Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Kepergian Tiara


__ADS_3

"Ra, sebaiknya kamu pikirkan lagi. Aku yakin Arzan tidak sungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya. Dia hanya sedang kalut, aku harap kamu mau mengerti dan sabar untuk membuatnya sadar" Arga yang mendengar apa yang Arzan katakan di ruang rawat Tiara dari balik pintu mengikuti kemana Tiara akan pergi, dia berjalan terburu-buru karena Tiara yang berjalan cukup cepat padahal kondisinya masih terlihat lemah.


"Semuanya sudah jelas, ini yang diinginkan mas Arzan. Aku akan ikuti." Tiara yang merasa harga dirinya sudah sangat terkoyak kini tak mampu menahan dirinya lagi,


"Tapi Ra, apa tidak sebaiknya kamu mencoba berbicara lagi pa ..." ucapan Arga terjeda ketika Tiara berbalik dan menatap tajam ke arahnya.


"Tak perlu ditegur lagi, biarkan dia sesuka hatinya. Terkadang seseorang tidak akan puas sebelum mereka menyesal" Tiara berkata dengan wajah datarnya, Arga bahkan dibuat merinding melihat kemarahan tertahan dari wanita yang biasanya ramah dan murah senyum itu.


"Sudah siap?" Rianti yang sudah terlebih dahulu mendapat pesan dari sahabatnya untuk membantunya melakukan apa yang diinginkan suaminya, Rianti langsung menuju tempat Tiara berada. Saat ini dia sedang bertugas di lantai 5 sementara Tiara berada di lantai 1.


"Kalian mau kemana? kamu siapa?" Arga terkejut saat melihat wanita dengan pakaian perawat tiba-tiba datang dan mengajak Tiara untuk pergi. Walau bagaimanapun Arga harus tetap memastikan Tiara selalu dalam pantauannya. Arga yakin Arzan akan memarahinya jika sampai terjadi sesuatu pada Tiara.


"Tunggu saja hasilnya, akan terkirim langsung pada bosmu" jawab Tiara ketus, dia benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak meluapkan kekecewaannya terhadap Arzan. Sementara Rianti hanya menatap Arga yang tidak mengenalinya dengan hanya terdiam karena Tiara sudah lebih dulu menjawab.


"Ayo, Ri" ajak Tiara menarik tangan Rianti yang hanya bengong melihat percakapan mereka.

__ADS_1


"Tiara, bagaimana dengan Qiana? dia pasti akan sangat membutuhkanmu setelah kejadian ini" Arga berkata dengan intonasi meninggi, berharap dapat menghentikan Tiara,


Benar saja, apa yang dikatakan Arga membuat Tiara menghentikan langkahnya. Dia berdiri mematung cukup lama, putri kecil yang sangat dia sayangi. Namun, kejadian beberapa hari yang lalu membuat Tiara berpikir jika Qiana pun memang sudah tidak menginginkannya. Dia kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Arga.


"Mas Arga, tolong sampaikan pada Qiana jika dia sadar nanti bahwa aku sangat menyayanginya. Percayalah Mas, hal terberat yang aku rasakan saat ini adalah merelakan semua ini terjadi, padahal hati ingin masih bertahan namun keadaan menyadarkanku untuk memilih pergi" ucap Tiara dengan air mata yang lolos begitu saja membasahi pipinya.


Arga terpekur sendiri, meresapi setiap kalimat yang Tiara ucapkan. Hatinya teriris, walau bagaimanapun Tiara adalah korban. Dia harus turut menanggung rasa sakit akibat kegagalan suaminya yang masih masih belum melepaskan diri sari belenggu masa lalunya.


"Maafkan aku Tiara...." rasa bersalah menyeruak di hati Arga, dia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini. Arga tahu masih cukup sulit untuk Arzan menerima kenyataan yang benar-benar mengguncang hidupnya. Biarlah waktu yang akan menyembuhkan setiap luka yang ada di hati masing-masing. Namun dia pun berjanji akan berusaha untuk membuat Arzan sadar sebelum menyesali semuanya.


