Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Keluarga Sakinah


__ADS_3

Menjadi ibu rumah tangga sekaligus mahasiswa akhir cukup membuat Tiara kewalahan. Hari-harinya terasa terlewati begitu cepat. Bangun sebelum subuh, me time dengan bermunajat di penghujung malam dilanjutkan dengan shalat subuh berjamaah dengan putri kecilnya. Sementara sang suami kini mulai membiasakan diri berbaur dengan masyarakat sekitar di awali dengan shalat berjamaah di masjid komplek perumahan elit yang mereka tinggali.


Dia baru akan meninggalkan rumah setelah suaminya dan anaknya berangkat terlebih dahulu, memastikan semua keperluan mereka terpenuhi, perlengkapan mereka tidak ada yang kurang, perut mereka terisi dan mengawali hari dengan senyum bahagia. Setelah semuanya tuntas, barulah Tiara memulai aktivitasnya menuntaskan skripsinya.


Keluarga kecil itu memutuskan untuk menempati rumah baru sebagai awal kehidupan baru mereka. Rumah yang sudah disiapkan Arzan jauh-jauh hari untuk keluarga kecilnya, tentunya dengan bantuan Arga semuanya sesuai yang diharapkan. Rumah itu bahkan atas nama Tiara, wanita yang sudah berhasil memasuki hatinya hingga yang paling dalam. Mengarahkannya untuk memiliki pandangan berbeda terhadap kehidupan. Bahwa setiap gerak langkah yang dilakukan di dunia ini haruslah bernilai ibadah, menjadikan semua hal yang dilakukannya sesuatu yang akan mengangkat derajat di dunia dan menyelamatkan di akhirat.


Setelah tadarus bersama putrinya, Tiara bersiap untuk menuju dapur. Dia merapihkan peralatan shalatnya dan menyimpannya kembali ke dalam kamar. Merapihkan tempat tidur dan hal-hal lain yang kurang rapi di kamarnya terlebih dahulu. Sementara sang putri sedang asyik sendiri dengan kegiatan rutin ba'da subuhnya yaitu muraja'ah hafalan al-Qur'annya ditemani Ana, pengasuh Tiara yang turut serta mengikuti mereka pindah ke rumah baru.


Baru saja Tiara akan memegang handle pintu kamarnya, dia terperanjat karena pintu tiba-tiba terbuka. Sang suami baru kembali dari mesjid, Tiara tersenyum lebar menyambutnya tanpa mengalihkan pandangan. Arzan tampak gagah dengan baju koko dan peci hitam yang dikenakannya. Tidak lupa kain sarung yang masih melilit rapi di pinggang menambah kharismanya.


"Kenapa?" tanya Arzan yang urung melangkahkan kakinya ke dalam kamar karena Tiara yang mematung sambil terus menatapnya. Sontak suara suaminya mengurai lamunan Tiara,


"Mas, sudah kembali" ucap Tiara sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dan mencium tangan suaminya.


"Iya, kenapa kamu bengong? ada apa heumm?" Arzan maju selangkah dan langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuh Tiara. Dengan cepat tangannya memerangkap pinggang sang istri yang hendak mundur.


"hhe....gak apa-apa" jawab Tiara tersipu malu karena ketahuan sedang melamun tepatnya sedang mengagumi ketampanan suaminya,


"Heummm, aku gak percaya. Kamu pasti sedang memikirkan sesuatu. Tadi kamu bengong saja sambil ngeliatin aku. Ada apa? pasti ada yang kamu pikirkan, ayo ngaku!" Arzan menjawil ujung hidung Tiara dengan wajah yang memerah karena didekap dengan tiba-tiba oleh suaminya.


"Eum..enggak Mas aku gak lagi mikirin apa-apa" elak Tiara, dia malu jika harus ketahuan kalau dirinya begitu terhipnotis dengan ketampanan suaminya pagi ini.


"Aah...gak percaya, jelas-jelas tadi kamu bengong sambil ngeliatin aku. Kamu tuh paling gak bisa berbohong sayang, ayo ada apa? bicaralah!" bujuk Arzan tanpa melepaskan dekapannya.

