
Sebulan berlalu, hubungan antara Arzan dan Tiara semakin membaik. Selama satu bulan ini Arzan disibukkan dengan banyak pekerjaan. Dia harus bolak-balik ke luar kota untuk melakukan inspeksi ke setiap hotel dan restoran miliknya.
Temuan adanya kecurangan yang dilakukan oleh orang kepercayaannya di salah satu hotel miliknya berimbas pada kewaspadaannya untuk lebih gencar melakukan upaya preventif. Arzan tidak ingin akibat kecurangan yang dilakukan satu orang yang tidak bertanggungjawab berdampak pada bisnisnya dan jelas karyawan yang lain pun akan terkena imbasnya.
Weekend ini Arzan sengaja mengosongkan jadwalnya, selama sebulan kemarin dia bekerja fulltime. Sabtu minggu yang biasanya sedikit lebih santai, tidak demikian selama sebulan kemarin. Dia benar-benar memastikan sendiri keadaan semua bisnisnya dengan didampingi sang asisten andalan, Arga tentunya.
Kota terakhir yang dikunjunginya dua hari yang lalu adalah Banten. Arzan bahkan menyempatkan diri untuk menyambangi kediaman ibu mertuanya. Tentunya hal itu tanpa sepengetahuan Tiara.
Selama berjauhan komunikasi mereka cukup lancar, walau pun masih sebatas berkirim pesan tapi setidaknya hal itu sudah beberapa langkah lebih maju dari sebelumnya.
Minggu yang cerah, sungguh weekend yang pas untuk dihabiskan dengan keluarga sebagai quality time. Semalam Arzan pulang sangat larut, seperti biasa dia selalu mendapati Tiara tidur di kamar putrinya jika dirinya tidak ada.
Arzan pun membiarkannya, dia memilih untuk kembali ke kamarnya, membersihkan diri dan bersiap mengistirahatkan raganya setelah sebelumnya mengecup dua wanita beda generasi kesayangannya.
Arzan mengedarkan pandangannya, semua masih tampak sama. Sepertinya sang istri belum memasuki kamarnya pagi ini. Selepas melaksanakan kewajiban subuhnya, dia memilih kembali melanjutkan tidur karena baru terlelap saat jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Dia pun menggeliat, merentangkan tangannya dengan posisi tubuh masih terlentang di atas tempat tidur.
Bayangan dini hari tadi menghampirinya pagi ini, senyuman manis menghiasi wajahnya saat teringat dia mengecup kening dan bibir Tiara saat istrinya itu tertidur lelap. Ingin rasanya melakukan lebih, hampir sebulan jarang bertemu membuatnya sangat merindukan gadis itu. Hatinya kini sudah tidak bisa mengelak, bahwa dirinya sudah kembali jatuh cinta.
Perlahan rasa bersalah akan kematian almarhumah istrinya mulai sirna. Mami Ratna memiliki peranan penting dalam hal ini. Hampir setiap ada kesempatan beliau selalu mengingatkan dirinya bahwa yang sudah terjadi adalah takdir yang tidak bisa dihindari karena Allah sudah menghendakinya demikian. Meratapi keadaan sama saja dengan tidak bersyukur atas banyak hikmah dari setiap ketentuanNya, manusia hanya bisa berusaha namun tetaplah Tuhan pemegang Kuasa.
Arzan sudah maksimal memberikan yang terbaik untuk proses persalinan Mitha, mendatangkan dokter terbaik dan fasilitas rumah sakit VVIP. Bahkan selama masa kehamilannya Arzan selalu memastikan istrinya itu tidak kurang suatu apapun.
Orang-orang ahli sudah dia siapkan untuk menjaga istrinya, dari mulai perawat, koki khusus untuk menangani makan ibu hamil dan banyak hal lainnya yang dia siapkan untuk sang istri tercinta agar menjalani kehamilannya dengan menyenangkan.
Kendati pun dirinya tidak selalu bisa berada di samping istrinya saat itu karena urusan perusahaan yang sangat membutuhkannya pasca kepergian sang ayah, tapi perhatian dan kasih sayangnya selalu tercurah dengan sempurna.
