Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Penyesalan


__ADS_3

"Bos sampai kapan anda akan mengurung diri seperti ini? bukankah surat hasil tes DNA itu sudah jelas bahwa anak yang dikandung Tiara adalah anakmu?" Arga sudah kehabisan sabar menghadapi Arzan, surat hasil tes DNA yang dibawanya hanya terus ditatap oleh laki-laki itu, entah apa yang dipikirkannya.


"Bro, Mitha adalah masa lalu dia pun sudah tiada. Sebesar apapun kesalahannya dan seberapa marah pun lo, itu tidak akan membuat semua balik lagi sesuai dengan yang lo inginkan. Gue hanya nyaranin agar lo lebih fokus ke masa depan, dan masa depan lo itu Tiara. Jangan sampai lo mengalami penyesalan yang lebih fatal setelah lo mengabaikan anak dan istri lo" nada bicara Arga berubah lebih santai, dia berbicara sebagai teman,


"Kalau lo pikir masalah lo akan selesai dengan cara seperti ini, lo salah besar. Justru ini akan menimbulkan masalah baru, Tidak sulit buat Tiara menemukan kebahagiaanya. Di luaran sana masih banyak yang mendambakan Tiara, termasuk gue. Kalau lo mau melepas Tiara, gue izin buat membahagiakannya" Arga berkata serius membuat Arzan mendongak dan menatap tajam sahabat sekaligus asistennya itu,


"Brengsek lo, jangan macam-macam!' amuk Arzan, dia tidak menerima jika Arga akan mendekati Tiara.


"Hahaha....." tawa Arga pun pecah, dia berhasil memprovokasi, membuat gunung es itu mencair.


"Astaghfirullah...." ucap Arzan sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya. Dia menyadari jika dirinya sudah keterlaluan. Tiara adalah istrinya kini, dia pernah berjanji dalam hatinya untuk tidak pernah meninggalkan gadis itu.


"Gue mau pulang" Arzan beranjak dari tempat duduknya, dia meraih jas dan kunci mobilnya. Tanpa menghiraukan Arga, Arzan melenggang keluar dari ruangannya. Arga hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan atasannya itu senyum tipis tersungging di bibirnya.


Arzan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, banyak hal yang dipikirkannya selama seminggu ini. Dia sadar jika yang sudah terjadi tidak akan bisa berubah, masa lalu adalah hal yang sudah berlalu dan tak akan pernah kembali.


Rasa cintanya yang besar untuk sang istri nyatanya tak cukup untuk mempertahankan cinta dan kesetiaan Mitha hanya untuknya. Dan semuanya sudah terjadi, Mitha pun telah tiada. Arzan harus bisa menerima ini semua sebagai takdir terbaik untuknya.


Kehadiran Qiana yang awalnya sebagai pelipur lara karena kehilangan Mitha nyatanya kini menjadi sesuatu yang menyesakan dada. Qiana adalah bukti pengkhianatan Mitha, namun Arzan pun tak bisa berbuat apa-apa selain menerima. Qiana tidak bersalah, dia hanyalah kehidupan baru yang dihadirkan Allah dalam hidupnya. Terlepas dari seperti apa caranya. Arzan sadar sesadar-sadarnya jika Qiana tidak pantas mendapatkan kemarahannya.


Tiara, wanita yang hadir dalam hidup Arzan, mengisi hari-harinya yang sepi. Membuatnya merasakan kembali getar-getar cinta yang telah lama tak pernah hadir dalam hatinya. Sejak awal dia selalu mengelak perasaan itu tapi entah mengapa di saat yang sama selalu merasa tidak rela jika ada laki-laki lain yang mendekatinya.


Kini dia sudah memilikinya, Arzan mengikat Tiara dengan ikatan suci pernikahan. Dia bahkan merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama Tiara, sesuatu yamg belum pernah dirasakannya saat bersama Mitha. Ketenangan dan kenyamanan juga kepuasan bathin.


"Arrrgghhhh.....sialan" Arzan memukul kemudi, setiap kali bayangan Tiara melintas di pikirannya, saat itu pula dia merasa menjadi manusia bodoh. Bagaimana bisa dia meminta wanita yang sejak awal sudah diketahui semua latar belakangnya dia ragukan.