__ADS_1


"Lepasin dulu dong, nanti aku bilang" Tiara bernegosiasi, dia masih sangat malu dengan keintiman mereka jika dalam keadaan seperti saat ini.


"Enggak, nanti kamu kabur. Ayo sekarang bilang, ada apa?" Arzan enggan melepaskan istrinya, dia tahu taktik yang diluncurkan istrinya agar bisa lepas darinya.


"Heummh baiklah tapi jangan ge er ya..." Tiara menghela nafas, kalau sudah seperti ini akan sulit untuk dirinya menghindar.


"Aku sedang mengagumi ketampanan suamiku. Mas terlihat sangat tampan dengan baju koko, sarung dan peci yang mas kenakan pagi ini, aku sampai terpesona'' ucap Tiara akhirnya dengan malu-malu mengaku.


Sejenak Arzan terdiam, dia dibuat tertegun mendengar penuturan suaminya. Lama dia memandang lekat wajah Tiara yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, hal itu tentu membuat Tiara semakin salah tingkah.


"Mas ih...kenapa menatapku seperti itu?" Tiara memalingkan wajahnya ke sembarang arah karena tidak tahan dengan tatapan suaminya,


"Aku mencintaimu" ucap Arzan, dia mengusap pipi dan dilanjutkan mengusap bibir Tiara, hingga akhirnya jarak diantara wajah mereka pun terkikis dengan sendirinya.


"Eumh...Mas" lenguh Tiara setelah Arzan melepas tautan bibir mereka, kembali dia akan mengulangi aksinya namun dengan segera Tiara mencegahnya.


"Kenapa gak minta Ana saja yang melakukannya atau kita bisa meminta bi Asih untuk datang mami pasti mengizinkan" protes Arzan, tidak terima karena aksinya dicegah dan tidak ingin istri dan anaknya kecapean karena pekerjaan rumah.


"Mas, aku sudah mulai menerapkan komitmen untuk Qia tentang apa yang menjadi tugasnya. Bulan ini giliran di rumah Qia untuk bekerja kelompok menuntaskan tugas sekolahnya, aku bilang berarti dia harus bisa memuliakan tamu yang hadir. Aku menjelaskan pada dia keutamaan memuliakan tamu dan bagaimana caranya. Salahsatunya dengan menyambut mereka dengan baik dan menyiapkan makanan untuk mereka. Dia ingin melakukannya tapi takut enggak bisa kalau harus menyiapkan sendiri. Aku menawarkan solusi berbagi tugas, selain agar dia juga merasa puas sudah berkontribusi untuk memuliakan tamunya, hal ini juga untuk melatih keterampilannya agar terbiasa dengan pekerjaan rumah. Sebagai anak perempuan dia harus tahu dan mampu mengerjakan pekerjaan rumah, bukan hanya tentang keilmuan yang dipelajarinya di sekolah" jelas Tiara panjang lebar. Dia bahkan menunjuk beberapa sticky note bertuliskan agenda hariannya dengan Qiana yang menempel di samping meja tempatnya mengerjakan tugas kuliah. Hal yang sama ada di kamar Qiana.


Semenjak mereka pindah ke rumah baru, Tiara dan Qiana membuat jadwal harian mereka masing-masing, saling berbagi dan membantu satu sama lain. Qiana cukup antusias ketika dia dilibatkan dalam secara langsung dalam urusan pekerjaan rumah seperti membereskan tempat tidur, mencuci piring, menyapu dan hal lain yang menurut Tiara Qiana akan mampu melakukannya secara perlahan.


"Sayang, kamu sudah paket lengkap. Selain sebagai ibu kamu juga sebagai guru yang hebat buat Qiana" puji Arzan masih mendekap erat pinggang istrinya,

__ADS_1


"Mas, setiap orang adalah guru dan setiap rumah adalah sekolah. Aku tidak ingin Qiana hanya mendapat pendidikan formal di bangku sekolah, tapi dia juga harus faham bagaimana ilmu kehidupan yang sebenarnya" ujar Tiara dengan senyum manisnya,


"Kamu benar, ilmu yang didapatkannya di sekolah tidak cukup untuk menjalankan kehidupan yang sebenarnya di masyarakat. Aku pun banyak belajar setelah sering bertemu dengan para tetangga di mesjid. Ternyata indah ya kebersamaan dalam kebaikan." terang Arzan dengan tatapan menerawang,


Semenjak berpindah rumah dan membiasakan diri untuk menyempatkan shalat berjama'ah di masjid, Arzan semakin memahami kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya. Jika dulu teman-teman atau komunitasnya hanya membicarakan bisnis dengan berbagai pencapaiannya, kini dia lebih nyaman dengan obrolan-obrolan ringan bapak-bapak tentang ilmu agama, keluarga, hobi dan juga keadaan lingkungan sekitar.


