Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Cemburu


__ADS_3

Beberapa porsi makanan kini sudah terhidang di meja sofa yang berada di ruangan Arzan. Seorang office boy mengantarkan semua makanan pesanan sang presdir dengan tatapan menyelidik. Setelah sekian lama bekerja di perusahaan itu dan sudah hampir tiga tahun bertugas di lantai tempat sang presdir berada baru kali ini dia menerima titah untuk membawakan makanan sebanyak itu.


Yang tak kalah membuatnya bertanya-tanya adalah tentang mahasiswa magang yang dibawa bossnya ke dalam ruangan khusus yang selama ini hanya dimasuki oleh Arzan dan putrinya. Arga sebagai orang terdekatnya pun belum pernah memasuki ruangan itu. Hanya office boy tertentu yang membersihkan ruangan itu dan dia adalah orang yang sama yang diminta Arzan untuk membawakan air putih dan makanan untuk Tiara.


Office boy itu melihat dengan jelas bagaimana Arzan memperlakukan Tiara saat pingsan, rasa khawatir terlihat jelas di wajah bossnya itu.


"Tuan, semuanya sudah siap" ucap office boy itu,


"Terima kasih" jawab Arzan singkat, dan dijawab anggukan kepala oleh office boy itu. Dia pun hendak berlalu keluar dari ruang bossnya,


"Rahman" panggilan Arzan sontak menghentikan langkahnya, office boy yang dipanggil Rahman pun urung membuka pintu. Dia kembali membalikkan badannya menghadap bossnya.


"Iya, Tuan. Ada yang harus saya kerjakan lagi?" tanyanya sopan,


"Aku sudah menikah, dia istriku" Arzan menatap lekat office boy yang sudah menjadi kepercayaannya, kerja laki-laki itu sangat baik, Arzan pun sangat percaya dan mempertahankan office boy yang bernama Rahman itu untuk tetap bertugas melayaninya.


Senyum terbit di bibir Rahman, ada rasa haru bahagia yang menelusup ke dalam dadanya mendengar apa yang dikatakan tuannya.


"Saya percaya Tuan, dan saya turut berbahagia. Sudah saatnya tuan bahagia dengan pasangan tuan. Saya yakin Mbak Tiara adalah wanita yang baik" Jelas Rahman panjang lebar mengungkapkan kebahagiaannya.


Arzan mengernyit mendengar Rahman menyebut nama Tiara.


"Kamu mengenal istri saya?" tanya Arzan penasaran.


"Iya Tuan, kami pernah beberapa kali bertemu di parkiran saat Mbak Tiara, maaf maksud saya Nona Tiara pulang malam karena lembur. Dia pun..." jelas Rahman,


"Kang Rahman...." Rahman yang sedang menjelaskan bagaimana dia mengenal Tiara pada bossnya terhenti saat suara yang tak asing di telinganya memanggil namanya.


"Mbak Tiara.....eh maaf maksud saya Nona Tiara" ulang Rahman gugup,

__ADS_1


"Kang Rahman apaan sih, kenapa panggil aku begitu?" Tiara keluar dari ruang pribadi Arzan setelah sebelumnya menikmati secangkir teh manis untuk memulihkan kondisinya, dia pun berjalan ke arah Rahman.


"Sayang, kenapa kamu keluar? kamu kan masih lemah" Arzan yang melihat kemana arah pergerakan Tiara segera berdiri dari kursi kebesarannya, dia pun meraih tangan Tiara dan menggiringnya ke sofa sehingga Tiara mengurungkan niatnya mendekat ke arah Rahman untuk menyalami laki-laki itu yang berdiri di dekat pintu.


"Aku sudah baik-baik saja Mas. Aku...." Tiara menatap ke arah Rahman yang masih berdiri dan menatap ke arahnya.


"Kamu mengenal dia, heumm?" nada bicara Arzan cukup lembut, tapi tidak dengan tatapannya yang terus mengarah pada Tiara. Dia bahkan tidak membiarkan Tiara beranjak dari sisinya. Dengan posesifnya tangan kanan Arzan menggenggam tangan Tiara di pangkuannya sementara tangan kirinya kini sudah menggamit pinggang ramping istrinya itu.


"Dia....." Tiara bisa merasakan aura kecemburuan suaminya, dalam hati dia pun tersenyum merasa begitu berarti. Tapi ketika melihat tatapan Arzan untuknya yang tak kunjung beralih membuatnya bergidik.


"Dia siapa, sayang?" karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Arzan pun mengulangi pertanyaannya tanpa mengalihkan tatapannya dari Tiara.


Tiara menarik nafasnya panjang, semakin ke sini dia mulai faham seperti apa karakter suaminya.


"Mas, kamu ingat nenek Imah? nenek yang menolong aku ketika sedang berada di titik terberat dalam hidupku? beliau juga turut hadir dalam pernikahan kita" Tiara mengajak Arzan untuk kembali mengingat apa yang pernah dia alami di masa-masa sulitnya.


"Kang Rahman ini adalah cucu nenek Imah, beberapa kali aku pernah bertemu di parkiran tapi kang Rahman enggak bilang di bagian apa dia bekerja, pantas saja kami tidak pernah bertemu selama bekerja ternyata dia mempunyai tugas khusus " jelas Tiara sesuai fakta, apa yang dikatakan istrinya sama seperti yang Arzan dengar dari pegawainya itu.


