
Butuh waktu lebih lama untuk perjalanan Jakarta Banten karena beberapa hal yang harus disiapkan di kampus sebelum pemberangkatan. Belum lagi beberapa kali rombongan berhenti di rest area karena beberapa hal.
Rombongan mahasiswa yang akan mengikuti lokakarya terdiri dari dua bis, beberapa mahasiswa memilih membawa kendaraan pribadinya. Tiara berada di bis satu bersiap untuk menurunkan barang bawaannya yang dia simpan di bagasi tepat di atas tempat duduknya.
"Mut, ini semua barang bawaanmu?" seorang gadis yang lebih dulu berdiri saat bis berhenti di sebuah parkiran hotel bertanya pada Tiara yang biasa dia panggil Mutia,
"Iya" jawab Tiara mendongakkan wajahnya karena Karina teman kuliah yang kini berbeda kelas dengannya sedang berdiri dan menunjuk ke arah bagasi tepat di atas kepalanya,
"Sedikit amat" gumamnya pelan namun masih terdengar oleh Tiara,
"Di bagasi bawah masih ada satu koper, Rin" ujar Tiara santai, Karina hanya ber oh ria menanggapi ujaran Tiara.
Dari sekian teman Tiara yang selama ini dekat dengannya namun akhirnya menjauh setelah mengetahui kasus yang menimpa ayah Tiara, hanya Karina teman yang masih sering berkomunikasi dengannya. Walau pun mereka jarang bertemu karena beda kelas dan jadwal perkuliahan, namun Karina tetap menjalin hubungan baik dengan gadis itu.
Seperti saat ini, Karina lebih memilih bersama dengan Tiara daripada dengan teman-temannya yang kini menjauhi Tiara. Dia tidak peduli jika harus dijauhi pula oleh teman-temannya karena memilih dekat dengan Tiara, menurutnya apa yang terjadi pada ayah Tiara dan keluarganya adalah musibah. Tiara sama sekali tidak bersalah dan tidak pantas diperlakukan tidak adil hanya karena ayahnya seorang koruptor dan kini berada di dalam penjara.
Apalagi ada pemberitaan yang mengatakan jika sebenarnya ayah Tiara tidak bersalah sepenuhnya, dia hanya korban dari persahabatan toksik sesama rekan kerja.
"Kamu enggak gabung dengan mereka?" Tiara menunjuk ke arah luar jendela, terlihat empat orang gadis yang merupakan mantan sahabatnya itu turun dari bis yang parkir tidak jauh dari bis yang ditumpangi Tiara dan Karina, mereka sedang berjalan menuju lobi hotel dengan tertawa riang.
"Kamu mau aku tinggal?" sentak Karin saat melihat siapa yang dimaksud dengan mereka oleh Tiara,
"Kalau kamu memang mau dengan mereka silahkan, jangan jadikan aku penghalang kebersamaan kalian" ucap Tiara lirih, sejujurnya dia pun merasa sakit saat harus mengatakan ini. Tapi Tiara cukup sadar diri dengan posisinya saat ini, tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalahnya. Mungkin lebih baik jika dia sendiri.
"Jadi kamu beneran mau sendirian dan membiarkan aku bersama mereka?" Karin kembali meninggikan intonasi bicaranya, merasa gemas sendiri dengan jawaban sahabatnya itu, beberapa mahasiswa yang masih berada dalam bis pun menoleh ke arah mereka.
"Ya, kalau memang itu maumu" jawab Tiara tanpa menoleh, dia sibuk menurunkan tasnya yang disimpan di bagasi atas.
"Sayangnya aku enggak mau" ucap Karina melemah, membuat Tiara menoleh.
__ADS_1
Sejenak mereka saling tatap dan tak lama kemudian terdengar gelak tawa keduanya. Masih seperti dulu, di antara lima sahabatnya Karina adalah yang paling sefrekuensi dengannya.
Tiara sempat mengira jika Karin akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan sahabat-sahabatnya yang lain yaitu menjauhinya tapi ternyata prediksinya salah. Karina tetap memperlakukannya seperti biasa, mereka tetap menjalin hubungan baik sebagai sahabat.
"Sudah yuk ah, aku lapar" ajak Karin yang meraih tas milik Tiara, dia bermaksud untuk membawakan tas sahabatnya itu karena melihat Tiara pun menggendong tas lain di punggungnya.
"Biar aku saja yang bawa, ini hanya mukena dan skincare aja ko, gak berat" Tiara menolak bantuan Karin yang akan membawakan tasnya, dia pun membenahi tas yang berada di punggungnya sebelum turun, tas yang berisi laptop dan beberapa dokumen yang dibutuhkannya untuk kegiatan lokakarya.
"Oke, ayo kita mandi dan shalat. Setelah makan malam kita otewe pantai" Karin menyeret koper besarnya yang sudah di keluarkan oleh petugas travel dari dalam bagasi dengan swnyum mengembang di wajahnya, begitu pun dengan Tiara.
"Biar aku bawakan" seseorang yang suara ya tidak asing di telinga Tiara tiba-tiba menahan koper yang akan ditariknya. Sontak hal itu membuat Tiara dan Karin menghentikan langkah.
Saat ini tinggal mereka dan beberapa mahasiswa yang masih berada di area parkiran, sedangkan yang lainnya sudah lebih dulu menuju lobi hotel. Tiara dan Karin pun membalikkan badan melihat ke sumber suara.
