
Malam yang panjang tengah dilewati dengan kesendirian. Seorang pemuda nan gagah dan tampan, mapan dengan banyak hal yang dimilikinya tidak lantas membuat dirinya bahagia. Rasa sepi kerap menghinggapi dirinya setiap malam menjelang.
Nathan Alfatih Wiguna, putra tunggal dari pemilik Wiguna Hotel. Di usia yang terbilang muda dia sudah memiliki segalanya, sebagai anak tunggal dia menjadi pewaris satu-satunya semua aset milik orang tuanya. Kedua orang tuanya sudah berusia lebih dari setengah abad dan saat ini begitu mengharapkan kehadiran cucu di masa senja mereka, dan Nathanlah harapan satu-satunya mereka.
Seolah menjadi masalah paling besar apa yang menjadi tuntutan kedua orang tuanya saat ini. Nathan lebih dibuat pusing oleh permintaan mereka dibanding dengan masalah bisnisnya. Sungguh dia bingung harus apa yang dilakukan.
Sejak dulu dirinya benar-benar tidak bisa bangun setelah jatuh pada lubang cinta dalam diam yang paling dalam. Sejak wanita pujaannya bahagia dengan sahabatnya sendiri dia sudah berusaha untuk ikhlas dan melupakan perasaannya. Namun urusan hati lagi-lagi menjadi hal yang bukan kuasanya.
Kesempatan yang berharga saat dirinya bisa membersamai sang pujaan hati di saat-saat sulitnya kini terbayang kembali. Niat awal hanya memberi support namun nyatanya cinta telah membuatnya terlena.
Kebersamaannya malam itu dengan Mitha yang sudah berstatus istri sahabatnya tidak pernah hilang dari ingatan Nathan. Cinta telah membuatnya buta dan kenyamanan yang diterima Mitha seolah menjadi alasan dirinya leluasa menyalurkan rasa cinta pada wanita yang sejak dulu ada di hatinya, hingga sebuah kesalahan pun terjadi antara mereka, namun itu menjadi kesalahan terindah untuk Nathan.
Kepergian Mitha ketika melahirkan tidak hanya menjadi pukulan besar untuk Arzan, tapi juga untuk Nathan. Sampai hari ini laki-laki itu belum mampu membuka hatinya untuk wanita manapun.
"Yaa Tuhan apa yang harus aku katakan pada Mama dan Papa?" Nathan menyugar rambutnya, saat ini dia tengah bersandar pada sebuah kursi di balkon kamarnya yang berada di lantai tiga, pikirannya benar-benar buntu setelah sang mama memintanya untuk memperkenalkan calon istri pada mereka.
Nathan mendongakkan kepalanya menatap langit malam yang bertaburan bintang, cuaca cukup cerah malam itu. Dia memejamkan matanya dan sedetik kemudian tiba-tiba saja bayangan gadis berjilbab lewat di depan matanya,
"Tiara...." gumamnya
☘️☘️☘️
Sementara di kediaman keluarga El-Malik,
Tiara menelan salivanya kasar karena Arzan sudah berdiri tepat di hadapannya. Saat pikirannya masih menimbang-nimbang, dirinya sudah di hadapkan dengan orang yang sangat diseganinya itu, rasa gugup selalu menerpa saat berhadapan berdua dengan Arzan.
"Maaf tuan, sebenarnya saya ada perlu dengan tuan. Tapi kalau tuan sudah mau tidur, tidak apa-apa besok saja" jawab Tiara semakin gugup Arzan menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
"Ada apa?" tanya Arzan masih dengan wajah datarnya,
"Saya hanya mau...."
"Masuklah, kita bicara di dalam" jawaban Tiara terjeda karena Arzan memotongnya, dia membuka kembali pintu ruang kerjanya dan masuk diikuti Tiara yang melangkah dengan terlebih dahulu menarik napas panjang untuk menghilangkan kegugupannya.
"Duduklah, katakan apa yang ingin kau katakan" ucap Arzan dengan mode serius,
Tiara kembali menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan setelah duduk di sofa tepat di hadapan Arzan.
"Sebenarnya semenakutkan apa aku, kenapa dia selalu saja gugup jika berhadapan denganku?" batin Arzan berbicara melihat wajah Tiara menjadi pias setelah duduk berhadapan dengannya.
Tiara tidak tahu jika setelah makan malam tadi Arzan langsung memasuki ruang kerjanya hanya untuk menatap foto- foto gadis itu di ponselnya yang ada di ruang kerja, foto dan video diforward Arga dari grup mahasiswa magang kantornya. Hatinya mengatakan rindu tapi pikirannya kembali menolak, egonya masih di atas rata-rata.
Namun rasa penasaran untuk menanyakan kebersamaan Nathan dengan gadis itu saat di pantai membuat Arzan akhirnya memutuskan untuk memanggil gadis itu ke ruangannya besok di kantor.
__ADS_1
Belum lagi Kemal yang juga bersama Tiara selama tiga hari kemarin membuatnya sebenarnya ingin langsung terbang ke tempat Tiara berada dan membawanya pulang, tapi lagi-lagi ego mengalahkannya.
