Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Kekompakan yang Hakiki


__ADS_3

Nathan berjalan gontai menuju lift, ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Walau pun Riki sudah mengatakan padanya agar dia mengurungkan niatnya meraih cinta Tiara karena Arzan sudah lebih dulu mengikatnya tapi dia masih berbesar harapan jika Arzan tidak serius dengan apa yang dilakukannya.


Nathan masih akan berusaha mendekati Tiara untuk meraih hatinya. Akan kembali menjadi pria setia yang akan bersabar menanti dengan cinta dalam hatinya berharap Tiara jatuh hati padanya.


Dan di saat Tiara lelah dengan ikatan yang dibuat Arzan dan memilih menyerah di saat itulah dia akan hadir menjadi seseorang yang memperlakukan Tiara dengan lebih baik.


Sungguh Nathan sudah jatuh hati pada pandangan pertama dengan gadis itu. Apalagi setelah dia tahu seperti apa kepribadiannya. Kerja kerasnya untuk menyelesaikan kuliah dalam keterbatasan hidup yang dihadapinya membuat hati Nathan tersentuh, dan yang paling membuat dia terkesan adalah bagaimana dia memperlakukan Qiana penuh cinta. Sungguh tidak ada yang membuat hati Nathan menghangat selama ini setelah sekian lama hatinya membeku.


Setelah mendengar cerita Riki tentang Arzan yang mengikatnya dalam ikatan pernikahan sebagai pengasuh Qiana, Nathan semakin yakin jika Arzan tidak akan mudah berpaling dari almarhumah Mitha. Itulah yang membuat Nathan memiliki harapan hingga dirinya akan menunggu Tiara.


Nathan tidak percaya dengan keterangan lain dari Arga jika Arzan sungguh-sungguh dengan apa yang dilakukannya terhadap gadis itu. Tapi setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kekhawatiran Arzan yang begitu kentara dari raut wajahnya saat Tiara pingsan hati Nathan tidak bisa mengelak lagi jika apa yang dikatakan sahabat-sahabatnya itu benar adanya.


Ting....


Pintu lift pun terbuka, tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri dia memasuki lift. Pandangannya datar, fokus pikirannya masih tentang Tiara.


"Sudah aku katakan, hilangkan semua keinginan dan perasaanmu untuknya" suara yang tak asing di telinga Nathan tiba-tiba menghentakkan Nathan dari lamunannya.


"Sejak kapan lu ada di sini?" ucap Nathan ketus yang hanya menoleh sekilas saja ke arah sumber suara.


"Ciih....kau bahkan tidak menyadari jika kita masuk bersama tadi" jawab Arga tak kalah ketus,


"Kenapa kamu mengikutiku?" Nathan mundur satu langkah mensejajarkan tubuhnya dengan Arga yang satu langkah berada di belakangnya.


"Jangan Ge Er, aku punya urusan lain bukan untuk mengikutimu" jawab Arga mulai melunak,

__ADS_1


"Bagaimana, sudah yakin sekarang?" Arga melirik sekilas dengan ujung matanya, dia tahu jika sahabatnya itu tengah patah hati dengan kenyataan yang baru saja dilihatnya.


"Sepertinya dia sudah move on" Nathan merangkul bahu Arga, dia bahkan menyenderkan kepalanya di bahu sahabatnya itu, terlihat dengan jelas seperti apa suasana hatinya sekarang.


"Isshh.....minggir kau. Kita bukan lagi anak SMA. Lu gak pantes kaya gini, lepasin gue!" sentak Arga, dia berusaha melepaskan tubuhnya dari rangkulan Nathan.


"Biarkan seperti ini sebentar saja, dari dulu cuman lu yang selalu ngerti sama gue" ucap Nathan sendu,


Arga menarik nafasnya panjang, dia pun akhirnya membiarkan apa yang dilakukan sahabatnya itu. Sejak dulu Nathan memang lebih dekat dengan dirinya dibanding yang lain. Walau pun pertemuan Nathan dengan Arga terbilang paling terakhir dibanding pertemuannya dengan Arzan dan Riki, tapi entah mengapa Nathan merasa lebih nyaman mencurahkan apa yang ada di hatinya pada Arga.


"Lu harusnya bersyukur, sekarang Qiana sudah mendapatkan sosok ibu sari wanita yang tepat. Harusnya lu turut bahagia" Arga kembali bersuara setelah beberapa saat keheningan menyergap mereka di dalam lift.