__ADS_1
Arzan meraih foto yang selalu setia berada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Dia tatap foto wanita berparas cantik dengan rambut panjang hitam terurai yang tengah tersenyum, dia sendiri yang mengambil foto itu saat mereka masih pacaran, tepatnya menjelang pernikahan. Dan selama lima tahun terakhir ini foto itulah yang selalu menemani malam-malamnya.
"Sayang, sepertinya aku sudah jatuh cinta. Dia gadis yang baik, putri kita yang membawanya padaku. Kamu tidak keberatan kan sayang? Qiana kini punya mommy, mommy yang bisa dia peluk setiap menjelang tidur, mommy yang bisa memasakkan makanan dan menyuapinya, mommy yang bisa memandikannya dan mendandaninya. Qiana selalu bersemangat saat dia diantar oleh mommynya ke sekolah"
"Sayang, kamu senang kan melihat kebahagiaan putri kecil kita? semenjak kehadiran gadis itu putri kita bahkan sepertinya lupa padaku" Arzan terkekeh saat mengatakan kalimat terakhirnya, teringat biasanya dirinya yang selalu repot bolak balik perusahaan, rumah dan sekolah hanya untuk memastikan sang putri terpenuhi keinginannya. Tapi semenjak kehadiran Tiara dia sudah tidak mengalaminya lagi.
"Sekarang aku tenang saat harus jauh darinya. Putri kita sudah menemukan orang yang tepat untuk membersamainya melewati hari-hari. Gadis itu begitu tulus menyayangi putri kita, dan aku jatuh cinta pada gadis itu, sayang. Bahkan rasa rindu selalu menguasai hatiku saat berjauhan dengannya"
Arzan menarik napasnya panjang, dia mengusap foto yang terpampang jelas di depan wajahnya itu penuh kasih.
"Sayang, maafkan aku jika pada akhirnya hati ini berpaling. Tapi percayalah sayang, dirimu tetap memiliki tempat khusus di hatiku dan selamanya hanya ditempati olehmu. Aku akan selalu mengenangmu dengan penuh cinta. Semua tentangmu dan kenangan kita berdua terlalu indah untuk terlupakan begitu saja. Dan dia pun sudah memiliki tempat khusus di hatiku"
"Sayang, semoga kamu bahagia di sana. Seperti aku yang kini merasakan kebahagiaan luar biasa melihat kebahagiaan putri kita dan karena kehadirannya"
"Tiara sayang, Mutiara Lestari nama lengkapnya. Cantik kan namanya? secantik orangnya juga akhlaknya, sayang. Dan Sekarang aku akan menemuinya, aku sangat merindukannya" Arzan mengecup foto yang digenggamnya, dia pun bangun dan menyimpan foto tersebut di tempat biasa.
"Kok sepi, kemana mereka?" Arzan kembali menutup pintu kamar sang putri setelah memastikan dua orang kesayangannya tidak ada di sana. Dia pun turun melanjutkan pencariannya.
Dapur menjadi tujuan Arzan setelah sampai di lantai bawah. Suara tawa yang beberapa hari kemarin hanya bisa dia dengar melalui sambungan telepon. Kini kembali dia dengar secara live.
Ada kehangatan yang menyeruak dalam dada Arzan, dia menghentikan langkah ketika melihat pemandangan indah di depan matanya. Dua wanita yang sangat dirindukannya sedang asik bercengkrama sambil memasak. Dapur benar-benar sudah dikuasai mereka berdua.
"Mommy, kenapa aku harus bisa memasak?" Qiana mengaduk-aduk adonan tepung terigu yang diraciknya dengan arahan sang mommy untuk membuat tempe mendoan kesukaannya,
"Karena Qia kan suka makanan" jawaban Tiara simple, dia melirik sang putri yang terlihat begitu khusuk melakukan tugasnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Ana datang dari belakang membawa seledri dan daun bawang di tangannya,
"Bu, ini seledri dan daun bawangnya sudah saya petik" Ana memperlihatkan hasil petikannya setelah sebelumnya dia basuh.
