Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Hati Tiara


__ADS_3

Jumat pagi menjadi awal Tiara beraktivitas dengan banyak agenda yang sudah tersusun. Danis meminta bantuannya untuk menyiapkan segala keperluan acara pembukaan lokakarya yang akan dilaksanakan ba'da dzuhur.


Tak jauh berbeda dengan dirinya, semua mahasiswa tengah sibuk mempersiapkan bahan presentasi laporan kinerjanya selama satu bulan magang di perusahaan. Tiara sudah cukup tenang untuk hal itu, bahan presentasi di lokakarya pertama ini sudah dia siapkan beberapa hari yang lalu saat dirinya ada waktu senggang di perusahaan.


Beberapa dosen yang akan menghadiri kegiatan lokakarya itu sudah tampak hadir. Profesor Kemal sebagai salah satu dosen penanggung jawab para mahasiswa magang pun sudah stay di lokasi sejak semalam.


"Assalamu'alaikum" sapa Kemal saat memasuki ruangan yang disiapkan sebagai sekretariat panitia.


Kegiatan lokakarya akan dilaksanakan di pinggir pantai carita, sebuah gazebo yang cukup luas tersedia di sana. Tiara bersama Danis dan panitia lainnya saat ini sedang menyiapkan beberapa perlengkapan yang akan digunakan untuk menghias area gazebo sebagai tempat pembukaan kegiatan lokakarya.


"Wa'alaikumsalam" kompak semua mahasiswa yang berada di ruangan itu menjawab, mereka menyambut kedatangan profesor Kemal dengan ramah,


"Tiara kamu di sini?" sapa Kemal saat melihat Tiara sibuk menyusun pernik-pernik yang akan digunakan untuk menghias panggung.


Setahu Kemal Tiara tidak termasuk jajaran panitia kegiatan ini sebab menurut Danis dia menolak saat diajak untuk menjadi panitia kegiatan. Alasan Tiara saat itu karena dirinya kesulitan membagi waktu, waktunya sudah tersita untuk magang dan bekerja.


"Maaf prof saya belum sempat menyapa. Apa kabar profesor? kapan datang?" tanya Tiara menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, tadi dia tidak turut menyambut kedatangan profesor Kemal karena tanggung dengan pekerjaannya.


"Saya yang mengajak Tiara Prof, saya minta bantuan Tiara buat bikin pernak pernik ini" tunjuk Danis pada tumpukan pernak-pernik yang sudah selesai disusun rapi oleh Tiara siap digunakan untuk menghias panggung.


"Baguslah kalau kamu bersedia, sejak awal kan kita memang membutuhkan kamu dengan ide-ide kreatifmu" puji profesor Kemal,


"Terima kasih Prof, kalau begitu saya permisi mau melanjutkan pekerjaan" pamit Tiara sopan,


"Silahkan silahkan, jangan merasa terganggu dengan kehadiran saya. Saya hanya mau melihat-lihat sejauh mana persiapan kalian" ujar profesor Kemal, Tiara pun kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Profesor Kemal berkeliling melihat mahasiswa-mahasiswa yang sedang mengerjakan tugasnya masing-masing. Langkahnya terhenti di meja sedada tempat Tiara menaruh pernak-pernik hasil kreatifitasnya.


"Harusnya dulu kamu masuk jurusan prakarya Tiara, kamu sangat berbakat membuat hiasan-hiasan seperti ini, apalagi dengan memanfaatkan benda yang ada, kreatif" profesor Kemal yang tanpa disadari sudah berdiri di belakang Tiara sontak membuat gadis itu kaget,


"Prof maaf" ujar Tiara saat melihat Kemal berdiri dekat di belakangnya, Tiara pun maju satu langkah dan memilih ke samping meja untuk menghindari membelakangi profesor Kemal karena hal itu sungguh sangat tidak sopan menurutnya.


"Maaf kalau saya mengagetkan kamu, saya kagum melihat kamu membuat hiasan-hiasan itu. Ini nanti akan dipasang dimana?" Kemal beralih pada gantungan lampion yamg sudah selesai dibuat Tiara,


"Rencananya di atas depan panggung Prof, Danis bilang biar panggungnya tidak terlalu polos" jawab Tiara sejujurnya,


"Bagus" Kemal kembali berkomentar dengan memberi pujian pada hasil karya Tiara itu.


Semua aktivitas mahasiswa di ruangan itu diabadikan oleh panitia bagian dokumentasi sebagai bahan laporan kegiatan. Interaksi antara Tiara dengan profesor Kemal pun tak luput dari bidikan kamera mahasiswa yang didaulat sebagai seksi dokumentasi dari kegiatan ini.


Tiga puluh menit berlalu, Kemal masih setia memantau kerja panitia yang masih menyiapkan berbagai peralatan yang akan dibutuhkan untuk pembukaan acara lokakarya itu. Sebuah telepon genggam tiba-tiba bergetar saat dirinya akan berdiri dari kursi tempatnya duduk.