Ingatan Arzan pun terbang ke hari dimana dia menikahi Tiara. Seorang wanita paruh baya tengah menunggunya di halaman teras belakang selepas prosesi ijab qabul dan ramah tamah usai.


"Nak Arzan, bisakah ibu meminta waktunya sebentar?" langkah Arzan yang baru saja mencuci muka dan hendak kembali ke depan terhenti kala mendengar seseorang menyapanya.


"Ya, ibu.....?" jawab Arzan penuh tanya,


"Saya Salimah, orang-orang memanggil saya Nenek Imah begitupun dengan Tiara. Selama ini Tiara tinggal bersama saya" jelas nenek Imah memulai obrolannya dengan Arzan. Kini mereka duduk di kursi yang ada di teras belakang rumah mewah itu.


"Apa yang ingin nenek sampaikan?" tanya Arzan ramah, nenek Imah yang awalnya ragu untuk berbicara serasa mendapat angin segar melihat respon Arzan seperti itu.


"Nenek cuma mau menitipkan Tiara padamu, nenek tahu di antara kami memang tidak ada ikatan darah, tetapi beberapa bulan nenek mengenal dan tinggal dengannya nenek yakin dia gadis yang baik dan nenek sangat menyayanginya. Semua yang menimpanya sungguh sesuatu yang berat untuk dihadapi gadis seusianya. Tapi dia mampu bertahan dan tidak mengeluh padahal keadaannya sedang dijungkir balikkan." nenek Imah menarik nafas panjang menjeda bicaranya, perasaan haru selalu menyelimuti hatinya tatkala mengingat apa yang menimpa Tiara.

__ADS_1


"Nenek percaya Tuhan tidak mungkin menitipkan Tiara padamu begitu saja, nenek yakin kamu adalah laki-laki pilihan yang disiapkan untuk mendampingi Tiara. Nenek harap kamu menjaganya dan tidak pernah menyakitinya." nenek Imah menatap lekat Arzan yang sejak awal hanya menyimak tanpa bersuara,


"Awalnya nenek mau menjodohkan Tiara dengan cucu nenek, tetapi ternyata anak itu lebih dulu bilang jika Nak Arzan akan menikahinya, huuuh...." nenek Imah membuang nafasnya.


Nenek Imah mempunyai seorang cucu dari anak laki-laki satu-satunya, sang putra yang sudah lebih dulu pergi ke pangkuan Illahi saat cucunya masih kecil karena kecelakaan kerja membuat nenek Imah harus rela berjauhan dengan cucunya karena menantunya memilih untuk menikah lagi dengan laki-laki lain dan tinggal di kota yang berbeda. Setelah sang cucu besar, barulah dia kembali bisa bertemu dengan cucunya itu karena sang cucu bekerja di ibu kota tempatnya berada.


Saat dirinya mendapati Tiara sebagai gadis yang baik dan sangat pekerja keras terbersit di pikirannya untuk menjodohkan mereka, namun sayang lamaran Mami Ratna lebih dulu menghampiri Tiara sebelum niat nenek Imah itu terucapkan.


"Mas" panggil Tiara yang melihat Arzan melamun,


"Iy..iya sayang, ada apa?" jawab Arzan gugup karena ketahuan dirinya sedang melamun.


"Mas ingat nenek Imah kan?" tanya Tiara memastikan,


"Iya, iya...aku ingat. Dia orang yang sudah menolong kamu kan?" jawab Arzan dengan senyum ramah, dan dibalas anggukan kepala dengan senyum ramah pula oleh Tiara.


"Jadi kamu cucunya nenek Imah?" pandangan Arzan kini beralih pada Rahman yang masih setia berdiri di dekat pintu keluar ruangan presdir menunggu perintah,


"Iya Tuan, saya cucunya nenek Imah" jawab Rahman yang sedikit gugup karena pandangan Arzan terasa berbeda untuknya.


"Heummmh" jawab Arzan dengan wajah datarnya,


Arzan menatap penuh selidik pada pegawai yang sudah menjadi kepercayaannya itu. Dari atas sampai bawah Arzan mengamati Rahman membuat Rahman salah tingkah dibuatnya.


"Jadi ini laki-laki yang akan dijodohkan dengan istriku dulu? dia lumayan tampan, walaupun aku yakin jika ketampananku jauh di atasnya. Tapi dia masih muda, sepertinya usianya tidak jauh beda dengan Tiara" gumam Arzan dalam hatinya, dia masih terus memindai Rahman dari atas sampai bawah.


Arzan mengenal Rahman sudah cukup lama, dia anak yang baik, taat beribadah, tampan dan sangat cerdas. Saat ini bahkan Arzan sedang memberinya beasiswa kuliah yang dilakukan Rahman malam hari selepas dia selesai bekerja. Tiara bisa saja tertarik pada pemuda itu jika tahu mereka akan dijodohkan pikiran Arzan pun melayang kemana-mana dengan berbagai kemungkinan versinya


"Ini tidak bisa dibiarkan" gumamnya dalam hati, aura cemburu terpancar jelas dari tatapannya yang seakan menghujam ulu hati Rahman.

__ADS_1


__ADS_2