Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu
Terjebak Cinta Masa Lalu


__ADS_3

Eps. 91


Tak lagi aku menunggu balasan pesan dari Mas Rohman. Aku meletakkan ponsel di nakas, dan kemudian aku lanjut istirahat. Tak butuh waktu lama untuk memejamkan mata. Karena memang aku sudah sangat merasakan mata yang begitu berat untuk terjaga.


Setelah lama aku tertidur, akhirnya aku terbangun juga. Namun mata ini masih terasa berat untuk terbuka. Aku melihat samar samar bayangan seseorang sedang berdiri. Aku belum begitu bisamelihat dengan jelas. Karena masih di bawah pengaruh ngantuk.


Dengan sedikit paksaan, akhirnya aku mampu membuka mata. Mas Rohman sudah berada tepat di depanku. Dia tersenyum padaku, sambil membelai rambutku.


"Mas, kamu sudah pulang."


"Kok nggak bangunin aku?"


"Aku tahu kalau kamu capek, sayang. Jadi ya aku biarkan saja kamu istirahat."


"Maaf, Mas."


"Nggak apa apa, sayang. Kalau kamu masih capek atau mengantuk lanjut tidur saja."


"Ini jam berapa, Mas?"


"Jam lima lebih sedikit."


"Sudah jam lima ternyata. Kalau begitu aku mau mandi dulu saja, Mas. Badanku rasanya lengket sekali."


"Ya sudah, tunggu sebentar. Biar aku siapkan air hangatnya."


Usai mandi, tiba tiba saja aku ingin makan sesuatu. Rasanya aku ingin sekali makan martabak manis dengan toping coklat dan keju yang melimpah.


Tak hanya itu, aku juga rasanya ingin sekali jalan jalan naik motor berdua bersama Mas Rohman. Entah tiba tiba saja ingin dimanja sama Mas Rohman. Ingin dekat dekat terus sama Mas Rohman. Aku berfikir, apakah mungkin ini yang dinamakan bawaan bayi.


Ah, sudahlah. Aku segera menghampiri Mas Rohman. Ternyata dia sedang tiduran di sofa. Niat hati ingin mengajak keluar, tapi jadi tidak tega. Karena melihat Mas Rohman yang sepertinya capek sekali. Tapi lidah ini tetap saja ngeyel ingin martabak manis.


Ku dekati Mas Rohman dan ku berikan sebuah senyuman manja untuknya. Dia juga membalas senyumku. Dan aku pun memberanikan diri untuk bilang bahwa aku ingin makan martabak.


"Mas."


"Iya, sayang."


"Kamu capek, ya."


"Namanya juga kerja pasti capek, sayang."


"Tapi udah biasa, kok. Asalkan pulang aku lihat kamu saja langsung hilang capeknya."

__ADS_1


"Ehm.."


"Kamu mau apa, sayang? Sepertinya ada sesuatu, ayo bilang saja."


"Jadi begini, tadi Mas Rendy nawarin aku kerjaan buat jagain Bu Rita."


"Trus, kamu mau?"


"Ya aku nggak langsung jawab, sih. Aku mau minta persetujuan dulu sama kamu."


"Sayang, apa uang yang aku kasih ke kamu masih kurang banyak?"


"Bukan begitu maksud aku, Mas."


"Lalu apa?"


"Bu Rita itu sakit sudah cukup lama semenjak suaminya meninggal. Beliau tidak mau makan, dan jarang bicara."


"Tapi tadi setelah ada aku, beliau berubah. Bisa tersenyum, mau makan, dan juga mau bicara."


Dapat ku dengar Mas Rohman menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dapat aku tebak jika Mas Rohman tidak mengijinkan aku untuk bekerja. Apalagi bekerja di tempat Mas Rendy.


"Sayang, kamu tahu kan kalau kamu sedang hamil?"


"Iya, Mas."


"Intinya Mas tidak mengijinkan aku berkerja. Bukan begitu kan, Mas."


"Iya, sayang. Lebih tepatnya seperti itu. Semoga kamu mengerti maksud, Mas."


"Ya sudah, Mas. Aku ngerti kok."


"Kamu nggak marah kan, sayang?"


"Nggak, Mas. Buat apa juga aku marah."


Mas Rohman mencium keningku dan lalu memelukku. Entah mengapa aku sangat merasakan pelukan ini sangat berbeda dengan biasanya. Rasanya seperti tidak ingin berpisah dengan Mas Rohman. Tidak lepas dari pelukan Rohman. Sangat nyaman dan hangat sekali, dan berbeda seperti biasanya.