Padahal Arzan ingat betul, Tiara begitu gugup dan tidak berpengalaman saat pertama kali mereka melakukan penyatuan. Itu artinya dirinyalah laki-laki pertama yang menyentuhnya. Ada kebanggaan dalam hati tatkala mengetahui dirinyalah laki-laki pertama itu. Arzan bahkan merasakan candu setelahnya, ingin lagi dan lagi meraup kenikmatan bersama istri barunya itu, kenikmatan yang berbeda yang tidak pernah dirasakannya ketika bersama Mitha.


Lantas kenapa dengan bodohnya sekarang dia meminta wanita itu untuk melakukan test DNA, bagaimana bisa dia meragukan kehamilan istrinya sendiri, padahal Arzan pun tahu betul bagaimana selama ini Tiara menjaga dirinya. Bahkan hanya dirinya yang tahu betul setiap lekuk tubuh istrinya yang selalu mampu membuat hasratnya memuncak.

__ADS_1


"Arrghhh...bodoh...bodoh...bodoh..." Arzan terus memaki dirinya sendiri, dia benar-benar menyesal dan merasa sangat bodoh. Karena kekecewaan pada masa lalu dia sampai melupakan masa kini yang akan berdampak pada masa depannya.


"Tiara, maafkan aku sayang. Aku memang suami yang bodoh. Tunggu aku, aku akan datang, sayang" gumamnya, meningkatkan kecepatan laju mobilnya. Saat ini tujuannya adalah rumah tinggal mereka, untuk menemui Tiara, dia akan memohon agar Tiara mau memaafkannya apapun caranya.


Kurang dari tiga puluh menit mobil mewah Arzan sudah terparkir di halaman rumahnya. Dia Langsung keluar memburu pintu utama, dalam bayangannya Tiara pasti sedang menunggunya.


"Assalamu'alaikum sayang.." ucap Arzan saat memasuki pintu rumah utama yang dia buka dengan kunci yang dibawanya sendiri,


"Sayang, Mas pulang...." Arzan kembali memanggil tatkala ucapan salamnya tak terbalas.


"Sayang....Tiara sayang, Mas pulang..." dapur menjadi tujuan pertama Arzan, tempat paling betah istrinya berlama-lama adalah di sana. Namun nihil, dapur terlihat bersih tak ada jejak-jejak istrinya di sana.


Beralih pada kamar mereka di lantai dua, Arzan setengah berlari menaiki tangga. Dia membuka pintu kamar yang biasa mereka tempati dengan kasar karena tidak sabar untuk bertemu sang istri.


"Sayang, Mas pulang...." ucap Arzan saat pintu terbuka, dia tertegun menatap kamar yang tampak rapi.


Arzan mengedarkan pandangan, setiap sudut tidak lepas dari pantauannya. Arzan merasa ada sesuatu yang berbeda dari kamarnya, sesuatu rasanya telah hilang tapi apa itu, dia belum mampu menemukan apa yang kurang dari kamarnya.


Deg.....


"Tiara..." tiba-tiba Arzan teringat dengan perkataan Tiara ketika dirinya menyuruh untuk melakukan tes DNA.


"Aku akan melakukannya, tapi setelahnya jangan pernah mencari aku"


Perkataan Tiara dengan berderai air mata seketika terngiang di telinganya. Pikiran Arzan pun menerawang. Mungkinkah jika istrinya itu benar-benar pergi.


Arzan membuka lemari baju yang biasa dipakai Tiara untuk menyimpan semua pakaiannya. Lengkap, tidak ada yang hilang. Semua pakaian itu adalah pakaian yang dibelikan maminya dan juga dirinya untuk Tiara. Arzan pun teringat dengan barang-barang dan baju-baju yang Tiara bawa dari rumah nenek Imah, dia membuka lemari yang satunya lagi dimana biasanya Tiara menyimpan benda-benda pribadinya di sana. Benar saja, semuanya bersih. Tak ada satupun barang-barang pribadi milik Tiara.


