
Hari-hari yang tenang Tiara jalani, menjelang wisuda tidak ada aktivitas terlalu penting di kampusnya. Dia lebih menikmati perannya menjadi ibu rumah tangga saat menunggu waktu wisuda tiba.
Memasak, mengantar Qiana ke sekolah dan menyambut suaminya pulang adalah aktivitas yang menyenangkan untuk Tiara. Sesekali dia pun mengunjungi ibu dan adik-adiknya, tidak lupa dia pun menyempatkan diri untuk mampir menengok sang ayah yang masih harus berada di balik jeruji besi karena belum ada bukti kuat untuk membuatnya terbebas dari jerat hukum.
Arzan berjanji dia akan membantu mencari bukti tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga ayah mertuanya bisa terjerat dan menjadi tersangka utama. Padahal selama menjalani jabatannya dia selalu bertindak sesuai prosedur yang semestinya.
Semenjak pertemuannya dengan Mikha dan berakhir dengan keintiman suami istri itu Arzan semakin terang-terangan menunjukkan rasa cintanya pada Tiara. Tak jarang Tiara diminta untuk datang ke kantor dan membawakannya atau menemaninya makan siang. Dia pun sering membantu pekerjaan suaminya karena sesuai dengan bidang pendidikannya.
Keberadaan Mikha di kantor suaminya tidak membuatnya takut jika peristiwa beberapa waktu ke belakang dimana Mikha tampak berusaha menggoda Arzan terjadi lagi karena ternyata Arzan jauh sudah bertindak prepentif untuk hal itu. Dia sengaja menempatkan Mikha di posisi yang sama sekali jarang bersinggungan langsung dengannya.
Awalnya Mikha geram, tidak terima dengan keputusan Arzan yang menempatkannya di posisi itu. Permintaannya menjadi sekretaris pribadi Arzan tidak digubrisnya, dia hanya di tempatkan sebagai sekretaris manajer. Tentunya campur tangan Arga menjadi bagian penting dalam hal ini, dia sudah bisa membaca jika gadis itu akan terus berusaha untuk mendekati Arzan.
"Mommy....boleh tidak bekal besok dibanyakin. Qia mau berbagi dengan teman Qia, dia selalu bilang lupa tidak membawa bekal makan siang dari rumah" celoteh Qia masih menghiasi kamar Tiara dan Arzan.
Entah kenapa tiba-tiba putri sambungnya itu meminta untuk tidur bersama kedua orang tuanya malam itu.
"Tentu saja sayang, mommy akan buatkan bekal lebih buat temanmu" jawab Tiara lembut, dia mengusap rambut panjang hitam putri kecilnya itu.
__ADS_1
"Mommy....sekarang Qia punya teman baru, dia cantik dan juga baik. Setiap istirahat makan siang selalu datang dan menemani Qia makan" ucap Qiana dengan suara khas anak kecil, gadis cilik yang sudah duduk di bangku kelas dua SD itu semakin terlihat cantik dan cerdas, Tiara semakin menyayanginya.
Qiana menjadi salah prioritas dalam hari-harinya di samping sang suami tentunya yang selalu cemburu manja jika dirinya terlalu lama bersama gadis cilik itu sementara dia pun meminta hak yang sama untuk selalu di perhatikan lebih jika berada di rumah, Tiara kadang dibuat geleng-geleng kepala dengan tingkah konyol suaminya. Seorang Arzan CEO El-Malik Grup yang terkenal berwibawa dan tegas itu ternyata memiliki sisi manis yang hanya diketahui oleh dirinya.
"Oya? baik sekali dia. Kamu suka berteman dengannya?" tanya Tiara, selama ini dia memang tidak menemani Qiana di sekolahnya, Tiara hanya mengantar dan menjemputnya. Walaupun ada Ana yang menjadi pengasuh gadis cilik itu, tapi Tiara tidak mau kehilangan momen tumbuh kembangnya Qiana. Salah satunya momen menyenang untuk gadis itu adalah dengan kehadirannya saat mengantar dan menjemput sekolah.