Panggilannya terhadap Tiara perlahan berubah seiring waktu, Tiara sempat menolak Ana memanggilnya demikian karena awalnya mereka sama-sama sebagai pengasuh Qiana. Tapi Ana yang justru merasa tidak enak karena sekarang Tiara sudah menjadi istri majikannya. Apalagi usia Ana yang lebih muda dari Tiara membuat gadis itu memutuskan untuk memanggil Tiara dengan sebutan Ibu saja karena Tiara tidak mau dipanggil nyonya.
Seledri dan bawang daun itu Ana ambil dari taman belakang, di waktu senggang Tiara juga mengajak Qiana untuk berkebun. Dia sengaja membeli pot untuk ditanami beberapa tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk memasak, seperti seledri dan bawang daun yang ternyata pagi ini sudah bisa dipanen perdana.
Mengingat kegiatan kampusnya akan semakin padat di tingkat akhir ini, Tiara memutuskan untuk berhenti bekerja di restoran tempatnya dulu pertama kali bertemu Qiana. Dia pun sudah membicarakan hal ini dengan suaminya meskipun hanya dengan berkirim pesan dan Arzan sangat senang mendengarnya. Dia senang akhirnya dengan sendirinya istrinya itu mau berhenti bekerja, Arzan sudah meyakinkan Tiara jika dirinya tidak akan membiarkan gadis itu kekurangan apapun.
"Non Qia, biar Mbak Ana aja yang mengerjakannya ya?" Ana mendekati Qiana yang sedang asik dengan aktivitas yang menyenangkan menurutnya,
"No Mbak Ana, Qia harus menyelesaikan tugas dari mommy ini sampai selesai" ucap Qiana sambil menggoyangkan telunjuk tangan kirinya di hadapan wajah Ana yang berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Qiana.
"Tapi Non, nanti...."
"Mbak Ana, biarkan saja" ucapan Tiara menghentikan Ana yang akan menyanggah jawaban putrinya itu,
"Saya sengaja mengajak Qiana memasak pagi ini. Sekali-kali mengajak dan melibatkan anak untuk melakukan kegiatan memasak bersama itu perlu. Dengan melibatkan mereka untuk memasak, mereka akan mulai belajar tentang kegiatan yang tersusun sesuai rencana, sesuai dengan urutan dan periode waktu yang telah ditentukan"
"Tapi Bu, kan jadi lebih lama memasaknya" ucap Ana sambil meraih sayuran yang sudah disiapkan Tiara untuk dia cuci,
"Bagi ibu-ibu yang kurang sabaran, mungkin tidak terlalu suka dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan memasak. Karena pasti anak akan membuat acara masak akan lebih lama dari biasanya dan dapur biasanya menjadi kacau. Namun semua itu tergantikan dengan manfaat acara memasak bersama anak yang sangat banyak manfaatnya. Banyak hal yang dipelajari anak dari kegiatan ini, selain waktu, perencanaan juga tentang matematika sederhana dalam hal takaran dan perbandingan" Tiara kembali menjelaskan tujuannya mengajak dan melibatkan Qiana memasak pagi ini, Ana manggut-manggut mendengar penjelasan nona mudanya itu.
"Saya sengaja mengajak Tiara memasak pagi ini. Tadi kan kita sudah sarapan bubur ayam saat jalan-jalan pagi, mami juga pergi dan katanya akan kembali siangan. Tuan Arzan juga kan belum datang, jadi aman jika makanan agak telat disajikan pagi ini" Tiara terus berbicara tanpa melihat sekitarnya, dia tidak sadar jika Ana sudah menjauh dan mengajak Qiana melakukan pekerjaannya di teras belakang,
__ADS_1
Grepp....tiba-tiba sebuah tangan kekar menyergap pinggang Tiara dari belakang.
"Aku sudah di sini, sayang" bisiknya di telinga Tiara setelah tubuhnya merapat sempurna dengan dua tangan melingkar di perut istrinya itu.