Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Gelisah


__ADS_3

Tangan Tiara yang refleks meraih ponsel yang tepat berada di telinga suaminya membuat posisi Tiara terlihat seperti sedang memeluk Arzan.


Dia yang mendengar seseorang membuka pintu ruangan sang presdir dan melihat apa yang dilakukannya, refleks menurunkan tangannya yang menempel di tangan Arzan. Tiara bermaksud kembali ke posisinya semula duduk di sofa, namun gerakannya kalah cepat. Tangan kanan Arzan dengan cepat menggamit pinggang ramping istrinya itu saat tahu dia akan menjauh darinya.


"Mau kemana?" ucap Arzan santai..


"Mas, itu...." ucapan Tiara terpotong, dia melirik sekilas ke arah orang yang sudah berdiri tegak di ambang pintu dengan tersenyum.


Tiara segera menundukkan pandangan dan berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya, tapi sayang semua yang dilakukannya sia-sia. Arzan semakin kuat menggamit pinggangnya walau hanya dengan sebelah tangan.


"Ckk...kau datang di waktu yang tidak tepat" Arzan berdecak, membimbing Tiara untuk mengikutinya duduk di atas sofa yang berada di ruangan itu. Begitupun laki-laki yang berdiri tegak di ambang pintu dengan senyum yang tetap mengembang di bibirnya, dia berjalan ke arah yang sama setelah memastikan pintu tertutup sempurna.


"Ya...harusnya aku percaya saja pada Arga" ucap laki-laki itu.


"Sayang, dia dokter yang akan memeriksamu" tanpa menyebut nama Arzan mengenalkan laki-laki yang baru saja masuk ke ruangannya itu pada Tiara.


"Saya Tiara" Tiara hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada, tidak lupa dibubuhi senyum dan anggukan kecil kepalanya.

__ADS_1


"Saya Yudistira, panggil saja saya Yudis" laki-laki yang menerobos masuk ke ruangan presdir itu bernama Yudistira, dia seorang dokter kepercayaan keluarga El-Malik, turun temurun setelah sebelumnya ayah dokter Yudis yang menjadi dokter keluarga itu kini giliran anaknya yang harua siap mengabdikan diri dan hidupnya dalam menjaga kesehatan keluarga El-Malik.


Usia Arzan dan Yudis tidak terlalu jauh, mereka pun cukup dekat. Walaupun berbeda profesi tapi Yudis dan Arzan sering bersama dalam menekuni hobi keduanya yang kebetulan sama, berkuda.


"Aku memanggilmu kesini untuk memeriksa istriku, bukan untukmu memperkenalkan diri" ketus Arzan, mode posesifnya semakin kentara.


"Ups...maaf kebablasan..hehe.." dokter Yudis menutup mulutnya dengan sebelah tangan diakhiri kekehan, dia terlihat senang menjahili teman lamanya itu. Bagaimana tidak, dia adalah salah satu orang yang sangat tahu bagaimana kebucinan Arzan terhadap Mitha dulu, dan dia pun tahu bagaimana terpuruknya Arzan saat kehilangan wanita itu.


Sebelumnya Yudis sudah mendengar dari Arga jika Arzan sudah menemukan kembali tambatan hatinya, tapi dia masih kurang percaya. Namun saat ini dia pun melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana perlakuan Arzan pada wanita yang diakuinya sebagai istrinya, Yudis pun percaya jika teman lamanya itu sudah benar-benar kembali membuka hati. Terlihat dari cara Arzan memperlakukan Tiara begitu istimewa.


"Maaf kakak ipar bisa kita mulai pemeriksaannya?" Yudis sudah siap dengan stetoskop ditangannya, menatap Tiara yang masih terlihat kebingungan dengan obrolan dua pria di hadapannya itu.


Yudis hanya menyeringai, dia semakin punya senjata untuk menggoda teman lamanya yang kini telah kembali menjadi lelaki siaga yang akan menjaga apa yang telah menjadi miliknya dengan segenap jiwa dan raga, selalu bersikap manis dan hangat pada orang-orang yang dicintainya. Setelah selama lima tahun terakhir berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pria dingin dan tidak peduli apapun di sekitarnya selain pada putri dan ibunya.