"Sepertinya itu punya Tiara, Prof" jawab salah satu mahasiswa yang masih berada di sana. Saat ini Tiara sudah tidak ada di sana dia pamit dengan dania menuju gazebo yang akan dihias dengan pernak-pernik hasil kreasi tangannya.


Kemal sekilas melirik siapa yang menelepon Tiara pagi ini, dia pun menautkan kedua alisnya melihat kontak dengan nama Nyonya Besar adalah yang menelepon Tiara.


"Nyonya besar?" tanyanya dalam hati. Kemal sempat bertanya-tanya namun beberapa saat kemudian dia pun memilih tidak peduli.


☘️☘️☘️


Kegiatan lokakarya berjalan dengan lancar, selama itu Tiara tidak sempat untuk menghubungi Qiana. Sebelumnya dia memang sudah meminta maaf jika Jumat dan Sabtu dirinya akan sulit untuk dihubungi karena sibuk berkegiatan.

__ADS_1


Puluhan panggilan tak terjawab di hari Jumat pagi saat Tiara ketinggalan ponselnya di sekretariat panitia membuatnya panik. Saat luang pun Tiara segera menelepon ibu mertuanya itu untuk klarifikasi dan konfirmasi mengenai kesibukannya. Nyonya Ratna pun mengerti, dia bilang ternyata itu adalah karena Qiana yang kembali mogok makan hingga akhirnya Arzan menyerah dia tidak ke kantor karena mengajak Qiana jalan-jalan untuk menghiburnya.


Karena merasa bersalah Tiara berinisiatif untuk mengirim pesan pada suaminya itu.


"Assalamu'alaikum, Tuan maafkan saya. Dua hari ini kegiatan sangat padat, saya bahkan tidak sempat melihat hp saya saat Nyonya menelepon. Kata nyonya Tuan sampai tidak ke kantor karena non Qiana yang merajuk, maafkan saya"


Tiara ragu, akankah pesannya itu dibalas atau tidak mengingat pesan terakhir yang dia kirim berpamitan pun tidak dibalasnya.


Ting... Jantung Tiara tiba-tiba berdegup kencang saat melihat notifikasi pesan masuk yang ternyata dari suaminya.


'Lakukan apa yang harus kau lakukan, setelahnya cepatlah kembali'


Pesan balasan Arzan yang membuat Tiara bernafas lega, akhirnya pria dingin itu membalas pesannya. Pesan yang menurutnya sangat berharga karena akhirnya laki-laki itu menganggapnya ada.


Tiara menyadari Arzan yang menyuruhnya cepat kembali karena tugasnya untuk mengurus Tiara bukan karena laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu merindukannya. Tapi hal itu cukup untuk Tiara, jika dirinya dibutuhkan.


"Entah sampai kapan saya bisa menjalani pernikahan ini Tuan, menjadi pengasuh berkedok istri itupun hanya di hadapan keluargamu. Semoga di saat saya lelah dan memilih menyerah saat itu Non Qiana bisa menerima kenyataannya jika saya hanya sebatas pengasuhnya karena tak layak menjadi mommy nya" gumam Tiara dalam hati,


Sejujurnya beberapa bulan yang Tiara jalani sebagai istri yang Arzan nikahi secara resmi di mata hukum agama dan negara membuatnya berpikir banyak hal. Awalnya Tiara tidak mempermasalahkan hal itu, menjadi istri seorang Tuan Arzan bukanlah bagian dari misi hidupnya. Namun ternyata takdir membawanya ke sana.


Semakin lama Tiara semakin berfikir, bahwa rumah tangga yang dijalaninya sungguh di luar harapannya. Tiara pernah bermimpi jika kelak dirinya akan menikah dengan laki-laki yang mencintainya, yang memperlakukannya istimewa, menjadi penjaga hati dan pelindung dirinya. Tempatnya melabuhkan rindu dan dirinya akan menjadi tempat pulang yang nyaman untuk sang suami.


Tapi kenyataan memaksanya untuk berada dalam keadaan seperti saat ini. Permintaan tulus seorang nenek dan cucu seakan dayung bersambut dengan kesulitan yang sedang Tiara hadapi saat itu.


Tanpa berpikir panjang, menyelesaikan kuliah dan membantu keluarganya adalah misinya saat itu. Setidaknya dengan menikah dengan pemilik El-Malik Grup itu keberlangsungan kuliahnya berjalan baik, ibu juga kedua adiknya dapat terbantu dalam memenuhi kebutuhannya, sesuai janji nyonya Ratna.

__ADS_1


Tiara kembali melihat pesan balasan yang di kirim Arzan, membacanya berulang-ulang seolah sudah mendapatkan jackpot hati Tiara seakan berbunga.


"Tuan, andai kau memintaku cepat kembali karena merindukanku, sungguh aku akan sangat bahagia. Karena tidak sulit untukku dapat mencintaimu. Aku tidak akan memintamu menghilangkan nama almarhumah istrimu dari hatimu, aku hanya meminta sedikit saja tempat di hatimu untukku. Andai itu mungkin" gumam Tiara dalam hati.


__ADS_2