"Lu benar, gue harusnya senang Qiana mendapatkan seorang ibu yang luar biasa" sahut Nathan terdengar pilu membuat Arga kembali menghirup oksigen untuk mengisi paru-parunya yang terasa cepat kosong.


"Ckkkk...." Arga pun berdetak,


"Minggir, kita sudah sampai" Arga pun menghempaskan kepala Nathan yang bersandar di bahunya seiring dengan bunyi pintu lift yang terbuka.


Ting...!


Kedua pemuda tampan yang hampir akan melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift urung melanjutkan niatnya. Mereka menatap lurus pada seseorang yang berdiri di depan pintu lift tepat di hadapan mereka.


"Kalian?" suara seorang gadis pun menyadarkan keduanya hingga serempak mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Arga dan Nathan pun keluar dengan gagahnya dari dalam lift, keduanya saling pandang hingga keduanya pun kompak mengangkat kedua bahu mereka masing-masing.

__ADS_1


"Mikha? kenapa kamu di sini?" Nathan menjadi orang pertama yang menyapa gadis itu.


"Iya, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Mas Arga, apa kabar? sudah lama ya kita tidak bertemu" Jawab gadis itu yang kemudian beralih menatap Arga. Mikha mengulurkan tangannya di hadapan Arga, dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya.


Arga mengerjapkan mata, pertama kali kembali bertemu dengan Mikha. Gadis SMA yang dulu terlihat begitu manja kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik dengan penampilan yang elegan, mengingatkan Arga pada seseorang.


"Baik, kabar baik" Arga pun menerima uluran tangan Mikha dan membalasnya dengan tersenyum ramah walau suaranya sedikit terdengar gugup.


"By the way, kamu mau kemana?" Arga pun melanjutkan perkataannya dengan bertanya tujuan gadis itu.


"Aku mau menemui Kak Arzan, sudah lama kami tidak bersua. Terakhir aku kembali dua tahun setelah kepergian Kak Mitha. Dia berjanji jika aku sudah lulus dan kembali akan mengajakku makan malam. Aku akan menagihnya malam ini" Mikha pun menyampaikan tujuan kedatangannya ke kantor Arzan dengan mata yang berbinar karena bahagia.


Rupanya dia mau menagih janji yang pernah Arzan ucapkan padanya. Sejak mengetahui kematian Mitha, Mikha memang sudah terlihat berusaha merebut hati mantan iparnya itu, walaupun hubungannya dengan Mitha hanya sepupu tapi selama ini kedua orang tuanya memperlakukan Mitha seperti anak kandung.


Kedekatan Mitha dan Mikha terjalin sangat baik seperti saudara kandung, bahkan sesudah Mitha menikah dengan Arzan tidak ada yang berubah. Arzan pun menyayangi Mikha dan memperlakukannya dengan baik seperti yang Mitha lakukan pada sepupunya itu.


Namun sejak kematian Mitha, sikap Arzan berubah dingin terhadap gadis itu bahkan pada semua orang. Tetapi hal itu tidak menyurutkan niatan Mikha yang tetap ingin menjalin kedekatan dengan Arzan namun beberapa kali dia pulang Arzan selalu menghindar.


Rupanya gadis itu tidak pantang menyerah selama belajar di luar negeri dia benar-benar memantaskan dirinya agar terlihat layak mendampingi Arzan. Mikha bahkan merubah penampilannya seperti penampilan Mitha, semua yang Mitha sukai dia pun berusaha menyukainya. Semua hal tentang Mitha benar-benar dia pelajari dengan baik demi mendekati dan meluluhkan hati Arzan.


Kedua pria tampan dengan stelan jas lengkap itu kompak mengeluarkan kedua tangan mereka yang berada di saku celana masing-masing. Keduanya saling beradu tatap, seolah faham dengan apa yang akan dilakukan gadis itu saat ini.


Mata mereka pun saling memberi kode jika maksud Mikha menemui Arzan tidak bisa dibiarkan. Mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Mikha tiba-tiba masuk ke ruangan Arzan mengingat dulu gadis itu sedikit pemaksa. Sementara di ruangannya jelas-jelas Arzan sedang bersama Tiara.


Keduanya pun saling mengangguk kecil dan siap mengeksekusi ide yang tercetus di pikirannya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2