
Pertama kali merasakan hamil, Tiara merasa menjadi wanita seutuhnya. Salah satu hal yang tidak dapat dilakukan seorang pria yaitu hamil dan tentu hal itu salah satu yang menjadi alasan mengapa kedudukan seorang ibu tiga tingkat di atas ayah. Karena perannya sebagai seorang istri sekaligus ibu menjadi perempuan lebih mulia.
Mengandung, melahirkan dan menyusui adalah momen istimewa yang hanya akan dirasakan perempuan. Tidak sedikit perempuan yang tidak berkesempatan merasakan tiga momen itu karena berbagai hal, namun tidak sedikit pula perempuan yang kurang bersyukur ketika mendapat kesempatan untuk berada di momen itu namun dirinya menyia-nyiakannya.
Tiara merasa hidupnya saat ini begitu bahagia. Suami yang sempat membuatnya hampir menyerah nyatanya benar-benar membuktikan ucapannya menjadi suami siaga. Walaupun Tiara masih enggan dekat-dekat dengan suaminya itu karena akan merasakan mual setiap kali mereka berdekatan, tapi itu tidak membuat Arzan menyerah.
Dengan sabar dan telaten Arzan selalu memenuhi keinginan Tiara. Dia selalu memantau walaupun dari jarak jauh, memastikan jika istri dan anak mereka baik-baik saja dan tidak kekurangan apapun.
Usia kandungan Tiara sudah memasuki empat bulan. Sore ini rencananya akan diadakan syukuran empat bulanan. Mami Ratna menjadi orang paling bersemangat dalam hal ini. Dia mengatur semuanya memastikan acaranya berlangsung sesuai dengan harapan.
Tiara tidak sedikit pun dibiarkan untuk membantu, dia hanya harus beristirahat, tidur yang cukup dan makan yang banyak. Itulah yang dilakukan Tiara atas perintah Arzan dan mami Ratna selama ini, mereka benar-benar sangat menjaga Tiara.
Dia tidak bisa membantah, suami dan mertuanya selalu punya alasan mengapa dirinya selalu dilarang untuk melakukan hal kecil sekalipun. Tiara bahagia, dia tahu semua perlakuan itu dia terima sebagai bukti betapa dirinya sangat dicintai.
Pernah suatu hari, Tiara yang tidak terbiasa untuk terus berdiam diri berinisiatif untuk menyiram bunga-bunga yang ada di balkon kamarnya. Tiara juga merapikan beberapa tanaman yang tampak berantakan. Hal itu diketahui Arzan, suaminya itu langsung memerintahkan pelayan untuk memindahkan tanaman hias itu ke taman belakang agar Tiara tidak lagi mengurusinya.
"Sudah siap sayang?" Arzan memasuki kamarnya, beberapa tamu sudah datang. Keluarga besar El-Malik antusias untuk menghadiri acara syukuran. Tidak lupa jajaran penting kantor pusat dan beberapa kantor cabang turut diundang. Teman dan sahabat pun tidak ketinggalan, mereka turut bahagia dengan berita kehamilan Tiara.
"Sudah banyak tamu Mas?" Tiara memutar tubuhnya yang sedang merapikan jilbab di deon cermin,
"Sayang kamu cantik sekali, aku ingin sekali memelukmu" Arzan mengabaikan pertanyaan Tiara, wajahnya berubah sendu karena keinginannya untuk memeluk istrinya itu hanya sebatas angannya.
"Kemarilah Mas...." tanpa Arzan duga, Tiara merentangkan dua tangannya.
"Sayang, bolehkah?" Arzan masih bergeming di tempatnya berdiri, dia masih ragu untuk memeluk istrinya.
"Kita coba!" jawab Tiara singkat, senyuman manis masih menghiasi wajahnya, bahkan semakin lebar karena melihat suaminya yang tampak terkejut dengan pernyataannya.
"Sayang..." perlahan Arzan melangkahkan kakinya menuju tempat istrinya berdiri.
"Kemarilah Mas" ucap Tiara lagi.
__ADS_1
Arzan pun mempercepat langkahnya, tatapan mereka masih beradu. Kini mereka sudah berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Arzan masih melihat respon Tiara, biasanya istrinya itu akan langsung menutup mulut dan berlari menuju kamar mandi.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima...
Enam...
Tujuh...
