
"Aku titipkan mereka padamu, setidaknya aku lega karena sudah bisa mengantar mereka langsung kepadamu, Tuan Muda" Kemal mengakhiri perbincangannya dengan Arzan.
Setelah rapat penyambutan mahasiswa magang yang terasa istimewa karena langsung dihadiri oleh presiden direktur. Arzan mengajak Kemal menuju ruangannya. Sebuah ruang nan megah dengan desain interior yang apik dan elegan ditunjang aneka furniture berkelas yang membuat ruangan itu terlihat semakin mewah.
Arzan dan Kemal larut dalam obrolan tentang masa lalu di saat mereka menghabiskan masa kuliahnya dulu di lembaga pendidikan yang sama. Keduanya memang teman yang sangat akrab, persahabatan mereka terjalin dengan baik. Tidak hanya berdua melainkan berempat di antaranya mendiang istri Arzan. Sejak kuliah Arzan memang sudah menjalin kasih dengan Mitha mendiang istrinya, hubungan jarak jauh pun mereka tempuh saat Arzan harus melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Tetapi Mitha tetap setia menanti hingga akhirnya mereka dipersatukan dalam ikatan pernikahan dan dikaruniai anak yang menjadi kenangan terakhir yang ditinggalkan Mitha untuk Arzan.
Lain halnya dengan Arzan, persahabatan yang berakhir dengan pernikahan tidak berlaku untuk Kemal dan Gayatri, di kampus mereka berempat terkenal sebagai pasangan serasi yang selalu menjadi idola. Di awal menjalin persahabatan Kemal sempat menyatakan perasaannya pada Gayatri setelah sebelumnya dia memendam rasa sukanya pada Mitha, suka yang kemudian tumbuh menjadi cinta namun sayang cintanya tak berkesempatan untuk dilaunchingkan karena ternyata Arzan memiliki perasaan yang sama terhadap Mitha dan Kemal memilih mudur dan tetap menjadi sahabat untuk mereka berdua.
Dan lagi-lagi Kemal harus menelan pil pahit tatkala Gayatri kembali menolaknya dengan dalih yang sama yaitu karena dia telah mencintai laki-laki lain. Laki-laki yang telah menjadi kekasih sahabatnya, Mitha. Ya, ternyata Gayatri pun tidak bisa mengelak dari pesona seorang Arzan Ravindra, dia rela harus merasakan kesakitan tatkala melihat Arzan memperlakukan Mitha bak ratu, namun itu tak masalah baginya selama dia masih bisa melihat Arzan dari dekat dia rela walau harus menahan hati yang semakin terluka.
Kemal kembali menepikan rasa itu, dia cukup dewasa untuk bersikap. Jika cinta berujung penolakan maka tetap menjadi sahabat adalah langkah bijak yang dia tempuh. Jadilah mereka tetap bersahabat hingga kini. Walaupun sama-sama berasal dari keluarga pebisnis hebat tapi Kemal memilih mengabdikan hidupnya dengan menjadi pendidik, baginya melahirkan seorang pebisnis hebat jauh lebih memuaskan dibanding menjadi pebisnis itu sendiri.
"Jangan khawatir, mereka aman bersamaku. Kau pastikan saja mereka layak berada di perusahaanku, hahaha...." jawabnya diakhiri tawa yang seakan sudah lama tak hadir dalam hidupnya.
"Ck...." Kemal berdecak, sejak dulu sahabatnya itu sangat memperhitungkan dengan siapa dia harus berbisnis. Wajar saja jika saat ini dia pun berharap mahasiswa yang magang di kantornya adalah mahasiswa-mahasiswa dengan predikat terbaik dari yang paling baik. Oleh karena itu, mahasiswa-mahasiswa yang dikirim untuk magang di kantor pusat El-Malik Grup adalah mahasiswa pilihan dengan banyak prestasi dan telah melewati tahap seleksi yang tidak mudah.
