Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Kabar Pagi


__ADS_3

Arzan mengeratkan rahangnya, melihat beberapa foto yang dibawa Arga dari orang suruhannya. Dia semakin yakin jika perubahan Qiana adalah karena ulah Mikha yang sudah memberikan pengaruh negatif pada putrinya itu.


"Huuuhh.....seharusnya aku tahu kalau anak itu sudah bukan gadis kecil imut seperti dulu" Arzan membuang nafas kasar, melempar foto-foto yang dibawa Arga ke atas meja dengan kesal lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.


Setelah memastikan Tiara lelap dalam tidurnya dia pun keluar dari kamar untuk menemui Arga yang mengiriminya pesan jika dia sudah berada di ruang tamu rumahnya. Arga adalah satu-satunya orang yang mempunyai akses ke dalam rumahnya. Dia datang bersama Bayu, dokter yang biasa menangani urusan kesehatan keluarganya menggantikan ayahnya yang telah pensiun.


"Sorry Bay jika waktu istirahatmu jadi terganggu" Arzan menatap sekilas dokter muda yang baru kembali itu dari pendidikan spesialisnya di Amerika. Dia menelepon Arga untuk memintanya mengantar ke rumah Arzan karena dia memang belum mengetahui alamat rumah baru tuan mudanya itu.


"Tidak apa-apa Tuan, saya senang bisa membantu anda" jawabnya sopan, bagi Bayu keluarga Arzan adalah prioritasnya. Berkat kebaikan Arzan untuk keluarganya sudah sangat banyak. Dirinya bisa bersekolah hingga lulus menjadi dokter dan melanjutkan ke luar negeri adalah karena jasa Arzan. Saat ini dia percaya menggantikan sang ayah menjadi direktur rumah sakit yang merupakan bagian dari El-Malik Grup.


"Darimana kamu mendapatkan semua ini?" Arzan beralih pada Arga yang membawa foto-foto itu, asistennya itu memang selalu bisa diandalkan. Padahal baru beberapa menit yang lalu dirinya mengirimi asistennya itu pesan untuk menyelidiki Mikha setelah mendengar semua penjelasan istrinya.


"Orang suruhan saya yang mendapatkannya Tuan, dia meretas beberapa cctv yang ada di lingkungan sekolah Nona" jelas Arga, sejak dulu kerjanya memang selalu cepat dan tepat sasaran. Tidak heran jika dia menjadi orang berpengaruh kedua di El-Malik Grup setelah Arzan.


Arzan menarik nafas dalam, dia tidak habis pikir dengan Mikha yang lebih memilih jalan salah untuk mendekatinya. Tidak menyangka gadis imut yang sangat disayanginya bahkan sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu malah memilih menjadi musuhnya dibanding keluarganya.


Arzan sudah menyuruh Mikha untuk datang baik-baik mendekati Qiana sebagai keponakannya. Dia pun meminta agar memperlakukan Tiara dengan baik karena walau bagaimanapun Tiara adalah istrinya. Dia sudah menjadi wanita pilihan untuk menjadi ibu sambung daru putrinya itu.


Arzan masih menyayangi Mikha sebagai sepupu almarhumah Mitha, dia bukannya tidak mampu bertindak tegas saat mengetahui gadis itu berusaha menggodanya, tetapi demi menghargai mendiang almarhumah istrinya Arzan berharap gadis itu kembali menjadi gadis imut menggemaskan dan dapat bersahabat dengan Tiara tetapi ternyata gadis itu memilih jalannya sendiri dan kali ini Arzan tidak akan membiarkannya terus mengusik ketentraman keluarganya.


"Gue mau lo bereskan dia Ga, jangan sampai dia lebih nekad lagi" seru Arzan pada Arga yang menjawab dengan anggukan kepalanya mantap,


"Lalu bagaimana dengan nona Qiana?" Arga mengetahui jika Qiana malam ini menginap di rumah orang tuanya Arzan, sopir yang mengantar jemput Qiana memberinya laporan semuanya.


"Qiana biar gue yang urus, sekarang biarkan saja dia tinggal bersama mami" jawab Arzan,


Waktu sudah menunjukan jam tiga pagi, Arzan tampak sudah menguap.


"Tuan, sepertinya sudah waktunya anda beristirahat" Bayu angkat bicara,


"Baiklah, aku akan kembali ke kamar. Kalian tidur saja di sini. Ada dua kamar di bawah yang kosong" sahut Arzan sambil berdiri bersiap menuju kamarnya, dijawab dengan anggukan kepala oleh Arga.


"Selamat istirahat Tuan" Bayu turut berdiri dan sedikit menganggukan kepalanya saat Arzan akan berlalu.

__ADS_1


Malam yang panjang akan segera berakhir namun mata Arzan baru saja akan terpejam. Dia berbaring di samping Tiara dan meraih tubuh mungil itu untuk didekapnya. Arzan pun lelap dengan memeluk istrinya.


☘️☘️☘️


Lantunan suara adzan subuh menggema alam raya, menjadi alarm untuk Tiara yang mulai mengerjapkan matanya. Tangan kekar melingkar erat di tubuhnya, dia pun menyadari jika dirinya tidur masih berbantalkan lengan kiri sang suami persis seperti semalam saat dirinya menjelang tidur.


Perlahan Tiara beranjak, pelan-pelan dirinya melepaskan diri dari pelukan sang suami. Tiara tidak ingin Arzan tiba-tiba terbangun, dia tahu jika suaminya pasti sangat lelah karena semalam tidur sudah sangat larut.


Selesai membersihkan diri dan bersiap memakai mukena untuk melaksanakan shalat subuh Tiara mencoba membangunkan suaminya.


