
Hari yang membahagiakan untuk Arzan, dia sudah mempersiapkan kejutan sederhana untuk menyambut kedatangan keluarga kecilnya.
Rumah yang sebelumnya mereka tempati kini tampak berbeda. Arzan sudah menyuruh orang untuk merubah beberapa bagian dari rumah itu agar terlihat berbeda dan memberikan suasana baru.
Arzan benar-benar mempersiapkan segalanya untuk menempuh kehidupan baru bersama keluarga kecilnya. Semua hal dari masa lalunya benar-benar sudah dia tinggalkan jauh di belakang, bahkan rasanya dia tidak ingin menengoknya lagi walau sesaat.
Dia bertekad akan menjalani hidup barunya dengan sungguh-sungguh bersama Tiara, wanita tulus yang sudah memberikan cinta dan kasih sayang yang begitu besar padanya dan Qiana.
Arzan juga tetap akan menganggap Qiana adalah putrinya, walaupun sempat kecewa tapi Arzan akan berusaha menerimanya dengan lapang jika dirinya bukanlah ayah biologis dari gadis kecil itu, karena kasih sayang dan cinta yang dimiliki Arzan nyatanya mampu memupus rasa kecewanya.
Arzan bukan lagi melihat Mitha dengan semua kenangan dan pengorbanannya pada diri Qiana, tapi bagaimana ketulusan cinta dan kasih sayang yang Tiara berikan pada gadis yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya itu mampu merobohkan ego seorang Arzan Ravindra Malik.
"Assalamu'alaikum" Arzan memasuki ruang rawat Qiana, hari ini Qiana sudah bisa pulang. Pemeriksaan terakhir yang dilakukan dokter menyatakan jika gadis kecil itu sudah benar-benar sehat dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Namun saran dari dokter, Qiana tetap harus melakukan pemeriksaan secara rutin untuk memastikan kondisinya lebih baik lagi.
"Wa'alaikumsalam" serempak semua orang yang berada di ruangan itu menoleh ke arahnya sambil menjawab ucapan salam.
"Daddy..." Qiana menjadi orang yang paling bahagia di sini, kedatangan Arzan menjadi penyempurna kebahagiaannya. Orang-orang yang sangat dia sayangi semuanya berada di dekatnya.
"Oma, Qia tidak mau pulang ke rumah oma lagi, Qia sekarang mau pulang sama mommy dan Daddy" Qiana langsung memberikan pemberitahuan kepada oma nya, beberapa hari sebelum kecelakaan terjadi Qiana memang sedang tinggal bersama oma nya. Dia memeluk erat Tiara yang berdiri di. sampingnya.
"Iya deh oma mengalah, tapi oma jadi sedih karena bakalan tinggal sendiri lagi" Mami Ratna pura-pura merajuk dengan menunjukkan wajah sedihnya.
"Mommy...." melihat mami Ratna seperti itu Qiana langsung mengeratkan pelukannya pada Tiara. Dia seolah meminta dukungan pada ibu sambungnya itu.
"Iya sayang...." Tiara balas memeluk Qiana, semua orang dibuat tertawa bahagia oleh tingkah lucu nona muda El-Malik itu.
"Sayang, jangan terlalu erat dong meluk mommy nya nanti adik bayinya kesakitan" melihat Qiana yang memeluk erat Tiara dengan wajah dia sembunyikan di perut istrinya itu Arzan pun bersuara,
"Hah....adik bayi?" Qiana seketika melepaskan pelukannya, dia menoleh menatap daddy nya dengan penuh tanya,
"Iya sayang, di perut mommy sekarang ada adik bayi, sebentar lagi kamu akan menjadi kakak" ujar Arzan lagi, menjelaskan kehamilan Tiara. Dia pun mendekat ke arah istrinya dan merangkulnya.
"Benarkah mommy?" Qiana beralih pada mommy nya, dan dijawab anggukan oleh Tiara dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Hore.....Qia bakalan punya adik bayi. Oma, Qia bakalan jadi kakak. Papi, Qia punya adik bayi" Nathan yang juga berada di sana untuk turut sama-sama menjemput kepulangan sang putri turut menjadi sasaran kebahagian Qiana karena akan mempunyai adik lagi.