"Aku jamin, mereka adalah orang-orang yang kau cari" lanjut Kemal tak kalah percaya diri dengan kualitas mahasiswa-mahasiswanya.
"Dan satu lagi, di antara mereka ada orang spesial untukku. Tolong pastikan dia nyaman dan jangan mempersulitnya" pungkas Kemal penuh teka-teki.
"Benarkah?" tanya Arzan antusias, dia cukup penasaran selera sahabatnya itu sekarang. Seingatnya sejak Kemal ditolak oleh Gayatri sahabat mereka Arzan tidak pernah melihat bahkan mendengar sahabatnya itu dekat dengan wanita mana pun.
"Heumm" jawab Kemal hanya dengan deheman.
Arzan pun mengikuti langkah kaki Kemal menuju pintu keluar dari ruangannya, tak lupa dia mengantarkan kepergian sahabatnya yang semakin menjauh dan menghilang setelah memasuki lift.
"Sarah, ke ruanganku sekarang" Arzan duduk di kursi kebesarannya, dia menghubungi sekretarisnya untuk masuk ke ruangannya.
Tok...tok...tok...
Tidak menunggu lama terdengar suara pintu diketuk, Arzan pun mempersilahkannya masuk
"Masuk!" titahnya.
"Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sarah, perempuan yang sudah hampir lima tahun menjadi sekretarisnya.
"Ya" Arzan mendongak, menatap sekilas sekretarisnya dia kembali mengarahkan pandangannya pada layar laptop yang ada di hadapannya.
"Apa semua mahasiswa magang sudah mendapatkan job masing-masing?" pertanyaan yang membuat Sarah mengernyitkan dahinya. Baru kali ini tuannya menanyakan hal yang tidak terlalu penting menurutnya. Selama ini Tuan mudanya itu sama sekali tidak tertarik untuk urusan mahasiswa magang, semuanya sudah diatasi oleh orang kepercayaan sesuai bidangnya.
"Sudah Tuan, mereka sudah menempati tempat tugasnya masing-masing" jawab Sarah sesuai laporan yang diterimanya dari bagian kepegawaian.
__ADS_1
"Oke, Arga sudah datang?"
"Belum Tua Muda, Tuan Arga bilang pertemuannya sampai menjelang makan siang dan akan diakhiri dengan makan siang bersama jadi kemungkinan beliau akan kembali setelah jam makan siang" jelas Sarah. Saat ini Arga diutus mewakili Arzan dalam pertemuan penting dengan salah satu kliennya. Arzan memilih mengobrol dengan Kemal untuk saling melepas rindu karena sudah lama tak bertemu.
"Apa agendaku hari ini?"
"Hari ini anda ada janji makan malam dengan keluarga Darmawan, Nyonya Ratih meminta saya untuk mengingatkan Tuan agar tidak datang terlambat" jawab Sarah.
"Huuhh" Arzan membuang napasnya kasar dia melepas balpoint dari tangannya yang digunakan untuk membuat catatan dari file-file laporan yang sedang diperiksanya. Disandarkannya tubuhnya ke sandaran kursi, pikirannya menerawang membayangkan hal yang akan terjadi dalam acara makan malamnya.
Keluarga Darmawan adalah keluarga paman mendiang istrinya, selama ini mereka tidak cukup dekat walau sejak kuliah Mitha tinggal bersama pamannya karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Ada ketidaknyamanan di hati Arzan jika berhubungan dengan keluarga Darmawan, pasalnya paman istrinya itu pernah menyinggung tentang perjodohannya dengan putrinya dalam beberapa pertemuan bisnis. Saat itu Arzan selalu menghindar, mengatasnamakan profesionalitas kerja dia selalu menolak pembicaraan tentang hal yang bersifat pribadi. Dan kali ini dia mendekati Nyonya Ratih untuk melancarkan aksinya.
