Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Tatapan Arzan


__ADS_3

Renata tertunduk malu di depan meja yang biasa digunakan Tiara untuk menyelesaikan tugas-tugasnya di kantor. Pagi ini Renata sengaja datang pagi sekali karena ingin lebih dulu berada di sana sebelum yang lain. Renata ingin secara tulus meminta maaf sendiri kepada Tiara atas perlakuannya selama ini.


Kabar awal yang beredar di kalangan para sekretaris manajer adalah Arzan meminta bagian personalia untuk memutasi tugasnya ke bagian yang lebih rendah. Sang presdir meminta agar dirinya tidak pernah lagi terlibat dengan para petinggi perusahaan karena sikap tidak terpujinya selama ini terutama pada Tiara. Tapi Tiara meminta agar keputusannya itu dibatalkan, Tiara mengetahuinya saat dia kembali ke kantor dan mendapat kabar dari teman-teman magangnya bahwa sekretaris manajer divisi pemasaran sudah dimutasi.


"Terima kasih sudah membantu saya tetap pada posisi ini, dan maaf atas semua yang pernah saya lakukan pada Nona" Renata berbicara dengan menunduk dia tak kuasa untuk menatap Tiara setelah apa yang pernah dia lakukan terhadap gadis itu.


"Saya sudah memaafkan Ibu dan tolong jangan panggil saya seperti itu. Terlepas dari status saya, di sini saya tetap sebagai mahasiswa magang" jawab Tiara yang justru terlihat salah tingkah dengan perlakuan seniornya itu.


"Tolong jangan panggil saya ibu lagi, seharusnya saya yang..."


"Tidak apa-apa Bu, sudah semestinya demikian" Tiara dengan cepat memotong ucapan Renata, dia tahu seniornya itu sangat merasa bersalah.


Awalnya Renata memang tidak ada perasaan kesal atau benci pada gadis itu, tetapi ketika melihat bagaimana Arga sang asisten presdir memperlakukan Tiara berbeda dengan yang lain, hal itu menyulut emosinya. Dia merasa Tiara adalah saingannya, tidak habis pikir bagaimana Arga yang selalu tampil serius dan seperlunya itu bisa memperlakukan gadis berjilbab dengan hangat. Padahal gadis itu terlihat biasa-biasa saja.


"Sekali lagi, maafkan saya...."


"Tiara Bu, panggil saya Tiara" sela Tiara,


"Tidak bisa, saya cukup tahu diri untuk itu. Tolong jangan mempersulit saya, tuan Arzan akan sangat tidak suka jika mendengar saya masih memanggil nona dengan nama" jawab Renata memohon.


"Baiklah, kalau begitu terserah bu Renata saja" jawab Tiara pasrah,


"Tapi maaf sebelumnya, boleh saya bertanya sesuatu?" Tiara memberanikan diri menanyakan sesuatu yang sejak lama mengganjal di hatinya,


"Silahkan, tanyakan saja Nona" jawab Renata sopan,


"Saya baru pertama kali bertemu Bu Rena saat hari pertama menjadi mahasiswa magang di sini. Awal pertemuan kita saya rasa baik-baik saja, ibu terlihat begitu ramah. Tapi keesokan harinya saya mulai merasa ibu berubah. Jika boleh tahu, apa yang menyebabkan ibu berubah begitu drastis terhadap saya? maaf jika saya lancang" Tiara bertanya sopan, keraguan masih menyelimuti hatinya. Takut jika apa yang ditanyakannya membuat Rena tersinggung.


Rena tersenyum malu-malu mendengar pertanyaan Tiara. Dia ragu untuk menceritakan alasan sebenarnya, tapi otak cerdasnya kali ini berfungsi dengan baik. Dia harus jujur pada gadis yang berada di hadapannya, walaupun malu akhirnya Rena pun menceritakan alasannya yang selalu kesal pada Tiara karena dia menyukai Arga.


Tiara pun mengerti dan hanya tersenyum menanggapinya. Dia tidak mau ikut campur tentang urusan perasaan , baginya cukup tahu dan mendo'akan yang terbaik untuk mereka.


✨☘️☘️☘️✨


Waktu bergulir tanpa ada yang bisa menghentikannya. Semua orang memiliki aktivitas masing-masing untuk melalui setiap harinya. Menjadi istri seorang presdir tidak lantas membuat Tiara memanfaatkan keadaan. Dia tetap bertindak profesional sebagai mahasiswa magang di kantor pusat El-Malik Grup.


