
"Terima kasih Mommy cantik dan juga Daddy, aku sayang kalian" Qiana berkata dengan lantangnya di atas pentas, membuat semua orang yang menyaksikannya begitu terharu.
Penampilan Qiana di atas pentas berhasil membuat semua orang yang menyaksikannya turut berbangga. Dia begitu menghayati setiap bacaan Al-Qur'an yang diucapkannya. Metode Tiara dalam mengajari anak sambungnya selama ini ternyata berhasil dan itu terbukti haru ini. Semua orang dibuat larut dan merinding mendengarkan lantunan ayat suci yang dibacakan Tiara.
Selama ini Tiara tidak hanya membantu Qiana menghafal setiap ayatnya saja, tetapi dia juga menjelaskan arti dan makna setiap ayat. Hal itu membuat Qiana faham dengan apa yang diucapkannya sehingga melafalkannya penuh makna.
Acara pun berakhir dengan sukses. Saat ini Qiana sudah bersama Tiara dan Arzan.
"Daddy, aku mau main dulu" Qiana memecah keheningan yang terjadi sesaat setelah acara usai, mereka kini berjalan menuju parkiran mobil. Tiara yang bingung akan duduk dimana akhirnya berinisiatif membuka pintu depan, dia memilih duduk di samping Arga karena Arzan dan Qiana akan duduk di belakang.
"Mommy kenapa duduk di depan? kita di belakang aja kan muat bertiga" dengan polosnya gadis kecil itu bertanya sekaligus memberi intruksi yang membuat Tiara bingung dan menjadi salah tingkah.
"Mommy...."
"Masuklah!" titah Arzan, dia memotong perkataan Tiara yang akan menjawab pertanyaan Qiana,
Arzan membukakan pintu untuk Tiara kemudian memutari mobil untuk masuk dari pintu satunya lagi.
Tanpa sepengetahuan mereka Nathan masih berada di sana. Setelah sedikit bersitegang dengan Arzan, yang berakhir tanpa kata. Hanya tatapan yang saling menghujam seakan saling mengoyak hati, membuat Tiara bergidik ngeri memilih diam dan memalingkan pandangannya.
Untunglah suara riuh tepuk tangan penonton di gedung aula itu berhasil mengusir ketegangan yang terjadi di area paling belakang kursi penonton.
"Tuan, Nona Qiana memanggil" ucapan Tiara sontak membuat Nathan mengalihkan tatapannya, dia tersentak dengan panggilan Qiana pada Arzan yang memanggil tuan.
Arzan menoleh dan menatap Tiara tajam, hatinya tiba-tiba memanas. Mendengar Tiara memanggilnya tuan membuat dirinya serasa ingin marah, tapi itu tidak mungkin dia lakukan saat ini.
Arzan memilih turun menyusuri tangga di samping deretan tempat duduk penonton menuju ke atas pentas tempat Qiana berada. Tiara pun mengikuti Arzan dari belakang tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nathan yang memilih tetap berdiri di sana.
Kehangatan tiba-tiba menyeruak di dadanya saat mendengar Qiana menyampaikan terima kasih dengan polosnya kepada mommy dan daddynya. Sungguh keriangan dan hal kecil apapun tentang gadis itu adalah membuat hidupnya semakin bersemangat. Berharap suatu saat gadis kecil itu datang kepadanya dan memeluknya.
"Ternyata kamu hanya pengasuh, Qiana" gumamnya saat melihat mobil milih Arzan melaju meninggalkan gerbang sekolah.
Sementara di dalam mobil keheningan kini kembali tercipta. Qiana yang saat mobil melaju masih bersuara dengan begitu semangat menceritakan perasaan bahagianya saat naik pentas dan ditanggapi Tiara tak kalah antusias kini tinggal dengkuran halus yang terdengar.
Qiana terbaring sangat lelap di pangkuan Tiara.
"Sepertinya kamu sangat capek" Tiara pun memecah keheningan dengan berbicara sendiri sambil mengusap kepala Qiana yang masih berbalut hijab dan kini berada di atas pangkuannya. Arzan menoleh saat mendengar Tiara akhirnya berbicara.
"Eheummm, berapa lama dia ada di sana?" dengan suasana yang masih sangat canggung Arzan akhirnya mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi mengusik hatinya.
__ADS_1
"Hah, anda bertanya pada saya tuan?" Tiara dengan polosnya balik bertanya,
"Heumm" Arzan sedikit geram, bisa-bisanya gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu malah balik bertanya.
"Ouh, saya kita Anda berbicara pada Mas Arga" Arga yang mendengar namanya disebut menginjak rem secara tiba-tiba, pasalnya dia mendengar Tiara memanggilnya dengan sebutan Mas di hadapan Arzan.
Ciiiitt.......decitan rem yang menghentakkan tubuh penumpang pun tak terelakkan.
"Apa-apaan kamu?" sarkas Arzan yang kaget karena Arga tiba-tiba menginjak rem mobil.
"Hah....maaf, maafkan saya bos saya tidak sengaja" Arga terlihat panik sambil berharap sang bos melupakan apa yang barusan dia dengar,
"dan kamu kenapa memanggil dia Mas?" Arzan beralih menatap Tiara, ada kekesalan yang terlihat jelas di wajahnya menandakan dia tidak suka jika Tiara memanggil Arga dengan panggilan mas,
"Ya...itu...itu karena Mas Arga meminta saya memanggilnya seperti itu, mas Arga bilang karena umurnya dengan saya tidak terlalu jauh" jawab Tiara apa adanya, membuat Arga sejenak memejamkan mata bahkan wajahnya meringis membayangkan reaksi Arzan saat mendengar jawaban Tiara.
