
Seorang anak remaja tampan tengah mematut dirinya di depan cermin di dalam kamarnya. Waktu liburan telah usai, tidak terasa dua minggu sudah dirinya bersama dengan keluarga tercinta. Kini sudah saatnya dia untuk kembali ke pesantren.
Tok...tok...tok...
"Abang....Abang Ariq" seorang gadis kecil terdengar memanggil namanya.
Ceklek, pintu kamar sang anak bujang pun terbuka. Disambut senyum merekah gadis cantik yang juga sudah rapih berbalut pashmina warna pink muda, sangat pas diwajahnya yang cantik dan imut.
"Ada apa Al?" tanya anak bujang yang tidak lain adalah Ariq Rafandra Malik, putra pertama Arzan dan Tiara yang saat ini sudah berusia lima belas tahun.
Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama dan menjadi lulusan terbaik, dia memutuskan untuk menghabiskan libur panjangnya bersama keluarga tercintanya di Jakarta. Sudah cukup lama dia tidak pulang. Libur semester kemarin dia memutuskan untuk tetap mukim di pondok, mengisi waktunya untuk persiapan ujian akhir kelas sembilan, itu artinya sudah hampir satu tahun dia tidak pulang dan hanya keluarganya yang setiap bulan mengunjunginya di pesantren.
Benar saja, hasil tidak mengkhianati proses, Ariq lulus dari sekolah menengah pertama dengan predikat lulusan terbaik dan hafidz Qur'an tiga puluh juz. Suatu kebanggaan untuk Arzan dan Tiara memiliki putra yang cerdas dan berprestasi. Tidak sia-sia mereka berdua untuk menahan diri dan tega berjauhan dengan sang putra kebanggaannya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah dasar Islam di Jakarta, Arzan dan Tiara harus rela melepas sang putra yang memilih untuk mondok dan bersekolah di sekolah boarding school atas keinginannya sendiri.
Atas rekomendasi beberapa rekannya Arzan dan Tiara menyetujui keinginan putranya yang ingin mondok dan salah satu sekolah boarding school yang cukup terkenal di Garut menjadi sekolah pilihan putra mereka.
Awalnya sangat berat bagi Tiara untuk melepas kepergian putranya. Setelah sebelumnya dia ditinggalkan oleh putri sambungnya Qiana yang juga harus melanjutkan studinya ke luar negeri. Tiba gilirannya Tiara pun harus melepas Ariq.
Untunglah, saat usia Ariq sudah dua tahun Tiara kembali mengandung. Arzan yang sangat menginginkan memiliki banyak anak dan Tiara dengan senang hati mendukung keinginan suaminya itu. Itulah sebabnya setelah Ariq lepas asi saat usianya dua tahun, merekapun kembali melakukan program hamil.
Lima belas tahun telah berlalu, Ariq saat ini akan memasuki sekolah menengah atas, masih di yayasan yang sama di Garut karena memang sekolah itu terdapat SMP dan SMA nya. Saat ini dia pun memiliki tiga adik perempuan yang selalu menempel padanya saat dirinya pulang.
Alya Faranisa Malik, adalah putri kedua Tiara dan Arzan, gadis itu tumbuh sangat cantik dan cerdas. Sebagaimana Ariq, Alya pun merupakan perpaduan dari Arzan dan Tiara. Alya bahkan lebih mendominasi sifat yang dimiliki Arzan, meskipun perempuan dia sudah terlihat tegas dalam setiap mengambil keputusan dalam hal apapun.
Jarak usia Ariq dan Alya hanya sekitar tiga tahun. Saat ini Alya sedang berbahagia karena dia pun akan mengikuti jejak sang kakak Ariq yang bersekolah di sekolah boarding school masuk kelas tujuh sekolah menengah pertama.
"Daddy sama Mommy sudah menunggu untuk sarapan sebelum kita pergi. Abang sudah siap?'' tanya Alya antusias, dia pun sudah tidak sabar ingin merasakan kehidupan di asrama.
"Sudah dong, kamu siap?" tanya Ariq balik, dia pun keluar dari kamarnya dan menutup pintu, merangkul bahu sang adik dan berjalan menuju ruang makan dimana semua orang sudah menunggu.
"Duuh cucu oma ganteng sekali" puji nyonya Ratna yang sudah duduk di meja makan dengan senyum bahagia, di sampingnya nenek Imah pun membenarkan apa yang dikatakan mami Ratna.
__ADS_1
Sejak Rahman, cucu nenek Imah dipercaya memegang salah satu anak cabang perusahaan milik Arzan di luar kota, Tiara meminta izin kepada suaminya untuk meminta agar nenek Imah tinggal bersamanya. Dengan senang hati tentu saja Arzan mengizinkannya.
