Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Hanya Kamu


__ADS_3

Arzan seketika menegakkan tubuhnya, namun dia terkaget saat menyadari jika wajah Mikha begitu dekat dengannya.


"Apa yang kamu lakukan, Mikha?" sentak Arzan refleks dia menggeser tubuhnya dan segera berdiri,


"Aku hanya ....." ucapan Mikha terhenti saat melihat Arzan berjalan menjauh dari tempat duduknya, dia menghampiri Tiara yang masih duduk di sofa.


Diraihnya tangan Tiara, sontak Tiara pun langsung berdiri dan berjalan terhuyung karena Arzan menarik dan membawanya tanpa aba-aba.


"Lu, urus semuanya. Gue mau pergi dengan istri gue" titahnya pada Arga, tanpa menunggu jawaban dari asisten sekaligus sahabatnya itu Arzan keluar dari ruangannya dengan menggandeng Tiara.


"Mas...Mas Arzan mau kemana? kenapa aku ditinggalin? Mas...." teriakan Mikha tidak lantas menghentikan langkah Arzan, dia mendengar namun mengabaikannya. Hatinya kesal dengan sikap sepupu mantan istrinya itu yang terlihat agresif kepadanya.


Awalnya Arzan menganggap Mikha masih sama seperti dulu, gadis kecil yang imut, manja dan menggemaskan. Dulu dia cukup dekat dengan gadis yang masih berseragam abu-abu itu. Tanpa sungkan Arzan bahkan sering menunjukan kasih sayangnya pada gadis itu karena Mitha juga sangat menyayanginya. Dia selalu menuruti apa yang diinginkan Mikha, bagi Mitha dan Arzan Mikha adalah adik kecil kesayangan mereka.


Hal itu pula yang membuat Arzan hari ini menuruti keinginan Mikha untuk membatalkan semua agenda kerjanya. Arzan menyetujuinya begitu saja, dia bahkan lupa jika dari deretan agendanya hari ini dirinya sudah berencana untuk mendatangi kampus Tiara di hari penting istrinya itu.


Saat gadis itu datang Arzan sempat tertegun karena gaya dan penampilan gadis yang sudah tumbuh dewasa itu nyaris mirip dengan Mitha, almarhumah istrinya. Tetapi Arzan cukup tau diri untuk tidak larut dalam pikiran dan perasaannya, walau bagaimanapun Arzan sadar jika dirinya kini sudah mempunyai istri yang dicintainya.


"Mas, Mbak Mikha memanggil....." Tiara akhirnya bersuara karena melihat Arzan yang abai,


Arzan menghentikan langkahnya sebelum memasuki lift, dia menoleh ke arah Tiara yang satu langkah berada di belakangnya.


"Maafkan aku" ucapnya dengan wajah yang menunjukkan jika dirinya merasa bersalah.


"Maaf untuk apa Mas?" tanya Tiara tidak faham,


"Maaf jika aku sudah mengabaikanmu" ucap Arzan sedih, dia kembali melangkahkan kakinya dengan tetap menggenggam tangan Tiara, dan dengan terburu-buru Tiara pun berusaha mengimbangi langkah kaki suaminya itu.


Sesampainya di halaman kantor, sopir sudah menunggu, dia sudah membukakan pintu kedua mobil untuk tuannya, namun Arzan segera menutupnya. Dia membuka pintu depan dan menyuruh Tiara untuk masuk. Dia berbincang dengan sopir dan tak lama kemudian memutari mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Mas, kita mau kemana? aku harus pulang, Qia pasti menunggu di rumah. Hari ini dia pulang cepat" Tiara memberanikan diri bertanya, sejak dalam lift dia enggan bertanya karena melihat Arzan yang sepertinya suasana hatinya sedang tidak nyaman.

__ADS_1


"Lupakan itu sayang, kita akan menghabiskan waktu berdua hari ini" jawab Arzan dengan ekspresi datar. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan segera meninggalkan kantornya.


Tidak ada percakapan apapun selama perjalanan. Dua puluh menit berlalu, Arzan memarkirkan mobilnya di depan sebuah hotel mewah. Tiara melihat sekitarnya, dua orang petugas keamanan sudah siap menyambut kedatangan Arzan. Dia membukakan pintu mobil Arzan dan juga dirinya.