"Ckk....." Arzan berdecak, dia melengos memalingkan wajahnya tidak suka dengan jawaban Tiara.
Tak lama pandangannya kembali ke depan, dia menatap asisten sekaligus sahabatnya itu dengan tajam dari spion yang berada di atas kepala Arga, sekilas pandangan mereka bertemu membuat Arga bergidik karena tahu arti tatapan bossnya itu.
"Jadi sejak kapan dia berada di sana?" ulang Arzan,
"Ckkk...." Arzan berdecak sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela mobilnya karena sebenarnya enggan menyebut nama laki-laki yang dulu merupakan sahabat dekatnya. Tiara mengernyit, bingung dengan reaksi Arzan.
"Nathan" ucap Arzan dengan nada ketus.
"Ouh, saya tidak tahu Tuan. Saya tidak terlalu memerhatikan, yang saya ingat dia sudah duduk sejajar di kursi yang saya tempati" jawab Tiara apa adanya,
"Heumm" jawab Arzan, tidak melanjutkan pembicaraannya.
Sejak pertemuannya dengan Nathan di sekolah putrinya, Arzan terlihat lebih banyak diam sepertinya banyak hal yang dipikirkannya. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di kantor, begitupun saat di rumah ruang kerja lebih sering menjadi tempatnya berada.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu membuat Arzan sedikit terperanjat, saat ini dia sedang berada di ruangan kerjanya fokus pada layar yang tepat berada di hadapannya.
"Ya!" sahut Arzan, menghentikan aktivitasnya,
"Maaf Tuan boleh saya masuk?" hanya kepala Tiara yang terlihat, dia belum berani melangkahkan kaki untuk memasuki ruangan khusus suaminya itu,
__ADS_1
"Kamu, masuklah" beberapa kertas terlihat berserakan, Arzan merapikan mejanya yang sedikit berantakan.
"Duduklah" Arzan menunjuk sofa dengan dagunya, dia pun beranjak dari kursi kebesarannya menuju sofa yang sama. Kecanggungan di antara mereka tercipta,
"Qiana sudah tidur?" Arzan berbasa basi untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka, sebenarnya dia pun tahu jika putrinya itu pasti sudah tidur karena saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Ada apa?" Arzan menatap Tiara yang kini telah duduk di hadapannya, Tiara sudah cukup lama mengenal Arzan. Dia pun sudah sering presentasi di hadapan pria itu mewakili divisinya di kantor. Tapi entah mengapa Tiara masih saja gugup saat harus berhadapan langsung dengan Arzan apalagi hanya berdua.
"Katakanlah" Arzan yang melihat Tiara semakin menundukkan kepalanya kembali mengeluarkan titah kali ini dengan nada yang lebih lembut seolah tahu jika Tiara masih sangat sungkan padanya,
"Sebelumnya maafkan saya tuan, akhir bulan ini saya harus mengikuti lokakarya tahap satu sebagai follow up dari kegiatan magang yang sudah terlaksana selama satu bulan ini. Acaranya akan dilaksanakan hari Jumat dan Sabtu, jadi saya mau minta izin untuk menginap"
"Menginap?" sela Arzan yang tiba-tiba memotong Tiara,
"Iya Tuan, Kamis sore kami berangkat dan ..." jawaban Tiara menggantung karena Arzan lebih dulu memotongnya,
"Berangkat kemana?" tanyanya cepat,
"Ke Banten, dan saya juga izin untuk kembali hari Minggu" jawab Tiara,
"Hah, kenapa?" Arzan menautkan kedua alisnya,
"Lokakarya akan dilaksanakan di daerah wisata pantai Carita Banten, kebetulan rumah orang tua saya tidak terlalu jauh dari sana. Rencananya saya akan menginap semalam dan kembali minggu siang"
"Apa?" pekik Arzan tiba-tiba,
"Hah?" Tiara bingung dengan reaksi Arzan yang di luar dugaannya,
"Haruskah kamu pergi? bagaimana dengan Qiana dan rumah ini?" Arzan mencecar Tiara dengan pertanyaan yang entah dia sadari atau tidak bahwa pertanyaan itu membuat Tiara bingung dengan reaksi Arzan yang menurutnya berlebihan, namun Tiara segera menepis tak ingin berbesar hati.
"Saya sudah membicarakan ini dengan Nona Qiana dan dia mengerti, saya juga sudah menyampaikan hal ini pada Nyonya dan beliau bersedia menemani Qiana selama saya pergi" ujar Tiara menjelaskan jika semua tentang tugasnya di rumah ini sudah dia antisipasi,
"Lalu bagaimana dengan.....?" ucapan Arzan terhenti ketika dirinya menyadari jika pertanyaan itu terlalu menjurus,
"Dengan apa Tuan?" Tiara akhirnya bertanya karena Arzan tak kunjung melanjutkan bicaranya,
"Tuan" Tiara kembali memanggilnya karena Arzan tampak tidak fokus dengan pertanyaannya,
"Bagaimana dengan aku?" Arzan melanjutkan ucapannya dalam hati dengan tatapan yang masih tertuju pada Tiara, begitu pun Tiara yang menatap Arzan karena menunggu jawaban dari pertanyaannya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, mereka kini larut dalam tatapan yang saling beradu dengan arti yang hanya mereka masing-masing yang tahu.