Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Kemarahan Arzan


__ADS_3

Rangkaian acara presentasi laporan akhir mahasiswa magang telah usai. Semua mahasiswa tersenyum lega, setelah ketok palu yang menandakan laporan mereka diterima dan dinyatakan lulus untuk mata kuliah ini.


Ucapan selamat pun mereka terima dari beberapa staf yang selama ini membantu mereka dalam menjalani kegiatan magang. Ini adalah hari terakhir mereka berada di perusahaan itu. Besok mereka harus kembali ke kampus untuk mengikuti kegiatan perkuliahan selanjutnya.


"Terima kasih sudah bekerja dengan baik, untuk selanjutnya silahkan selesaikan perkuliahan kalian. Jika ijazah sudah di tangan, datanglah kembali. El-Malik Grup menunggu kalian" sambutan penutup yang di sampaikan presdir sontak membuat tepuk tangan menggema memenuhi ruang rapat itu.


Semua orang tersenyum bahagia, terutama para mahasiswa magang. Binar bahagia terpancar jelas di wajah mereka, jaminan diterima bekerja di perusahaan besar itu menjadi angin segar untuk masa depan yang terjamin untuk mereka. Siapa yang tidak ingin menjadi bagian dari El-Malik Grup. Perusahaan yang menjadi penguasa bisnis di nusantara dan beberapa negara luar itu adalah dambaan semua orang.


Tiara tersenyum menatap penuh kekaguman pada sang presdir yang beranjak dari podium setelah menyampaikan pidatonya dengan penuh kharisma. Ada kebanggaan di hatinya telah menjadi bagian penting dalam hidupnya, laki-laki itu adalah suaminya yang setiap malam meminta untuk dimanja.


Tiara terus mengikuti langkah Arzan, berharap dia melihat ke arahnya. Namun sayang yang diharapkan sepertinya sama sekali tidak peduli dan menganggap semua orang sama, tidak ada yang istimewa.


"Sadar Mutiara, seistimewa apapun dia memperlakukanmu saat di rumah, dia tetaplah dia, presdir El-Malik Grup yang tegas dan seperlunya" Tiara mengobati kekecewaannya karena Arzan tak sedikit pun menatap ke arahnya dengan bergumam dalam hati.


Disaat semua tengah menikmati kebahagiaan masih di ruangan itu, ketukan pintu menghentikan aktivitas mereka. Ternyata salah satu staf sekretaris yang datang, memberitahukan jika ada kiriman bunga untuk salah satu mahasiswa magang.


"Maaf Tuan, ada kiriman bunga atas nama Ibu Tiara" staf sekretaris itu tanpa ragu membacakan kartu kiriman bunga tersebut, sontak semua melihat ke arahnya. Tiara berdiri mematung, dia tidak berani mengambil bunga itu lebih dulu. Sementara Arzan seperti tidak peduli dia kembali berbincang dengan para dosen yang sengaja menjadwalkan pertemuan khusus dengan presdir El-Malik setelah acara utama usai.


"Ra, itu kiriman buat kamu" Alana menyikut Tiara yang hanya berdiri saja, Tiara pun menerima buket bunga yang diulurkan di hadapannya, dia membaca sekilas kartu yang seharusnya ada nama pengirimnya namun nihil tidak ada nama pengirim tertera di kartu itu.


"Cie....gak nyangka pak presdir romantis juga"


Tiara berpikir keras siapa pengirim bunga itu, jika itu memang dari suaminya dia bersyukur, di balik sifat dingin suaminya ternyata dia perhatian juga. Tapi apakah itu mungkin? Tiara berpikir ulang.


Para mahasiswa pun meninggalkan ruang rapat utama karena ada lanjutan acara yaitu audiensi pihak kampus dengan perusahaan. Semua mahasiswa kembali ke divisinya masing-masing untuk berpamitan karena besok sudah harus kembali ke kampus.


Satu jam berlalu...


Tring....bunyi notifikasi pesan di ponsel Tiara terdengar. Dia sudah selesai membereskan barang-barangnya, sudah berpamitan pula.


"Ra, ikut ya. Kita mau ngerayain kelulusan magang kita nih, deket ko di kafe biasa dulu kita nongkrong dekat kampus" Alana datang sambil membawa barang-barangnya,


"Aku....."


