
Tiara menyandarkan tubuhnya di dinding toilet. Tadi dia langsung ke luar dari ruang rawat Qiana karena tidak tahan dengan gejolak dalam perutnya. Kehamilannya yang baru memasuki trimester pertama ini sudah mulai membuatnya kewalahan. Biasanya Tiara hanya akan merasakan mual-mualnya di pagi hari saat bangun tidur, tetapi entah kenapa siang ini dia merasakannya kembali. Sepertinya jabang bayi ingin ayahnya tahu seperti apa kehamilan yang dialami ibunya.
Arzan tampak khawatir, dia langsung mengejar Tiara dengan wajah penuh kekhawatiran. Tidak hanya khawatir dengan keadaan Tiara yang baru disadarinya jika wajahnya begitu pucat. Dia juga khawatir jika Tiara kembali menghilang.
"Sayang.....kamu baik-baik saja kan?" teriak Arzan dari balik pintu toilet. Beberapa mata perempuan yang datang ke toilet fokus menatapnya. Arzan pun sedikit risih karena saat ini dia berada di toilet perempuan.
Ceklek.....pintu toilet pun terbuka. Wajah yang semakin pucat dengan mata sembab karena air mata yang turut keluar saat dirinya menumpahkan semua isi perutnya terlihat jelas oleh Arzan.
"Sayang... " panggil Arzan, dia merengkuh tubuh yang mulai terlihat menyusut itu karena gejala kehamilan yang akhir-akhir semakin berat Tiara rasakan.
"Aku mau pulang" ucap Tiara dengan wajah menunduk, dia sudah sangat kepayahan dengan keadaannya saat ini.
"Kita ke ruang periksa dulu ya, aku sangat khawatir" ucap Arzan menggandeng Tiara dan membawanya menuju tempat praktek dokter kandungan tanpa menunggu jawaban,
Tidak ada penolakan dari Tiara, dia seolah sudah kehilangan energinya dan tak berdaya walau hanya untuk sekedar berjalan dengan benar.
"Ini gejala biasa yang dirasakan ibu hamil muda, Tuan. Saya akan memberi resep obat untuk mengurangi mualnya dan vitamin untuk menjaga kondisinya" dokter wanita itu berbicara dengan sopan kepada Arzan, dia tidak bisa menolak ketika tiba-tiba Arzan meneleponnya dan memintanya untuk memeriksa istrinya. Untunglah dia tidak sedang berada di ruang operasi, jadi dengan segera dokter itu memenuhi perintah pemilik rumah sakit itu.
"Sudah berapa lama nona mengalaminya?" dokter memfokuskan perhatiannya pada Tiara,
"Sejak seminggu yang lalu dok, tapi biasanya saya akan merasakannya saat pagi saja ketika bangun tidur dan tidak separah ini" jelas Tiara dengan suara yaang terdengar lemah,
"Sayang..." Arzan kembali merengkuh Tiara, dia semakin merasa bersalah karena baru mengetahui apa yang Tiara alami selama ini.
"Sebelumnya sudah pernah diperiksa?" tanya dokter lagi,
"Belum dok, ini pertama kalinya saya diperiksa. Sebelumnya saya hanya menggunakan alat tes kehamilan saja"
Deg...lagi-lagi Arzan kembali merasa tertampar, dia menatap lekat sang istri dengan penuh rasa bersalah dan penyesalan.
"Baik nyonya, saya sudah resepkan obat dan vitaminnya. Semoga lekas membaik ya. Dan untuk anda Tuan, ini hal-hal yang bisa dilakukan suami untuk membantu istri agar tetap menjalani masa kehamilannya dengan menyenangkan" dokter itu menyodorkan kertas yang berisi panduan suami siaga dan dengan senang hati Arzan menerimanya.
__ADS_1
"Terima kasih dokter" ucap Arzan dan Tiara bersamaan, mereka pun pamit.
Arzan tak melepaskan genggaman tangannya dari Tiara, dia benar-benar takut istrinya itu pergi dan kembali menghilang.
"Mas, aku mau pulang" Tiara berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Arzan, namun Arzan tidak begitu saja membuatkannya.
"Sayang, aku tahu kamu masih marah padaku. Aku tidak peduli kamu akan memperlakukanku seperti apa, tetapi yang jelas aku tidak akan pernah melepaskanmu"
"Tolong beri aku kesempatan untuk menjadi suami dan ayah yang baik Tiara, terserah kamu akan percaya atau tidak tapi aku berjanji akan berusaha untuk itu" Arzan memegang kedua bahu Tiara saat berkata demikian, sementara Tiara hanya menunduk.
"Tiara..." suara yang tak asing mengalihkan mereka berdua. Tiara pun menoleh ke arah sumber suara, sementara Arzan sudah lebih dulu mengeram dalam hati. Wajahnya seketika memerah menahan sesuatu yang ingin meledak dalam hatinya.
"Profesor Kemal" ucap Tiara masih dengan suara lemahnya,
"Kamu sakit?" todong profesor Kemal yang langsung menghampiri Tiara, dia tampak intens memerhatikan wajah Tiara yang terlihat pucat tanpa memedulikan keberadaan Arzan.