Delapan...
Sepuluh...
Sampai hitungan sepuluh Arzan berhitung, Tiara masih menampakkan senyum manisnya. Tidak ada tanda-tanda jika istrinya itu merasakan mual seperti sebelumnya.
"Sayang..." tanpa ragu Arzan memeluk erat istri yang sudah hampir dua bulan ini tidak pernah disentuhnya.
"Mas....maaf" Tiara tahu suaminya itu sangat bekerja keras untuk menahan diri.
Dia pun sebenarnya kasihan melihat setiap malam Arzan harus tidur di sofa setiap malamnya. Suaminya itu menolak untuk tidur di kamar lain agar lebih nyaman. Mami Ratna bahkan mengusulkan agar Arzan menambah bed di kamarnya khusus untuk dirinya, tapi putranya itu menolak.
Tiara pernah malam-malam saat suaminya sudah tertidur lelap, datang mendekati suaminya. Namun lagi-lagi dirinya merasakan sesuatu bergejolak dalam perutnya. Alhasil malam itu Tiara pun tidak bisa tidur lagi karena rasa mual yang terus menyerangnya.
__ADS_1
"Kenapa minta maaf sayang?" tanya Arzan dengan pelukan yang semakin erat.
"Aku minta maaf jika selama beberapa bulan ini tidak bisa dekat dengan kamu. Terima kasih sudah bersabar dan tetap berada di sampingku" keharuan tiba-tiba menyeruak dalam dada, Tiara tak kuasa menahan cairan bening yang akhirnya lolos keluar dari sudut matanya.
"Shhuuttt .... ini bukan salah kamu sayang, aku yang seharusnya minta maaf. Aku sadar belum bisa menjadi yang terbaik untuk kalian" Arzan mengecup berkali-kali puncak kepala Tiara yang sudah berbalut hijab, hatinya menghangat, lega akhirnya bisa memeluk perempuan yang selalu dirindukannya itu.
"Cup..." tanpa Arzan duga Tiara berinisiatif mengecup bibirnya, namun segera Tiara kembali menyusupkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Sayang..." Arzan memaku, dia masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Kamu baik-baik saja menciumku?" tanya Arzan dengan wajah polosnya. Dia tidak melihat wajah Tiara yang memerah karena ulah yang dibuatnya sendiri. Tiara hanya mengangguk dengan tetap membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Benarkah?" binar bahagia terlihat di mata Arzan, dia meraih dagu sang istri dan mengangkatnya agar menatap wajahnya.
Melihat respon istrinya yang baik-baik saja setelah menciumnya, Arzan pun nekad mendekatkan wajahnya. Bibir merah muda alami tanpa polesan itu menjadi arah pandang dan sasarannya. Arzan mengikis jarak dan berhasil menyatukan bibirnya dengan bibir Tiara.
Awalnya hanya menempel, Arzan masih menunggu respon tubuh sang istri atas keintiman mereka itu. Setelah menunggu beberapa saat dan istrinya dirasa baik-baik saja diapun meningkatkan level keintimannya.
Perlahan, penuh kelembutan, dia menyesap bibir istrinya, beralih ******* dan lama kelamaan dia pun merasakan jika sang istri membalasnya.
Bahagia menyeruak di dada Arzan, akhirnya rindunya tersalurkan. Arzan merasakan justru sang istri lebih agresif membalas ciumannya. Arzan senang, akhirnya kesabarannya terbayarkan kerinduan pun terbalaskan sudah.
Semakin lama tubuh Arzan semakin memanas, satu tangannya bahkan meraih tengkuk sang istri agar ciuman mereka semakin dalam. Satu tangannya bahkan mulai bergerilia menuju bagian-bagian favorit di tubuh istrinya.
"Masss...." ******* Tiara terdengar merdu di telinga Arzan, semakin membuat semangatnya terpacu.
"Mas...acaranya" ucap Tiara di sela-sela ciuman panas mereka.
"Sayang, aku menginginkanmu" jawab Arzan dengan suara yang serak, matanya sudah berkabut gairah. Hatinya bersorak, istrinya sudah kembali....buah kesabarannya ingin tengah dia petik, tidak sia-sia menunggu ternyata sang istri lebih menggoda.
"Tapi..."
__ADS_1
Tok...tok...tok...
"Daddy....mommy....."