Kini wanita yang sudah berumur hampir tujuh puluh lima tahun itu sudah duduk menggunakan kursi roda dan selalu dijaga oleh perawat khusus yang disiapkan Arzan dan Tiara untuk menjaga nenek Imah.
Begitupun dengan nyonya Ratna, dia pun meminta sang putra agar tetap tinggal di rumah megahnya yang luas peninggalan almarhum suaminya, mami Ratna ingin menghabiskan masa sepuhnya bersama dengan anak dan cucunya. Sebagai anak tunggal Arzan pun menyetujui permintaan sang ibu, tentunya setelah berdiskusi terlebih dahulu dengan sang istri dan dengan senang hati Tiara pun menyetujui nya.
Sementara kedua orang tua Tiara memutuskan untuk kembali ke Serang, Banten. Semua aset milik keluarga Tiara sudah dikembalikan dan tidak ada satupun yang berkurang. Setelah dinyatakan tidak bersalah dan bebas Ayah Tiara pun kembali menerima apa yang memang sudah menjadi haknya.
Bersama sang istri dia kembali ke rumah kenangan mereka dan kini hanya tinggal berdua karena kedua adik Tiara pun kini sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Mereka tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan cerdas, keduanya menjadi orang kepercayaan Arzan untuk mengelola bisnis yang sesuai keahlian mereka. Tentu saja perusahaan yang mereka pimpin merupakan perusahaan yang berada di bawah naungan El-Malik Grup.
"Alhamdulillah, Masya Allah. Terima kasih Oma" ucap Ariq membalas pujian sang nenek dengan penuh rendah hati.
"Aku juga cantik Oma" gadis kecil yang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar itu tidak mau kalah. Dia membetulkan kerudung yang digunakannya dengan manja dan mengerjap-erjapkan matanya ingin dipuji juga oleh sang oma.
" Iya, Aira juga cantik" puji Mami Ratna yang kemudian disusul tawa semua orang karena kelucuan gadis kecil itu.
Aira Alfathunnisa Malik, nama putri ketiga Arzan dan Tiara. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik, cerdas dan ceria. Diantara saudara-saudaranya Aira memang terlihat paling ceria dan selalu heboh jika berkumpul bersama.
"Aku juga cantik kan Mommy?" suara gadis kecil lainnya terdengar lirih. Dia terlihat malu-malu saat mengatakannya, gadis itu bahkan bersembunyi di balik lengan sang mommy karena malu.
"Uluuh satu lagi cucu oma belum kesebut, tentu saja sayang, Alin cucu Oma juga tak kalah cantik dari kakak-kakaknya" Mami Ratna yang menyadari jika cucu paling bontotnya itu belum kesebut buru-buru menyahut perkataan menantunya Tiara.
"Bilang apa sayang sama Oma?" Tiara meraih tubuh putri paling kecilnya itu agar tidak bersembunyi lagi.
"Alhamdulillah, terima kasih Oma" jawab gadis kecil yang dipanggil Alin itu malu-malu menjawab.
Alina Fadhilatunnisa Malik adalah nama yang disematkan Arzan pada gadis kecil itu. Usianya kini sudah beranjak lima tahun. Dia sudah bersekolah di salah satu taman kanak-kanak, dan sebentar lagi dia akan memasuki kelas baru setelah sebelumnya belajar di kelas yang khusus untuk usia lima tahun ke bawah.
Awalnya Tiara sudah berhasil membujuk suaminya untuk tidak melakukan program hamil lagi. Empat anak perempuan dan satu anak laki-laki sudah cukup untuk mereka.
Arzan pun menyetujui permintaan sang istri, walaupun dalam hati masih menginginkan anak laki-laki tapi diapun tidak mau egois. Dia tahu betul bagaimana perjuangan istrinya saat mengandung dan melahirkan anak-anaknya.
Dan selama itu Arzan tidak pernah absen untuk mendampingi sang istri melewati masa kehamilan dan melahirkan. Dia selalu berada di garda terdepan untuk memenuhi semua kebutuhan istrinya, memastikan istri dan anak tang dikandungnya baik-baik saja tidak kurang satu apapun. Tidak ada permintaan Tiara yang tidak dipenuhi Arzan, Arzan benar-benar menjadi suami siaga dan selalu bisa diandalkan.
__ADS_1
Arzan bahkan rela kehilangan proyek besar sekalipun, dia selalu menjadikan keluarganya sebagai prioritas utama dan nomor satu. Bagi Arzan semua harta yang dimilikinya tidak bisa dibandingkan dengan istri dan anak-anaknya, oleh karenanya bagaimanapun keadaannya jika keluarganya membutuhkan dia akan selalu ada untuk mereka.
