Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Pagi Yang Cerah


__ADS_3

Tiara mendudukan Arzan di sofa yang berada di kamar itu, dan tanpa ragu dia pun duduk di pangkuan suaminya membuat beberapa detik laki-laki itu tersentak dengan sikap agresif istrinya.


Tiara bahkan mengecup bibir Arzan sesaat setelah menjatuhkan bokongnya di pangkuan Arzan. Arzan semakin dibuat kaget dengan aksi istrinya yang lebih inisiatif, tapi kedua sudut bibirnya terangkat ke atas. Sebuah senyum simpul terlukis di sana, ada perasaan bahagia yang membuncah di hatinya.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Arzan menahan tengkuk Tiara yang akan menjauh. Dia ******* habis bibir itu dengan lembut, Tiara yang sudah faham bagaimana untuk membalas aksi suaminya itu, perlahan membuka sedikit mulutnya untuk memberi akses pada Arzan untuk berjelajah.


Hal itu tentu saja membuat Arzan semakin terpancing gairah. Selama lima tahun dia menahan diri dan hari ini dadanya seakan mau meledak, tak mampu lagi untuk tidak tergoda dengan sesuatu yang memanjakan mata dan menggugah kelelakiannya.


Tangan Arzan kembali bergerilia, atasan tunik dengan kancing depan yang dipakai Tiara kini menjadi sasarannya. Perlahan tangannya membuka kancing-kancing itu satu persatu dengan bibir yang masih saling menyatu, hingga terpampanglah dengan jelas keindahan yang membuat gairah Arzan semakin memuncak.


Arzan melepas pagutannya, dia menatap keindahan yang tepat berada di depan matanya penuh damba.


"Mas..." Tiara tampak berusaha menutupi kembali bagian dadanya yang sudah terbuka dengan baju yang masih dipakainya, tapi aksinya itu ditahan oleh tangan Arzan. Dengan sigap dia melepas baju tunik yang dipakai Tiara dan melemparkannya sembarang.


Mata Arzan yang semakin berkabut gairah terus memandangi keindahan itu, dia menelan salivanya. Sungguh apa yang dilihatnya sudah melenyapkan ego dan keteguhan hati yang selama ini dijunjung tinggi olehnya.


Bibir Arzan kembali mengecup bibir merah muda yang terlihat sedikit bengkak karena ulahnya. Bibirnya kemudian beralih turun menjelajah leher jenjang putih yang selama ini jarang terlihat oleh siapapun. Tiara sangat menjaganya, jilbab yang terulur menutupi dadanya bersama baju longgar yang selalu dipakainya ternyata menyembunyikan semua keindahan yang kini akan segera menjadi milik Arzan seutuhnya.


Ada perasaan bangga di hati Arzan bahwa hanya dirinya sendiri yang mengetahui dan dapat menikmati semua keindahan itu.


"Mas...." Tiara kembali memanggil suaminya dengan suara yang terdengar menggoda di telinga Arzan karena gelenyar aneh yang dirasakan Tiara semakin meningkat saat bibir suaminya sudah beralih ke area dada.


"Lepaskan sayang, jangan ditahan. Nikmatilah, aku mencintaimu" ucap Arzan disela-sela aksinya. Keduanya memejamkan mata menikmati interaksi fisik sebagai ungkapan rasa cinta dan kasih yang dimiliki keduanya, yang memberi mereka kenikmatan yang sangat luar biasa.


Arzan menjadi laki-laki pertama yang menyentuh bagian-bagian tubuh yang membuat Tiara serasa melayang. Dan Tiara menjadi wanita pertama yang membuat Arzan kembali merasakan kenikmatan sepeninggal almarhumah istrinya lebih dari lima tahun yang lalu.


Aksi Arzan semakin tidak terkendali, Tiara hampir tidak mampu mengimbangi. Hal baru dan asing untuk Tiara tapi tidak untuk Arzan. Arzan dengan sigap berdiri memangku Tiara tanpa melepas bibirnya yang terus menjelajah area kesukaannya. Tiara pun semakin erat melingkarkan tangannya di leher Arzan.