"Tidak perlu Adrian, terima kasih" tolak Tiara halus, dia masih menjaga hubungan baiknya dengan Adrian selama itu berhubungan dengan perkuliahan atau pekerjaan, apalagi saat ini mereka pun magang di perusahaan yang sama.
"Ciihh.... sepertinya ada menyesal nih" sindir Karin yang melihat perdebatan Tiara dengan Adrian,
"Terima kasih Adrian, tapi tidak perlu aku masih bisa membawanya sendiri" Tiara dengan keras menarik kopernya agar tangan Adrian terlepas dan itu berhasil, dia pun segera membalikkan badan dan meninggalkan Adrian yang terhenyak dengan perlakuan Tiara padanya.
Gadis yang hampir dua tahun dekat dengannya itu ternyata bisa berlaku kasar juga, dia tidak mengira karena selama ini Tiara adalah gadis yang begitu lemah lembut, penyabar dan pengertian. Itulah yang membuat Adrian bertahan lama berhubungan dengan Tiara karena gadis itu selalu pengertian terhadapnya.
"Nyesel boss, makan tuh derita" sentak Karin tepat di telinga Adrian yang masih berdiri menatap kepergian Tiara.
Selama ini Karin adalah orang yang paling tahu dengan kelakuan Adrian yang terprovokasi dengan mudahnya oleh salah satu sahabat mereka yang diam-diam mencintai Adrian, hingga akhirnya Adrian pun meninggalkan Tiara di saat-saat terpuruknya.
Karina yang selama ini tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sahabatnya Tiara yang diperlakukan tidak adil merasa punya kesempatan untuk menumpahkan kekesalannya pada pria yang dia labeli pria labil itu.
Adrian teralihkan dari fokusnya menatap punggung Tiara yang semakin menjauh saat mendengar kalimat yang dilontarkan Karina. Dia pun mengeram menahan kekesalannya pada gadis itu.
__ADS_1
"Whhee..." Karin menengok ke arah Adrian dan menjulurkan lidahnya ketika sudah agak menjauh, dia pun berlari menyusul Tiara yang sudah hampir sampai di lobi hotel.
☘️☘️☘️
Kamar yang terdiri dari dua bed menjadi tempat Tiara dan Karin melabuhkan tubuh lelah mereka setelah mandi dan shalat isya. Namun hal itu tak berlangsung lama, suara ketukan di pintu kamar mereka membuat Karin mau tidak mau beranjak dari rebahannya dan membuka pintu karena Tiara sedang menerima telepon.
"Hay, kalian aman?" Danis yang merupakan salah satu panitia kegiatan lokakarya bertanya untuk memastikan keadaan mereka.
"Aman dong" jawab Karin singkat, dia hanya membuka pintunya sedikit hingga membuat Danis kesulitan untuk memantau keadaan di dalam kamar,
"Apa lu lihat-lihat?" Karin yang bawaannya agak tomboy dan berani, sedikit menyentak Danis saat melihat pria itu berusaha melihat keadaan dalam kamar.
"Tiara lagi gak pake hijab, dia lagi rebahan di dalam" ucapnya bohong, padahal jelas-jelas Tiara masih menggunakan mukenanya selepas shalat isya.
Hal itu adalah permintaan Tiara yang jangan membiarkan siapa pun masuk ke kamar mereka karena saat ini dirinya sedang bervideo call dengan Qiana yang diketahui Karin adalah anak asuhnya.
Karina mengetahui jika selama ini Tiara bertahan hidup dengan menjadi tukang cuci piring di salah satu restoran mewah di Jakarta dan dia pun tahu Tiara bekerja paruh waktu sebagai pengasuh anak kecil yang saat ini sedang menghubunginya.
'Oh, oke. Aku hanya ingin memberi tahu kalian kalau makan malam sudah siap. Kita semua akan makan malam di restoran hotel ini yang berada di lantai satu. Aku tunggu kalian di sana ya, jangan lama" ucap Danis yang akhirnya percaya dengan apa yang dikatakan Karin, dia pun berlalu meninggalkan gadis itu menuju lift yang akan membawanya ke restoran di lantai satu.
"Iya" jawab Karin singkat sambil menutup pintu kamarnya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur, mendengarkan Tiara yang sedang membujuk anak asuhnya agar mau makan dan tidak cengeng.
Satu jam sudah berlalu. Tiara belum ada tanda-tanda akan mengakhiri panggilan videonya dengan anak asuhnya. Karin membuka beberapa notifikasi di grup whatsapp mahasiswa magang yang menghimbau semua mahasiswa agar segera makan malam karena waktu makan malam mereka di restoran itu akan segera berakhir.
Karin akhirnya berinisiatif untuk pergi ke bawah dan membawakan makan malam mereka ke dalam kamar. Dari gelagatnya Karin yakin jika Tiara masih belum bisa menghentikan sambungan panggilan videonya dan Karina pun mengerti.
Rencana untuk berjalan-jalan menikmati suasana pantai malam ini pun hanya sebatas rencana karena Tiara baru mengakhiri sambungan videonya pukul sembilan saat gadis kecil yang diasuhnya itu sudah terlihat mengantuk.
"Maaf ya Rin" gumam Tiara saat melihat sahabatnya itu sudah terlelap tanpa selimut di atas tempat tidur.
__ADS_1