Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Pagi Yang Panas


__ADS_3

Hari baru yang dijalani Tiara pasca pengumuman resmi yang Arzan sampaikan pada semua karyawan El-Malik Grup. Banyak hal yang berubah dalam hidupnya setelah publik tahu siapa dirinya.


Pagi ini, aktivitas Tiara tidak ada yang berubah. Selesai dengan kewajiban subuhnya, rutinitasnya adalah menguasai dapur. Menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah menjadi hal penting untuk Tiara. Dia senang melakukannya, apalagi masakannya disukai semua penghuni rumah ini. Tidak hanya Qiana yang selalu lahap jika memakan masakannya tetapi Arzan dan Ibu mertuanya pun tak kalah ketagihan.


Sarapan menjadi momen berharga untuk keluarga ini. Setelah sekian lama suasana dingin dan sepi karena tuan muda yang asik dengan dunianya sendiri pasca kepergian istrinya, kini telah berganti dengan suasana kekeluargaan yang penuh dengan kehangatan.


"Mbak Ana, Qia sudah selesai muraja'ahnya?" Tiara menanyakan perihal putrinya sambil menyiapkan kotak makanan yang akan diisi dengan menu makan siang spesial untuk putrinya.


Setelah shalat subuh Tiara membiasakan sang putri untuk kembali mengulang hafalannya. Awal-awal Tiara selalu menemaninya karena Qiana yang masih suka tertidur di atas sejadahnya saat muraja'ah. Namun lama kelamaan gadis itu terbiasa dengan pembiasaan baik yang diterapkan ibu sambungnya. Tiara pun lega melihatnya, dengan senang hati membiarkan anak sambungnya itu melakukannya sendiri, jiwa kemandiriannya sudah mulai terlihat. Tiara pun senang karena dia bisa lebih awal melakukan aktivitas yang tak kalah membuat dirinya bahagia di awal harinya, yaitu menyiapkan sarapan yamg dimasak dengan untaian do'a terbaik untuk seluruh anggota keluarganya dan rasa bahagia yang menyeruak dalam hatinya.


"Belum Non, sebentar lagi katanya" jawab Ana hormat, sejak menikah dengan Arzan dirinya dan semua pegawai di rumah itu mengubah panggilan mereka. Tiara sudah melarangnya, kadang-kadang mereka pun menuruti apa yang diminta Tiara yaitu menyebutnya seperti biasa sebelum dirinya menjadi nyonya Arzan. Tapi mereka cukup tahu diri, sungkan untuk memanggil Tiara dengan sebutan yang sama seperti sebelumnya karena kini dia adalah majikan mereka.


"Mbak Ana....." tegur Tiara yang mendengar sebutan Ana untuknya, Ana hanya terkekeh tanpa suara, dia mengacungkan dua jarinya telunjuk dan jari tengah tepat ke arah Tiara yang hanya geleng-geleng kepala melihat reaksi pengasuh Qiana itu.


Ana memang lebih dulu menjadi pengasuh Qiana sebelum dirinya mengenal gadis kecil itu. Namun jika dilihat dari segi usia, usia Ana jauh cukup muda dari Tiara. Ana hanya mengenyam pendidikan sebagai SMP dan dia langsung bekerja ke kota untuk membantu penghidupan keluarganya di kampung. Jika dilanjutkan mungkin saat ini dirinya masih duduk di bangku SMA kelas akhir.


"Mom...aku sudah selesai" suara yang tak asing di telinga Tiara terdengar ceria, suara yang selalu membuat hari-hari di rumah besar itu penuh dengan suka cita. Semenjak Tiara hadir menjadi ibu sambungnya, perubahan besar terlihat dari gadis kecil itu. Dia terlihat lebih ceria dan bahagia.


"Eehh...anak mommy sudah selesai muraja'ahnya?" ujar Tiara, sekilas melirik ke arah kedatangan putrinya. Dengan senyum menyambut kedatangan putri cantiknya itu yang tampak sudah rapi dengan seragam sekolahnya.

__ADS_1


"Anak Mommy sudah mandi dan berganti baju?" Tiara yang sudah selesai menyiapkan bekal putrinya itu pun mendekat dan mencium puncak kepala gadis, tangannya masih berbalut sarung plastik setelah menata cantik bekal untuk sang putri.


