
Hari yang dinantikan Tiara pun akhirnya tiba. Dia sudah siap dengan pakaian kebaya yang dibelinya beberapa minggu yang lalu. Untunglah saat memutuskan pergi dari rumah, dia tidak lupa membawa baju kebaya yang sudah dipesankan khusus untuk hari bersejarah ini dalam hidupnya.
Sebenarnya dia sudah memesan baju kebaya itu sama dengan Qiana putri sambungnya, hanya berbeda model bahkan Arzan akan memakai baju yang senada dengan kebaya yang dipakainya. Seragam keluarga yang khusus dipesan untuk acara wisuda Tiara kini hanya menjadi angan belaka. Rencana untuk wisuda didampingi orang-orang tercinta kembali hanya sebatas rencana.
Tiara sengaja tidak memberi tahukan perihal hari wisudanya kepada ibu dan adik-adiknya, karena jika mereka hadir, mereka pasti akan menanyakan ketidakberadaan suaminya. Dia tidak ingin keluarganya tahu jika rumah tangganya saat ini sedang dalam masalah.
Rianti juga sudah siap dengan pakaian semi formalnya, dia sengaja memakai kostum itu karena akan menghadiri acara formal wisuda sahabatnya Tiara. Dia sengaja izin dari tempatnya magang untuk bisa menemani sahabatnya itu di hari bersejarahnya ini.
Tiara sudah melarang Rianti untuk ikut menghadiri wisudanya, dia tahu hari ini Rianti tidak libur, Tiara tidak mau membuat sahabatnya itu ada dalam masalah. Tapi tenyata Rianti sudah mempersiapkan semuanya.
"Ayo, sudah siap?" ajak Rianti yang masuk ke kamarnya setelah terlebih dahulu sarapan yang disiapkan Tiara, sementara Tiara kembali ke kamar untuk bersiap.
"Masya Allah ..kamu cantik sekali Ra" ucap Rianti dengan mulut sedikit terbuka, dia memerhatikan Tiara dari atas sampai bawah. Tidak menyangka hanya dengan berdandan tipis sahabatnya itu terlihat sangat berbeda.
"Alhamdulillah....masa sih, aku cuman pake bedak tipis dan eyes shadow sedikit, bedaknya ketebelan gak? warna lipstiknya terlalu mencolok gak?" bukannya senang mendapat pujian Rianti, dia malah semakin tidak percaya diri dengan penampilannya saat ini. Selama ini Tiara belum pernah menggunakan alat-alat make up yang pernah dibelikan ibu mertuanya di awal pernikahan. Biasanya dia cukup menggunakan cream wajah dan lip gloss saja. Tapi hari ini karena semua orang akan berhias dan berpenampilan terbaik, maka Tiara pun mencoba berdandan sebisanya.
"Ck...." Rianti berdecak, mendengar penuturan sahabatnya dia tahu kalau Tiara memang kurang percaya diri berpenampilan seperti itu.
"Tidak ada yang salah, semuanya oke, okenya pake banget. Udah ah, ayo kita berangkat biar gak telat" ajak Rianti menggandeng lengan Tiara dan berjalan menuju pintu keluar kosannya.
"Sebentar" cegah Tiara, dia merogoh tas selempang yang dipakainya saat merasakan ponselnya bergetar.
"Ada telepon" terang Tiara,
"Assalamu'alaikum"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Tiara ini aku Nathan" ucap seseorang yang menelepon Tiara, dia ternyata Nathan.
Tiara menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan percakapannya di telepon.
"Iya Pak Nathan, ada apa?" tanya Tiara berusaha sebiasa mungkin, mengingat nama Nathan membuat dia kembali teringat suaminya yang begitu kecewa dan sakit hati sehingga dirinya pun terkena imbasnya, Arzan kehilangan kepercayaan bahkan pada dirinya.
"Sebelumnya maafkan aku Tiara, aku hanya mau memberi tahu kamu kalau Qiana sudah sadar dan selalu memanggil mommynya"
Deg....hati Tiara terasa berdenyut, mengetahui jika Qiana memanggil-manggil mommy. Tapi Tiara kembali tersadar mungkin mommy yang dimaksud putri sambungnya itu adalah Mitha. Terakhir Tiara berada di rumahnya, dia sempat memasuki kamar Qiana dan ternyata semua semua foto dirinya yang berada di kamar putri sambungnya itu sudah kembali diganti oleh foto almarhumah mantan istri suaminya itu.
Tiara hanya bisa tersenyum namun air mata tak bisa ditahannya, lolos begitu saja membasahi pipinya tatkala melihat satu persatu setiap foto yang dipajang oleh putri sambungnya. Tiara tidak tahu harus sedih atau bahagia. Apakah dia berhak bersedih ketika Qiana melakukan itu, bukankah itu hal yang seharusnya? dia hanya ibu sambungnya yang berawal dari sekedar seorang pengasuh, pikir Tiara. Harusnya Tiara biasa saja karena itu hal yang wajar, tapi entah kenapa hatinya terasa tercubit dan sakit.