"Iya sayang, selamat ya, papi turut bahagia" ucap Nathan dengan senyum juga menghiasi wajahnya,
Di saat semua orang tertawa bahagia karena ketularan kebahagiaan Qiana, Tiara justru sebaliknya. Dia hanya tersenyum, melirik sekilas saat Arzan semakin mengeratkan rangkulannya juga.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" Arzan cukup peka dengan perubahan sikap Tiara, sejak kedatangannya sepertinya ada yang berubah dari istrinya itu.
"Iya, mas..." jawab Tiara singkat, dia pun menganggukan kepala dengan senyum yang terlihat sedikit dipaksakan.
"Kamu terlihat pucat Ra" Rianti yang juga berada di sana turut mengamati perubahan sahabatnya itu.
__ADS_1
Huekk.....Tiara sudah tidak sanggup menahannya lagi. Sesuatu yang bergejolak dari dalam perutnya mendesak ingin segera dikeluarkan.
"Maaf Mas" dengan membekap mulutnya Tiara melepaskan diri dari rangkulan Arzan dan segera berlari ke toilet untuk mengeluarkan apa yang sejak tadi di tahannya.
"Sayang...." Arzan tak kalah sigap, dia pun segera berlari menyusul Tiara. Cemas dan khawatir terlihat jelas di wajahnya.
"Sayang, buka pintunya...." Arzan berdiri di depan pintu yang sudah tertutup itu. Karena tidak ingin membuat orang lain tidak nyaman dengan apa yang dialaminya, Tiara memilih untuk mengunci pintu toilet.
"Sebentar Mas" teriak Tiara dari dalam, dia masih memuntahkan sesuatu yang mendesak dari.dalam perutnya itu.
Sudah lebih dari sepuluh menit Tiara berada di dalam toilet, Arzan semakin menampakan kekhawatirannya.
"Mami, apakah setiap wanita hamil akan mengalami seperti ini?" Arzan langsung menodong maminya yang datang menghampirinya,
"Tergantung, setiap perempuan memiliki bawaan berbeda-beda pada setiap kehamilannya" jawab mami Ratna santai, dalam hati dia tersenyum melihat kepanikan anaknya.
"Huuhh......aku sangat khawatir Mi" Arzan membuang nafasnya kasar, membuat mami Ratna semakin merasakan jika tingkah anaknya sangatlah lucu.
"Setelah ini mami harap kamu bisa lebih bersabar menghadapi istrimu. Masa-masa hamil itu tidak mudah, seorang perempuan yang berada di fase itu sangat membutuhkan support yang luar biasa dari orang-orang di sekitarnya terutama kamu sebagai suaminya. Jadilah suami siaga, Nak. Seperti papi yang selalu ada buat mami" Wajah mami Ratna berubah sendu saat mengatakan kalimat terakhirnya. Kilasan kenangan manis bersama suaminya tergambar jelas di ingatannya.
"Mami, jangan sedih Arzan berjanji akan menjadi suami siaga seperti papi" Arzan merengkuh wanita yang sudah melahirkannya itu penuh kasih, sejak kepergian sang papi dirinya adalah yang bertanggungjawab untuk menjaga mami. Arzan selalu memastikan wanita istimewa dalam hidupnya itu selalu baik-baik saja.
"Mami sudah bahagia Nak, sangat bahagia memiliki kalian. Kamu jaga keluarga kecil kamu, karena kalian sangat berharga untuk mami"ucap mami Ratna masih dalam suasana penuh haru.
"Mami, apakah mami juga mengalami apa yang dialami istriku sekaran" tanya Arzan penasaran,
"Lalu apa yang papi lakukan saat itu?" Arzan tampak antusias ingin mendengar pengalaman mami Ratna saat mengandungnya.
"Selama hampir dua bulan papi bekerja dari rumah, karena obat mualnya mami saat itu hanya selalu berada di dekat papi" jawab mami Ratna dengan tersenyum, bayangan kenangan manis kebersamaan dengan suaminya kembali terbayang.
"Benarkah? maksud mami kalau mami selalu dekat dengan papi, mami tidak merasakan mual-mual lagi?" Arzan semakin antusias,
"Iya, bahkan mami baru bisa tidur kalau di peluk papi semalaman. Kalau tidak seperti itu mami sangat sulit sekali tertidur" mami Ratna terkekeh di akhir bicaranya, bayangan dirinya yang selalu membuat suaminya kewalahan sekaligus senang kembali terlintas.
"Wah...kalau seperti itu akan akan dengan senang hati Mi" sambung Arzan sambil terkekeh juga.
Ceklek...
