kamu, ya. Miskin saja sok sokan."


"Sudahlah mas, lebih baik kamu pergi dari hadapan kita. Selera makan kita jadi hilang gara gara kedatangan kalian."


Tak heran jika para pengunjung melihat ke arah kami semua. Karena memang ada sedikit keributan. Mungkin karena tidak ingin suasana bertambah panas, Rohman menarik Chika untuk segera keluar dari kedai.


Chika menatap kami dengan sangat sinis. Lalu pergi dari hadapan kami sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah kami. Bukannya kami marah, justru kami tertawa mengejek dia.


Terlihat Chika dan Rohman tampak berdebat di depan kedai. Aku hanya geleng geleng melihat tingkah mereka. Aku hanya heran, sebenarnya apa mau Chika hingga dia sangat benci padaku. Bahkan ancaman dan makian dari dia sering aku jumpai.


"Sudahlah, tidak usah ngurusin orang seperti dia. Nanti kita ikut ikutan kurang waras."

__ADS_1


Tawa kami kembali pecah. Lalu kami kembali menyantap bakso yang sudah dingin. Sayang jika tidak dihabiskan.


__ADS_2