
"Aku sudah di sini, sayang" bisiknya di telinga Tiara setelah tubuhnya merapat sempurna dengan dua tangan melingkar di perut istrinya itu.
Deg....jantung Tiara berhenti seketika, tubuhnya memanas seakan mendapat aliran arus listrik ribuan ampere hingga kini terasa menegang. Tiasa menoleh ke sebelah kanan yang ternyata di saat bersamaan Arzan menjatuhkan dagunya di atas bahu Tiara, otomatis bibir Tiara langsung menabrak pipi suaminya itu.
Cup....
"Kamu merindukanku?" Arzan tersenyum miring saat melihat Tiara yang membelalakan matanya karena secara terang-terangan sudah mencium pipi suaminya walaupun tanpa sengaja.
"Mas, kamu sudah pulang?" ucapnya pelan, dengan segera memalingkan wajahnya karena hawa panas tiba-tiba kembali menyerangnya, dia mengedarkan pandangannya ke sekitar dapur mencari keberadaan Ana dan Qiana.
"Cari siapa?" tanya Arzan dengan posisi yang tidak berubah,
"Qia dan mbak Ana" jawab Tiara jujur, dia bingung kemana dua orang itu saat ini, perasaan baru saja dia sedang mengobrol dengan Ana.
"Mereka sedang mengerjakan tugas yang kamu berikan di tempat lain" jawab Arzan santai, dia semakin mengeratkan pelukannya
“Mas, jangan seperti ini” Tiara berusaha memberontak untuk lepas dari pelukan suaminya,
“Kenapa, heumm?” tanya Arzan semakin mengerat pelukannya, tidak peduli dengan aksi dan ucapan Tiara,
“Nanti ada yang melihat, Qia sama Ana kemana?” Tiara mengedarkan pandangannya mencari keberadaan dua orang yang sejak tadi menemaninya memasak,
“Mereka sudah aku usir” jawab Arzan asal dengan senyum jailnya yang tentu tidak terlihat oleh Tiara. Semenjak bibirnya bertemu dengan pipi Arzan Tiara tak berani menengok lagi ke arah kanan dimana wajah suaminya tengah bertengger di bahunya.
“Kamu sedang masak apa?” Arzan mengalihkan pembicaraan, dia mengamati tangan Tiara yang terus bergerak menyiapkan berbagai bumbu untuk memasak hari ini. Sementara tangan Arzan melilit betah di perut istrinya itu,
“Qia mau capcay sama tempe mendoan dan ayam pepes. Semalam ayam pepesnya sudah dibuat dan sekarang tinggal dipanggang” jawab Tiara menjelaskan menu makan pagi ini sesuai request sang putri.
“Kamu mengajarkan Qiana memasak?” tanya Arzan yang sejak beberapa menit yang lalu sudah melihat saat Tiara memberikan arahan pada putrinya sebelum mengerjakan tugasnya.
Sebelum mulai memasak, Tiara terlebih dahulu memberi tahu putri sambungnya itu wawasan dan pengetahuan tentang resep dan bumbu masakan. Mengenalkan bahan-bahan masakan, agar putrinya tahu bagaimana proses memasak itu berjalan.
“Iya Mas, maaf bukan bermaksud untuk menjadikan Qia juru masak, tetapi sebagai pengenalan sejak usia dini untuk melatih berbagai macam keterampilan dan kecerdasannya, salah satunya melalui proses memasak ini” Jelas Tiara perlahan, dia takut Arzan salah paham dengan maksudnya mengajak dan melibatkan Qiana memasak pagi ini.
“Kenapa harus minta maaf, sayang. Bagus, dia memang harus dibiasakan dengan hal yang memang akan menjadi salah satu tugasnya kelak” jawab Arzan, hatinya bahagia mendengar penjelasan Tiara, ternyata istrinya itu sudah menyiapkan pendidikan putrinya terutama tentang keterampilan yang memang sebaiknya dimiliki oleh seorang perempuan.
__ADS_1
“Alhamdulillah jika seperti itu Mas, aku senang” balas Tiara dengan senyum mengembang di bibirnya membuat Arzan yang melihat senyum manis Tiara dengan ujung matanya semakin gemas dibuatnya,
“Sepertinya aku sudah tidak bisa menahan diri, dia begitu menggemaskan” batin Arzan, dia semakin mengeratkan pelukannya sambil mengecup bahu Tiara yang tertutup jilbab dan gamis rumahan.
“Kamu tahu tidak Mas?” tanya Tiara terhenti karena mendengar jawaban cepat Arzan,
“Tidak” jawabnya cepat, membuat Tiara mendelikkan matanya dan lagi-lagi dia kebablasan menengok ke kanan dimana wajah suaminya berada begitu dekat dengan wajahnya.
Kali ini Arzan tidak mau kehilangan peluang, dia pun menengokan kepalanya ke kiri hingga akhirnya bibir mereka pun saling bertemu.
Cup…..
“Mas” Tiara menahan napasnya,
“Kamu yang nyium lho sayang” balas Arzan dengan senyum menyeringai,
“Mas sih, main jawab aja. Aku kan belum selesai” elak Tiara merajuk,
“Kalau begitu ayo kita lanjutkan” ajak Arzan dengan wajah tetap menengok ke arah Tiara,
“Lanjutkan apa?” tanya Tiara yang tidak mengerti maksud ucapan suaminya itu,
“Ishhh, bukan itu” desis Tiara kesal dengan jawaban suaminya yang sudah mengarah ke pembahasan dua satu plus olus, wajahnya semakin merona karena ulah suaminya yang tiba-tiba menciumnya.
