
Rahman keluar dengan wajah yang sulit ditebak, entah apa yang dipikirkannya setelah mengetahui satu fakta yang pasti akan mengguncangkan El-Malik Grup, sang presdir dengan predikat duda satu anak, berkarakter dingin dan tampak cuek terhadap perempuan ternyata sehangat itu memperlakukan istrinya.
Rahman melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaiman Arzan memperlakukan Tiara begitu istimewa. Dan yang tak kalah mengejutkan untuk Rahman wanita yang diperlakukan istimewa itu adalah Tiara. Gadis yang beberapa waktu yang lalu ditolong neneknya dan tinggal bersama sang nenek.
Rahman sebelumnya pernah bertemu Tiara saat dirinya berkunjung ke rumah nenek. Tidak ada pikiran apapun tentang gadis itu, Rahman cukup senang dengan kehadiran Tiara di rumah sang nenek. Tiara terlihat gadis yang baik di mata Rahman, dia senang akhirnya sang nenek ada yang menemani.
Namun hari ini pikirannya berubah, ada sesuatu yang menggelitik di hatinya saat mengetahui jika ternyata Tiara sudah menikah, bahkan dengan atasannya sendiri. Pasalnya belum lama ini dia baru mengetahui jika Tiara sudah menikah, padahal sebelumnya sang nenek berencana untuk menjodohkannya dengan gadis itu.
"Huhhhf..." Rahman membuang nafasnya kasar, saat langkahnya sudah menjauh dari ruangan sang presdir El-Malik.
Sementara di tempat lain, Nathan terlihat sedang berbicara dengan Mikha. Gadis yang bermaksud akan menemui Arzan itu mengurungkan niatnya saat Nathan tiba-tiba meminta untuk ditemani makan siang. Bahkan pria itu memohon dengan wajah gemasnya membuat Mikha akhirnya luluh dan bersedia menemani Nathan makan siang.
"Tumben Kak Nathan minta aku temenin makan? aku jadi curiga" Mikha memulai obrolan setelah seorang waitress memastikan menu makan siang pesanan mereka.
"Akhirnya kamu memanggilku seperti dulu, baguslah" ujar Nathan. Mikha dan Mitha berbeda usia satu ahun, dulu Mikha memang selalu bersama Mitha dan mengikuti kemanapun gadis itu pergi. Dia bahkan paling senang jika tahu Mitha akan pergi dengan Nathan. Dulu gadis itu diam-diam menaruh hati pada sahabat dekat Kakak sepupunya itu.
__ADS_1
"Aku kangen aja makan sama kamu, bukankah dulu kamu selalu menempel dengan Mitha kalau dia pergi bersamaku?" lanjut Nathan enteng, dia fokus pada ponselnya karena ada chat masuk, dan tertera nama Arga yang mengirim pesan kepadanya.
"Eumhh...yakin kangen makan sama aku? enggak sama yang udah enggak ada?" Mikha berbicara tak jauh santai, dia bahkan tersenyum sinis tanpa menatap pada orang yang kini tengah menatap dalam padanya.
"Apa maksud kamu?" tanya Nathan yang menghentikan aktivitasnya berbalas pesan dengan Arga.
"Saat itu aku sudah cukup dewasa untuk mengerti perihal rasa. Aku sudah SMA waktu itu Kak, dan aku tahu kalau sebenarnya Kakak menaruh hati sama Kak Mitha. Tapi sayang, rupanya Kakak terlalu asyik dengan persahabatan kalian hingga akhirnya keduluan Kak Arzan, iya kan? haha....." Mikha berbicara tanpa sungkan bahkan dibubuhi tawa mengejek di akhir kalimatnya membuat Nathan seketika membulatkan matanya.
Ternyata Mikha cukup peka dengan keadaan dirinya saat itu. Berbeda dengan Mitha yang sama sekali tidak paham dengan semua sikap Nathan yang memperlakukannya istimewa, lebih dari sekedar sahabat.