"Turunlah, kita sudah sampai" Arzan pun turun dan diikuti Tiara, dia membiarkan petugas keamanan itu memarkirkan mobilnya.


Arzan kembali menggandeng Tiara dan berjalan memasuki lobby hotel. Di pintu masuk lobby terlihat jelas logo perusahaan El-Malik Grup. Tiara bisa menyimpulkan jika hotel yang mereka datangi adalah salah satu aset milik El-Malik Grup.


"Selamat datang Tuan, Nona....semuanya sudah kami siapkan. Silahkan!" seorang wanita cantik dengan perawakan tinggi langsing dan berpakaian formal menyambut kedatangan mereka. Tiara tersenyum dan sedikit menganggukan kepalanya menanggapi sambutan perempuan yang sepertinya penanggungjawab hotel itu. Sementara Arzan hanya menoleh sekilas dengan wajah datarnya.


Sebuah kamar berukuran besar yang begitu mewah dan fasilitas lengkap berada di lantai paling atas hotel itu di masuki Tiara dan Arzan. Sesampainya di kamar Arzan baru melepaskan genggaman tangannya dari Tiara. Dia melepas jas yang dipakainya dan menggantungnya di tempatnya.


Tiara tidak berani melakukan apapun, dia masih berdiri dengan pandangan yang masih memindai setiap sudut ruangan itu. Karena merasa tidak ada pergerakan apapun dari Tiara Arzan menoleh, dia membuka dasi dan menyingsingkan lengan kemeja sampai sikut serta membuka dua kancing teratasnya.


"Kemarilah" Arzan yang sudah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruangan itu meminta Tiara untuk mendekat, menepuk ruang kosong di sampingnya meminta Tiara agar duduk.


Tiara pun mengikuti perintah suaminya, dia duduk sedikit mengambil jarak dengan suaminya. Dan tiba-tiba, Arzan menjatuhkan kepalanya tepat di pangkuan istrinya.


Tiba-tiba tubuh Tiara menegang, apa yang dilakukan suaminya membuat tubuhnya seketika memanas.


"Mas..."


"Maafkan aku" Arzan menyela Tiara yang akan berbicara,


"Mas....."


"Entah kenapa kedatangan Mikha membuat aku melupakan hari pentingmu, maafkan aku" entah kali ke berapa ucapan permohonan maaf itu terucap dari mulut Arzan. Dia semakin erat memeluk pinggang istrinya, berbicara dengan suara yang kurang jelas karena wajahnya semakin disembunyikan di perut Tiara, namun masih terdengar oleh Tiara cukup jelas.


"Tidak apa-apa Mas, mungkin itu karena kalian sudah terlalu lama tidak bertemu" jawab Tiara dengan lembut, dia mengusap kepala suaminya namun segera dilepaskan karena takut Arzan kurang berkenan.


"Kamu tidak marah?" Arzan mendongakkan kepalanya,

__ADS_1


"Aku marah dan aku kecewa, hari ini adalah hari yang sangat penting untukku. Awalnya aku tidak punya ekspektasi apa-apa padamu Mas, aku selalu merasa tidak layak untuk mendapatkannya. Tapi karena menerima perlakuan istimewa darimu tadi pagi aku pun berharap lebih. Berharap mendapat kejutan setelah keluar dari ruang menegangkan itu, aku mendapati senyumanmu namun realita membuatku kecewa" Tiara menarik nafasnya dalam, dia mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan nada bicara yang lembut.


"Aku marah setelah mengetahui ternyata alasan kamu tidak datang karena ada dia, ternyata dia lebih penting dariku. Saat ini aku kembali ditampar kenyataan untuk sadar siapa diriku ini. Apalagi melihat kedekatan kalian dengan posisi duduk seperti itu menurutku sangatlah intim padahal dia bukan mahrammu. Kali ini hatiku seperti tercubit, sakit tapi aku berusaha mengelaknya. Dengan kamu memperkenalkan aku sebagai istrimu aku harus merasa cukup."