Arzan menjatuhkan Tiara di atas tempat tidur dengan pelan, tanpa bertanya dia membuka seluruh kain yang menempel di tubuh Tiara dan tubuhnya. Kini dengan jelas Arzan benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri keindahan yang semakin membuat kelelakiannya meronta-ronta.


Arzan memindai tubuh istrinya dari atas hingga bawah. Tak ada satupun yang tidak terlihat indah di mata Arzan, semuanya begitu menggiurkan. Tangannya terulur mengarsir setiap lekuk tubuh indah sang istri. Hatinya berdecak kagum betapa dia beruntung memiliki wanita yang selama ini mampu menjaga diri dan hanya memperlihatkan seluruh keindahan yang dimilikinya untuk pasangan halalnya.

__ADS_1


"Mas..." tangan Tiara berusaha menjangkau apapun yang bisa menutupi tubuhnya, sementara Arzan tak sedetikpun mengalihkan pandangannya, dia begitu anteng menikmati keindahan yang nyata di depan matanya.dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Tangan Arzan mulai kembali beraksi, setelah sama-sama polos dia mengungkung gadis yang telah sah menjadi istrinya itu tanpa membebaninya.


"Mas, aku malu" ucap Tiara karena tatapan Arzan tak kunjung beralih, dia masih berusaha menutupi bagian-bagian inti tubuhnya dengan tangan.


"Kenapa harus malu sayang, bukankah aku berhak atasmu? dan bukankah kamu halal untukku?" tanya Arzan yang masih berada di posisi yang sama, dengan bibir yang mulai kembali beraksi memberi tanda kepemilikan di setiap bagian yang dia sukai setelah berbicara,


"Mas" akhirnya Arzan menghentikan aksinya, dia mendongak menatap Tiara yang juga sudah sama-sama berkabut gairah karena sentuhan sang suami yang begitu memabukan,


"Kenapa sayang?" tanya Arzan dengan suara yang sudah berat,


"Kita akan melakukannya sekarang?" tanya Tiara ragu,


"Kenapa? bukankah tadi kamu mengatakan sudah siap?" tanya Arzan, dia mengubah posisinya menjadi duduk dengan tangan yang tetap bergerilia,


"Aku sudah siap, tapi apakah kita akan melakukannya di sini?" tanya Tiara hati-hati,


"Bukankah kamu pernah mengatakan jika tempat tidur ini hanya akan dipakai olehmu dan mbak Mitha untuk bercinta?" Tiara akhirnya mengungkapkan sesuatu yang sejak tadi mengganjal hatinya.


Deg...ada sesuatu yang tiba-tiba menghantam dada Arzan, dia ingat betul bagaimana di awal-awal pernikahan mereka bahkan di malam pertama dengan tegas Arzan berbicara pada Tiara tentang hal itu.


'Kamu tinggal pilih, mau tidur di lantai atau di sofa. Tempat tidur ini adalah tempat tidur yang biasa aku dan Mitha gunakan untuk tidur dan bercinta. Dan aku tidak ingin jika ada perempuan lain yang menempati tempat ternyaman kami'


Kata-kata yang diucapkannya sendiri di malam pertama pernikahan mereka kembali terngiang di pikirannya. Arzan seketika menghentikan gerakan tangannya. Pandangannya tertuju pada netra gadis yang sudah siap memasrahkan dirinya, ada penyesalan yang tiba-tiba menyergap hati Arzan karena sempat menyia-nyiakan gadis itu.


"Maafkan aku" ucap Arzan pilu, dia menundukkan kepalanya. Matanya tiba-tiba menghangat, desakan air mata akhirnya merobohkan tanggul pertahanannya.


Tiara meraih kemeja milik Arzan yang berada di atas tempat tidur, dia memakainya. Diraihnya tangan Arzan, diciumnya penuh kelembutan membuat suaminya mendongak dan menatapnya dalam, Tiara mengusap air mata yang membasahi pipi Arzan. Senyuman indah dia lemparkan pada suaminya.


"Aku mengerti dan aku sudah memaafkanmu" ucap Tiara dengan senyum tetap menghiasi wajahnya.

