
"New Day, New Hope, Bismillah" gumam Tiara dalam hatinya.
Dia mantap melangkahkan kakinya menuju sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di hadapannya. Halaman yang luas dengan gerbang yang megah membentang di hadapan Tiara, sebuah tulisan dengan huruf kapital yang berukuran sama tinggi dengan pintu gerbang menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya selepas turun dari ojeg online, EL-MALIK GROUP.
Hari ini adalah hari pertama Tiara magang, dia janjian dengan temannya yang sama-sama terpilih untuk magang di perusahaan besar ini. Dari sekian banyak mahasiswa dari universitas tempatnya menuntut ilmu hanya empat orang yang terpilih untuk magang di kantor pusat perusahaan besar ini. Kebanyakan mahasiswa tersebar magang di perusahaan yang merupakan anak cabang dari El-Malik Grup maupun perusahaan rekanannya.
Bukan tanpa alasan Tiara terpilih untuk magang di kantor pusat, empat orang mahasiswa yang terpilih merupakan mahasiswa berprestasi yang mampu mempertahankan prestasinya selama semester-semester sebelumnya.
"Kamu sudah datang?" suara seseorang yang tak asing di telinga Tiara tiba-tiba sudah berada di samping dan menyapanya. Tiara menoleh, benar saja Profesor Kemal sudah stay dengan penampilan yang formalnya, sangat gagah menunjukkan jika hari ini dia akan menghadiri acara yang resmi.
"Prof? anda di sini?"Tiara balik bertanya,
"Tentu saja" jawab Prof. Kemal singkat.
"Kenapa?" tanya Tiara penasaran.
"Haruskah ku jawab?" tanya Kemal dengan nada sedikit ketus tanpa mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah gerbang tampak menanti kedatangan seseorang.
"Bukankah pertanyaan ada karena memang untuk dijawab?" Tiara tak kalah ketus membalikkan pertanyaan.
Semenjak perbincangan terakhir mereka di ruang dosen, Tiara benar-benar menghindar dari profesor Kemal. Dia tidak ingin apa yang dipikirkannya tentang maksud perkataan dosennya 'aku tahu semua tentangmu' itu berkelanjutan. Menghindar adalah cara terbaik untuk saat ini bagi Tiara, walaupun dia tahu jika sedikit banyak hal itu akan berpengaruh pada perolehan nilainya tapi Tiara tidak peduli.
"Tentu saja untuk menyerahkanmu pada pimpinan perusahaan ini. Kamu lupa jika aku adalah dosen pembimbingmu?" Kemal menjawab dengan nada sedikit naik, dia sempat heran dengan pertanyaan yang diajukan Tiara, bisa-bisanya gadis itu mempertanyakan kehadirannya di perusahaan itu saat ini. Bukannya sejak awal dia tahu jika dirinya adalah dosen pembimbingnya selama kegiatan magang ini.
"Oh" Tiara hanya membulatkan bibirnya menanggapi jawaban profesor Kemal.
"Maaf kami terlambat, Prof" seorang laki-laki datang dengan nafas yang ngos-ngosan karena harus berlari dari parkiran saat mengetahui jika teman magang dan dosen pembimbingnya sudah tiba lebih dulu di kantor tempatnya mengamalkan ilmu menyinergiskan antara teori yang didapatnya selama perkuliahan dengan kenyataan lapangan yang akan dihadapinya.
"Kalian terlambat sepuluh menit dari waktu seharusnya" sang dosen yang terkenal minim ekspresi itu pun menjelaskan kesalahan mahasiswanya. Dia melihat jam tangan hitam yang melingkar di tangan kanannya, dengan sedikit menarik jas lengan jas yang dipakainya membuat penampilannya semakin sempurna.
__ADS_1
"Maaf, Prof" ucap Danis. Mahasiswa dengan IPK tertinggi kedua setelah Tiara pada jurusan manajemen bisnis setiap semesternya.
Selain cerdas, wajah tampan dan berasal dari keluarga berada membuat pria yang memiliki nama lengkap Daniswara Abyaz itu menjadi salah satu most wanted di kampus tempatnya menuntut ilmu selain Adrian mantan kekasih Tiara tentunya. Sayangnya Danis bukan tipe pria yang suka dengan popularitas, baginya waktu adalah ilmu. Menghabiskan waktu di perpustakaan kampus dengan setumpuk buku lebih menyenangkan untuknya dibanding nongkrong atau sekedar ngopi di coffe shop seperti yang sering teman-temannya lakukan.
Sudah sering teman-teman sekelas atau satu komunitasnya mengajak dia untuk jalan bareng tapi Danis selalu mempunyai alasan untuk menolaknya. Tidak sedikit pula perempuan yang mendekatinya bahkan menyatakan perasaan sukanya secara terang-terangan namun lagi-lagi Danis selalu punya cara untuk menghindari dan menolaknya.