Kemal sudah terang-terangan menyatakan rasa sukanya terhadap Tiara di hadapan Arzan. Dia selalu mewanti-wanti Arzan agar jangan galak-galak pada Tiara, Kemal sangat tahu bagaimana ketegasan Arzan dalam urusan pekerjaan. Walaupun saat itu dia tidak ambil pusing dengan omongan Kemal tapi pada akhirnya kepikiran juga,
Ternyata dayung bersambut, niat hatinya untuk memanggil dan berbicara berdua dengan Tiara esok hari langsung terealisasi malam ini saat melihat Tiara berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Dan sekarang mereka sudah berhadapan dengan jarak yang hanya terhalang meja.
"Saya mau mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan Tuan pada keluarga saya. Saya benar-benar terkejut saat pulang. Ibu dan adik-adik sudah tidak menempati lagi kontrakan kami dulu, sekarang mereka tinggal di tempat yang jauh lebih nyaman" Tiara masih menundukkan kepala saat berbicara, dia tidak sanggup rasanya jika harus berbicara sambil menatap Arzan dari jarak yang begitu dekat.
"Adik pertama saya juga katanya menerima pemberian motor dari Tuan. Saya sangat terharu, saya tidak tahu akan bisa membalas kebaikan tuan atau tidak, saat ini hanya berterima kasih yang bisa saya lakukan" Tiara sejenak menghentikan bicaranya, dia sedikit mendongakkan kepalanya mengintip Arzan yang sejak tadi diam tak bersuara, dan ternyata suaminya itu sedang menatapnya lekat. Tiara pun kembali menundukkan kepalanya.
"Terima kasih tuan, terima kasih kasih banyak atas kebaikan tuan. Saya do'akan semoga tuan panjang umur dan sehat selalu. Allah berikan rezeki yang semakin berlimpah dan berkah" ucap Tiara terdengar tulus, dia mengusap ujung matanya yang tiba-tiba terasa hangat dengan ujung kerudungnya.
Tidak ada suara, suasana terasa sangat hening. Tiara sudah menyampaikan apa yang ingin dikatakannya. Hatinya lega, walau tak kunjung ada kata yang terucap dari bibir Arzan, setidaknya ucapan terima kasih dan do'a tulus sudah dia sampaikan.
"Tuan, hanya itu yang ingin sampaikan. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya, saya per...." Tiara yang hendak berdiri, menghentikan gerakannya.
"Kamu bertemu pria itu di sana?" Arzan memotong ucapan Tiara dengan pertanyaan diluar dari apa yang disampaikan Tiara, membuat gadis itu seketika mendongak dan menatap Arzan dengan wajah bingungnya.
"Hah? maksud Tuan?" Tiara balik bertanya, dia pun akhirnya memberanikan diri menatap pria yang sangat diseganinya itu,
"Nathan.....kamu bersama dia di sana?" ucap Arzan memperjelas maksud pertanyaannya,
"Nathan...." sejenak Tiara berpikir, bagaimana suaminya itu bisa tahu perihal pertemuannya dengan laki-laki sok kenal sok dekat itu, tapi Tiara sadar siapa Arzan tentu hal yang mudah untuknya mengetahui apapun yang dilakukannya.
Arzan menatap Tiara dalam, dia masih masih menunggu penjelasan Tiara tentang pertemuan mereka. Walaupun dirinya tahu jika pertemuan mereka hanya sebuah kebetulan dan kebersamaan mereka hanya sebatas makan siang itu pun bersama dengan teman-teman Tiara yang lainnya, tidak ada unsur kesengajaan sama sekali. Tapi hal itu cukup membuat hatinya memanas dan tidak tenang.
"Apa yang kamu lakukan dengannya?" Arzan melanjutkan interogasinya pada Tiara,
"Saya? saya tidak melakukan apa-apa Tuan. Kami hanya kebetulan bertemu. Tuan Nathan adalah tamu Profesor Kemal" Tiara mengatakan yang sejujurnya, wajahnya terlihat panik karena Arzan menatapnya begitu tajam.
"Oya?" nada mengejek terdengar dari nada bicara Arzan.
"I..iya Tuan" Tiara terbata saat Arzan tiba-tiba berdiri, dia pun sontak berdiri karena Arzan melangkah ke arahnya,
"Kemal....apa saja yang dilakukan laki-laki itu selama bersamamu di sana?" Arzan semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Tiara,
"Profesor...profesor Kemal melakukan apa yang menjadi tugasnya, Tuan" Tiara yang mundur kembali terduduk di sofa karena Arzan yang terus mendekat,
"Termasuk menemani kamu makan? itu juga menjadi bagian dari tugasnya? dan kamu begitu terlihat senang saat bersamanya bahkan terus menebar senyum, kamu senang didekati dia? kamu lupa dengan apa yang pernah aku katakan siapa kamu saat ini?" Arzan semakin mengintimidasi Tiara yang saat ini sudah duduk dan merunduk menatap lantai, hanya kaki Arzan yang dilihatnya.