__ADS_1


Beberapa detik tatapan mereka beradu, seolah saling mendalami rasa masing-masing. Arzan meraih tengkuk Tiara dan kembali mencium bibir gadis itu dengan penuh kelembutan.


"Maafkan aku" ucap Arzan lagi sesaat setelah dia melepas pagutannya, Tiara menganggukan kepala dan menangkup pipi Arzan dengan kedua tangannya.


"Tenanglah, aku baik-baik saja. Maafkan jika ucapanku kembali mengingatkanmu pada masa lalu" balas Tiara tulus, Arzan pun tersenyum mendengar ucapan Tiara.


"Sekarang izinkan aku menghapus jejaknya di tempat tidur ini, dan selanjutnya hanya ada jejak kita berdua" Arzan mendorong tubuh Tiara hingga kembali terlentang, tangannya meraih kancing kemejanya yang dipakai Tiara.


Brettt.....Arzan menariknya paksa dengan cepat hingga kancing-kancing kemejanya berserakan entak kemana. Dia pun kembali mengungkung tubuh sang istri.


" Mas, sudah berdo'a?" tanya Tiara sebelum Arzan kembali melanjutkan aksinya, dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Arzan.


"Bismillahi, Allahumma janibnasy syaithana wa janibisy syaithana, marazaqtana” Arzan pun melafalkan do'a yang artinya 'Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami' (HR Bukhari). 


Dia kembali bermain-main di area favoritnya dan berhasil membuat Tiara mendesah. Pengalaman membuktikan bagaimana dia bisa memuaskan istrinya, Arzan terus mengeksplor tubuh seksi yang membuatnya semakin bersemangat dan benar saja Tiara dibuat berkali mendesah dan meracau tidak jelas karena dihadapkan pada kenikmatan tiada tara untuk pertama kalinya.


"Mass....." Tiara kembali mendesah sambil memanggil sang suami namun Arzan mengabaikannya, dia masih asik dengan mainan barunya yang membuat Tiara serasa melayang,


"Mas aku...." Tiara meremas seprai dengan kuat, buliran keringat sudah membasahi wajah dan tubuhnya pun bergetar,


"Baiklah sayang, aku mulai ya" ucap Arzan lembut tepat di telinga Tiara, dia pun memulai penyatuan. Terasa olehnya tubuh Tiara yang tiba-tiba menegang saat miliknya menyentuh inti tubuh istrinya. Tiara mencengkram Seprai semakin kuat, wajahnya meringis membuat Arzan sejenak menghentikan aksinya.


"Tahan ya sayang, sakitnya sebentar. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Tiara" Arzan membisikan kata-kata cinta untuk mengalihkan rasa sakit akibat penyatuan yang dirasakan Tiara.


Tidak mudah untuk Arzan menembus pertahanan sang istri, namun semangatnya semakin menggebu. Dia semakin tertantang untuk dapat menaklukkannya, ada kebahagiaan yang membuncah di hatinya karena menjadi laki-laki pertama yang merasakan keindahan surga dunia yang disuguhkan Tiara, bahkan dia merasakan rasa yang berbeda dari sebelumnya saat dia melakukan malam pertamanya dengan Mitha beberapa tahun silam.


Dalam hati dia berjanji untuk menjaga gadis yang kini telah menjadi miliknya seutuhnya.


"Arrgghh.....aku mencintaimu Tiara" teriak Arzan dengan nafas memburu setelah berhasil melakukan penyatuan. Diusapnya air mata yang mengalir dari sudut mata Tiara, Arzan pun menghujani wajah sang istri yang masih meringis memejamkan matanya menahan rasa sakit dengan ciuman penuh kasih sebelum kembali melanjutkan aksinya.


Dan akhirnya pagi yang cerah dengan sinar matahari yang sudah menerobos masuk melalui jendela kaca kamar tuan muda keluarga El -Malik menjadi saksi penyatuan dua insan dalam meraih kenikmatan yang bernilai ibadah dan menuai banyak pahala itu.

__ADS_1


__ADS_2