"Kayaknya dia harus mengajukan proposal untuk mendapat izin pergi dengan kita, sekarang kan dia bukan orang biasa" Friska yang datang bersamaan dengan Alana bicara memotong Tiara, temannya yang satu itu memang selalu bicara blak-blakan.


"Hhe...kamu tahu aja" jawab Tiara apa adanya, dia pun menampilkan wajah nyengirnya tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan temannya itu.


"Cepetan tuh buka pesannya" Danis yang mengetahui Tiara mendapat pesan dan akan membukanya tapi terjeda karena kedatangan dua teman mereka pun mengingatkan.

__ADS_1


Sejak awal Danis memang tidak berani bertanya atau bahkan mengajak Tiara ke acara selebrasi yang akan mereka adakan. Dia tahu akan tidak mudah untuk Tiara mengikuti acara itu.


"Datang ke ruanganku sekarang!" Arzan


Tiara menarik nafas panjang dan dihembuskannya kasar. Sekilas Danis melirik ke arahnya.


"Aku harus ke ruangan presdir, kalian silahkan lanjutkan acaranya sesuai rencana. Dan maaf, jika aku tidak bisa bergabung" Tiara pamit pada ketiga temannya dan dijawab anggukan dengan ekspresi wajah teman-temannya yang sulit diartikan. Dia pun membawa barang-barang yang sudah dibereskan bermaksud menitipkannya di resepsionis sebelum dia menuju ke ruangan suaminya.


Sementara di ruang rapat utama, pertemuan pihak kampus dan perusahaan sudah selesai. Mereka sudah kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Arzan keluar lebih dulu dari ruangan itu, bergegas menuju ruangannya diikuti Arga.


Brakkk.....pintu dibuka dengan kasar, ada kemarahan di wajahnya setelah berbincang dengan Profesor Kemal usai acara resmi selesai. Arzan dan Kemal kembali menjadi teman yang saling menyapa dengan penuh keakraban. Entah apa yang mereka bicarakan, namun dari raut wajahnya Arga bisa menebak jika sesuatu telah memantik kemarahannya, hal itu sudah terlihat saat mereka masih berbincang sebelum akhirnya Arzan pamit meninggalkan ruang rapat itu lebih dulu.


"Lu yang ngelakuin?" tanya Arzan membingungkan, Arga sampai mengerutkan kening mendengar pertanyaan tiba-tiba itu,


"Maksud Tuan?..."


"Aah ..jadi bukan lu. Berarti benar, dia yang melakukannya, sialan!" umpat Arzan menjatuhkan tubuhnya dengan keras di atas sofa yang ada di ruangannya.


"Maaf Tuan" Arga belum mengerti dengan keadaan tuannya saat ini, selama di ruang rapat Arga tidak membersamai tuannya karena harus menangani urusan lainnya.


Tok...tok...tok....


"Masuk!" suara yang tak asing terdengar menyuruhnya masuk. Tegas, membuat Tiara merinding saat membuka pintu ruangan itu, dia pun pelan-pelan membuka pintu ruangan suaminya. Dia mengedarkan pandangannya, Arga berdiri bergeming di samping sofa, sementara Arzan duduk dengan posisi tubuh yang tegak dan siku menekan lututnya, kedua tangannya saling menggamit dengan kepala menunduk.


Suasana ruangan terasa mencekam, membuat Tiara kembali menarik nafasnya dalam karena merasakan tiba-tiba dadanya sesak dengan keadaan yang tengah dihadapinya itu.


"Assalamu'alaikum" ucapan salam Tiara membuat Arzan mendongak, tatapannya tajam. Tak ada jawaban, membuat Tiara semakin gugup berada di antara dua orang saling diam.


"Wa'alaikumsalam" Arga menjawab tanpa mengubah sedikitpun posisinya.


Tiara beralih menatap Arga, sorot matanya penuh tanya. Ada apa ini? begitulah kira-kira makna tatapan Tiara pada asisten suaminya. Arga menggelengkan kepalanya pelan, setelahnya dengan segera dia memalingkan pandangannya ke arah lain karena tahu atasannya tengah menatap istrinya itu tajam.


