Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Kekhawatiran Arzan


__ADS_3

"Terus kenapa lo sekarang milih bersama Mikha?" tanya Arga ketus,


"Mikha sakit!" jawab Nathan dengan tatapan serius, mereka pun saling beradu tatap tanpa suara.


"Terus?" Arga semakin penasaran.


"Orang tuanya datang meminta gue untuk menjaganya, Mikha tidak mau ikut tinggal di luar negeri dengan orang tuanya, mereka pun tidak bisa tinggal di sini karena kedua orang tua Om Leo juga sangat membutuhkan mereka." Nathan mulai menjelaskan beberapa peristiwa yang dialaminya belakangan ini. Omm Leo adalah papanya Mikha, baru kali ini dia merasa bisa berbicara dengan orang yang tepat, selama beberapa pekan ini dia memendamnya sendiri termasuk dari Rianti.


"Kecelakaan itu telah membuka semuanya. Koma berkepanjangan Mikha ternyata bukan hanya karena kecelakaan tapi karena penyakit yang dideritanya sudah mencapai stadium empat" jelas Nathan dengan wajah yang sendu, menceritakan hal itu langsung mengingatkannya pada sosok Rianti. Perempuan yang dia janjikan untuk makan malam romantis namun berakhir tragis.


Malam dimana Mikha sadar, Nathan mengajak Rianti untuk makan malam di tempat yang sudah dipesannya. Secara khusus dia menyiapkan semuanya, berniat mengungkapkan isi hatinya pada gadis itu. Sayang, saat baru saja Nathan akan pergi pihak rumah sakit memintanya datang karena keadaan Mikha yang drop. Alhasil dia pun tidak dapat memenuhi janjinya pada Rianti karena harus menunggui Mikha di rumah sakit.


"Kenapa bisa setelah parah baru terdeteksi penyakit itu?" tanya Arga yang lebih penasaran dengan penyakit Mikha yang langsung dinyatakan kanker stadium empat.


"Entahlah gue juga tidak tahu, entah selama ini dia pun menyembunyikannya atau memang sama sekali tidak mengetahuinya" jelas Nathan yang juga berada dalam kebingungan.


"Lalu rencana lu sekarang mau gimana? Arga menatap lurus sahabat yang duduk di hadapannya dengan tatapan kosong.


"Gue menyayangi Mikha bahkan sejak dulu. Dia adalah sepupu kesayangan Mitha"


"Jadi karena itu lu menggantung Rianti?" potong Arga dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah,


"Maksud lu apa?" tanya Nathan heran.


"Rianti mencintai lu dan lu ..."


"Gue juga mencintai dia" sela Nathan tak ingin Arga salah bicara,

__ADS_1


"Tapi buktinya lu lebih memilih untuk bersama Mikha"


"Itu karena gue gak ada pilihan, gue akan meminta dia menunggu" ucap Nathan


"Lu egois jika seperti itu" sahut Arga,


"Lu bukan tidak ada pilihan tapi lu gak tegas dengan hidup lu sendiri" sentak Arga yang kesal dengan sikap sahabatnya itu,


"Mikha sendirian, Ga" kilah Nathan,


"Kalau begitu lepaskan Rianti, biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri. Dia berhak bahagia setelah sekian banyak pengorbanan yang dilakukannya. Bukan hanya untuk keluarganya tapi juga untuk lu, laki-laki yang memberinya harapan namun ternyata malah mematahkannya" telak Arga yang sudah tidak bisa lagi menahan dirinya.


"Tapi ini sementara, Mikha butuh gue sampai dia sembuh. Gue yakin Rianti akan bersedia menunggu gue." Nathan masih membela diri,


"Percaya diri sekali lu, lu pikir sampai kapan Mikha akan meminta lu buat bersamanya? Gue kira pikiran lu tidak sesempit itu" Arga berdiri, dia bersiap untuk pergi meninggalkan sahabatnya. Setelah mendengar semua yang Nathan katakan, hatinya bergemuruh, marah dan kesal menyatu tidak rela wanita yang dikaguminya harus kembali terkorban dan menderita.


"Gue mau pergi, lama-lama di sini bisa-bisa gue gak bisa nahan diri buat gak nonjok lu" jawan Arga ketus,


"Tunggu Ga, bantu gue" pinta Nathan memelas,


"Apa lagi? apa yang harus gue bantu buat lu? Lu sendiri yang sudah membuat pilihan"


"Tolong jaga Rianti" ucap Nathan tegas, walau bibirnya bergetar saat mengucapkan kalimat itu namun Nathan yakin akan keputusannya.


