Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Kepergian Tiara


__ADS_3

Tepat pukul tiga sore Tiara sudah siap dengan semua barang bawaannya, dia sudah pamit pada ibu mertuanya. Tiara bahkan menyempatkan diri mendatangi sekolah putri sambungnya untuk berpamitan sebelum kembali ke rumah mengambil barang-barang bawaannya.


Tiara sedang berdiri di teras rumah ditemani nyonya Ratna menunggu mobil online yang dipesannya melalui aplikasi. Beberapa kali Nyonya Ratna menawarkan kepada menantunya itu agar mau diantar oleh supir keluarga mereka namun Tiara menolak dengan halus.


"Sayang, kamu sudah pamit pada suamimu?" tanya Nyonya Ratna di sela-sela menunggu datangnya mobil pesanan Tiara.


"Sudah Mi, aku sudah mengirimi Tuan pesan. Tadi saat aku akan menemui dia di ruangannya, dia sedang ada meeting dengan klien penting dan kata sekretarisnya tidak bisa diganggu" jawab Tiara apa adanya, dia pun mengecek kembali ponselnya dan membuka room chat dirinya dan Arzan dan ternyata masih ceklis dua berwarna abu tanda jika pesannya sudah sampai namun belum dibaca.


Nyonya Ratna menarik nafas panjang mendengar jawaban Tiara,


"Sayang, bisakah kamu mengubah panggilan untuk suamimu?" tanya Mami Ratna dengan wajah sendu, dia sangat menyayangkan keadaan rumah tangga putranya yang masih tetap berjalan di tempat. Arzan masih belum bisa membuka hati, nyonya Ratna pun merasa bersalah pada gadis yang kini berdiri di hadapannya itu.


"Maafkan aku Mami, tapi Tuan tidak menghendaki itu" Tiara menjawab dengan wajah menunduk, menghindari tatapan ibu mertua yang begitu mengiba padanya.


"Maafkan mami sayang..." Nyonya Ratna pun memeluk Tiara penuh kasih sayang, dulu memang dirinya yang meminta Arzan untuk menikahi Tiara karena berharap sang putra akan luluh hatinya setelah melihat kebaikan gadis itu. Selain itu kemistri yang terjalin antara Tiara dan Qiana cucunya dirasa cukup menjadi alasan untuk Arzan seharusnya bisa membuka hatinya.


Selama ini Qiana sangat sulit untuk menerima orang baru di sisinya, namun kehadiran Tiara ternyata diterima lain oleh cucunya itu. Nyonya Ratna berpikir jika penilaian cucunya itu sangatlah tulus, kepolosannya mampu membedakan mana yang tulus dan mana yang tidak, hingga dia pun menerima Tiara dengan baik dan bersemangat.


"Aku baik-baik saja Mami, itu bukan masalah besar. Melihat Qiana tumbuh dengan baik saja aku sudah sangat bahagia. aku pun masih bisa melanjutkan kuliah dan membantu keluargaku, itu semua adalah karena kebaikan Mami dan Tuan Arzan, saya bersyukur dan sangat berterima kasih untuk itu" jelas Tiara panjang lebar, baginya tidak ada yang harus disesali dan diratapinya saat ini.


Takdir hidup yang membawanya berada dalam keluarga ini sangat membuat Tiara bersyukur, terlepas dari apapun kedudukannya di mata Arzan bagi Tiara melakukan yang terbaik setiap harinya untuk setiap hal yang tertakdir untuk dirinya adalah suatu keharusan.


Belajar dari apa yang menimpa keluarganya, Tiara sadar jika apa yang tertakdir untuknya hari ini belum tentu esok tertakdir untuknya lagi, melakukan yang terbaik dan mensyukurinya adalah tindakan yang paling tepat menurutnya.


Tiiiin.....tiiiin.....


Suara klakson mobil terdengar dari arah gerbang rumah mewah itu, seorang pria yang berseragam sekuriti pun terlihat berlari ke arah teras dimana Tiara dan Nyonya Ratna berdiri.


"Maaf Nona, mobil online yang anda pesan sudah datang" ucap pria paruh baya yang sudah hampir menghabiskan setengah hidupnya untuk mengabdi di keluarga El-Malik itu kepada Tiara yang baru saja mengurai pelukannya dengan Mami Ratna,


"Baik Pak Kosim, saya akan segera ke depan" Tiara pun meraih tas ransel dan menggendongnya,


"Biar saya yang membawanya Nona" Pak Kosim segera meraih koper yang sudah mau didorong oleh Tiara,

__ADS_1


"Terima kasih Pak" ucap Tiara ramah,


"Sama-sama, Nona" jawab Pak Kosim


"Mami, aku berangkat ya. Nitip Qia, jaga kesehatan Mami juga" Tiara menyampaikan banyak pesan untuk mertuanya itu, mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dan Tiara pun mencium punggung tangan mami Ratna dengan takzim.


"Mbak Tiara hati-hati ya..." Bi Asih yang merupakan istri dari Pak Kosim tiba-tiba datang, menyongsong Tiara yang hendak melangkahkan kaki menuju gerbang,


"Iya Bi...Bibi juga baik-baik di rumah ya, titip Mami dan Qia ya Bi" pesan Tiara tulus,


"Iya Mbak, Mbak Tiara juga jaga diri baik-baik ya, jaga kesehatan, cepat pulang" Bi Asih seperti berat melepas kepergian Tiara, selama beberapa bulan Tiara berada di rumah itu mereka sudah sangat dekat, semua orang yang berada di rumah itu tampak sangat nyaman dengan keberadaan Tiara di sana.