"Ga, keluar!" ucap Arzan tanpa melihat ke arah Arga,


"Baik Tuan" dengan segera Arga melangkah menuju pintu, berpapasan cukup dekat dengan Tiara dia hanya mengangkat bahunya acuh.


"Tu...Tuan....." Tiara semakin gugup melihat Arzan yang berdiri dari duduknya dan melangkah ke arahnya,


Arzan semakin geram mendengar panggilan Tiara, kekesalannya terlihat sangat jelas di matanya. Tiara mengerjapkan matanya beberapa kaali saat Arzan semakin mendekat, dia tidak berani melangkah mundur walaupun itu yang sebenarnya ingin dia lakukan.

__ADS_1


"Kamu panggil aku apa?" tanya Arzan ketus, dia meraih dagu Tiara yang menunduk dan mendongakkannya agar menatapnya.


"Maaf mas.....aku pikir ini di kantor" jawab Tiara terbata, jantungnya semakin berdegup kencang karena melihat Arzan sepertinya sangat marah, dia baru pertama kali melihat sisi lain laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.


"Dari siapa bunga itu?" tanya Arzan masih dengan nada ketus,


"Bunga..?" Tiara tidak bisa berpikir dengan benar di saat seperti ini, jantungnya semakin berdegup kencang.


"Kau lupa?" sentak Arzan,


"Maaf mas, maksud mas bunga yang aku terima tadi di ruang rapat? aku pikir itu dari Mas Arzan" jawab Tiara tersenyum, berusaha tidak menunjukkan kegugupannya, pasalnya dia merasa jika itu memang bukan dari suaminya. Dia berharap Arzan melepaskan cengkraman tangan di dagunya.


"Aku tidak mengirimkannya" ujar Arzan masih dengan dalam mode marahnya,


"Hah ...?" Tiara kaget, ternyata benar dugaannya jika pengirim bunga itu bukanlah suaminya. Walaupun di kantor Arzan sudah mengumumkan bahwa Tiara istrinya, tetapi Arzan tetaplah Arzan yang selalu mengedepankan profesionalitas dalam bekerja.


"Kalau begitu aku tidak tahu Mas, di sana tidak ada pengirimnya" jawab Tiara menjelaskan masih dengan nada terbata,


"Benar, kamu tidak mengetahuinya?" kemarahan Arzan masih belum mereda, intonasi bicaranya masih ketus dan sedikit meninggi.


"Iy..iya mas, aku tidak tahu" jawab Tiara sambil menggelengkan kepalanya.


Arzan terus melangkah, membuat Tiara mau tidak mau melangkah mundur karena semakin terdesak. Sampai saat tubuhnya sudah merapat di dinding, Arzan lalu menyergapnya.


"Mas" Tiara berusaha menenangkan suaminya, kilat kemarahan masih terlihat jelas di mata Arzan, mereka kini sedang beradu tatap.


"Aku tidak mau kamu menerima apapun selain dariku" Arzan memelankan suaranya, dia mendekati telinga Tiara dengan berbisik. namun jelas sangat terdengar oleh Tiara,


"Iy ...iya Mas" Tiara gugup, dia semakin merinding saat Arzan berbicara tepat di telinganya,


Ting....sebuah notifikasi pesan masuk terdengar berasal dari ponsel Tiara yang berada di genggamannya. Tiara kaget sendiri, dia khawatir notifikasi itu mengganggu Arzan.


"Mana ponselmu?" Arzan berhenti mengungkung Tiara, diapun menyodorkan ponsel itu. Arzan mengambil ponsel Tiara dan mengusap layarnya.


Tiara tidak tahu siapa yang mengiriminya pesan dia berharap tidak ada pesan atau apapun di ponselnya yang membuat Arzan marah.


Namun ternyata pikirannya salah, ketakutannya itu menjadi kenyataan. Setelah layar ponsel itu menampilkan sebuah pesan yang Tiara tidak tahu siapa pengirimnya, wajah Arzan semakin memerah, dia semakin marah saat membaca pesan di ponsel Tiara. Tiara memegangi dadanya yang semakin berdegup kencang. Untuk pertama kalinya dia melihat Arzan semarah ini.


Dan.....brukkkkk.......Arzan seketika melempar ponsel Tiara yang digenggamnya ke arah dinding, membuat ponsel itu berhamburan pecah seketika.

__ADS_1


__ADS_2