Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Test DNA


__ADS_3

"Tiara!" pekik Mami yang syok melihat Tiara terjatuh begitu saja. Arga yang melihat Tiara tergeletak di lantai pun segera menghampiri berniat untuk membantunya. Namun rupanya Arzan masih memiliki kesadaran, dia pun berdiri dan segera menghampiri Tiara.


"Minggir, jangan sentuh dia" ujarnya ketus, Arga pun mundur, seulas senyum terukir di bibir Arga. Bersyukur rupanya sahabat sekaligus bosnya itu masih memiliki kewarasan.


Arzan pun membawa Tiara ke ruang tindakan yang sebelumnya sudah dikondisikan Arga setelah dia menghubungi petugas rumah sakit beberapa saat lalu. Tampak seorang dokter wanita memasuki ruangan tersebut diikuti beberapa perawat, Arzan hanya melirik mereka sekilas. Dia kembali terduduk di kursi tunggu bersama mami Ratna.


"Nak..." mami Ratna menyapa, sejak tadi dia menahan diri untuk tidak bicara karena khawatir sang anak enggan menanggapinya. Tetapi setelah Arzan terlihat mulai tenang, mami pun memberanikan diri untuk bicara.


"Ya Mi" sahut Arzan singkat,


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya mami Ratna ragu,


"Entahlah Mi, aku rasanya seperti kehilangan arah. Dunia benar-benar kejam kepadaku" ucap Arzan dengan menundukkan kepalanya, terdengar kembali isak tangis tertahan sangat pilu. Hatinya benar-benar merasa hancur, semua harapan dan cintanya benar-benar terpatahkan oleh kenyataan.


Arzan mendongak, menatap kosong langit-langit ruang tunggu. Bayangan kebersamaannya dengan Mitha kembali melintas, awal pertemuan mereka hingga momen bahagia saat dirinya mendapat kejutan kehamilan sang istri tercinta, semuanya masih terrekam jelas di memori Arzan. Dia masih belum habis pikir bagaimana bisa Mitha mengkhianatinya setelah limpahan cinta dan kasih sayang yang dia berikan untuk istrinya itu.


"Permisi, Nona Tiara sudah sadar" seorang perawat datang menghampiri mereka,


"Benarkah, Alhamdulillah. Kalau begitu bolehkah kami masuk?" tanya mami yang lebih dulu merespon kabar dari perawat,

__ADS_1


"Silahkan"


Mami Ratna pun melangkah menuju ruang rawat Tiara, namun langkahnya kembali terhenti saat menyadari tidak ada pergerakan dari Arzan.


"Nak....ayo kita temui istrimu" mami mengulurkan tangannya, mengajak Arzan untuk menemui Tiara,


"Ayolah, walau bagaimana pun yang menjadi istrimu saat ini adalah Tiara. Sadarlah dan terima kenyataan. Mami tahu ini tidak mudah untukmu tapi kamu harus kuat dan bisa menghadapi semua ini. Tiara membutuhkanmu, jangan terus hidup dalam kubangan masa lalu sampai kau melupakan masa depan." ucap mami bijak, dia berusaha lebih tegar walaupun sebenarnya mami pun menjadi orang yang sangat kecewa. Ternyata menantu kesayangannya telah mengkhianati putranya.


Arzan menurut, dia berdiri dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah mami Ratna.


"Sayang, kamu sudah sadar?" mami Ratna lebih dulu menyapa, dia terlihat khawatir melihat kondisi Tiara yang sangat pucat.


"Dokter, bagaimana keadaan menantu saya?" tanya mami mengurai kekhawatirannya. Sementara Arzan hanya menatap Tiara tanpa sepatah katapun, dia bahkan terlihat menjaga jarak dari istrinya itu.


"Benarkah? Alhamdulillah....." mami Ratna berhambur memeluk Tiara, dia menciumi puncak kepala Tiara yang masih terlapisi hijabnya.


"Terima kasih Mi" jawab Tiara, bersyukur dengan kebahagiaan yang hadir diantara mereka di tengah-tengah musibah yang menimpa keluarga mereka.


"Mas...." Tiara memanggil Arzan yang sejak tadi masih berdiri di tempatnya, berbeda dengan mami Ratna yang tampak bahagia dengan kabar kehamilan menantunya itu Arzan hanya menatapnya tanpa ekspresi, bahkan saat dirinya memanggil suaminya Arzan masih bergeming di posisinya.

__ADS_1


Mami Ratna menoleh pada sang putra yang juga belum bereaksi. Dia tahu jika Arzan saat ini masih syok dengan kenyataan tentang putrinya. Kekhawatiran akan sang putri yang kecelakaan dan dalam keadaan kritis bercampur dengan rasa kecewa karena ternyata sang putri bukanlah anak kandungnya.


"Aku mau kamu melakukan tes DNA" kalimat pertama yang keluar dari mulut Arzan setelah mengetahui kabar tentang kehamilan Tiara,


Deg... seluruh tubuh tiara seakan luruh, mendengar apa yang dikatakan suaminya itu berarti suaminya itu meragukan janin milik siapa yang dikandungnya.


"Mas....!"Tiara menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya. Matanya seketika memerah dia tampak menahan air mata yang sudah tidak terbendung hingga akhirnya mengalir membasahi pipinya.


"Arzan Ravindra!" pekik mami Ratna yang sudah tidak tahan dengan sikap Arzan yang sangat keterlaluan kali ini.


"Lakukanlah, aku butuh bukti agar kembali tidak menjadi manusia bodoh" ucap Arzan dengan wajah datar, dia membalikan tubuhnya tampak akan meninggalkan ruangan tempat Tiara terbaring.


"Mas" panggil Tiara menghentikan langkah Arzan yang sudah memegang handle pintu.


"Aku akan melakukannya, tapi setelahnya jangan pernah mencari aku" air mata Tiara tak hentinya mengalir. Apa yang diminta Arzan berarti suaminya itu tidak percaya dan menganggap dirinya rendah.


Cukup rasanya, sudah cukup bagi Tiara untuk terus diam dan memaklumi. Kali ini harga dirinya benar-benar hancur. Laki-laki yang sudah menghalalkannya pada ternyata meragukannya. Tidak ada jawaban dari Arzan, dia melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu.


"Sayang....." mami Ratna meraih tubuh lemah Tiara yang kini sudah terduduk di tempat tidur.

__ADS_1


"Aku akan melakukannya Mi" ucap Tiara mengusap air mata di pipinya dan turun untuk melakukan apa yang diinginkan suaminya.


"Yaa Rabb, kenapa sesakit ini? Padahal sejak awal aku sadar betul, jika pernikahan kami bermula karena saling butuh. Tanpa Ada cinta dan kasih sayang yang benar-benar utuh. Tapi serendah itukah aku dimatanya?" bathin Tiara dengan air mata yang kembali membasahi pipi.


__ADS_2