"Iya Mom, aku sudah bisa mandi dan memakai baju seragam sekolah sendiri, bagaimana menurut Mommy rapi tidak?" Tiara berputar-putar di hadapan Tiara dengan kedua lengannya memegang rok seragam sekolah dan beralih memegang kerudungnya,


"Prok...prok...prok..." Tiara bertepuk tangan memberikan apresiasi kepada putri kecilnya itu karena sudah bisa mandi dan memakai baju seragam sekolahnya sendiri.


"Anak mommy keren, iih....bangga banget deh...." Tiara mencium gemas pipi gadis kecil yang tumbuh semakin baik setelah kehadirannya itu.


"Uluuh...kok oma gak diajak-ajak sih, bagi-bagi dong bahagianya" Mami Ratna yang juga sudah rapi dengan pakaian muslimahnya datang dan berbaur dengan cucu dan menantunya di ruang makan yang cukup luas karena menyatu dengan dapur.


"Oma, pagi ini Qia mandi dan pake baju seragam sendiri lho....." Tiara dengan bangganya mempromosikan peningkatan kemampuan psikomotor putrinya.


"Wah wah, keren...." prok..prok...prok..puji Oma Ratna diiringi tepuk tangan dan acungan dua jempol. Beliau pun menarik satu kursi dan duduk setelah memeluk sekilas sang cucu yang masih berdiri di hadapan Tiara.


"Oke, Mommy" pekik Qiana antusias,


"Mami, aku ke atas dulu" pamit Tiara pada ibu mertuanya dan dijawab anggukan kepala oleh mami Ratna yang sedang menikmati minuman teh herbal hangatnya itu.


Arzan baru saja selesai dengan aktivitas paginya yaitu berolah raga, di lantai dua yang luas itu terdapat satu ruang khusus tempatnya berolah raga dengan fasilitas yang lengkap.

__ADS_1


Arzan memasuki kamar tidurnya setelah mengelap keringat yang mengucur ditubuhnya, dia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang selalu dirindukannya. Saat Tiara sibuk dengan rutinitas paginya menyiapkan segala keperluan sang putri, dia memilih untuk berolah raga.


Grep...tangan kekar membelit pinggang ramping Tiara yang sedang memilih kemeja yang akan dipakai suaminya di ruang ganti. Saking khusuknya dia tidak menyadari kehadiran suaminya.


"Astaghfirullah, Mas ..." pekik Tiara kaget, dia memukul pelan lengan yang menyergap pinggangnya. Terdengar gelak tawa Arzan yang merasa lucu dengan kekagetan istrinya itu.


"Mas, kamu baru selesai berolah raga? sudah mandi?" Ucap Tiara berbasa basi, dia sudah merasakan feeling tidak enak pagi ini dengan tingkah suaminya.


"Kenapa heummm? aku tetap wangi ko" jawab Arzan tanpa melepaskan pelukannya di pinggang Tiara.


"Aku yang bau mas, aku baru selesai dari dapur" kilah Tiara, dia berusaha mencari alasan agar bisa terlepas dari jeratan suaminya.


"Bagus dong, kalau begitu kita bisa mandi bersama. Belum pernah mencoba sensasi baru kan?" bisik Arzan tepat di telinga Tiara membuat bulu kuduknya seketika berdiri.


"Mas ih, geli" Tiara berusaha memberontak, ingin melepaskan diri dari dekapan suaminya itu.


"Oya? kamu yang mulai yang sayang" bisik Arzan lagi, dia pun memangku tubuh mungil istrinya itu keluar dari walk in closet dan berjalan menuju tempat tidur mereka.


"Mas ih, ini sudah siang lho...nanti kesiangan datang ke kantornya" Tiara masih berusaha melepaskan diri, walaupun dia sadar jika sudah seperti ini sepertinya suaminya sudah sulit untuk dikendalikan.

__ADS_1


"Masih banyak waktu sayang, dan Qiana akan pergi ke sekolah dengan Ana" sepertinya Tuan muda sudah mengatur semuanya. Tiara pun pasrah, dia tidak ada peluang untuk bisa meloloskan diri dari suaminya pagi ini.


Dan apa yang diinginkan Arzan pun akhirnya terjadi, dia kembali berolah raga. Dan sepertinya olah raga di atas ranjang lebih senang Arzan lakukan daripada di ruang olah raga dengan berbagai fasilitas lengkapnya. Pagi yang hangat pun kembali memanas.


__ADS_2