"Kenapa Kak, speecless ya? haha.." Mikha kembali berkata dengan tawa mengejek melihat ekspresi Nathan yang tak kunjung bersuara.
"Bukankah dulu kamu yang ngefans berat sama aku?" Nathan akhirnya bersuara, tak kalah melempar kalimat yang juga membuat Mikha tersipu,
"Kakak tahu? baguslah...tapi itu dulu. Aku tahu sejak dulu Kakak selalu berusaha menjaga jarak denganku" Mikha menghentikan obrolannya seiring datangnya pelayan yang mengantarkan menu makan siang mereka.
__ADS_1
"Dan sekarang Kakak tenang saja aku tidak akan lagi mengharapkan Kakak karena prioritasku sudah beralih sejak beberapa tahun yang lalu. Sengaja aku tidak pulang-pulang semenjak meninggalnya Kak Mitha. Itu karena aku sedang memantaskan diri dan sekarang sudah waktunya aku menunjukkan siapa diriku dan siapa yang lebih layak" Mikha berbicara tegas dengan sorot mata yang menunjukkan jika ada rasa terpendam yang selama ini bersemayam dalam hatinya.
"Maksud kamu apa?" Nathan sontak menghentikan sendok yang sudah terangkat dan akan menuju mulutnya karena melihat gadis yang beberapa tahun silam itu tampak polos dan lugu kini telah bermetamorfosa menjadi sosok lain yang tidak Nathan kenal.
"Aku tahu, Kakak mengajakku makan siang bukan karena kangen makan bersamaku. Tapi Kakak kangen sama Almarhum Kak Mitha kan? Kakak melihat sosok Kak Mitha kan padaku? Bagaimana, aku berhasil kan?" Nathan menatap tajam gadis yang ada di hadapannya itu dengan tatapan menelisik. Ternyata kata hatinya benar, saat ini Mikha memang sengaja berpenampilan seperti Almarhum Mitha. Rambut, cara berpakaian, bahkan cara bicara dan semua sikap Mitha hampir mampu Mikha tunjukan semua ada dalam dirinya.
"Ckk...jadi kamu memang sengaja merubah penampilan kamu menjadi seperti Mitha?" Nathan berdecak, wajahnya berubah datar, selera makannya pun seketika menghilang. Perasaannya tidak enak, pasti ada sesuatu yang direncanakan oleh gadis di hadapannya ini.
"Tentu saja, selama ini Kak Mitha selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Bahkan kedua orang tuaku lebih menyayangi Kak Mitha daripada aku. Sekarang sudah waktunya aku mendapatkan apa yang pernah pergi dariku" ucap Mikha dengan sorot mata yang tajam.
"Apa maksud kamu?" Nathan semakin menampakkan wajah paniknya, dia mulai berpikir jika gadis yang ada di hadapannya bukan Mikha yang dulu.
"Kak Arzan, bukankah dia sudah terlalu lama menyendiri? Aku tahu dia tidak bisa move on dari almarhumah istrinya itu" terang Mikha tanpa ragu, dia tidak lagi menyembunyikan maksud dan tujuannya saat ini. Kembali daei luar negeri dengan gaya dan penampilan baru, persis seperti Mitha di masa lalu saat Arzan jatuh cinta pada sepupunya itu.
Mikha tahu betul seperti apa Arzan mencintai sepupunya itu. Mungkin dari sanalah benih-benih suka mulai tumbuh, Mikha tertarik dengan laki-laki yang sudah sah menjadi suami sepupunya sendiri.
__ADS_1
"Kamu mau membuat Arzan tertarik dengan penampilan barumu itu?...haha....." Nathan tak bisa menahan tawanya.
Sementara orang yang sedang mereka bicarakan tengah asik menyuapi istrinya yang tidak dibiarkan beranjak sedikitpun dari tempat duduknya.