Sejak Arzan mengumumkan status Tiara sebagai istrinya, Renata bersikap sangat baik. Dia bahkan memastikan dirinya selalu ada saat Tiara membutuhkan bantuan, bukan karena pencitraan namun semua Rena lakukan tulis dari hatinya.

__ADS_1


Adrian yang berniat untuk kembali meraih cinta Tiara yang sempat dia sia-siakan, kini harus memupus habis niatnya itu. Melihat bersama siapa Tiara bersanding, tak cukup percaya dirinya untuk mengeksekusi niatannya itu.


Nathan yang sudah mengetahui apa yang terjadi di kantor pusat El-Malik Grup dari Arga, turut merasa senang. Akhirnya sahabatnya move on dari kisah cinta yang tak mungkin bersatu kembali. Dirinya pun berharap akan segera menemukan wanita yang tepat untuk dijadikan pasangan sehidup sesurganya.


"Mas, besok adalah hari terakhir aku magang. Aku akan mempresentasikan laporan akhirku di hadapan pihak kampus dan juga perusahaan, do'akan aku ya Mas semoga semuanya Allah mudahkan dan berjalan lancar" Tiara merebahkan tubuhnya di samping sang suami yang masih berkutik dengan ponselnya.


Dia baru saja selesai mereview laporan akhir tugas magang yang akan dipresentasikannya besok. Setelah sebelumnya memastikan putri kecilnya sudah terlelap setelah dibersamai olehnya menjelang tidur dengan diiringi lantunan murottal.


"Heummm" sekilas Arzan melirik Tiara, tak ada kata terucap. Dia kembali berkutik dengan ponselnya.


Tiara sudah terbiasa dengan sikap suaminya seperti itu. Semakin lama , dia semakin memahami seperti apa pola Arzan ketika sedang di rumah dan di perusahaan.


Tiara melafalkan do'a dan bacaan dzikir, menarik selimut hingga ke leher. Berbaring menghadap kanan dengan telapak tangan disimpan di bawah pipi kanannya.


Greppp....baru saja matanya akan terpejam, tangan kekar sang suami sudah menyergap pinggangnya membuat Tiara kembali membuka matanya.


"Kamu sudah mau tidur? yakin?" Arzan berbisik tepat di belakang telinganya, bibirnya sudah menggigit-gigit kecil telinga istrinya.


"Mas ih geli...." Tiara bergidik mendapat perlakuan suaminya.


"Sayang, aku mau....." suara Arzan sudah memberat, dia menyusuri belakang telinga, tengkuk dan beralih pada pundak yang entah kapan sudah terbuka. Tiara bahkan tidak menyadari jika tangan usil suaminya sudah membuka kancing baju tidur yang sengaja malam ini dipakai couple dengan Qiana itu satu persatu.


Lagi-lagi dia selalu menang dan rencana Tiara untuk tidur lebih awal agar esok lebih fresh tinggallah rencana.


☘️☘️☘️


Pagi menjelang, sebelum adzan subuh menjelang Tiara sudah terbangun. Dia perlahan melepaskan diri dari dekapan suaminya yang mendekapnya seusai percintaan mereka semalam. Rutinitas pagi sudah menanti, menjadi ibu rumah tangga sekaligus mahasiswa menjadi momen yang begitu Tiara nikmati saat ini.


"Mommy, hari ini aku mau dianterin Mommy ke sekolah" Qiana merajuk, kemarin dia kesal karena harapannya untuk diantar Tiara ke sekolah pupus saat Mbak Ana memberitahukan jika Daddynya menyuruh dia sendiri yang mengantar Qiana.


"Iya sayang, hari ini mommy akan mengantar kamu. Maaf untuk kemarin ya" Tiara merasa bersalah, karena ulah suaminya di pagi hari dia harus berbohong pada sang putri jika dirinya tiba-tiba sakit perut sehingga tidak bisa mengantar sang putri ke sekolah.


Waktu yang dinantikan pun tiba, Tiara berkali-kali menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Menghilangkan kegugupan dirinya menjadi mahasiswa pertama yang akan mempresentasikan laporan akhirnya.


"Sudah siap?" Danis datang menghampiri, semenjak mengetahui jika Tiara sudah menikah dan merupakan istri dari Presdir El-Malik dia sedikit menjaga jarak. Saat ini mereka sudah berada di ruang rapat utama tempat presentasi akan berlangsung.