Dan sekarang, saat putri sambungnya kembali sadar dari tidur panjangnya pasca kecelakaan, putri sambungnya itu memanggil-manggil mommy. Tiara kembali berpikir mungkin yang dimaksud Qiana bukanlah dirinya.
"Tiara, Tiara....kamu masih berada di sana?' tanya Nathan dari seberang telepon,
"Alhamdulillah Pak, saya turut berbahagia dengan sadarnya Qiana. Semoga lekas sehat kembali" Tiara berusaha menetralkan suaranya, turut berbahagia dengan kesembuhan Qiana, ingin sebenarnya dia menengoknya, namun bayangan penolakan kembali terlintas dibenaknya.
"Bisakah kamu datang ke sini Tiara, dia terus memanggil-manggil mommy dan tidak mau makan" Nathan kembali menjelaskan Qiana,
"Tapi Pak, mungkin yaang dimaksud Qiana itu bukan saya" ucap Tiara lirih namun masih terdengar oleh Nathan, dia menengadah menahan air mata yang hampir akan lolos dari matanya saat mengatakan kalimat itu,
"Maksud kamu?" tanya Nathan,
"Mungkin yang dimaksud Qiana adalah almarhumah Ibu Mitha Pak, Bapak bisa mencoba memberikan foto almarhumah Ibu Mitha pada Qiana untuk mengobati kerinduannya" Tiara memberi solusi, dia berusaha tegar dan bersikap biasa saja walaupun sebenarnya hatinya merasakan sakit,
__ADS_1
"Tapi Tiara bagaimana bisa Qiana...." perkataan Nathan terjeda,
"Pak, silahkan Bapak mencobanya. Maaf hari ini saya ada keperluan, terima kasih atas informasinya tentang Qiana. Titip salam buat Qiana, semoga dia sehat selalu. Assalamu'alaikum" pungkas Tiara mengakhiri sambungan teleponnya dengan Nathan tanpa menunggu jawaban dari ucapan salamnya.
Seketika Tiara luruh, dia berjongkok menumpahkan tangis yang sejak tadi ditahannya. Rasa sakit kembali dirasakan hatinya, lagi-lagi perasaan diabaikan memenuhi dadanya. Namun dia sadar siapa dirinya.
"Ra.....kamu gak apa-apa kan?" Rianti yang kaget melihat Tiara menangis setelah mengakhiri teleponnya langsung ikut berjongkok dan memeluk sahabatnya itu,
"Maaf ya Ra, aku yang memberikan nomor telepon kamu ke Mas Nathan. Sejak semalam katanya nona Qiana terus memanggil-manggil mommy" ungkap Rianti yang terlebih dahulu sudah mengetahui kabar tentang Qiana dari Nathan.
Tiara menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia berusaha kembali menetralkan perasaannya.
"Maafkan aku ya Ra...." Rianti sangat merasa bersalah, dia tidak menyangka sahabatnya akan seperti ini setelah menerima telepon dari Nathan.
"Enggak apa-apa, kamu sudah melakukan hal yang benar. Hanya Pak Nathan tidak tahu jika Qiana sebenarnya merindukan almarhumah ibu kandungnya" ucap Tiara, dia kembali berbicara sesudah biasa menguasai perasaannya.
"Tapi, bagaimana bisa? bukankah selama ini dia begitu dekat dengan kamu dan dia tahunya kamu adalah mommynya? tanya Rianti penasaran, Tiara pun kembali menghela nafas sebelum menjelaskan. Dia pikir sahabatnya harus tahu hubungannya dengan Qiana sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Astaghfirullah, aku yakin itu pasti karena pengaruh si Mikha, dia pasti sudah ngasih bicara yang gak bener sama non Qiana" ujar Rianti geram sendiri setelah mendengar cerita Tiara.
"Kamu yang sabar ya, aku yakin sebenarnya non Qiana sangat menyayangi kamu. Kamu harus kuat, harus sehat dan bahagia juga, apalagi sekarang di perut kamu kan ada kehidupan baru yang harus kamu jaga dan kamu harus mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan bahagia dan sukacita" Rianti berusaha memberi kekuatan pada sahabatnya dengan mengusap-usap bahu Tiara yang kembali berguncang setelah menceritakan bagaimana hubungannya dengan Qiana.
"Iya, kamu benar Ri" ucap Tiara diiringi anggukan kepala, dia pun tersenyum sambil mengusap air mata yang masih tersisa di sudut-sudut matanya, satu tangannya memegangi perutnya yang masih rata.
"Sepertinya aku harus cuci muka dulu sebelum pergi" Tiara berdiri,
__ADS_1
"Iya dong, masa mau wisuda begini. Sekarang biar aku yang dandani kamu" Rianti meraih tangan kanan sahabatnya itu dan membawanya ke dapur untuk mencuci muka. Setelahnya dia pun menggiring Tiara ke kamar untuk didandani kembali.
Mobil online yang sudah dipesan Rianti melalui aplikasi di ponselnya pun sudah terparkir di depan pintu kosannya dan siap membawa mereka berdua ke tempat wisuda Tiara berlangsung.