"Mami, Mas...." Tiara memandangi dua orang di hadapannya yang tampak sedang saling merangkul, sepertinya keharuan tengah menyelimuti mereka berdua.
"Sayang, sudah selesai? kamu baik-baik saja kan?" Arzan melepas rangkulannya pada sang mami dan beralih pada Tiara yang terlihat matanya terlihat sembab.
"Sudah Mas, aku susah lebih baik" jawab Tiara dengan senyum menghiasi wajah pucatnya.
"Maafkan Mas sayang" Arzan mengusap pipi yang tampak masih terdapat sisa-sisa air itu.
__ADS_1
"Maaf untuk apa Mas?" ...
Huek.....
Belum juga Arzan menjawab, Tiara sudah kembali merasakan mual. Dia kembali ke dalam toilet.
"Sayang...." Arzan kembali terkejut, dia ingin turut masuk ke dalam toilet namun lagi-lagi Tiara menguncinya.
Mami Ratna kini terlihat khawatir juga, pasalnya sang menantu terlihat sudah kepayahan.
Ceklek....pintu kembali terluka, Tiara semakin terlihat mengkhawatirkan.
"Sayang...." Arzan mendekati Tiara, bermaksud akan memeluk istrinya yang terlihat lemah itu.
"Stop Mas...." Tiara mengangkat satu tangannya untuk menghentikan langkah Arzan, suaminya itupun seketika memaku dan menatap heran pada Tiara.
"Kenapa sayang? Mas mau membantu berjalan, kamu terlihat lemas sekali" protes Arzan,
"Mas, tolong menjauhlah. Sepertinya aku mual lagi kalau dekat kamu" ucap Tiara dengan satu tangan menutupi mulutnya.
"Apa?" sontak Arzan menaikan intonasi bicaranya karena kaget,
"Iya Mas, maaf...sepertinya mual-mualku akan kambuh kalau dekat kamu" Tiara meringis, sebenarnya dia tidak tega mengatakan itu tapi apa boleh buat, dia sudah sangat lemas untuk kembali memuntahkan sesuatu yang bergejolak dalam perutnya dan itu terjadi saat dirinya disentuh oleh Arzan.
"Sayang....kenapa begitu?" tanya Arzan melemah, dia terlihat sangat sedih mendengar penjelasan Tiara.
"Hahaha......." suara tawa mami Ratna berhasil mengalihkan perhatian orang-orang yang juga ada di ruangan itu, tempat tidur tempat Qiana dirawat terhalang sekat setinggi orang dewasa dengan toilet oleh sebab itu mereka tidak tahu apa yang terjadi di sana. Tetapi saat mendengar suara tawa mami Ratna yang cukup keras, mereka pun penasaran.
"Kenapa Nyonya? ada apa?" Arga menjadi orang pertama yang bertanya,
"Mami tidak apa-apa?" disusul Nathan yang juga penasaran, sementara Qiana bersama Ana dan Rianti menunggu di sofa yang ada di ruang rawat itu.
"Hahaha...." tawa mami Ratna masih belum habis, matanya sampai berair melihat wajah anaknya yang terlihat menyedihkan.
"Sepertinya anaknya tahu apa yang harus dilakukan pada papinya" ucap mami Ratna masih dengan menyisakan gelak tawa.
"Maksud nyonya?" Arga memandangi boss dan maminya bergantian.
"Mami...." Tiara mendekati mami Ratna dan disambut dengan pelukan oleh ibu mertuanya itu.
"Sekarang sudah mendingan, Nak?"tanya mami kembali khawatir,.dan dijawab anggukan oleh Tiara.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" Arga dan Nathan masih terlihat bingung, mereka tidak mengerti engan drama keluarga yang sedang terjadi itu. Dua wanita tampak tersenyum sedangkan satu pria terlihat bermuka masam.
"Anaknya tidak mau dekat dekat daddy nya, Tiara akan kembali mual kalau dekat Arzan" jelas mami Ratna menjawab kebingungan Arga dan Nathan.
__ADS_1
Mami Ratna pun memapah Tiara dan berjalan melewati tiga laki-laki itu. Arga dan Nathan pun mengerti apa yang menyebabkan Arzan menekuk wajahnya seperti itu.
"Boss, sepertinya anak anda sedang menghukum anda" bisik Arga dengan tawa tertahan, sementara Arzan langsung menatap dua laki-laki yang sedang menahan tawa itu dengan tajam.