Arzan mengetahui semua itu dari foto dan video yang dishare teman-teman Tiara di grup mahasiswa yang magang di perusahaannya. Arga sebagai salah satu penanggung jawab keberadaan mahasiswa magang di perusahaannya menjadi anggota grup itu dan dia mengirimkan semua kiriman dokumentasi kegiatan selama lokakarya yang diposting teman-teman Tiara di grup itu pada Arzan.
"Jawab!" Arzan meninggikan intonasi bicaranya,
__ADS_1
"Tidak...tidak tuan, saya tidak punya pikiran seperti itu" Tiara semakin menundukkan kepalanya, matanya memanas mendengar Arzan berbicara dengan nada tegas dan menuduhnya seperti itu,
"Benarkah?" tanya Arzan dengan intonasi mulai merendah, dia meraih dagu Tiara dan mengangkatnya membuat Tiara mendongak dan pandangan mereka pun bertemu,
"Apa aku bisa percaya padamu?" Arzan tidak melepas tatapannya dari Tiara, mata yang indah milik Tiara pun seakan menghipnotisnya.
Tiara hanya menganggukan kepalanya pelan, dia sudah tak mampu menahan air matanya yang akhirnya keluar dari sudut kedua matanya.
Dia tidak habis pikir mengapa Arzan bisa semarah itu, Tiara merasa selalu menjaga batasan selama berada di luar rumah. Sebagai perempuan bersuami Tiara tahu harus menjaga sikap seperti apa. Walaupun suaminya tidak menganggapnya sebagai istri.
Kebersamaannya dengan Profesor Kemal masih dalam batasan normal sekedar hubungan mahasiswa dengan dosennya, begitupun pertemuannya dengan Nathan adalah suatu kebetulan.
Tapi nyatanya Arzan terlihat begitu marah, apa mungkin dia cemburu? pikir Tiara. Tapi dari sikapnya yang dingin dan mengatakan jika Tiara hanya pengasuh sepertinya tidak mungkin suaminya itu cemburu, Tiara menghapus prasangka itu dari pikirannya.
"Apakah dia marah karena sudah dibuat kewalahan dengan tingkah Qiana karena ditinggal pergi olehku? " batin Tiara, Tiara sungguh tidak habis pikir dengan sikap suaminya itu, sementara dagunya masih dicengkram oleh tangan besar Arzan.
"Kamu menangis?" tanya Arzan lirih,
"Maaf tuan" Tiara menarik napasnya dalam, sejenak matanya terpejam seolah mengumpulkan keberanian untuk melindungi dirinya,
"Tuan saya terima jika anda marah karena saya meninggalkan tugas saya untuk menjaga nona Qiana, saya tahu saya salah karena telah membuat tuan kewalahan bahkan sampai meninggalkan pekerjaan tuan. Saya minta maaf, saya sadar tugas utama saya adalah menjaga nona Qiana dan kuliah hanyalah urusan pribadi saya. Untuk ke depannya saya akan berusaha mengutamakan tugas utama saya di atas kepentingan pribadi" Tiara berkata panjang lebar, kali ini dia berbicara dengan menatap Arzan.
Dia tidak mau terus ditekan dengan hal yang tidak dilakukannya, akhirnya keberanian untuk membela diri pun muncul begitu saja.
"Ckk...."
"Kenapa dia jadi bicara masalah itu? apa dia benar-benar tidak mengerti?" batin Arzan, dia melepaskan cengkraman tangannya dari dagu Tiara dan berdecak sambil memalingkan wajahnya.
"Kamu bicara apa?" tanya Arzan masih dengan wajah datarnya,
"Saya hanya mau minta maaf atas kelalaian saya dan saya juga mengucapkan terima kasih atas nama pribadi dan keluarga atas semua kebaikan tuan pada kami" Tiara berbicara lebih lancar dibanding sebelumnya, dia pun menatap Arzan saat mengatakan semua itu dengan berani.
"Huuhhh" Arzan menjatuhkan bokongnya pada sofa yang diduduki Tiara sambil menghembuskan nafasnya kasar,
"Kamu mau berterima kasih?" Arzan menoleh ke sampingnya dimana Tiara duduk dan jarak mereka begitu dekat,
"Iya tuan" jawab Tiara mantap sambil menganggukan kepalanya,
"Kalau begitu ....berterima kasihlah dengan benar" tiba-tiba Arzan meraih tengkuk Tiara dan menariknya, dia mengecup bibir merah muda alami milik Tiara.
Tiara mematung seketika, dia tidak berani memberontak saat bibir mereka kembali saling bersentuhan, untuk kedua kalinya Arzan melakukan hal ini.
Bibir Arzan yang awalnya hanya menempel perlahan beraksi, dia ******* habis bibir merah muda yang sejak tadi menjadi fokusnya saat menatap Tiara.
__ADS_1
Sejak pertama kali menyentuh bibir itu Arzan tidak bisa melupakannya. Jejak manis bibir gadis itu masih terasa dan selalu membuatnya ingin melakukannya lagi hingga akhirnya terwujud malam ini.