Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Aksi Sang Mantan


__ADS_3

Semua pekerjaannya di kantor selesai tepat saat jam menunjukkan waktunya makan siang. Tiara membereskan mejanya yang berserakan kertas-kertas, semua dokumen penting sudah dia simpan di tempat yang aman. Tiara akan menyerahkan laporan yang sudah disusunnya kepada manajernya.


"Ti, hari ini jadi berangkat bareng rombongan kan?" Danis yang masih berkutik dengan laporannya pun bertanya saat melihat Tiara sudah beres-beres,


"Iya, kenapa emangnya?" Tiara balik bertanya sambil terus melanjutkan aktivitasnya,


"Enggak, nanya aja. Siapa tahu kamu ke sana bawa kendaraan pribadi atau diantar seseorang" jawab Danis diakhiri dengan kekehan, dia pun mematikan layar komputernya setelah selesai mengirim beberapa file melalui email kepada atasannya,


"Oh begitu, aku ikut rombonganlah enggak punya kendaraan pribadi juga enggak ada yang mau nganterin" jawab Tiara dengan senyum menghiasi wajahnya,


"Oke, kalau gitu kita harus cepat selesaikan pekerjaan hari ini, bis akan berangkat jam empat sore dan kita harus sudah berkumpul di kampus jam tiga" jelas Danis yang merupakan bagian dari panitia rombongan,


"Baiklah, kalau begitu aku ke ruangan Pak Darwin dulu untuk menyerahkan laporan ini, mudah-mudahan tidak ada yang harus direvisi jadi aku bisa izin pulang setelah ini" Danis menjawab dengan acungan jempolnya, Tiara pun berjalan menuju ruang sang manajer.


"Tiara" langkah Tiara terhenti saat seseorang dari arah pantry memanggilnya.


Adrian berjalan semakin mendekat ke tempat Tiara berdiri, dia membawa secangkir kopi di tangan kanannya.


"Adrian, ada apa?" tanya Tiara datar, semenjak Adrian hadir di perusahaan yang sama dengannya Tiara berusaha menjaga jarak. Dia tahu jika sejak pertama kali Adrian bergabung dengan kelompok magangnya di perusahaan ini diam-diam Adrian selalu mencuri-curi pandang terhadapnya.

__ADS_1


Tiara tidak ingin ada spekulasi yang tidak nyaman tentang dirinya menyebar di kantor. Cukup teman-teman magangnya saja yang tahu jika antara dirinya dan Adrian pernah terjalin hubungan cinta dan sudah lama berakhir.


Bukan waktu yang sebentar jalinan kasih antara Tiara dan Adrian. Sejak awal kuliah Tiara sudah mengenal Adrian sebagai sosok laki-laki yang baik dan perhatian. Kebersamaan mereka di beberapa event kampus membuat Tiara dan Adrian sering dipertemukan.


Hingga akhirnya suatu hari Adrian secara terang-terangan menyatakan cintanya pada gadis itu. Tiara yang belum pernah pacaran bingung harus seperti apa menjalin hubungan dengan lawan jenis. Pernah waktu SMA dia dekat dengan teman laki-laki hingga temannya itu menyatakan cinta juga, namun Tiara menolaknya dengan dalih belum mau pacaran dan hubungan mereka pun berakhir dengan kembali menjadi teman.


Atas bujukan teman-temannya Tiara pun menerima Adrian. Dua tahun lebih Tiara dan Adrian menjalin hubungan dengan status kekasih. Selama itu Tiara mengenal Adrian sebagai laki-laki yang baik. Tidak pernah sekalipun Adrian melukai Tiara atau berbuat sesuatu yang merusak harga diri Tiara, dia sangat menjaga dirinya dan memperlakukan Tiara dengan sangat baik. Mereka sama-sama fokus belajar, saling mendukung dan selalu berhasil menjadi yang terbaik di kampus.


Namun karakter aslinya Adrian keluar saat Tiara sedang terpuruk karena keadaan keluarganya. Sang ayah yang menjadi bahan berita di banyak media karena kasus yang menjeratnya membuat Adrian perlahan menjauh dan meninggalkannya tanpa ada kata usai untuk hubungan mereka. Adrian Bahkan bukan hanya Adrian yang menjauhinya, semua teman-temannya pun menjaga jarak setelah titel anak koruptor melekat di diri Tiara.


Menurut kabar yang Tiara terima dari salah satu teman Adrian, katanya dia malu jika harus terus bersama Tiara. Tiara mengerti itu dan memilih mengabaikannya, namun yang paling menyakitkan bagi Tiara ternyata Adrian sudah dekat dengan wanita lain bahkan sejak masih bersama Tiara.