☘️☘️☘️


Tiara hanya mengirim pesan pada Mami Ratna, jika dia pamit untuk menenangkan diri dan mami Ratna pun mengerti. Dia pun sangat kesal dengan perilaku putranya yang sudah sangat keterlaluan.


Sementara Arzan, setelah mengetahui fakta pahit yang harus dia telan tentang siapa sebenarnya ayah biologis dari Qiana dia lebih banyak mengurung diri. Dia masih enggan untuk menemui putrinya itu, operasi Qiana berjalan lancar dan dia dinyatakan dapat melewati masa kritisnya namun masih belum sadarkan diri. Mami Ratna dan Nathanlah yang selama ini menemani putri kecil itu di rumah sakit.

__ADS_1


"Maafkan Nathan, tante" ucap Nathan tulus, dia tahu apa yang terjadi pasti sangat melukai keluarga Arzan juga. Apalagi selama ini mami Ratna memperlakukannya sudah seperti pada anaknya sendiri.


"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Tante tidak akan menyalahkan siapa-siapa, toh mungkin juga tante ikut andil dalam masalah ini. Karena terlalu sibuk mengurusi perusahaan peninggalan ayahnya Arzan jadi tidak punya waktu untuk istrinya. Wajar jika dia merasa kesepian, walau pun hati kecil tante masih menolak untuk menerima, bagaimana bisa seorang istri dengan teganya mencari kehangatan dari laki-laki lain di saat suaminya tengah memperjuangkan masa depan mereka, apalagi laki-laki itu adalah sahabat suaminya sendiri" jawab mami Ratna telak, membuat Nathan semakin menundukkan kepalanya karena malu dan juga merasa bersalah.


"Tante tahu jika kamu sudah mencintai Mitha jauh lebih dulu sebelum Arzan bertemu Mitha, tapi apakah pantas ketika takdir jodoh sudah terjadi kamu terlihat memanfaatkan ketidakberadaan sahabatmu untuk melampiaskan cintamu yang salah karena masih mencintai wanita yang sudah bersuami? entahlah Nath tante pusing, maafkan tante jika tante berbicara terlalu keras. Tante juga tidak akan menyalahkan kamu, seorang laki-laki yang mendambakan cintanya dan kemudian cintanya itu tiba-tiba datang dan menyerahkan semuanya pastilah tidak akan menolak" sambung mami Ratna semakin menohok,


"Maafkan Nathan tante, maafkan Mitha juga" hanya kalimat itu yang mampu diucapkan Nathan, nasi sudah menjadi bubur. Perbuatannya di masa lalu sudah berusaha dia sembunyikan, namun ternyata tidak sulit untuk Allah menampakkan semuanya hanya dalam hitungan detik.


"Sudahlah, tante sudah tidak mau peduli lagi dengan masa lalu kalian bertiga. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya menyadarkan Arzan agar tetap mau menerima Qiana dan hidup dengan baik bersama istrinya Tiara. Walau bagaimanapun anak ini tidak berdosa, apalagi sekarang Tiara pun pergi, tante tidak ingin Arzan menyesal karenanya" mami Ratna menghela nafas panjang, terlihat lelah memikirkan keadaan putranya. Dia menatap tubuh gadis kecil yang terbaring lemah dengan beberapa alat menempel di tubuhnya.


"Tiara pergi, tante?" Nathan kaget mendengar kabar kepergian Tiara, beberapa hari ini fokusnya hanya pada Qiana.


"Heumm" jawab mami Ratna singkat,


"Tapi kenapa?" tanya Nathan heran,

__ADS_1


"Tiara hamil dan Arzan memintanya untuk melakukan test DNA"


"Apa?" pekik Nathan kaget, rasa bersalah kembali membesar di hati Nathan. Dia tahu sahabatnya seperti itu karena ulahnya di masa lalu.


__ADS_2