
Weekend yang sangat indah untuk sepasang pengantin yang sudah tidak baru lagi. Setelah puas menumpahkan semua rasa yang membuncah di hatinya dengan interaksi fisik yang melelahkan namun nikmat, hadirlah dua wajah dengan berbeda ekspresi dari keduanya.
Jika Arzan saat ini sudah segar dengan wajah yang berseri-seri sehingga membuat ketampanannya meningkat berkali lipat sesudah membersihkan diri selepas untuk pertama kalinya kembali meraup kenikmatan karena bertahun-tahun berpuasa, berbeda dengan Tiara yang masih terbaring tak berdaya di bawah selimut tebal setelah dihujam bertubi-tubi oleh suaminya.
Tidak segan-segan, Arzan sampai mengulangnya dua kali di pagi itu. Padahal ini adalah pengalaman pertama untuk Tiara namun dengan kepiawaannya membangunkan hasrat sang istri melalui sentuhan-sentuhan yang memabukan dan bisikan-bisikan cintanya membuat Tiara tidak berdaya jika harus menolak, karena sejujurnya diapun sangat menikmati.
Kini Tiara tertidur begitu lelap sampai tidak menyadari jika suaminya telah beranjak dari sampingnya.
Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Arzan dan Tiara bahkan melewatkan sarapan paginya. Sebelum membawa Tiara ke kamar saat sedang memasak tadi pagi, Arzan meminta Ana untuk menjaga Qiana agar tidak mengganggu Tiara yang sedang beristirahat karena alasan sakit.
Dan ternyata modusnya berhasil. Kini dia benar-benar sudah menjadikan Tiara sebagai miliknya seutuhnya tanpa gangguan dari sispapun sehingga dirinya leluasa melancarkan aksinya.
Tok...tok...tok....
Arzan beranjak dari depan cermin setelah merapikan rambutnya, dia menuju pintu saat terdengar ketukan di pintu kamarnya.
"Maaf Tuan, saya mau mengantarkan ini" Bi Asih, ART yang sudah lama mengabdi di keluarga El-Malik datang dengan membawa nampan yang berisi makanan lengkap dengan dessert dan jus sesuai pesanan Arzan melalui intercom yang berada di kamarnya.
Dia sengaja meminta ARTnya untuk membawakan makan siang lebih cepat, dia tahu tadi pagi sang istri sudah sarapan tapi karena perhelatan pagi ini pasti membuatnya kehabisan energi.
Bi Asih menarik kedua sudut bibirnya, bahagia dengan perubahan tuan mudanya. Dia yakin jika saat ini tuan mudanya itu sidah menemukan kebahagiaannya dengan wanita yang tepat.
"Sayang..., sayang bangun...." bisik Arzan tepat di telinga Tiara, dia menyingkirkan rambut panjang istrinya karena menutupi hampir seluruh wajahnya.
Tak ada pergerakan sesikit pun dari Tiara, padahal sudah berkali-kali Arzan memanggilnya dengan panggilan mesra, tapi sungguh gadis yang sudah bukan perawan lagi itu sama sekali tidak terganggu dengan bisikan suaminya.
Arzan tidak kehabisan akal untuk membangunkan istrinya, walaupun dia tahu jika Tiara pasti sangat lelah tetapi Arzan lebih khawatir dengan kondisi tubuh Tiara yang terlihat lemas dengan wajah yang begitu lelah.
Arzan naik ke atas tempat tidur, tangan kirinya mengangkat kepala Tiara ke atas pangkuannya, sementara tangan kanannya memainkan rambut panjang yang istri yang begitu lebat dan hitam. Arzan menghujani wajah Tiara dengan ciuman, kening, kedua matanya, hidung, pipi, dagu dan berakhir di bibir dengan sedikit lumayan halus.
"Eummh....." berhasil, cara yang Arzan lakukan ampuh dan membuat Tiara mengerjapkan matanya.
Tiara membuka matanya, laki-laki tampan dengan rambut masih setengah basah tersenyum manis tepat di depan matanya. Sungguh pemandangan yang sangat indah membuat mata seakan enggan beralih ingin tetap menatapnya, Tiara sungguh sangat terpesona.