"Baiklah, kau boleh kembali. Terima kasih Sarah" titah Arzan pada sekretarisnya. Walaupun tanpa senyum dan minim ekspresi, Arzan tidak lupa selalu menyematkan kalimat terima kasih di ujung ucapannya sebagai apresiasi untuk orang yang telah membantunya.
"Baik Tuan, saya permisi" Sarah pun membalikkan badannya melangkah menuju pintu, saat tangannya baru memegang gagang pintu gerakan Sarah terhenti karena namanya kembali dipanggil.
"Sarah" Arzan kembali memanggil sekretarisnya.
"Iya Tuan" Sarah pun membalikkan badannya berdiri menghadap Arzan di posisinya.
"Bisa saya minta tolong?" untuk pertama kalinya Arzan berbicara dengan nada tidak seperti biasanya. Tak ada nada perintah, kesan atasan yang dingin dan minim ekspresi seakan menguap saat Sarah mendengar nada bicara tuan mudanya saat ini.
"Bisa kamu panggilkan mahasiswa magang yang berhijab?"
"Hah?" Sarah kembali dibuat melongo dengan permintaan tuannya.
"Haruskan saya ulangi?" Arzan kembali melayangkan pertanyaan susulan.
"Tidak perlu Tuan, saya akan panggilkan" tanpa menunggu lagi, walau rasa heran masih menyelimuti wajahnya Sarah bergegas keluar untuk memanggil mahasiswa itu.
Tok...tok...tok...Sarah membuka pintu ruangan sang Presdir setelah mendapat komando untuk masuk. Dia berjalan mendekati meja Arzan diikuti Tiara.
"Tuan, saya sudah membawanya" ucap Sarah memberi tahu, sejak dirinya dan Tiara memasuki ruangan itu Arzan memutar kursi kebesarannya membelakangi mereka.
"Heumm, kau boleh pergi. Terima kasih, Sarah" balasnya dan dibalas anggukan oleh Sarah yang segera berlalu keluar dari ruangan itu.
Tiara yang berdiri sendiri karena Sarah sudah keluar dari ruangan itu mencoba menetralisir keadaan hatinya. Mendapat panggilan secara khusus dari presdir tempatnya magang membuat hatinya tak karuan, apakah ada yang salah dengan dirinya atau.....Ah entahlah, terlalu banyak ketakutan di pikiran Tiara saat ini. Apalagi dia tahu jika tuan muda itu ternyata majikannya selama ini.
"Inikah alasanmu mengalihkan jam kerjamu di rumahku?" Arzan memutar kursi kebesarannya, dia menatap tajam ke arah Tiara yang masih berdiri beberapa langkah dari mejanya.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak bermaksud menyembunyikannya. Saya hanya berusaha bersikap profesional selama bekerja. Saya memang seorang mahasiswa yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan biaya pendidikan saya. Tapi saya selalu berusaha untuk melaksanakan setiap tugas pekerjaan saya dengan profesional tanpa terganggu oleh urusan perkuliahan saya. Oleh sebab itu saya tidak memberitahu siapapun jika saya masih mahasiswa" Tiara menjeda ucapannya, sekilas kepalanya mendongak melihat wajah Arzan menunggu reaksi apa yang akan diberikannya. Nihil, Arzan justru masih anteng dengan laptopnya. Tiara pun melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Selama ini saya berusaha membagi waktu antara bekerja dan kuliah sebaik mungkin agar keduanya tidak saling terganggu. Sejak saya menerima pemberitahuan dari kampus jika saya harus melaksanakan magang di kantor ini selama tiga bulan, saya sudah mencoba mengundurkan diri dari pekerjaan menyiapkan makan malam Nona Qiana. Saya tahu kinerja karyawan di perusahaan ini dituntut lebih dibanding dengan bekerja di perusahaan lainnya. Saya tidak bisa menjamin jika saya bisa pulang sebelum jam makan malam dari sini, tapi Nyonya Ratna tidak mengizinkannya dan beliau memberikan saya pilihan itu. Maafkan saya Tuan"
Tiara menjelaskan panjang kali lebar alasan mengapa dia mengalihkan jam kerjanya menemani Qiana sebelum Arzan bertanya lebih jauh lagi.