"Sorry, gue bosen jagain jodoh orang. Kalau lu mau dia bahagia, lepaskan dia dan jangan pernah lagi menghantuinya dengan harapan-harapan palsu lu" tegas Arga sambil berlalu meninggalkan sahabatnya yang hanya menatap punggung yang semakin menjauh itu. Arga benar-benar pergi meninggalkannya, tanpa pernah menoleh lagi.


Berbeda dengan Nathan yang melanjutkan kembali menikmati kopi yang sudah dia pesan untuk kedua kalinya seorang diri. Di sebuah mewah, tepatnya rumah kediaman keluarga El-Malik semua anggota keluarga tengah berkumpul.

__ADS_1


Menjelang kelahiran Tiara yang tinggal hitungan hari, semua anggota keluarganya berkumpul di rumah itu. Beberapa hari yang lalu Arzan dan Tiara memutuskan untuk kembali tinggal di rumah utama yang hanya ditempati mami Ratna dan beberapa pegawai di rumah itu.


Atas permintaan mami Ratna yang begitu mengkhawatirkan menantu dan calon cucunya, Arzan akhirnya memboyong keluarga kecilnya untuk tinggal di rumah itu. Tentunya setelah berdiskusi terlebih dahulu dengan istri dan putri sulungnya.


Dengan senang hati, Tiara menyambut baik ajakan mertuanya itu. Dia sangat bersyukur suaminya menyetujui permintaan mertuanya itu. Tiara yakin, kehadiran mami Ratna akan sangat membantu kesiapan mental dirinya menjelang persalinan.


Dua hari berada di rumah itu Tiara diperlakukan bak ratu, semuanya sudah mami Ratna siapkan untuk menyambut kedatangan anak, menantu dan cucunya. Mami Ratna sengaja menyiapkan kamar baru di lantai bawah untuk anak dan menantunya. Mami Ratna tidak ingin menantunya kelelahan jika harus turun naik tangga.


Kebahagiaan Tiara semakin berlimpah ketika dirinya mendapat kejutan dengan kedatangan ibu dan kedua adiknya. Arzan sengaja menjemput mereka karena yakin Tiara akan sangat mengharapkan kehadiran ibu di sisinya. Kebetulan kedua adiknya sedang libur sekolah.


Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga, semua bersuka cita. Mengobrol dengan aneka topik, terasa sekali suasana kebersamaan dan kekeluargaan mereka. Kedua adik Tiara bahkan begitu akrab dengan Qiana dan Anna.


"Kamu bahagia sayang?" Arzan yang duduk di sofa yang sama dengan Tiara mengelus pucuk kepala berbalut hijab instan itu penuh kelembutan. Satu tangannya kemudian mengusap perut buncit sang istri yang semakin seksi.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Mas"ucap syukur dan terima kasih Tiara tulus dia ucapkan pada suaminya,


"Apapun untukmu sayang" ucap Arzan mengulas senyum membalas senyuman manis sang istri.


"Kapan kita akan ke dokter lagi?" Arzan masih mengusap lembut perut Tiara, mereka asyik bicara berdua karena mami Ratna dan Ibunya Tiara pun asyik dengan hobi mereka yang kebetulan sama tentang tanaman hias. Begitupun adik-adik Tiara, mereka anteng bermain dengan Qiana dan Anna.


"Kalau minggu ini belum lahir aku harus periksa lagi Mas. Dokter Yunita menyarankan untuk caesar tapi aku menolak, insya Allah aku kuat lahiran normal" Tiara berbicara tenang, berbeda dengan Arzan yang tiba-tiba tubuhnya bergetar. Bayangan Mitha menghembuskan nafas terakhirnya setelah melahirkan Qiana membuat dia bergidik.


"Kami bantu do'a ya Mas" pinta Tiara, dia mendongak menatap wajah suaminya yang tiba-tiba terdiam.


"Jangan khawatir Mas, semua orang sudah digariskan takdir terbaiknya masing-masing. Do'a dan ikhtiyar akan membantu menentukan takdir terbaik itu" Tiara tahu kegusaran suaminya kalau sudah berbicara tentang persalinan. Bayangan masa lalu persalinan mantan istri suaminya masih menjadi bayangan menakutkan untuknya Tiara faham, sesakit apapun pengkhianatan yang ditinggalkan almarhumah Mitha, kenangan indah kebersamaan mereka lebih banyak dan masih menempati tempat tersendiri di hidup suaminya.


"Aku tidak ingin kehilanganmu, sayang" suara Arzan terdengar bergetar, dia menyusupkan kepalanya di ceruk leher Tiara sambil memeluknya erat. Kekhawatirannya semakin menggunung menjelang hari persalinan Tiara yang semakin dekat.

__ADS_1


__ADS_2