Melihat sang istri yang tidak bereaksi apapun selain memandanginya sesaat setelah membuka mata membuat Arzan terkekeh. Dari caranya memandang Arzan tahu sang istri sangat memujanya.
__ADS_1
"Ya Allah, mimpi apa ini. Apakah aku sungguh tidak mampu menahan perasaanku lagi sampai-sampai aku memimpikannya begitu intim denganku?" Tiara membatin, dia masih tidak sadar jika dirinya kini sudah berada di alam nyata.
"Sudah puas menatapku?" pertanyaan Arzan sontak membuat mata Tiara yang dipejamkannya beberapa saat lalu kembali terbuka lebar. Merasa jika suara itu bukan dalam mimpinya, terasa sangat nyata.
"Tuan, ini beneran anda?" Tiara membulatkan matanya, dia melihat ke sekeliling, meraba kepalanya dan sontak.....
"Aarrggh........." Tiara berteriak dan mendorong dada Arzan menjauh membuat laki-laki itu mengernyit heran. Tiara memegang selimut yang menutupi tubuhnya erat saat menyadari jika tidak ada sehelai pun baju yang dipakainya.
"Sayang kamu kenapa?" Arzan bertanya dengan wajah herannya,
Tiara bengong, dia lupa dengan apa yang telah terjadi beberapa jam yang lalu antara dirinya dengan Arzan. Dia masih mengira semuanya hanyalah mimpi, hingga baru tersadar saat Arzan memanggilnya sayang.
"Astaghfirullah...." ucap Tiara sambil mengusap wajahnya, dia pun menyembunyikan wajahnya di balik selimut karena malu, dia benar-benar lupa jika hubungannya dengan suaminya saat ini sudah naik beberapa level.
"Kamu kenapa sayang? pake memanggil aku dengan sebutan itu lagi heumm?" Arzan membetulkan posisinya setelah terjengkang karena dorongan Tiara di dadanya yang cukup keras, dia meraih selimut yang menutup seluruh tubuh istrinya hingga hanya ujung rambut yang tampak dari luar.
"Mas...maafkan aku, aku...." ucap Tiara dengan wajah memohon, baru saja dia akan menjelaskan apa yang dipikirkannya pada Arzan namun suaminya itu langsung membungkamnya dengan kecupan yang tiba-tiba dilayangkan tepat di bibirnya,
"Kenapa? kamu lupa dengan apa yang terjadi antara kita? merasa bermimpi?" Arzan bertanya dengan senyum menyeringai di bibirnya, dalam hati dia tergelak, merasa lucu dengan tingkah istrinya. Bagaimana bisa gadis yang sudah dinikahinya sejak beberapa bulan yang lalu namun baru diperawaninya beberapa jam yang lalu itu bisa melupakan momen indah mereka yang baru terjadi beberapa jam yang lalu.
"Maaf Mas, aku benar-benar lupa dan mengira jika itu semua hanyalah mimpi" jelas Tiara dengan menampilkan wajah nyengirnya karena merasa malu dengan dirinya sendiri,
"Hahaha....." tawa Arzan akhirnya pecah, dia benar-benar gemas dengan tingkah istrinya itu,
"Mas..... kenapa malah ketawa?" rajuk Tiara manja sambil memukul pelan dada suaminya yang kini telah mendekapnya kembali ke dalam pelukannya,
"Maaf sayang, maaf. Habis kamu lucu, bagaimana bisa kamu lupa dengan hal indah yang kita lakukan beberapa jam yang lalu" ucap Arzan dengan tawa yang masih tersisa, Tiara hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang suaminya.
"Aku mau mandi mas, kamu curang kamu sudah mandi dan sudah wangi seperti ini. Kenapa aku tidak dibangunin?" cerocos Tiara yang merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan suaminya,
"Kamu kelihatan lelap sekali, aku tidak tega jika harus membangunkanmu. Lagian ini baru jam sebelas, jadi aku biarkan kamu istirahat. Kamu pasti capek kan sayang" balas Arzan diakhiri dengan kecupan hangat di puncak kepala Tiara yang ada dalam dekapannya.
"Hah jam sebelas? Qia, Qia belum makan mas" Tiara hendak beranjak saat mengetahui waktu sudah jam sebelas siang, dia ingat Qiana yang pasti belum makan"
"Ssttttt...." Arzan meraih kembali tubuh Tiara, mencegahnya untuk beranjak.