"Kalau kamu berhenti bekerja lalu darimana kamu memenuhi kebutuhan hidupmu?" mendengar penuturan Tiara Arzan semakin tertarik dengan kehidupan gadis itu. Dia pun meluncurkan pertanyaan susulannya.
"Saat ini saya masih bekerja sebagai tukang cuci piring di restoran Tuan, hanya saya bekerja saat weekend saja, saat kantor ini libur" jawab Tiara
"Darimana kamu yakin kalau weekend kamu bisa libur bekerja di kantor ini?" Arzan kembali mencecar Tiara dengan pertanyaan.
"Saya membaca aturan kerja yang tertera di surat perjanjian yang kami terima, Tuan. Jika Sabtu Minggu adalah hari libur wajib bagi oara mahasiswa magang" Tiara kembali menjawab, hanya sekilas menatap ke arah Arzan selanjutnya dia segera kembali menundukkan kepalanya.
"Harusnya kamu bilang kalau kamu adalah seorang mahasiswa" Arzan menghentikan intimidasinya, nada bicaranya kini berubah lebih ramah dan bersahabat.
"Maafkan saya Tuan" hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Tiara.
"Sekarang di bagian apa kamu ditempatkan?" Arzan kembali menunjukkan kepeduliannya.
"Bagian pemasaran, Tuan" jawab Tiara dengan posisi masih menunduk.
"Nanti sore datanglah lagi ke rumah, aku pastikan kamu akan pulang sesuai jam kantor pada umumnya. Lakukan tugasmu seperti biasa menemani Qiana. Sepertinya dia sangat membutuhkanmu" Tiara mendongak, menatap Arzan yang berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Tapi Tuan?...." ucapan Tiara terhenti,
"Ini perintah, aku tidak memintamu untuk melakukannya. Tapi aku memerintahkan untuk mengerjakannya dengan baik. Saat ini kamu berada di bawah kuasaku, Kemal sudah menyerahkan urusan mahasiswanya padaku. Anggap saja pekerjaanmu menemani Qiana dan menyiapkan makan malamnya adalah bagian dari tugas magangmu, aku pastikan nilaimu tidak akan mengecewakan jika kamu bisa mengerjakannya dengan baik" Arzan menjelaskan panjang lebar, sebelum Tiara kembali melanjutkan protesnya.
"Baik Tuan, saya akan lakukan" jawab Tiara akhirnya patuh.
"Jika sudah tidak ada yang akan Tuan sampaikan saya pamit" Tiara berbicara dengan hati-hati.
"Heum, pergilah" sahut Arzan singkat dia bahkan tidak mengalihkan pandangannya sama sekali, tetap pada arah semula.
"Terima kasih Tuan, Assalamu'alaikum" Tiara pun memutar tubuhnya setelah mengucapkan salam.
Mengetahui jika Tiara mulai menjauh, Arzan barulah mengalihkan pandangannya. Dia menatap punggung Tiara yang akhirnya menghilang di balik pintu ruangannya.
"Wa'alaikumsalam" ucapnya pelan setelah Tiara menghilang di balik pintu.
Ada perasaan lega di hati Arzan setelah mengungkapkan keinginannya. Arzan menyadari jika putrinya sekarang sudah sangat bergantung pada Tiara. Dia pun teringat dengan percakapannya dengan Qiana dua hari yang lalu saat dia menemani sang putri menjelang tidurnya.
"Daddy, kenapa Kakak cantik tidak tinggal di rumah ini saja? Qia mau tiap malam ditemani kakak cantik, Qia mau semua makanan Qia disiapkan sama kakak cantik. Qia mau diantar sekolah sama kakak cantik. Qia mau kakak cantik jadi Mommy Qia, Dad" Tiara berceloteh panjang sampai akhirnya dia pun tertidur.
__ADS_1