"Benar mas dan kebaikan itu akan tertanam kuat di dalam diri kita ketika kita terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan baik. Akhlak yang baik tidak akan tertanam kuat di dalam jiwa seseorang selama jiwa itu tidak dibiasakan untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan selama jiwa itu tidak meninggalkan seluruh perbuatan buruk"


Arzan mangangguk-anggukan kepalanya mendengar apa yang dituturkan istrinya, dia selalu antusias jika Tiara berbicara tentang ilmu agama. Secara tidak sadar Arzan banyak belajar dari istrinya, meskipun usia mereka cukup berjarak tapi tidak lantas membuat Arzan enggan atau malu untuk bertanya pada sang istri tentang ilmu agama. Dia menyadari keterbatasannya dalam hal itu karena selama ini terlalu disibukan dengan urusan bisnis dan bisnis.


"Lanjutkan sayang" titah Arzan, dia masih ingin mendengar banyak hal dari istrinya. Cara bicara Tiara dalam menyampaikan sangat lembut dan terkesan tidak menggurui membuatnya nyaman dan ketagihan.


"Lanjutkan apa Mas?" tanya Tiara, dia mengerutkan kening curiga kepada suaminya,


"Tentang Akhlak yang baik, sayang" Arzan terkekeh melihat mimik muka istrinya yang menggemaskan menurutnya,


"Akhlak yang terpuji tidak akan tertanam kuat di dalam jiwa seseorang jika jiwa tersebut tidak dibiasakan untuk memiliki kerinduan melakukan perbuatan-perbuatan terpuji dan menikmatinya, serta membenci perbuatan-perbuatan tercela dan merasa bersalah karenanya" lanjut Tiara,


"Akhlak yang terpuji akan terwujud dengan cara membiasakan diri melakukan perbuatan-perbuatan terpuji, melihat orang-orang yang berperilaku terpuji dan bersahabat dengan mereka. Mereka adalah sahabat dalam kebaikan dan saudara yang akan mengantarkan pada kemaslahatan"


"Tabiat seseorang biasanya tergantung pada tabiat orang lain yang berteman dengannya, demikian pula halnya dengan perbuatan baik dan buruk. Begitupun dengan Qia, seorang anak memang harus selalu diawasi sejak dini, sejak akal pikirannya mulai tumbuh berkembang, dan saat rasa malu pada dirinya mulai muncul. Aku hanya ingin memastikan Qiana memiliki kebiasaan baik yang akan menular pada teman-temannya juga dan yang paling pokok dalam mendidik anak adalah menjaganya dari teman-teman yang berperangai buruk"


"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan baik dan memiliki fitrah yang baik. Kebiasaan dan pendidikanlah yang membentuk perilaku akhlaknya" pungkas Tiara dengan senyum yang lebar, tanpa sadar mereka berbicara dengan posisi masih berdiri dan saling merangkul, bahkan saat ini Tiara pun mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, sudah menjadi istri terbaik dan ibu yang hebat. Aku semakin mencintaimu dan aku ingin ke surga bersamamu. Selama ini aku terlalu terlena dengan urusan dunia, tolong bantu aku untuk menjadi manusia yang lebih baik, menjadi imam yang pantas untukmu dan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita" ucap Arzan tulus, mereka kembali saling menatap dan kembali keduanya mengikis jarak di antara mereka.


"Mommy.... Mommy... Qia sudah selesai muraja'ahnya..." teriak Qiana dari luar kamar terdengar jelas karena pintu kamar masih terbuka, sontak Arzan dan Tiara saling melepaskan diri dengan wajah Tiara yang memerah dan salah tingkah.


__ADS_2