Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Usaha Arzan


__ADS_3

Arzan merasa dunianya seketika runtuh. Hal yang tidak pernah dibayangkannya kini benar-benar nyata. Tiara memilih untuk menyerah, pikirannya menerawang semua yang pernah dilakukannya pada wanita yang tulus menyayangi diri dan putrinya ternyata begitu meninggalkan luka mendalam.


"Tugasku sudah selesai, aku permisi" Tiara mundur beberapa langkah, kemudian berbalik bersiap untuk menuju pintu keluar ruangan itu.


Seketika Arzan sadar jika Tiara telah menjauh darinya. Untunglah kesadarannya segera kembali, dengan sigap dia mengejar Tiara yang sudah memegang handle pintu.


Grepppp.....


Arzan kembali memeluk Tiara dari belakang, dia menahan agar wanita yang dicarinya beberapa hari ini tidak lagi pergi. Tidak peduli dengan apa yang sudah didengarnya tadi dari Tiara, Arzan akan mempertahankan istrinya dan tidak akan membiarkannya kembali pergi.


"Aku tidak akan melepaskanmu, tolong beri aku kesempatan. Aku sangat mencintaimu, aku sangat membutuhkanmu. Aku akui selama ini aku terlalu bodoh karena terbelenggu dengan masa lalu. Aku terlalu dibutakan dengan cinta yang justru menusukku dan aku sadar kamu telah menjadi korban dari keegoisanku. Maafkan aku, maafkan laki-laki bodoh ini. Tolong beri aku kesempatan"


Arzan berbicara panjang lebar, Tiara dapat merasakan tubuh yang sedang memeluknya itu bergetar karena tangisan. Tidak ada kata yang terucap dari bibir Tiara, dia masih mencerna semua yang dikatakan oleh suaminya itu.


"Aku mohon, jangan tinggalkan aku" Arzan semakin mengeratkan pelukannya, dengan air mata yang terus mengalir dia masih memeluk Tiara.


"Mas, selama ini aku sudah berusaha sesabar yang aku bisa, berusaha mengerti dirimu semaksimal mungkin, bahkan tak jarang aku menjadi seseorang yang bukan aku untuk mengimbangimu. Namun ternyata semua ada batasnya, aku lelah jika harus berjuang sendiri" Tiara akhirnya bersuara, entah keberanian dari mana saat ini dia benar-benar mengeluarkan semua unek-unek hatinya.


"Maafkan aku sayang, maaf...." ucap Arzan lirih dengan suara tak jelas karena dia terus menyusupkan wajahnya di tengkuk Tiara.


"Setelah kepergianku, aku yakin tidak akan sulit untukmu menemukan wanita yang lebih tepat untuk menjadi pendampingmu. Lebih mampu mengimbangimu dan tentunya mencintai dan menyayangimu" ucap Tiara lagi dengan suara yang tercekat, sesuatu seakan mencekik tenggorokannya saat mengatakan itu semua.


"Tidak..." Arzan seketika mendongakkan wajahnya, dia membalikan tubuh Tiara hingga berhadapan dengannya.


"Aku tidak mau yang lain, aku maunya sama kamu. Aku yakin kamulah yang terbaik untukku. Maaf jika aku terlambat menyadarinya, tapi aku mohon tolong beri aku kesempatan sekali lagi" Arzan berlutut di hadapan Tiara, dengan air mata yang membasahi pipinya dia menatap Tiara dengan tatapan memohon.


"Mas...jangan seperti ini" Tiara merasa tidak enak hati melihat Arzan kembali berlutut di hadapannya. Dia kaget dengan apa yang dilihatnya saat ini, kemana Arzan yang selalu tampil gagah, penuh percaya diri dan berkharisma itu. Sejak awal pertemuan Tiara dengan Arzan, dia selalu mampu membuat orang-orang yang berhadapan dengannya segan.


"Aku mohon sayang, tolong beri aku kesempatan" Arzan mengabaikan perkataan Tiara yang memintanya berdiri, dia hanya terus memohon agar diberi kesempatan.


"Mas, berdirilah" Tiara kembali merengkuh bahu bidang Arzan, memintanya untuk berdiri.


"Tidak, aku tidak akan berdiri sebelum kamu memberiku kesempatan. Terserah kamu bilang aku egois. Aku menerima jika kamu ingin membalas memperlakukanku seperti aku dulu memperlakukanmu, aku tidak peduli. Selama dirimu berada di sampingku aku bahagia" Tiara menatap lekat mata yang terus menatapnya diiringi kata-kata yang penuh dengan keputusasaan. Tiara bisa merasakan kesungguhan dari perkataan Arzan saat ini.

__ADS_1


"Mas...aku"


"Tolong sayang.....beri mas kesempatan, demi anak kita. Apapun akan mas lakukan untuk kamu dan anak kita" Arzan memotong perkataan Tiara, dia tidak jemu untuk terus memohon kesempatan kedua untuknya bisa kembali bersama istrinya.


"Mas....."


Ting.....


Notifikasi pesan masuk dari ponsel Tiara menjeda pembicaraan mereka. Tiara membiarkannya, namun kemudian ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk untuknya. Arzan pun mengalah, masih dalam posisinya dia melepas satu tangan Tiara yang digenggamnya sementara yang satunya lagi tak kunjung dia lepaskan.