"Mas, aku ingin sekali makan martabak manis."


"Kamu ngidam, sayang?"


"Nggak tahu, Mas. Tiba tiba saja aku pengen sekali martabak manis."

__ADS_1


"Mau kah kamu mengantarkan aku beli martabak? Sekalian aku ingin jalan jalan keluar naik motor."


"Buat kamu apa sih yang nggak, sayang. Ya sudah aku ambil jaket dulu. Kamu juga jangan lupa pakai jaket."


Aku tersenyum girang bagaikan anak kecil yang habis dibelikan jajan. Ku peluk erat tubuh Mas Rohman dan ku kecup pipinya. Dia pun sangat bahagia sekali mendapat sebuah kecupan dariku.


Aku beranjak mengambil jaket dan dompet yang berisi uang serta ponsel. Lalu kami berdua bergegas melajukan kendaraan untuk membeli martabak. Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang. Aku memeluk erat tubuh Mas Rohman.


Sepanjang perjalanan aku tersenyum bahagia sekali. Tak henti hentinya aku memeluk Mas Rohman dengan erat. Begitu pula dengan Mas Rohman yang sesekali menggenggam erat tanganku. Tak hanya itu, Mas Rohman juga sempat mengucapkan 'Aku sanyang kamu, istriku' dan lalu mengecup punggung tanganku.


Namun tiba tiba saja perasaanku mendadak berubah menjadi tidak enak. Aku merasa akan ada sesuatu yang akan terjadi. Jantungku berdetak tak beraturan. Dan tubuhku mendadak bergetar layaknya orang sedang ketakutan.


'Astaga, ada apa ini. Kenapa tiba tiba jadi seperti ini.'


Keringat dingin juga mulai bercucuran. Aku merasakan tubuhku jadi semakin tidak enak. Dan aku dapat merasakan genggaman tangan Mas Rohman semakin erat dan semakin hangat.


Tiba tiba saja dari arah berlawanan muncul sebuah pickup dengan kecepatan tinggi menyalip kendaraan di depannya. Namun dia tidak menyadari jika ada kendaraan kami di depan. Dan terjadilah sebuah kecelakaan yang tidak bisa dihindari.


Mobil pickup tersebut menabrak kendaraan kami. Aku terpental beberapa meter, namun masih sedikit sadar. Aku masih bisa sedikit melihat walaupun samar samar.


Dapat ku lihat tubuh Mas Rohman hancur karena tertabrak truk kontainer. Tepat di depan mataku. Aku ingin menangis, ingin berteriak. Namun aku tak memiliki tenaga. Aku terkapar lemas tak berdaya. Hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.


*********


Ku buka mata perlahan lahan, dan aku merasakan sakit di sekujur tubuhku. Kepala ku juga sangat pusing. Penglihatan ku juga belum optimal.


Setelah aku benar benar sadar, dan aku juga sudah bisa melihat dengan jelas. Kelyargaku sudah berada di sampingku. Ada ibu yang menangis dengan menggenggam erat tanganku. Ada adik serta kakak ku, mereka semua berkumpul menunggu aku yang tengah terkapar tak berdaya ini.


Aku ingin mengeluarkan sepatah kata, namun rasanya masih sangat berat. Aku hanya ingin memanggil nama suami ku. Karena aku ingin berada di sampingnya.


"I..bu... Mas Rohman di mana?"


Tak ada jawaban dari ibu ku. Yang ada malah ibu semakin menangis terisak tiada henti. Aku bertambah bingung, sebenarnya ini ada apa. Aku berusaha bangkit, namun saat aku menyadari sesuatu ada yang aneh. Aku segera membuka selimut. Dan ternyata perutku sudah rata.


Tubuhku bergetar hebat, di mana kandungan ku. Tidak mungkin aku sudah melahirkan. Ku gennggam tangan ibu, dan aku bertanya padanya.


"Ibu, di mana anak yang ada dalam kandungan ku?"


"Dia baik baik saja, kan?"


Tak ada jawaban dari ibu ku. Justru ibu semakin menangis dan lalu memelukku. Aku semakin tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.


"Bu, di mana Mas Rohman?"

__ADS_1


"Sudah, nduk. Kamu yang tenang dulu. Kamu yang sabar, nduk."


"Ibu, ini sebenarnya ada apa?"


__ADS_2