"Arrrgghhh...." Arzan menjadi frustasi sendiri, pintu lemari menjadi sasaran kepalan tangannya, air mata sudah tidak tertahankan lagi, dia benar-benar menyesal telah membuat Tiara pergi.

__ADS_1


"Kamu dimana sayang?" Arzan masih bisa berpikir, dia merogoh ponsel dari saku jasnya. Dicarinya nomor kontak Tiara yang dia simpan dengan nama Mutiara, diapun meringis sendiri membaca nama kontak yang dia buatnya itu. Tidak ada spesial-spesialnya sama sekali.


"Maafkan aku sayang" gumam Arzan disela-sela menunggu sambungan teleponnya terhubung.


"Ha...." Arzan menghentikan ucapannya ketika sambungan teleponnya ternyata terhubung dengan operator.


"Ckk...gak aktif" Arzan mencoba kembali menghubungi Tiara.


"Argggh...." emosinya kembali tersulut, dia kesal dengan dirinya sendiri. Beberapa kali menghubungi nomor Tiara tak kunjung terhubung.


"Hah...nenek Imah, sekarang dia pasti ada di rumah nenek imah"


Tanpa menunggu lagi, Arzan langsung menyambar kunci mobilnya dari atas nakas yang ada di kamarnya. Memasuki mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju rumah nenek imah.


"Maafkan saya Nek, saya sudah lama tidak berkunjung" Arzan memulai percakapannya dengan nenek Imah setelah terlebih dahulu menyapa dan menanyakan salam wanita paruh baya itu.


"Tidak apa-apa, nenek mengerti Nak Arzan pasti sibuk. Bagaimana kabar Tiara?" Arzan yang tujuannya datang ke sana adalah untuk mencari keberadaan istrinya justru dibuat terkejut oleh pertanyaan nenek Imah. Dia pun mengambil kesimpulan jika Tiara tidak berada di sana.


"Ti...Tiara baik nek, dia nitip salam buat nenek" bohong Arzan, dia menutupi keadaan sebenarnya karena tidak ingin membuat nenek Imah pun turut resah.


"Baiklah nek, kalau begitu saya pamit. Insya Allah nanti berkunjung lagi ke sini, nenek sehat-sehat ya" tak ada yang perlu dibicarakan lagi Arzan pun pamit, tidak lupa dia menyelipkan amplof berisi uang untuk nenek Imah yang sudah disiapkannya sebelum datang ke sana.


Waktu sudah menunjukan hampir tengah hari, namun Arzan belum juga mendapat kepastian perihal keberadaan Tiara. Dia melajukan mobilnya, memikirkan kemungkinan tempat yang akan dikunjungi Tiara.


"Kampus" seolah mendapatkan ide cemerlang, mata Arzan seketika berbinar mengingat jika kemungkinan Tiara berada di kampusnya. Mobil pun melaju menuju arah kampus Tiara berada.


Nihil.....Arzan tidak menemukan Tiara, dia mencari ke semua sudut kampus yang memungkinkan Tiara berada di sana namun tetap nihil. Tiara tidak ada, bahkan teman-temannya pun yang pernah magang bersama Tiara di perusahaannya tidak ada. Arzan malah menjadi perhatian para mahasiswi. Pesonanya memang tak pernah luntur walau pun penampilannya saat ini terlihat berantakan.


"Huuh...." Arzan membuang nafasnya kasar sesudah menjatuhkan bokongnya di balik kemudi. Kepalanya dia jatuhkan ke atas stir, pikirannya tak menentu memikirkan bagaimana nasib istri dan anak yang masih dalam kandungan istrinya. Dia takut, takut terjadi apapun pada istri dan anaknya. Kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka berdua, Arzan benar-benar tidak akan memaafkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Banyak orang yang kehilangan karena terlambat menghargai, itulah yang Arzan rasakan sekarang.


"Aku pernah berjanji untuk tidak pergi, tapi aku tetap saja pergi karena rasa kecewa yang kurasakan lebih besar saat itu. Maafkan aku Tiara ..."


__ADS_2