"Aku izin menerima panggilan Mas" walaupun mereka belum menemukan kesepakatan, tetapi Tiara masih menjunjung tinggi etika. Dia meminta izin untuk menjawab panggilan yang masuk di ponselnya.


"Angkatlah" jawab Arzan tanpa mengalihkan pandangannya dari Tiara, dia seakan takut jika Tiara tiba-tiba menghilang dari pandangannya.


"Assalamu'alaikum, Prof" sapa Tiara setelah panggilan itu terhubung.


Deg.... Arzan seketika mendongak, panggilan itu terasa akrab di telinga Arzan. Dia semakin menajamkan penglihatan dan pendengarannya.


Arzan semakin menajamkan pendengarannya, ekspresi wajahnya pun seketika berubah. Cemburu langsung menyergap hatinya, dia tahu siapa yang sedang menelepon istrinya.


"Maaf Prof dari tadi saya tidak pegang HP, ada yang bisa saya bantu Prof?" tanya Tiara sopan, terdengar biasa bagi siapapun yeng mendengarnya namun tidak bagi Arzan. Dia tidak rela suara lembut istrinya itu diperdengarkan pada lelaki yang merupakan sahabat sekaligus mantan rivalnya.


"Saya sudah mengirim beberapa file tentang informasi beasiswa yang kamu minta, dan jika kamu berkenan saya mengusulkan akan sangat cocok untuk kamu mengambil beasiswa di Inggris" jelas penelepon yang tidak lain adalah profesor Kemal.


Beberapa hari yang lalu Tiara mendatangi kampus untuk menyelesaikan segala hal yang berhubungan dengan kelulusannya. Secara tidak sengaja Tiara dan teman-temannya bertemu dengan profesor Kemal. Mereka pun mengobrol berbagai rencana mereka setelah lulus kuliah, selain bekerja melanjutkan pendidikan menjadi pilihan beberapa orang di antara mereka. Termasuk Tiara yang tertarik untuk menanyakan beasiswa.


"Terima kasih atas informasinya, Prof. Saya akan mengkajinya terlebih dulu" jawab Tiara sejujurnya, sekilas dia melirik ke arah suaminya yang semakin tajam menatapnya dengan tatapan penasaran.


"Baik, saya tunggu secepatnya. Sekali lagi saya berharap kamu memilih Inggris, di sana ada villa milik keluarga saya kamu bisa tinggal di sana nantinya" profesor Kemal kembali secara terang-terangan menunjukkan perhatiannya.


Jelas semua perkataan profesor Kemal terdengar oleh Arzan dan memicu kemarahan yang luar biasa. Namun Arzan tampak menahan diri saat ini.


"Terima kasih informasinya Prof, kalau begitu saya tutup teleponnya. Assalamu'alaikum" pungkas Tiasa mengakhiri sambungan teleponnya dengan profesor Kemal. Dia pun kembali menaruh ponsel dengan sebelah tangannya ke dalam tas.

__ADS_1


"Mas tolong bangunlah" Tiara kembali meminta Arzan untuk berdiri.


"Apa maksudnya itu?" Arzan balik bertanya dia mengabaikan permintaan Tiara untuk berdiri.


Tiara menarik nafasnya dalam mendapat pertanyaan Arzan dengan tatapan yang seakan menusuk.


"Profesor Kemal, dia memberi aku informasi beasiswa S2 di luar negeri" jelas Tiara singkat, dia yakin Arzan faham maksudnya.


"Kami mau melanjutkan kuliah ke luar negeri?" tanya Arzan cepat,


"Maunya" jawab Tiara jujur,


"Kamu tidak perlu mencari beasiswa untuk itu sayang, aku masih mampu membiayaimu. Aku akan mendukungmu dan akan ikut kemanapun kamu pergi" suara Arzan melemah, ketidakrelaan terdengar jelas di sana namun Arzan tampak berusaha mengambil hati Tiara.


"Setelah kita berpis....."


"Tidak" Arzan sontak berdiri, dia membungkam mulut Tiara yang akan mengatakan kata berpisah dengan bibirnya,


Deg.....


Tiara membeku, serangan Arzan yang tiba-tiba membuat dirinya kelabakan.


"Mas, lepas" Tiara memberontak, namun tenaganya kalah dengan tenaga suaminya. Hingga akhirnya dia pun berhenti dan membiarkan Arzan melakukan apa yang diinginkannya.


Merasa tidak ada lagi perlawanan dari Tiara menyadarkan Arzan jika aksinya itu sudah keterlaluan. Dia segera menjauhkan wajahnya dari wajah Tiara dan menatap istrinya itu dengan penuh penyesalan Arzan takut jika yang dilakukannya barusan justru membuat Tiara semakin ingin berpisah dengannya.


"Maaf...." kata itu kembali terucap dari bibir Arzan, dia menunduk menghindari tatapan Tiara yang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Tiba-tiba.....


Hoek....Tiara menutup mulutnya dengan sebelah tangan, rasa mual langsung menyerangnya dan dia pun langsung berlari menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu.


"Sayang....." panggil Arzan yang syok sekaligus khawatir melihat istrinya yang tiba-tiba terlihat pucat.

__ADS_1


__ADS_2