Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Curahan Hati Tiara


__ADS_3

Perubahan Qiana yang masih berkelanjutan bahkan semakin hari semakin terasa jauh dengan Tiara membuat dia terlihat murung. Ingin rasanya dia mengungkapkan semua kegalauan hatinya pada sang suami, mengadukan apa yang dirasakannya perihal putri kesayangan mereka yang kini berubah begitu drastis tetapi hal itu takut malah menambah beban sang suami yang saat ini sedang begitu sibuk dengan pekerjaan. Tiara bahkan hampir melupakan hari penting yang dinanti-nantinya, yaitu hari wisudanya yang hanya tinggal hitungan jari.


Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk acara penting itu, dia malah belum melakukan apapun. Pikirannya tersita dengan masalah perubahan sang putri.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Tiara masih terjaga. Dia mendapat kabar dari suaminya jika malam inj akan pulang lebih malam lagi karena ada pertemuan finalisasi terkait proyek terbarunya.


Tiara menghirup nafas dalam, beberapa jam yang lalu dia mendatangi kamar sang putri, hal yang biasa dia lakukan yaitu akan membacakan kisah-kisah para nabi dan sahabat, namun lagi-lagi dia mendapat penolakan. Dan di sinilah dia berada, di balkon kamarnya menatap pekatnya langit malam dengan taburan bintang, malam yang begitu indah karena langit tampak cerah namun berbanding terbalik dengan keadaan hatinya.


Arzan membuka pintu kamarnya, dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamarnya karena tidak mendapati sang istri di tempat tidurnya.


"Sayang..." teriaknya, dia berjalan ke arah toilet mengira jika sang istri tengah berada di dalam. Namun setelah mendekat tepat di depan pintu, dia tidak mendengar apapun dan benar saja ternyata toilet kosong.


"Sayang, dimana kamu? aku pulang" Arzan masih tak mendapat sahutan, dia pun memilih melepaskan jasnya dan menggantungkannya di tempat biasa, sambil membuka kancing lengan kemejanya dan menggulungnya hingga ke siku dia kembali mencari keberadaan sang istri.


Saat hendak keluar kamar mencari keberadaan istrinya, ekor matanya menangkap tirai balkon yang masih terbuka, dia pun memutuskan untuk berjalan menuju pintu yang menghubungkan kamar utama dengan balkonnya itu, dan betapa kagetnya Arzan saat mengetahui jika ternyata sang istri tengah tertidur di kursi yang ada di balkon itu.


Buru-buru dia keluar dan menghampiri sang istri yang terpejam dengan masih berbalut mukena. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, waktu sudah hampir dini hari.


"Sayang, bangun...." Arzan berbisik tepat di telinga Tiara, namun istrinya itu tidak merespon,


Arzan pun memutuskan untuk menggendong sang istri namun alangkah kagetnya dia, batu saja dia hendak menggendong sang istri dia merasakan suhu tubuh Tiara yang sangat panas.


"Sayang, kamu sakit?" tanya Arzan panik, dia pun segera menggendong istrinya yang masih belum memberikan respon apapun.


"Sayang, bangun sayang...." Arzan semakin panik ketika Tiara tak kunjung merespon panggilannya, dia bingung harus berbuat apa. Tubuh Tiara terasa begitu panas. Dengan sigap Arzan menggendong tubuh lemah istrinya dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Ana, ana....." setelah membaringkan Tiara dan menyelimutinya Arzan segera keluar dan memanggil manggil nama Ana, pengasuh putrinya yang juga tinggal bersama mereka. Namun sayang teriakan Arzan sia-sia, tak ada sahutan dari Ana. Dia bahkan melihat kamar sang pengasuh juga putrinya kosong.


"Kemana mereka?"....Arzan berbicara sendiri,

__ADS_1


Arzan kembali ke kamarnya dengan membawa air hangat yang sudah dicampur madu. Dia pun merogoh ponsel yang ada di saku jasnya, menghubungi seseorang dengan wajah paniknya.


"Hallo..., lu datang ke rumah gue sekarang. Istri gue sakit. Cepetan!" teriaknya setelah panggilan terhubung, Arzan langsung menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari seberang sana.


"Sayang, bangunlah..." Arzan mengusap pipi Tiara yang tampak semakin memucat, dia baru menyadari mata sembab Tiara, sepertinya istrinya itu habis menangis sebelum pingsang.


"Sayang, sebenarnya kamu kenapa?" gumam Arzan pelan, rasa bersalah seketika menyeruak dalam hatinya. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui apa yang terjadi dengan sang istri. Arzan menyadari beberapa hari ini dia sangat sibuk dan tidak memerhatikan istri juga anaknya,


"Euhhh..." suara lenguhan terdengar jelas di telinga Arzan, dia yang sedang menunduk seketika mendongak mendengar suara istrinya.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Arzan dengan suara bergetar, dia senang akhirnya Tiara sadar.