Tiara sudah cukup tenang dengan kehidupan barunya, setelah selesai menuntaskan mengasihi Alina yang digadang-gadang akan menjadi putri bungsunya diapun mulai bisa bernafas lega.
Saat Alina berusia tiga tahun, Tiara mulai melakukan aktifitas baru. Atas izin suaminya dia membuka usaha baru di bidang fashion. Kemampuannya dalam mengelola bisnis membuat usahanya pun cepat berkembang. Dalam waktu satu tahun dia pun sudah memiliki beberapa cabang yang tersebar di daerah Jakarta.
Tiara pun mulai me reschedule kegiatan hariannya, walaupun dia sukses menjalankan bisnisnya namun Tiara tidak pernah melupakan kewajiban utamanya sebagai seorang istri dan ibu.
Dengan senang hati Tiara menjalani hari-harinya yang multiperan itu. Seiring waktu dia bahkan terlihat semakin cantik dan dewasa. Alina yang sudah mulai masuk sekolah PAUD dan dibantu pengasuhnya untuk mengantar jemput dan menunggui putrinya bermain sambil belajar di sekolahnya membuat Tiara semakin leluasa mengatur waktunya.
Namun sayangnya, tepat saat putri bungsunya berusia empat tahun dirinya kembali dinyatakan positif hamil. Tiara bahkan tidak menyadari jika dirinya hamil, dia baru mengetahui hal itu saat dirinya dilarikan ke rumah sakit karena pingsan saat sedang melakukan kunjungan ke salah satu butiknya. Hal yang membuat Arzan panik dan seketika meninggalkan pertemuan penting dengan rekan bisnisnya setelah mendengar kabar itu dari Arga.
Dikiranya hanya kelelahan karena kurang istirahat, nyatanya setelah dilakukan pemeriksaan Tiara justru dinyatakan positif hamil dan tentu saja hal itu seketika merubah kepanikan Arzan menjadi wajah yang berbinar bahagia.
Dan saat ini, wanita yang semakin cantik seiring berkurang usianya itu kembali tengah mengandung dengan usia kandungan yang sudah menginjak bulan kelima. Terlihat lebih besar dari usia lima bulan pada umumnya. Setelah pemeriksaan dokter spesialis kandungan Tiara dinyatakan tengah mengandung anak kembar dan dipastikan jika keduanya berjenis kelamin laki-laki.
Lagi-lagi ungkapan syukur Arzan tidak main-main, dia kembali menghadiahi seluruh karyawannya di setiap lini usaha yang dimilikinya dengan bonus dua kali lipat gaji bulan itu. Semua orang pun bahagia menyambutnya, ribuan bahkan jutaan karyawan pun tak lupa mendo'akan kesehatan dan kelancaran untuk istri dan anak-anaknya, tidak lupa mereka pun berterima kasih dan berjanji akan bekerja lebih abik untuk El-Malik Grup.
"Sekarang semuanya sudah berkumpul. Ayo Kakak yang memimpin do'a" Arzan menunjuk putri sulungnya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik dengan balutan hijab dan gamisnya pun untuk memimpin do'a.
Dengan senang hati Qiana pun memulai berdo'a, kerinduannya yang telah bertahun-tahun tidak berada di rumah karena harus menyelesaikan studinya di luar negeri kini terobati sudah dengan kebersamaan itu.
"Aamiin" pungkas Qiana mengakhiri do'anya dan diaminkan juga oleh semua orang.
Mereka pun menikmati sarapannya bersama, sesekali diselingi obrolan ringan yang membuat kekeluargaan mereka pun semakin erat.
Tiara menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Perutnya yang sudah cukup besar membuat dirinya mudah kenyang dan mudah lapar.
"Kenapa sayang?" Arzan yang duduk tepat di samping istrinya itu mendengar jelas tarikan nafas Tiara yang terdengar dalam, dia meraih bahu sang istri dan mengusap perutnya.
"Tidak apa-apa Mas, aku hanya bahagia" Tiara mengedarkan pandangannya satu persatu menatap anak-anaknya yang sedang asik mengobrol sambil menikmati minuman mereka setelah sarapan usai.
"Lihatlah Mas, mereka anak-anak kita. Aku sangat bahagia menjadi ibu mereka." rasa haru seketika menyerang hati Tiara,
__ADS_1
"Kamu benar sayang, aku juga bahagia. Mereka tumbuh semakin besar, terima kasih sudah menjadi ibu untuk mereka. Kamu adalah ibu yang hebat" Arzan mengecup kening Tiara dalam dan lama. Tanpa sadar semua anak-anaknya tengah menatap keromantisan mereka di pagi ini.
"Ciee......." anak-anak pun seketika riuh melihat adegan romantis mommy dan Daddy meraka.