"Mas, adzan subuh sudah lewat. Mau shalat berjamaah?" Tiara menggoyangkan tubuh suaminya beberapa kali diiringi dengan ucapan yang sama, barulah setelah ketiga kalinya mengucapkan kalimat itu Arzan pun seketika membuka mata dengan wajah kagetnya,


"Astaghfirullah...sayang aku kesiangan" ucap Arzan dengan mata yang masih belum terbuka sempurna,


"Mau shalat berjama'ah di rumah?" tanya Tiara dia menyodorkan segelas air putih hangat kepada suaminya seperti biasa.


"Iya sayang, tunggu aku" Arzan pun turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk berwudhu,


Tiara melepas mukenanya, dia bersiap untuk turun. Memulai harinya dengan berada di dapur selepas tadarus beberapa ayat.


"Sayang, kamu mau ke bawah?" tanya Arzan yang menghentikan sejenak bacaan al-Qur'annya karena melihat Tiara yang akan keluar dari kamar dengan pakaian tidur dan tanpa jilbab.


"Iya Mas, aku mau menyiapkan sarapan" jawab Tiara melepaskan kembali handle pintu yang sudah dipegangnya.


"Di bawah ada Arga dan Bayu, semalam mereka menginap di sini" Arzan memberi tahu keberadaan dua sahabatnya di rumahnya,


"Oya....kalau begitu aku ganti baju dulu" Tiara memutar arah dan kembali ke ruang pakaian untuk berganti baju dan berjilbab terlebih dahulu.


Sarapan pagi ini terasa berbeda bagu Tiara, walaupun semalam suaminya sudah memastikan jika dia akan menyelesaikan urusan Qiana tapi tetap saja hatinya tidak tenang. Selepas subuh dia sudah menelepon mami Ratna untuk menanyakan kabar Qiana, mami Ratna pun mengabari jika Qiana baik-baik saja dan makan dengan baik semalam walaupun mami Ratna menyadari jika ada perubahan di mood cucunya namun dia tidak ingin membuat menantu kesayangannya itu khawatir jadi mami tidak berbicara apa-apa perihal itu.


Namun tetap saja dalam hati kecil Tiara masih belum lega, kepergian Qiana untuk menginap di rumah mami sangat tidak membuat nyaman hatinya. Ketakutan dan kegelisahan kerap menerpa hati Tiara, bagaimana jika anak sambungnya itu tidak menghendakinya lagi.


"Terima kasih sudah memberi kami kesempatan untuk sarapan dan menikmati nasi goreng spesial ini nyonya muda, sudah lama saya tidak merasakan masakan Indonesia, dan nasi goreng ini enak sekali" Bayu yang baru pertama bertemu Tiara dan merasakan masakannya pagi ini berterima kasih dan memuji masakan Tiara dengan tulus.

__ADS_1


Tidak ada respon apapun dari Tiara, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Pikirannya masih berpusat pada Qiana. Sementara Arga hanya tersenyum, dalam hati dia membenarkan apa yang dikatakan Bayu. Tapi dia tidak ingin mengungkapkannya, karena tidak mau Arzan berprasangka yang bukan-bukan.


"Sepertinya ini untuk yang pertama dan terakhir kamu merasakan masakan istriku" benar saja, kekhawatiran Arga terjadi. Mode suami pencemburu dan posesif kini telah kembali.


"Maksud Tuan?" tanya Bayu heran,


"Masakan istriku hanya untuk di nikmati olehku. Anggap saja sarapan ini bonus untukmu karena semalam aku sudah mengganggu waktumu. Kalau kau ingin sarapan seperti ini lagi, menikah sana" ketus Arzan dengan wajah datarnya,


Arga memberi kode pada Bayu untuk tidak bicara lagi, jika sudah urusan dengan istrinya Arzan tidak akan pernah mau mengalah. Beberapa kali bahkan Arga menjadi sasaran kecemburuannya tatkala menyebut nama Tiara dalam obrolan mereka.


"Maafkan saya Tuan" akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Bayu, dia cukup faham dengan kode yang diberikan Arga.


"Sayang kenapa kamu tidak makan?" di tengah perdebatan di atas meja makan itu Arzan menoleh pada sang istri yang sejak tadi tidak bersuara, dia melihat Tiara hanya mengaduk-aduk nasi goreng di piringnya tanpa memakannya.


"Aku belum mau sarapan Mas, perutku belum menerima" jawaban Tiara menimbulkan keheranan di mata Arzan, tidak biasanya Tiara enggan sarapan. Arzan tahu istrinya itu masih memikirkan perihal Qiana.


"Sepertinya nyonya....." ucapan Bayu terjeda saat bunyi ponsel milik Arga yang tepat berada di sampingnya terdengar nyaring.


Arga segera mengangkat ponsel itu setelah melihat siapa peneleponnya dan mendapat anggukan dari Arzan untuk menerimanya.


"Apa?" pekik Arga, dia berdiri dari duduknya.


"Lakukan pencarian sekarang juga dan temukan dengan cepat!" perintah Arga pada si penelepon dengan intonasi meninggi.


Perhatian semua orang terfokus pada Arga, Tiara bahkan dengan tangan bergetar menatap Arga penuh tanya. Perasaannya semakin tidak menentu, ini pasti berhubungan dengan Qiana.


"Ada apa?" Tiara menjadi orang pertama yang tidak sabar menunggu kabar dari Arga.


"Nona Qiana tidak ada di sekolah, setelah Ana mengantarkannya ke pintu gerbang dan kembali ke ruang tunggu. Seseorang terlihat mendatangi nona dan membawa dia dengan mobilnya"


"Apa?"


Sarapan pagi yang cukup damai berubah mencekam saat kabar yang diterima Arga pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2