"Mas, sudah pulang? jam berapa ini?" Tiara balik bertanya dengan suara terdengar lemah,


"Iya, maafkan aku pulang terlalu malam. Sekarang sudah jam satu pagi sayang. Apa yang kamu rasakan? tenanglah Bayu akan segera datang untuk memeriksa keadaan kau?" Arzan mengecup kening Tiara penuh kasih, tangannya pun tidak lepas sejak tadi menggenggam tangan Tiara.


"Tapi aku khawatir sayang, wajah kami pucat sekali" Arzan menangkup kedua pipi sang istri dan kembali mengecup keningnya.


"Aku tidak apa-apa Mas, yang harus kita khawatirkan adalah Qiana ..." Tiara tak lagi bisa menahan diri untuk tidak menceritakan tentang apa yang terjadi dengan putri ya selama beberapa hari ini.


"Qiana kenapa sayang? kemana dia? Ana juga tidak ada di kamarnya?" tanya Arzan heran,


"Qiana menginap di rumah Mami, Ana bilang dia tidak mau pulang ke sini...hiks..." Tiara tidak bisa menahan air mata yang tiba-tiba menggenangi matanya, setelah mengucapkan kalimat itu tangisnya pun kembali pecah dalam dekapan sang suami. Arzan semakin yakin jika sudah terjadi sesuatu


"Menangislah sayang, jika itu membuatmu lebih tenang, maafkan aku yang mengabaikanmu" Arzan mengeratkan pelukannya, dia membiarkan Tiara menumpahkan tangisnya. Arzan bisa menerka jika ada yang tidak beres dengan istrinya.


"Ada apa sebenarnya sayang? katakanlah" Arzan perlahan mengurai pelukannya setelah beberapa saat membiarkan istrinya menangis dan kini sudah lebih tenang,


"Maafkan aku...." ucapan pertama yang keluar dari mulut Tiara setelah mampu kembali menguasai perasaannya. Setelah menumpahkan semua rasa yang menyesakan dadanya dalam dekapan sang suami.

__ADS_1


"Qiana......" Tiara pun menceritakan semua yang terjadi beberapa hari ini. Perubahan Qiana sejak beberapa hari yang lalu yang tidak mau dijemput olehnya sampai puncaknya hari ini dia tidak mau pulang ke rumah dan memilih menginap di rumah ibu mertuanya membuat Tiara semakin bersedih. Arzan mencermati setiap kata yang diucapkan istrinya, beberapa kali dia terdengar menghembuskan nafas kasar seolah sudah dapat menerka apa yang menjadi penyebab perubahan putrinya.


"Maafkan aku ternyata aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Qiana" isak Tiara tertahan saat mengakhiri curahan hatinya,


"Shuuttt....." Arzan meraih tubuh mungil istrinya itu yang kembali bergetar,


"Kamu adalah ibu terbaik untuk Qiana, jangan berpikiran seperti itu" Arzan mengusap punggung Tiara dan mengecup puncak kepala sang istri berusaha membarri ketenangan,


"Sepertinya dia masih belum jera dengan peringatan yang sudah aku berikan" gumam Arzan pelan namun masih terdengar oleh Tiara,


"Siapa Mas?" tanya Tiara penasaran,


"Mikha....ini pasti ada hubungannya dengan Mikha. Sebaiknya kamu istirahat sayang, sebentar lagi Bayu datang untuk memeriksa keadaanmu. Aku khawatir dengan kondisimu, lihatlah wajahmu terlihat pucat" Arzan membelai pipi Tiara, dia membubuhkan kecupan penuh kasih di kening sang istri berharap dapat memberi ketenangan pada istrinya itu yang masih terlihat resah.


"Sepertinya aku tidak perlu diperiksa mas, sekarang aku merasa lebih baik setelah menceritakan semuanya padamu" ucap Tiara dengan wajah bersemu,


"Maaf jika apa yang aku sampaikan menambah beban pikiranmu, aku tahu kamu sangat sibuk akhir-akhir ini. Aku berharap bisa membuat Tiara kembali seperti biasa tanpa Mas yang harus turun tangan tapi nyatanya sampai saat ini Qiana justru semakin jauh dariku. Maafkan aku mas...


"Tidak begitu sayang, aku yang minta maaf karena sudah mengabaikan kalian akhir-akhir ini. Sayang, benarkah kamu tidak perlu diperiksa?" tanya Arzan memastikan, dia meraih dagu Tiara yang menunduk menyembunyikan wajahnya,


"Iya" jawab Tiara dengan menganggukan kepalanya,


Arzan kembali mendekap sang istri, mengusap-usap punggung sang istri yang mulai terlelap kembali.


Ting....


Bunyi notifikasi pesan masuk di ponsel Arzan terdengar membuat Arzan yang hampir ikut terlelap kembali mengerjapkan matanya. Arzan pun meraih benda pipih itu dengan tangan kanannya dari atas meja, sementara tangan kirinya masih dijadikan bantal oleh Tiara.


"Aku sudah di ruang tamu"

__ADS_1


__ADS_2