Sementara di ruang divisi pemasaran, Pak Edward tengah duduk dengan kedua siku bertumpu di atas meja bundar yang biasa digunakan untuk rapat intern divisi pemasaran. Jemarinya memijat pelipis, tidak habis pikir dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya.


Setelah dibuat heran dengan kejadian yang hampir tidak dipercayainya dimana Arzan menggendong mahasiswa magang di divisinya tanpa ragu dan membawa Tiara ke ruangannya, Pak Edward lebih syok setelah mengetahui kenyataan jika Tiara adalah istri dari atasannya.

__ADS_1


Pikirannya menerawang ke beberapa waktu silam, semua tentang Tiara sejak kedatangannya sampai detik ini dia susuri satu persatu. Mengingat-ingat barangkali ada perlakuannya terhadap Tiara yang akan membuat murka sang presdir.


Tidak hanya Pak Edwar yang duduk di sana, semua staf divisi pemasaran pun duduk melingkari meja bundar itu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka, semua sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Mereka bahkan melupakan jam makan siang yang sudah lewat sejak tiga puluh menit yang lalu.


Berita yang disampaikan Pak Edward setelah bertanya langsung bertanya kepada asisten sang presdir tentang hubungan antara Tiara dengan Presdir seketika wajahnya berubah dengan ekspresi yang tidak terbaca.


Danis masih geleng-geleng kepala, tidak menyangka jika selama beberapa bulan ini dia bekerja sama dengan istri dari seorang penguasa El-Malik Grup yang tidak diragukan lagi besarnya kerajaan bisnis miliknya.


Sementara Adrian yang merupakan irang yang pernah dekat sekali dengan Tiara, bahkan cukup lama mereka berstatus sebagai sepasang kekasih tampak syok tidak percaya dengan kenyataan jika gadis yang pernah dia sia-siakan dan membuatnya menyesal kini telah menjadi milik orang lain. Harapannya untuk kembali meraih cinta Tiara kandas sudah, dia bahkan tak sanggup untuk membandingkan dirinya dengan suaminya Tiara saat ini.


Sementara Rena, sekretaris manajer divisi pemasaran wajahnya kini tampak pias. Pikirannya sedang larut membuat list dengan apik setiap perlakuannya terhadap Tiara, dan di antara uraian perlakuannya tidak ada satupun yang baik menurutnya.


"Di antara kalian, siapa yang sudah tahu tentang hal ini?" Pak Edward akhirnya buka suara, dia menatap satu persatu staf yang menjadi bawahannya. Danis menjadi orang terakhir yang ditatapnya, seolah memintanya untuk menjawab pertanyaannya karena Pak Edward tahu jika Danis adalah orang yang paling dekat dengan Tiara.


"Tidak Pak, saya tidak tahu, yang saya tahu Tiara sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun" Danis mengibaskan kedua tangannya diiringi gelengan kepala menjawab pertanyaan Pak Edward yang seolah hanya mengarah padanya.


"Kamu, Adrian?" pertanyaan Pak Edward beralih pada Adrian, dia hanya menggelengkan kepala kemudian tertunduk lesu. Ada penyesalan tersirat jelas di wajahnya, wanita yang begitu baik yang dia sia-siakan hanya karena kasus yang menimpa ayahnya kini telah menjadi milik orang lain.

__ADS_1


"Rena, sepertinya saya tahu jawaban kamu. Dan bersiaplah, mungkin kali ini kamu akan menerima konsekuensi dari apa yang pernah kamu lakukan. Jangan kira saya diam itu tidak tahu menahu tentang apa kelakuan kamu yang sering mengintimidasi Tiara. Selama ini saya diam karena apa yang kamu lakukan masih bisa saya tolerir walaupun saya tahu itu keterlaluan, apalagi saat kamu melimpahkan semua pekerjaan kamu pada Tiara sampai dia harus lembur. Tapi entahlah dengan Tuan Arzan, kamu tahu sendiri seperti apa dia" Pak Edward menatap tajam ke arah Renata, tatapannya bahkan seperti berbicara jika tidak ada siapapun yang bisa menolong Rena jika sudah berhubungan dengan sang presdir.


Wajah Renata semakin pias, matanya memerah menahan tangis. Dia tidak tahu akan seperti apa nasibnya ke depan setelah semuanya terkuak. Semua orang benar-benar dibuat gelisah dengan nasib mereka masing-masing.


__ADS_2