Merasa hanya dimanfaatkan oleh Adrian, Tiara pun memilih untuk tidak peduli dan tidak ingin lagi memikirkan tentang urusan cintanya. Dia ingin fokus pada perbaikan hidupnya dan keluarganya. Bekerja untuk menghasilkan uang demi menyelesaikan kuliahnya dan segera mendapat pekerjaan yang layak untuk kembali mengangkat derajat keluarganya adalah visi hidup Tiara saat itu.


Kehidupan yang cukup selama ini tidak membuatnya manja, sang ibu mendidiknya dengan baik untuk tetap bersahaja selama ini dan ternyata itu berhasil, terlihat di saat seperti ini. Tiara tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, mandiri dan bersahaja. Keadaan sulit yang saat ini dihadapinya tidak lantas membuatnya putus asa dan menyerah. Sebagai anak sulung dia menyadari harus memiliki bahu yang lebih kuat dibanding kedua adiknya.


Tiara tidak menyangka, ternyata pekerjaan itu mengantarkannya pada pertemuan dengan seorang gadis cilik yang begitu lucu dan menyenangkan. Dan Tiara pun tidak menduga jika pertemuan dengan gadis itu pun menjadi jalan untuk dirinya menjadi istri dari seorang Arzan Ravindra Malik, CEO dari El-Malik Group yang terkenal dengan kerajaan bisnisnya.


Walupun pernikahannya dengan duda anak satu itu sangat jauh dari ekspektasinya tapi Tiara bersyukur setidaknya saat ini dia sudah bisa hidup lebih layak dan dapat membantu perekonomian keluarganya.

__ADS_1


"Kamu berangkat ke Banten kan hari ini?" Adrian memulai pembicaraannya dengan berbasa-basi tentang kegiatan yang akan mereka lakukan bersama.


"Iya" jawab Tiara singkat,


"Aku mau mengajakmu pergi bersama, kebetulan aku membawa kendaraan pribadi" ujar Adrian dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Tiara,


Adrian memerhatikan wajah cantik yang pernah selama hampir dua tahun bersamanya itu dengan lekat. Tiara terlihat semakin memesona, penampilannya yang simpel tapi modis membuat dia terlihat semakin elegan.


"Terima kasih atas ajakannya, saya yakin kamu sudah tahu jawaban saya apa, maaf Adrian" Tiara dengan tegas menolak ajakan mantan kekasihnya itu, membuat Adrian terlihat kecewa tapi Tiara tidak peduli,


"Saya permisi harus menyerahkan dokumen ini ke ruang manajer" Tiara pun berbalik untuk melanjutkan langkahnya menuju ruang Pak Darwin, manajer di divisinya.


"Tiara...." sontak Tiara menghentikan langkahnya, dia menunggu kelanjutan ucapan Adrian untuk menghargai laki-laki itu,


"Bisakah kita kembali seperti dulu?" tanya Adrian dengan sedikit keras karena Tiara yang sudah berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri, keadaan kantor yang sepi karena jam istirahat telah tiba membuat Adrian leluasa mengatakannya.


Tiara berbalik, kembali menghadap Adrian. Dia menatap Adrian sejenak yang melihatnya penuh harap, dengan mantap Tiara menggelengkan kepalanya dengan seulas senyum di sudut bibirnya. Tiara pun berlalu dari hadapan Adrian.


"Huuhh..." Adrian mengeluarkan nafasnya kasar, dia tahu ini akan sulit. Rasa kehilangan dan penyesalan yang dirasakan Adrian saat ini terlambat dia sadari. Setelah petualangan cintanya sampai di titik jenuh, Adrian menyadari jika Tiara adalah wanita terbaik yang pernah dikenalnya, dia adalah wanita yang mampu menjaga harga dirinya sehingga Adrian pun tidak berani untuk berbuat lebih saat bersama Tiara.

__ADS_1


Awalnya Adrian berpikir Tiara terlalu kolot, hingga dia mencari kepuasan dengan wanita lain di belakang Tiara, karena untuk sekedar berpegangan tangan saja Tiara selalu menolak dan bilang tidak nyaman, namun nyatanya Adrian sadar jika wanita seperti Tiaralah yang layak untuk diperjuangkan untuk dijadikan pendamping hidup dan ibu dari anak-anaknya kelak.


"Perjuangan belum usai Adrian, bersemangatlah, saatnya menata hidup lebih baik" gumam Adrian pelan, dia menyemangati dirinya sendiri untuk tidak menyerah memperjuangkan kembali cintanya yang pernah dia sia-siakan.


__ADS_2