"Insya Allah, hanya saja aku gugup" jawab Tiara sejujurnya.

__ADS_1


"Tenang saja, bukankah kamu sudah biasa presentasi" ucap Danis menenangkan.


"Tetap saja, apalagi kali ini menentukan kelulusan kita di mata kuliah ini" tukas Tiara, dia meraih botol air mineral di atas mejanya.


"Aku yakin kamu akan lulus" Danis kembali menenangkan,


"Aamiin, terima kasih Danis" jawab Tiara penuh senyum,


"Tapi sepertinya masih ada yang harus kamu khawatirkan Tiara" lanjut Danis membuat Tiara heran, dia mendongakkan kepalanya yang sedang menunduk membaca catatan bahan presentasinya.


"Apa?" tanya Tiara kaku,


"Profesor Kemal" ujar Danis tegas.


"Kenapa dengan profesor Kemal?" Tiara masih belum mengerti kemana arah pembicaraan temannya itu.


"Cihh...ternyata kamu memang sepolos itu" ujar Danis dengan nada mengejek,


"Maksud kamu apa?" tanya Tiara lagi,


"Kamu tidak sadar kalau selama ini profesor Kemal menaruh hati padamu?" ujar Danis gemas sendiri melihat kepolosan sahabatnya itu,


"Tidak, emang iya? jangan ngaco kamu" Tiara mencebikkan bibirnya mendengar penuturan Danis.


Obrolan mereka pun terhenti saat presdir memasuki ruang rapat utama. Beberapa dosen sudah tampak hadir, kecuali profesor Kemal yang beberapa minggu terakhir di masa magang ini tidak melanjutkan membimbing mahasiswa magang karena sedang mendapat tugas dinas luar dari kampus.


"Selamat pagi, silahkan dimulai" Arzan dengan mode kepemimpinannya kembali menjadi pimpinan yang tegas dan penuh kharisma. Beberapa mahasiswa dan pegawai yang berada di sana melirik Tiara. Tampak keheranan di wajah mereka, bagaimana bisa gadis seramah Tiara tahan dengan laki-laki dingin dan tegas menjadi suaminya.


"Maaf Tuan, kami masih menunggu satu lagi dosen yang akan turut menilai" Dosen yang bertugas menjadi pemandu acara pun mencoba bernegosiasi dan hanya diangguki pelan oleh Arzan,


"Selamat pagi" sosok yang ditunggu-tunggu pun datang, profesor Kemal memasuki ruangan rapat utama dengan gagahnya. Semua mata memandang, tidak hanya mahasiswa perempuan yang selalu terpesona dengan dosen yang satu itu. Beberapa staf perempuan pun terkesiap saat dosen yang masih single itu memasuki ruangan.


"Gantengnya" gumam mereka dalam hati.


Presentasi dimulai, sesuai jadwal yang sudah dibagikan pihak kampus di grup mahasiswa magang, Tiara menjadi mahasiswa pertama yang melakukan presentasi.


Semua mata tertuju padanya, caranya dalam mempresentasikan selalu memukau. Tutur kata, gesture, bawaannya yang lemah lembut serta teknik komunikasinya yang interaktif selalu membuat orang terpesona dan betah menyimak apa yang disampaikannya. Tidak lupa, raut wajah yang ceria dan bibir yang selalu tersenyum membuat orang-orang tidak bosan mendengarkan apa yang dituturkannya.

__ADS_1


Dua minggu lebih tidak melihat mahasiswa yang berhasil membuat hatinya tersentuh. Rasa rindu membuncah di dadanya, sejak memasuki ruangan itu matanya selalu tertuju pada gadis pujaannya. Kemal bahkan hanya sekilas menyapa Arzan, selebihnya fokusnya hanya pada Tiara.


Tatapan Kemal tetap terfokus pada sosok gadis yang dengan lantang berbicara di depan, ada binar bahagia terlihat jelas di wajah Kemal. Dia seolah sedang meluapkan kerinduannya. Tanpa Kemal sadari seseorang sedang menatap tajam ke arahnya karena tahu kemana arah pandangan profesor muda itu. Tatapan yang akan membuat siapapun bergidik ngeri, sungguh tatapannya bak harimau yang siap menerkam lawannya.


__ADS_2