Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Kecelakaan


__ADS_3

Tiara bergegas mengambil tas dan ponselnya, setelah cukup lama bersitegang dengan Arzan yang tidak mengizinkannya untuk ikut mencari keberadaan Qiana akhirnya Arzan mengalah, dia mengizinkan Tiara untuk ikut bersama mereka.


Bukan tanpa alasan Arzan menginginkan Tiara tetap berada di rumah, dia melihat dengan jelas jika wajah Tiara masih tampak pucat. Apalagi sekarang ditambah dengan kabar hilangnya Qiana, wajah pucat yang dipenuhi kepanikan itu seketika terlihat semakin jelas.


“Sayang, kamu yakin mau ikut?” ucap Arzan kembali mengulangi pertanyaannya setelah sebelumnya beberapa kali dia lontarkan pertanyaan yang sama pada istrinya.


“Yakin Mas, Insya Allah aku baik-baik saja. Justru aku tidak akan tenang jika hanya berdiam diri menunggu di rumah” Kilah Tiara dengan alasan yang tidak mengada-ngada,


Tanpa menunggu lagi, Arzan menuntun Tiara menuju mobil mereka yang sudah terparkir di halaman depan. Arga dan Bayu sudah lebih dulu memasuki mobil yang dikendarai Arga. Dua buah mobil pun melesat meninggalkan kediaman rumah Arzan menuju sekolah.


Pantauan cctv sekolah dan lingkungan sekitarnya menjadi sumber data Arzan dan Arga untuk mengetahui jejak Tiara. Setelah menjelaskan duduk perkara mengenai kemungkinan penculikan yang dialami putrinya kepada pihak sekolah, mereka pun turut membantu mencari keberadaan Tiara.


“Sialan, rupanya anak itu benar-benar nekad” umpat Arzan yang dengan jelas melihat jika Mikha datang beberapa saat setelah Ana mengantarkan Qiana ke pintu gerbang sekolah dan meninggalkannya menuju tempat biasa dia menunggu anak asuhnya itu. Saat ini Arzan, Arga dan Bayu sedang berada di ruang keamanan untuk melihat rekaman cctv yang menayangkan sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan gerbang sekolah dan terlihat wanita dengan kaca mata hitamnya keluar dari mobil itu.


Arzan sangat mengenal siapa wanita itu, dia adalah Mikha. Entah apa yang dikatakannya pada Qiana sampai putrinya itu bersedia mengikuti ajakan Mikha.


"Catat nomor kendaraannya, segera cari keberadaan mobil itu. Aku mau sebelum jam istirahat sudah ada kabar dimana keberadaan putriku" Arzan mengeluarkan perintahnya, mode pemimpinnya benar-benar terlihat. Tegas dan berwibawa.


"Baik Tuan!" beberapa orang dengan pakaian yang sama menjawab serempak, mereka adalah tim keamanan El-Malik Grup yang sudah disiapkan Arga untuk mencari keberadaan tuan putri mereka.


"Mas, bagaimana?" suasana hening pasca kepergian tim keamanan El-Malik Grup dari ruang keamanan sekolah Qiana beberapa saat tercipta, namun kembali teruraikan dengan kedatangan Tiara yang bertanya panik dan wajah penuh kekhawatiran.


"Sayang...." Arzan merentangkan satu tangannya meminta Tiara untuk mendekat.


"Bagaimana Qiana?" ulang Tiara dalam dekapan suaminya, sejak tadi dia hanya menangis bersama Ana di ruang tunggu orang tua, menanti kabar dari suaminya.


"Mikha yang membawanya, dia mengajak Tiara sesaat setelah Ana meninggalkan gerbang" jawab Arzan,

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan" Ana menunduk, dia sangat merasa bersalah karena teledor dengan tugasnya menjaga putri tuannya,


"Sudahlah..." ucap Arzan singkat, membuat Ana semakin tertunduk karena rasa bersalah yang semakin besar.


Tiara mengeratkan pelukannya, isak tangis kembali terdengar.


"Ya Allah jaga putri kami" gumam Tiara lirih namun terdengar jelas di telinga Arzan,


"Aamiin. Tenanglah sayang, semuanya akan baik-baik saja" Arzan berusaha menenangkan istrinya tak berhenti menangis, dia tahu bagaimana kasih sayang Tiara selama ini pada putrinya.


Meninggalkan Arzan dan Tiara yang memilih kembali ke rumah mereka menunggu kabar tentang Qiana. Di lain tempat seorang laki-laki segera menghentikan rapat penting yang di perusahaannya. Pertemuan pentingnya dengan beberapa rekan bisnis seketika dibatalkannya saat mendengar kabar hilangnya Qiana.


"Mohon maaf saya harus menghentikan rapat ini dan mengatur kembali jadwalnya di lain hari. Saat ini ada hal yang lebih penting yang harus saya selesaikan" tanpa menunggu jawaban dari peserta rapat, Nathan bergegas meninggalkan ruang meeting itu meninggalkan berbagai pertanyaan di benak semua orang yang hadir.


"Mana kunci mobilnya?" dia meminta kunci mobil dari sang sopir dan langsung menyambarnya, dengan segera memasuki mobil mewahnya. Tanpa penjelasan apapun, Nathan menancap gas, meninggalkan sang sopir dan juga asistennya yang berlari menyusulnya.


Saat rapat penting di perusahaannya baru jalan setengah, Nathan menerima notifikasi pesan dari orang kepercayaannya yang bertugas memantau Qiana selama ini. Dia mengabarkan jika gadis kecil itu tidak ada di sekolah dan kemungkinan ada yang menculiknya karena Arzan dan istrinya yang tiba-tiba datang ke sekolah lengkap dengan asisten dan tim keamanan El-Malik Grup.