Saat ini dia terpilih menjadi mahasiswa yang berkesempatan untuk magang di kantor pusat El-Malik Group. Berdasarkan pengalaman sebelumnya mereka yang terpilih magang di kantor pusat biasanya akan diberi kesempatan untuk menjadi pegawai tetap. Sebagai perusahan besar taraf internasional, El-Malik group tidak hanya terkenal karena kerajaan bisnisnya di berbagai lini tapi juga perusahaan yang sangat loyal terhadap karyawannya. Mereka berani membayar dua bahkan tiga kali lipat dibanding perusahaan lainnya. Hal itu karena kinerja karyawan di El-Malik grup pun dituntut lebih dari bekerja di perusahaan lainnya.
"Maafkan kami, Prof" Alana dan Friska dua mahasiswa yang sama-sama magang di perusahaan itu, mereka datang bersamaan dengan Danis pun mengucapkan permohonan maaf atas keterlambatannya.
"Saya rasa mereka belum terlambat, Prof. Kita masih punya waktu tiga puluh menit dari waktu yang seharusnya" Tiara mencoba membela teman-teman magangnya itu. Pasalnya jam kerja kantor ini adalah tepat pukul delapan sementara sekarang jarum jam di tangannya masih menunjukkan pukul tujuh tiga puluh.
"Saya tahu, tapi mereka tetap saja terlambat karena saya sudah lebih dulu sampai dari pada mereka. Sebagai mahasiswa tidak etis jika dia datang setelah dosennya berada di tempat" Kemal tidak mau kalah dia keukeuh dengan alasannya jika Danis dan teman-temannya terlambat hanya karena dirinya lebih dulu berada di sana.
"Isshh...." Tiara berdesis pelan namun masih bisa terdengar oleh dua pria di hadapannya itu.
"Mut..." Danis menggelengkan kepala menatap Tiara, dia memberi kode agar Tiara berhenti mendebat Profesor Kemal.
"Ya Prof?" sahut Danis.
"Kamu panggil dia apa?" Profesor Kemal memperjelas pertanyaannya.
"Saya?" Danis menunjuk dirinya sendiri, cukup bingung dengan pertanyaan dosennya.
"Iya kamu, kamu manggil dia apa?" tanya Kemal lagi.
"Sudahlah Prof, saya rasa itu tidak penting. Lagian keberadaan kita di sini bukan untuk membahas tentang panggilan saya" Tiara akhirnya menyela obrolan dua laki-laki itu. Dia bahkan bingung mengapa Kemal harus mempertanyakan panggilan Danis untuknya.
"Baiklah, ayo!" kali ini Danis yang menjawab, dia pun berbalik mengajak Tiara dan teman-temannya untuk pergi bersama menuju ruangan yang sebelumnya telah mereka dapatkan informasi jika mereka akan mengikuti rapat penyambutan mahasiswa magang yang nantinya akan diberikan tugas khusus untuk menguji keterampilan mereka dalam mengaplikasikan teori dan realita di lapangan.
__ADS_1
Kemal yang merasa kalah dari dua mahasiswanya mendengus kesal. Tiara selalu saja punya jawaban untuk membuatnya terdiam. Hal itu yang semakin membuat dia tertarik, perasaan yang sudah lama dipendamnya sepertinya menuntut untuk diungkapkan akhir-akhir ini. Tanpa sadar perhatian-perhatian kecilnya pada gadis itu telah menunjukkan jika dia memiliki rasa lebih dari sekedar dosen dan mahasiswanya. Sebagai perempuan dewasa yang pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis Tiara menyadari itu, semua perhatiannya terhadap Tiara Kemal sembunyikan di balik wajah datar dan sikap acuhnya namun Tiara tetap masih bisa merasakannya dan dia ingin menghindari itu. Dia pun melangkah mendahului mahasiswa-mahasiswanya.
"Silahkan Mbak-Mbak dan Mas-Mas bisa menunggu di dalam, acaranya lima belas menit lagi akan dimulai" seorang perempuan cantik dan seksi dengan penampilan formal sebagai pekerja kantoran mempersilahkan mereka berlima memasuki ruangan yang telah ditentukan.
Kemal menjadi orang pertama yang masuk dan diikuti oleh Tiara dan teman-temannya di belakangnya. Dalam sekejap ruangan yang sepertinya biasa digunakan untuk rapat intern perusahaan pun sudah dipenuhi beberapa orang dengan penampilan yang menunjukkan seberapa tinggi jabatan yang mereka miliki di kantor itu.
"Selamat pagi" seseorang yang begitu tampan dan tampak gagah memasuki ruangan itu, dia menyapa semua orang walaupun dengan wajah tanpa ekspresi. Semua yang hadir pun berdiri menyambutnya dan kompak menjawab sapaannya.
"Selamat pagi, Tuan muda" semua serempak menjawab.
Tiara yang berada di bagian pojok ruangan itu mendongakkan wajahnya dan turut berdiri mengikuti orang-orang di sekitarnya. Di saat semua telah kembali ke posisi semula, Tiara masih betah berdiri dengan tatapan lurus ke depan memandang seseorang yang sangat dikenalnya baru saja memasuki ruangan tersebut diikuti oleh seseorang yang juga sangat dikenal Tiara. Danis menarik ujung lengan baju Tiara, dia memberi kode agar Tiara kembali duduk.