__ADS_1
"Qia sudah diurus oleh Ana, sekarang lebih baik kamu mandi lalu kita makan" Arzan menunjuk ke arah meja yang berada depan sofa di kamar mereka, terlihat dua piring nasi dengan lauk pauk sudah tersedia di sana.
"Iya Mas, aku mau mandi" Tiara pun beranjak dari tempat tidur, memegang erat selimut yang membungkus tubuhnya. Dia mengedarkan matanya mencari baju yang entah dilempar kemana oleh suaminya.
"Mas bajuku dimana?" tanya Tiara,
"Entahlah, sini biar aku gendong kamu ke kamar mandi. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu berendam" ucap Arzan, dia turun dari tempat tidur dan memutarinya menuju sisi dimana Tiara duduk dengan tubuh yang dibungkus selimut tebal,
"Gak usah mas, aku bisa jalan sendiri" tolak Tiara halus, dia masih tidak punya cukup keberanian untuk digendong oleh suaminya.
"Sudahlah jangan malu, lagian aku juga sudah melihat semua yang ada di tubuhmu dan semua itu adalah milik aku. Sekarang kamu pasti masih capek" jelas Arzan dengan senyum penuh arti,
"Iya mas, aku capek sekali. Badanku pegel-pegel gini" Tiara pun meringis saat merasakan bagian inti tubuhnya terasa perih.
"Sakit?" Tiara mengangguk,
"Maaf, aku terlalu bersemangat" ucap Arzan merasa bersalah, dan hanya dibalas dengan senyuman manis oleh Tiara.
Walau pun seluruh tubuhnya terasa sakit namun dia bahagia akhirnya bisa menyerahkan hal berharga dalam hidupnya, kehormatannya kepada pasangan halalnya dengan sukarela.
Arzan memangku Tiara dan menurunkannya pelan ke dalam bathtub yang sudah diisi dengan air hangat. Membiarkan Tiara melepas lelah dengan berendam di dalam bathub beberapa saat, dia bahkan membantu sang istri menggosok badannya dan memandikannya penuh kelembutan. Walaupun Tiara sempat menolak namun Arzan mengabaikannya.
Arzan kembali memangku Tiara yang sudah berbalut handuk, mendudukkannya di kursi tinggi yang ada di ruang ganti baju dan memilihkannya pakaian yang cocok dipakai Tiara saat ini sesuai seleranya.
Setelah selesai dengan sesi memakai baju, Arzan lalu memangku Tiara dan membawanya untuk duduk di depan meja Rias. Dia membuka rambut sang istri yang berbalut handuk, kemudian menyisirnya dan mengeringkannya.
Tidak lupa Arzan membantu Tiara mengoleskan krim di wajahnya dan menyerahkan bedak untuk disapukan tipis oleh Tiara ke wajahnya. Tidak lupa sapuan liptin menjadi sentuhan terakhir yang dilakukan Tiara untuk membuat wajahnya lebih segar. Mereka saling memandang lewat pantulan cermin, tak lupa saling melempar senyum.
Ritual memandikan, memakaikan baju dan membantu sang istri bersolek sudah selesai. Adzan dzuhur pun berkumandang. Mereka memutuskan untuk melaksanakan shalat dzuhur berjamaah. Untuk pertama kalinya Arzan menjadi imam shalat sang istri setelah sekian bulan mereka berumah tangga.
Uluran tangan Tiara yang mencium punggung tangan Arzan dengan takzim yang dibalas dengan kecupan lembut di kening Tiara menjadi ritual akhir pasca shalat dzuhur berjamaah.
Kini mereka berdua sudah duduk di sofa menghadapi hidangan makan siang. Arzan tidak membiarkan Tiara melakukannya sendiri, dia meraih piring milik Tiara dan menyuapinya. Sesekali Arzan pun menyuapkan nasi ke mulutnya dengan sendok yang sama dengan yang digunakan untuk menyuapi Tiara.
Tidak banyak yang Tiara katakan, dia membiarkan semua hal yang dilakukan Arzan terhadap dirinya. Sungguh, Tiara sangat menikmati semua perlakuan manis Arzan padanya. Tidak menyangka jika Arzan memiliki sisi lain yang begitu hangat.
__ADS_1