“Hahaha…..” Arzan tergelak melihat istrinya yang kesal karena ulahnya,
“Apa sayang?” Arzan kembali serius menanggapi obrolan Tiara,
“Aku mau tanya, kamu tahu enggak kalau mengajak dan melibatkan anak dalam kegiatan memasak itu akan membantu perkembangannya?” tanya Tiara menuntaskan pertanyaannya yang sempat terjeda,
“Oya? Apa saja manfaatnya coba?” Arzan mendengarkan Tiara dengan seksama, dia ingin tahu sejauh apa pengetahuan istrinya tentang hal itu.
“Hal pertama yang dipelajari anak Ketika memasuki dapur dan memasak adalah adalah soal disiplin, dalam hal ini disiplin waktu. Anak-anak akan mengerti bahwa dalam memasak itu ada proses, tidak sekali jadi. Bahan-bahan yang dimasak membutuhkan waktu untuk matang, dan Ketika matang baru dicampur dengan bahan-bahan lain.
Tidak boleh terlalu cepat, tidak boleh terlambat, karena akan berakibat pada hasil masakan. Dan disinilah disiplin itu berguna” Tiara sudah selesai menyiapkan bumbu-bumbu yang akan digunakannya untuk memasak,
__ADS_1
“Masuk akal juga” Arzan menanggapi sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Hal itu terasa oleh Tiara karena saat ini kepala suaminya itu masiih bertengger gagah di bahunya,
“Mas, lepas dong sekarang aku mau menumis bumbunya. Susah geraknya kalau begini” pinta Tiara dengan nada memelas, dari tadi dia sudah sangat kesulitan bergerak, selain karena jantungnya yang berdebar kencang dia pun takut kebablasan seperti tadi saat mencium Arzan. Dengan berat hati Arzan pun melepaskan lilitan tangannya dari perut Tiara.
“Gimana Qia dia merespon baik?” Arzan melanjutkan obrolannya dengan Tiara, dia duduk di kursi mini bar yang ada di dapur itu. Arzan menyangga dagunya dengan tangan kanan sambal terus mengamati setiap gerak-gerik istrinya,y
“Ini Mas, minumlah” Tiara menyodorkan secangkir teh yang sudah dia buat khusus untuk suaminya.
“Apa ini?” Arzan mengambil cangkir itu dan menghirup aromanya pelan,
“Itu teh kamomil Mas, aku sengaja minta bi Asih agar menyediakan teh itu di dapur. Teh Kamomil baik untuk mengurangi rasa Lelah dan stress dan juga membantu kita agar lebih rileks setelah banyak ,, aktivitas yang -d nijalani.
“Hati-hati mas, masih panas” Tiara Kembali menyodorkan sepiring kecil donat hasil buatannya pagi ini.
“Apa ini? Tanya Arzan lagi,
“itu donat ubi ungu Mas, aku bikin adonannya tadi habis shalat subuh dan baru digoreng sekarang. Hati-hati masih panas” jelas Tiara,
Tidak lupa dia mengingatkan sang suami untuk berhati-hati saat menikmati donat karena baru beberapa menit yang lalu diangkat dari penggorengan.
“Qia sangat antusias mas, tadi aja aku jelaskan resep tempe mendoan dia bersemangat untuk mengerjakannya sendiri. Sekarang kemana mereka ya?” Tiara Kembali mencari keberadaan anak sambung dan pengasuhnya,
“Baguslah kalau anak itu menyukainya” Arzan menyeruput teh yang disajikan istrinya, matanya beberapa detik terpejam merasakan hangatnya teh kamomil itu mengalir di kerongkongannya. Sementara Tiara dia pun melanjutkan kegiatan memasaknya,
“Kegiatan memasak juga dapat melatih keterampilan motorik anak mas. Jika anak harus mengaduk dan menuangkan makanan, itu artinya dia sedang melatih motorik halusnya. Ketika Qia mencampur bahan-bahan makanan aku juga mengingatkannya tentang perbandingan yang merupakan konsep dalam ilmu matematika. Sekarang Qia tahu satu sendok garam, satu mangkuk tepung, satu liter air dan lain sebagainya. Melalui perbandingan bahan-bahan itu Qia belajar berhitung dan mengasah kecerdasan otaknya”
“Mas…” Tiara menghentikan gerakannya yang sedang menuang masakannya ke atas piring saji. Dia mengerjap saat tangan Arzan Kembali menggamit pinggangnya,
“ Terima kasih sayang” Arzan mengambil alat masang yang ada di tangan Tiara dan menaruhnya sembarang. Dia membalikkan tubuh sang istri hingga kini mereka saling berhadapan.
“Terima kasih sudah menjadi mommy yang tepat untuk Qiana. Aku yakin dia akan menjadi anak yang sangat beruntung karena memiliki ibu seperti kamu" ucap Arzan dengan tatapan hangat pada Tiara,
Cup.....Arzan mengecup kening Tiara dalam, diusapnya peluh yang membasahi hidung Tiara. Dia kembali menatap wajah istrinya, kali ini dengan tatapan penuh damba.
Arzan semakin mendekatkan wajahnya, pipi dan hidung Tiara semakin memerah. Tapi fokus Arzan adalah bibir merah muda yang sejak tadi sudah bicara banyak itu.
__ADS_1
Arzan semakin mengikis jarak di antara mereka hingga menempellah bibirnya di bibir merah muda yang seolah menjadi magnet untuknya. Rindunya sudah meluap ingin kembali menikmati bibir merah muda itu, tapi.....
"Daddy ....."