"Gak rugi gue pintar akhirnya terpilih menjadi mahasiswa magang di perusahaan ini dan bisa melihat makhluk Tuhan dengan kegantengan maksimal yang satu itu. Akhirnya ada yang menggeser posisi profesor Kemal di hati gue" Friska berbisik di telinga Alana diakhiri kekehan kecil. Posisi mereka yang tepat berada di hadapan kursi yang di duduki Tiara membuat bisikan itu pun terdengar olehnya.
"Suatu kebanggaan di rapat penyambutan mahasiswa magang kali ini Presiden Direktur dari El-Malik Grup berkenan hadir. Terima kasih Tuan Muda atas kehadirannya" seorang pria yang masih tampak muda membuka rapat dengan kata-kata pujian terhadap sang presdir.
Bukan tanpa alasan Arzan menghadiri rapat penyambutan mahasiswa magang kali ini. Dia secara pribadi mendapat kabar jika dosen pembimbing mahasiswa tersebut adalah sahabatnya, Mustafa Kemal. Sebagai sahabat yang baik Arzan tentu ingin memberikan perhatian lebih terhadap kedatangan sahabatnya itu ke perusahaannya.
Tiara menundukkan wajahnya, dia hampir tak mampu menguasai dirinya saat mengetahui jika perusahaan tempatnya magang ternyata milik Arzan, orang tua gadis kecil yang diasuhnya. Dia lupa jika keluarga El-Malik adalah penguasa kerajaan bisnis terbesar di negeri ini. Tiara berharap semuanya akan baik-baik saja. Selama ini dia merahasiakan keadaannya sebagai seorang mahasiswa karena tidak ingin majikannya terganggu bahkan memecatnya karena ketahuan jika dia bekerja sambil kuliah.
Beberapa hari yang lalu Tiara meminta izin kepada Nyonya Ratna jika jam kerjanya menyiapkan makan malam untuk Qiana agar dialihkan menjadi menyiapkan sarapan pagi. Mengetahui jika aturan kantor di tempatnya magang sangat ketat dan disiplin, Tiara tidak bisa menjamin jika dia akan bisa pulang dari kantor itu sebelum jam makan malam dan melakukan tugasnya seperti biasa di kediaman keluarga El-Malik. Setelah bernegosiasi secara pribadi dengan alasan yang cukup mudah diterima oleh Qiana akhirnya tuan putri mengizinkan jika Tiara akan datang pagi selama tiga bulan ke depan dan Nyonya Ratna pun mengizinkan. Sementara di restoran selama tiga bulan ke depan Tiara hanya mengambil waktu kerja saat weekend saja.
"Baiklah kami persilahkan kepada Profesor Mustafa Kemal untuk menyampaikan sambutannya" suara pemandu acara menghentikan pikiran Tiara yang menerawang kemana-mana. Lagi-lagi dia diingatkan oleh Danis agat fokus mengikuti acara tersebut, dan benar saja saat kesadarannya kembali pandangannya beradu dengan seseorang yang sedang menatap tajam ke arahnya.
Sejak memasuki ruangan dan duduk di kursi kebesarannya Arzan tidak melepas pandangannya dari seseorang yang berpenampilan tampak beda dari yang lainnya. Wanita yang beberapa hari ini hadir mengusik pikirannya. Dia bahkan mulai kembali merasakan kewalahan karena sudah tiga malam Qiana memintanya pulang cepat. Sejak Tiara mengalihkan waktu bekerjanya menjadi pagi hari Qiana kembali seperti sebelumnya selalu memintanya agar ditemani tidur. Arzan pernah menanyakan alasan mengapa Tiara mengalihkan jam kerjanya, mamanya hanya bilang jika pada jam seperti itu Tiara ada kegiatan lain.
Tibalah waktunya sang presdir memberikan sambutan dan arahannya. Pemandu acara pun mempersilahkan tuan muda Arzan untuk menyampaikan sambutannya.
Seperti biasa, gayanya saat berbicara selalu berhasil menghipnotis orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya Alana dan Friska yang dibuat terpesona dengan kharisma seorang tuan muda Arzan, Danis bahkan tak mengalihkan fokusnya sedikit pun menyimak apa yang disampaikan CEO muda itu. Arzan Ravindra Malik adalah salah satu pengusaha muda sukses yang menjadi idolanya. Selain sukses dengan bisnisnya, Arzan juga tidak pernah diterpa gosip miring apapun. Setiap pemberitaan hanya mengekspos prestasi dan pencapaiannya, sempurna. Pikir Danis.
__ADS_1
Berbeda dari ketiganya, Tiara hanya sesekali melihat ke arah Arzan yang sedang berbicara. Dia lebih fokus mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh presdir itu. Kemal bahkan tersenyum tipis saat mendapati tiga mahasiswanya yang menunjukkan ketertarikannya akan pesona Arzan tapi tidak dengan mahasiswa berjilbab yang satu ini.
"Kamu memang berbeda, Tiara" batin Kemal.