Seorang anak di masa pertumbuhannya membutuhkan orang yang memperlakukannya dengan baik. Merawatnya dan memeliharanya, memberikan makanan bergizi, dan menciptakan suasana kondusif dalam berinteraksi dengannya, menunjukan rasa kasih sayang dan memberikan bantuan kepadanya dan Tiara ingin hadir menjadi ibu yang memenuhi semua kebutuhan Qiana di masa pertumbuhannya itu.
"Suka Mom, tapi...." ucapan Qiana terhenti, dia sepertinya ragu untuk mengatakan apa yang dipikirkannya,
"Tapi apa sayang?" tanya Tiara heran, dia pun membalikan tubuh gadis yang duduk bersandar ditubuhnya itu dan kini mereka saling berhadapan.
"Tante itu bilang, kalau mommy hanyalah ibu tiri dan ibu tiri itu jahat apalagi kalau aku punya adik" ucap Qiana dengan terbata, wajahnya terlihat takut dan sedih tidak ceria seperti biasanya.
Deg......Tiara memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa di hujam batu besar mendengar perkataan Qiana.
"Sayang, siapa yang bilang seperti itu?" tanya Tiara dengan nada sedikit meninggi karena dia pun syok mendengar perkataan putri sambungnya.
__ADS_1
"Teman baru aku, Mom" jawab Tiara dengan wajah menunduk,
"Sayang, lihat mommy..." Tiara meraih dagu mungil putri kecilnya itu meminta untuk menatapnya,
"Kamu sayang Mommy kan?" tanya Tiara kembali lembut dan dijawab anggukan kepala oleh Qiana,
"Selama ini apa pernah Mommy jahat sama kamu?" Qiana menggelengkan kepalanya lagi,
"Mommy memang ibu tiri kamu sayang, tapi percayalah mommy sangat menyayangi kamu" Tiara meraih tubuh mungil Qiana dan membawanya ke dalam pelukannya, dia mengusap kepala gadis itu hingga terdengar isak tangis putrinya.
"Sayang..." Tiara merasakan Qiana semakin erat memeluknya, sepertinya belum semua yang ada di pikiran gadis cilik itu terlisankan. Tiara pun melakukan hal yang sama, memeluk putri sambungnya itu tak kalah erat. Tiara berpikir keras siapa sebenarnya teman baru putri sambungnya itu. Qiana memanggilnya tante, berarti dia lebih dewasa dari putrinya bukan teman sebaya seperti yang Tiara perkirakan sebelumnya.
Tiara masih membiarkan putri sambungnya itu untuk menangis dalam pelukannya, dia belum berani bertanya tentang siapa sebenarnya temannya itu. Untuk saat ini menjaga kestabilan perasaan putrinya agar kembali lega itu lebih penting. Dia terus berusaha meyakinkan putrinya bahwa dirinya sangat menyayangi Qiana, tidak hanya dengan kata-kata tetapi juga bahasa tubuh dengan memeluk, mengusap dan mengecup puncak kepala dan kening putrinya Tiara lakukan.
Masa kanak-kanak adalah masa pembentukan fisik dan psikis seseorang. Cara berpikir, kebiasaan dan perilaku, mayoritasnya akan terbentuk pada fase-fase awal kehidupan manusia yaitu pada masa kanak-kanak. Tiara untuk memberikan pendidikan dengan metode teladan karena dia meyakini jika anak adalah peniru ulung, dia akan melakukan apa yang dilihatnya terutama dari orang terdekatnya.
Tiara merasakan pelukan Qiana semakin mengendor. Dia melihat wajah sedih dengan air mata yang berderai membasahi pipi mulus sang putri pun mulai mengering. Qiana tertidur dengan wajah yang lebih tenang setelah diyakinkan jika Tiara sangat menyayanginya.
__ADS_1
"Tidurlah sayang, mommy akan menjagamu" bisik Tiara di dekat telinga Qiana. Dia pun membaringkan tubuh putri kecilnya itu perlahan. Memastikan dia tidur dengan nyaman.
"Sebenarnya siapa teman baru Qiana?" Tiara kembali memikirkan hal itu, dia pun mulai terusik dengan perubahan putrinya karena kehadiran orang baru itu. Tiara larut dalam lamunannya, sampai seseorang memasuki kamarnya pun dia tidak menyadarinya.