"Iya, Bi" Tiara mengangguk dan mengulas senyum menatap Bi Asih dan Mami Ratna bergantian,


"Assalamu'alaikum" ucapan salam Tiara mau tidak mau mengakhiri kebersamaan mereka.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati sayang. Salam buat ibu dan adik-adikmu" balas mami Ratna sambil melambaikan tangan, begitupun dengan bi asih yang tampak menyeka air matanya.


Hingga Tiara memasuki mobil dan melaju meninggalkan gerbang rumah mewah itu, pesan yang dikirimnya pada Arzan tak kunjung berubah warna.


Tiara menghembuskan nafasnya perlahan, menahan sesak yang tiba-tiba menyeruak dalam dadanya. Walau bagaimana pun dirinya sudah bersuami. Kepergiannya keluar dari rumah sudah tentu menjadi hal yang mengganjal di hatinya kala tak ada ucapan atau pertemuan dengan Arzan sebelum dirinya pergi.


"Bismillah, semoga Allah membimbing setiap langkah, sehingga apapun yang kulakukan menjadi berkah dan apapun yang kuusahakan menjadi indah. Ya Allah, aku titipkan anak dan suamiku hanya padamu" do'a Tiara dalam hatinya, hatinya menghangat ketika menyebut kata suami walau hanya dalam hatinya.


Tiara sadar dirinya kini sudah terikat dalam ikatan suci pernikahan, statusnya sebagai seorang istri membuatnya memiliki kewajiban berbeda dari sebelumnya, walau bagaimana pun ridho suami adalah kunci kesuksesan bagi seorang istri, begitulah sang ibu mendidiknya.


Terlepas dari seperti apa Arzan menganggap pernikahan mereka, ikatan yang terjalin antara dirinya dan Arzan adalah ikatan yang sah di mata agama dan negara, dan Tiara akan berusaha menjunjung tinggi hal itu.


Seorang istri adalah pakaian bagi suaminya, begitu pun sebaliknya. Dan Tiara akan menjaga diri dan kehormatannya sebagai wanita yang sudah bersuami.


"Ridhoi kepergianku Tuan, agar Allah melancarkan semua urusanku, semoga Allah selalu menjagamu dimana pun dirimu berada" Tiara kembali bergumam dalam hatinya.


☘️

__ADS_1


☘️


☘️


Sementara di sebuah ruangan yang berada di lantai sepuluh, Arzan tampak mengendorkan dasinya. Dia bersandar sembari memejamkan mata setelah berjam-jam melakukan meeting dengan beberapa klien di ruang meeting perusahaan.


"Boss, mau disiapkan makan sekarang? boss sudah melewatkan waktu makan siang lebih dari dua jam" Arga sang asisten masuk sambil membawa segelas air putih dingin yang diterimanya dari seorang office boy yang akan mengantarkan minuman itu ke ruangan Arzan,


"Tidak" jawab Arzan dengan mata yang masih terpejam,


"Tapi boss ..."


"Bawakan aku buah potong saja, aku butuh yang segar-segar untuk merefresh pikiranku" sela Arzan memotong perkataan Arga,


"Oke" Arga pun keluar untuk meminta sekretarisnya menyiapkan buah potong sesuai permintaan Arzan.


"Boss, hari ini Nona Tiara pergi ke Banten, dia ...."


"Apa?" Arzan terlonjak kaget mendengar apa yang dikatakan Arga, dia baru ingat jika beberapa hari yang lalu Tiara meminta izin padanya untuk pergi mengikuti acara kampusnya.


"Sekarang hari Kamis?" Arzan memastikan, banyaknya pekerjaan beberapa hari membuatnya benar-benar lupa jika Tiara akan pergi.


"Yess, Boss" jawab Arga santai, dia kemudian menusuk buah potong yang ada dihadapannya dengan garpu,


"Shiittt....."Arzan menyambar ponsel yang sejak pagi dia stel dengan mode silent, dilihatnya banyak pesan yang masuk di aplikasinya, dan betapa terkejutnya Arzan saat mendapati pesan masuk dari Tiara yang mengabarkan dirinya akan pergi hari ini.


'Assalamu'alaikum, Tuan saya pamit untuk pergi ke Banten seperti yang sudah saya katakan tempo hari. Tadi saya sempat ke ruangan tuan untuk pamit langsung tapi kata sekretaris tuan, tuan sedang meeting penting dan tidak bisa diganggu. Maaf kalau saya pamit melalu pesan ini'


Seketika Arzan menyambar jas yang tersandar di kursi kebesarannya, meraih kunci mobil dan setengah berlari menuju pintu keluar dari ruangannya.


"Boss, mau kemana?" teriak Arga yang panik melihat Arzan yang tiba-tiba berlari,


"Dia pergi hari ini" jawabnya tanpa menoleh, Arzan berjalan cepat meninggalkan Arga dengan kebingungannya.

__ADS_1


__ADS_2