Selama ini Nathan memang sering menemui gadis kecil itu di sekolah. Tanpa sepengetahuan Arzan dia selalu memastikan Qiana baik-baik saja. Namun karena kesibukannya di perusahaan miliknya yang sedang naik daun dengan banyak proyek yang ditanganinya membuat Nathan tidak punya cukup waktu untuk datang ke sekolah gadis kecil itu. Dia pun menyuruh seseorang yang dapat dipercaya untuk mengawasi Qiana setiap harinya.


"Hallo....bagaimana?" di tengah perjalanannya dia mendapat telepon dari orang kepercayaannya bahwa Qiana ternyata di bawa oleh Mikha dan saat ini gadis nekad itu sedang berada dalam pengejaran tim keamanan El-Malik Grup.


"Brengsek, ternyata dia memang benar-benar membuktikan ucapannya" Nathan memukul setir mobilnya sambil mengumpat. Pertemuannya dengan Mikha beberapa hari yang lalu membuat dia tahu jika gadis itu ternyata membuktikan ucapannya yang akan menghancurkan hubungan Arzan dan Tiara melalui Qiana.


"Harusnya kamu tidak senekad ini, Mikh...." gumamnya, Nathan pun putar arah, dua mempercepat laju mobilnya menuju sebuah tempat.


Sementara dalam sebuah mobil sedan warna hitam Mikha tampak gusar. Pasalnya sejak tadi ponselnya berdering, beberapa nama tampak di layar pipih itu. Menandakan jika ulahnya membawa Qiana kini sudah diketahui banyak orang.

__ADS_1


Arzan bahkan menghubungi kedua orang tua Mikha yang berada di luar negeri dan memberitahukan ulah putrinya. Hal tersebut langsung membuat kedua orang tua Mikha marah sekaligus malu dengan ulah putrinya itu. Selama ini Arzan adalah orang yang membantu perusahaan mereka hingga bisa survive sampai saat ini. Hal yang tidak diketahui Mikha.


"Baiklah, kami akan segera datang" ayah Mikha memutuskan untuk kembali ke tanah air setelah mendapat telepon dari Arzan.


"Tante, aku mau pulang...." ucap Qiana karena melihat Mikha yang tampak kacau Qiana,


"Tidak sayang, hari ini kita akan bermain sepuasnya. Nanti papa kamu akan menyusul kita dan kita bisa bermain bertiga" bujuk Mikha berusaha menenangkan gadis kecil itu, dia masih berusaha tenang walau dalam hatinya kacau karena banyak panggilan yang masuk ke ponselnya.


"Sialan...." Mikha mempercepat laju mobilnya dari kaca yang tergantung di depan kepalanya dia bisa melihat jika ada mobil yang mengikutinya. Mikha pun hapal siapa pemilik mobil itu.


"Tante....jangan cepat-cepat, Qia takut. Qia mau pulang aja, Qia kangen sama mommy..." rengek Qiana yang tak bisa menyembunyikan ketakutannya, dia pun menangis saking takutnya karena Mikha yang semakin menggila.


"Sialan! ngapain juga Kak Nathan mengikutiku" umpatnya dengan nada marah membuat Qiana tak kuasa menahan tangisnya, dia pun menangis keras melihat Mikha yang marah-marah dan mengemudi dengan kecepatan cukup tinggi.


"Mommy.....mommy....aaaa......" tangisan Qiana semakin keras membuat Mikha hampir saja kehilangan kendali saat melihat seorang pedangan asongan yang melintas jika tidak segera membanting setirnya ke kiri.


"Diam!" bentak Mikha, dia semakin kesal karena Qiana yang menangis semakin kencang.


"Aku mau pulang, aku mau ketemu mommy dan daddy.....hiks...." Qiana terus merengek membuat konsentrasi Mikha semakin terbagi. Ponselnya terus berdering, panggilan dari beberapa nama terlihat oleh ujung matanya.


"Diam! Kalau kamu tidak diam tante akan membuat kamu tidak bisa bertemu lagi dengan daddymu" Mikha memarahi Qiana, dia semakin panik saat terlihat nama Arzan tampil di layar ponselnya memanggil. Bukan hanya Arzan, ayahnya pun tak henti-hentinya menghubungi gadis itu. Belum lagi Nathan terus mengikutinya dan semakin mendekat. Suara klakson mobil Nathan pun semakin memecah konsentrasi Mikha.


Nathan mendapat laporan dari orang suruhannya kemana arah melajunya mobil milik Mikha. Tanpa pikir panjang, setelah memastikan jika Mikha yang membawa Qiana dari sekolahnya, dia pun menuju arah jalan yang dilalui Mikha.


Ketika tiba di jalanan yang cukup lenggang, Mikha merasa punya kesempatan untuk menghindar dari kejaran Nathan. Dia menaikan kecepatan kemudinya dan bermaksud akan berbelok untuk mengecoh Nathan. Namun sayang, disaat bersamaan dari arah berlawanan muncul beberapa mobil jeep hitam dengan logo El-Malik Grup. Mikha tahu betul siapa mereka, refleks dia membanting setir hingga menabrak bahu jalan.


"Aaaaaa..........." teriakan keduanya terdengar menggema, hingga suaran dentuman keras menenggelamkan suara teriakan itu. Kecelakaan yang menyebabkan mobil itu terbalik pun tak terelakkan.

__ADS_1


__ADS_2