"Kami baru saja dari dokter, jadi tidak perlu khawatir" Arzan yang menjawab, dia geram dengan sikap sahabatnya yang mengabaikan keberadaannya dan lebih memilih memerhatikan istrinya,
Walaupun kabar pernikahan Tiara dan Arzan sangat mengejutkannya, tapi Kemal cukup sportif untuk menerima kenyataan jika dirinya tak lagi punya kesempatan untuk mendekati Tiara. Walaupun demikian, sampai saat ini Kemal masih sangat peduli pada mahasiswa spesialnya itu.
"Bagus kalau lo ingat" ketus Arzan,
"Haha....sorry bro" Kemal masih menyisakan tawanya,
"Maaf prof saya sudah selesai, permisi" Tiara mengambil jalan pintas untuk menghentikan perdebatan terselubung antara suami dan dosennya, dia memilih berpamitan dan berjalan tanpa menghiraukan mereka berdua.
Arzan pun mengikuti Tiara yang berjalan beberapa langkah di depannya. Dia berjalan menuju ruang rawat Qiana untuk mengambil barang-barangnya yang masih berada di sana.
"Sayang, kamu sudah kembali?" mami Ratna langsung menyambut kedatangan Tiara dengan senyum di wajahnya,
"Mami sudah di sini?" tanya Tiara, menyalami ibu mertuanya takzim.
__ADS_1
"Iya, tadi Arzan menghubungi mami dan memberi tahu jika kamu dibawa ke dokter. Sekarang bagaimana keadaanmu?" jawab mami Ratna diiringi pertanyaan tentang keadaan Tiara,
"Alhamdulillah sudah lebih baik Mi" jawab Tiara dengan menampilkan senyumnya.
"Sayang, kamu sudah menerima permintaan maaf dari Arzan?" mami Ratna mulai mengorek keadaan hubungan putra dengan menantunya itu, dan dijawab anggukan oleh Tiara,
"Kamu sudah memaafkannya?" susul mami Ratna, lagi-lagi Tiara hanya menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu, kamu sudah bersedia pulang sekarang?" mami Ratna menatap penuh harap jika jawaban Tiara tetap sama yaitu menganggukan kepalanya,
"Mami, aku...."
"Mami tahu selama ini kamu sudah banyak berkorban untuk putra dan cucu mami. Mami tahu putra mami sudah banyak sekali menyakiti kamu, tapi sebagai seorang ibu mami hanya menginginkan yang terbaik. Mami sangat berharap jika kamu bersedia kembali bersama Arzan, dia sangat membutuhkan kamu begitupun Qiana. Apalagi sekarang ada kehidupan baru dalam rahimmu. Tentu dia pun akan sangat bahagia dengan kebersamaan kedua orang tuanya"
Arzan yang sudah membuka pintu, urung masuk saat mendengar mami Ratna berbicara. Dia memilih pendengar dari pembicaraan dua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya,
"Mami... selama ini keinginanku sederhana. Aku hanya ingin setiaku dimiliki oleh orang yang tepat. Aku bahkan selalu membisiki hatiku jika hujan tak akan selamanya deras, matahari tak selamanya terik, dan langit tak selamanya biru. Karena di dunia ini tak ada yang abadi, semuanya akan berlalu seiring berjalannya waktu. ucap Tiara, dia menghembuskan nafasnya perlahan.
"Begitupun dengan Mas Arzan, aku percaya jika Sang pembolak-balik hati sudah berkehendak, maka Mas Arzan pun akan mampu melepas masa lalunya untuk sekedar menjadi sebuah kenangan. Sejak lama aku mengharapkan itu, bukan untuk menghilangkan jejak Mbak Mitha dalam hidup Mas Arzan tetapi aku ingin dia hidup juga untuk masa depannya, dan mungkin sekaranglah saatnya"
"Ketika hatiku sudah merasa lelah dan ingin menyerah, ternyata Allah membukakan hati Mas Arzan. Aku tahu tidak ada manusia yang sempurna karena sejatinya... cinta sejati itu memandang kelemahan lalu diubah menjadi sebuah kelebihan untuk selalu mencintai. Dan seperti itulah pula yang akan aku lakukan, Mi. Aku tulus mencintai dan menyayangi Mas Arzan dan akan selalu membersamainya."
"Sayang....." Arzan sudah tidak kuat lagi menahan haru dalam hatinya, setiap kalimat yang diucapkan Tiara menjadi tamparan untuk dirinya, penyesalan dan rasa bersalah semakin menyelimuti. Bagaimana bisa selama ini dia mengabaikan seseorang yang begitu tulus mencintai dan menyayanginya.
"Maafkan aku" Arzan menghambur memeluk Tiara, dengan bahu yang bergetar.
Di balik punggung tegap suaminya Tiara hanya saling pandang dengan mami Ratna, mereka berdua kaget karena kedatangan Arzan yang tiba-tiba.
"Arzan, mami harap apa yang terjadi akhir-akhir ini menjadi pelajaran untuk kamu. Mami hanya ingin berpesan, jika sudah diberi kepercayaan, jangan pernah mengecewakan" mami Ratna mengulas senyum bahagia melihat putranya kini sudah menyesali sikapnya dan mengambil keputusan yaang tepat untuk memperjuangkan cintanya.
"Terima kasih sayang, terima kasih atas kesempatan berharga ini. Aku tidak akan menyia-nyiakannya, karena aku sadar nyamanku hanya ada di kamu, jadi jangan pernah pergi lagi ya? tetaplah bersamaku" ucap Arzan, dia mencium kening Tiara lama dan dalam, seolah mengalirkan cinta dan kerinduan yang teramat besar untuk istrinya.
__ADS_1