Arzan merubah posisinya, duduk menyamping menghadap istrinya yang terlihat tetap tenang dengan sesekali terlihat ulasan senyum di bibirnya. Dia menatap wanita yang telah memenuhi hatinya itu dengan tatapan cinta yang berpadu dengan rasa bersalah.


"Sebesar apapun kekecewaanku, sebesar apapun kemarahanku dan sesakit apapun hatiku karenamu, aku akan berusaha meredamnya karena tidak ingin membuatmu terbebani oleh perilakuku. Selama aku mampu untuk bertahan aku akan berusaha, namun jika sudah waktunya untuk....."


Cup.....Arzan menghentikan ucapan Tiara yang dia sudah tahu arahnya kemana dan Arzan tidak ingin mendengarnya.


"Mas....aku belum selesai. Aku...."


Cup....kembali Arzan melancarkan serangan keduanya, kali ini dia tidak hanya mengecup bibir yang sedari tadi bicara dan memantik hasratnya. Arzan menyesap dalam, membuat Tiara terbuai hingga perlahan dia pun membalasnya. Mereka tenggelam dalam aktivitas yang membuat tubuh mereka mulai memanas.


"Huhh...." Tiara membuang nafasnya yang masih tersenggal karena hampir tak mampu mengimbangi permainan suaminya. Sementara Arzan dia menatap lekat wajah Tiara yang kian memerah.


"Aku mencintaimu, sangat...." ucap Arzan lembut, tangannya mengusap pipi yang semakin memerah karena ungkapan cintanya.


"Maaf kalau aku sempat mengabaikanmu. Maaf jika aku tidak peka dengan apa yang dilakukan Mikha. Aku tersadar saat Arga menunjukan perhatiannya padamu dengan terang-terangan di hadapanku. Saat itu aku mulai bisa membaca situasi" Arzan menggeser duduknya agar lebih nyaman menjadi sejajar berdampingan dengan Tiara dan bersandar ke sandaran sofa. Dia pun menarik tubuh Tiara ke dalam pelukannya.


"Arga tidak pernah memasuki ruanganku jika sedang ada tamu tanpa aku suruh. Tapi tadi dia masuk begitu saja dengan alasan tidak masuk akal, membawa berkas yang sebenarnya dia pun tahu jika semua berkas itu sudah aku setujui. Aku mengikuti permainannya dan berpura-pura memeriksa kembali berkas-berkas itu. Aku tidak menyadari saat Mikha berada di sampingku dan begitu dekat denganku. Aku hanya fokus mengamati berkas-berkas yang sudah aku tanda tangani itu. Saat Arga bertanya padamu barulah aku sadar jika dirinya ingin menghentikan kebersamaanku dengan Mikha, bahkan aku kaget saat menyadari jika dia begitu dekat denganku. Arga tahu jika aku tidak suka ada laki-laki yang memberikan perhatian padamu, dan dia melakukannya di hadapanku untuk mengalihkan perhatianku"


"Saat aku mengetahui apa yang dilakukan Mikha aku sadar jika aku sudah melupakan hari pentingmu karena gadis itu. Maafkan aku, percayalah aku hanya menganggapnya gadis kecil seperti dulu. Entah ada motif apa dia bersikap seperti itu padaku tadi. Aku minta maaf karena aku terlalu mengabaikan sesuatu yang dapat mengganggu ketenangan rumah tangga kita" Arzan mengecup puncak kepala Tiara penuh kasih, Tiara tersenyum dalam dekapan suaminya. Hatinya menghangat mendengar semua perkataan suaminya yang begitu menentramkan.


"Terima kasih Mas" ucap Tiara, dia pun memeluk erat pinggang suaminya menyembunyikan wajah bersemu malunya di dada bidang sang suami.


"Aku yang harusnya berterima kasih, terima kasih sayang untuk semua kesabaran dan kelembutanmu. Aku semakin mencintaimu, mulai sekarang ungkapkan perasaanmu, marah, kecewa, sedih, bahagia...ungkapnya semuanya padaku sayang. Aku ingin menjadi suami yang yang bisa diandalkan, bukankah laki-laki yang baik adalah laki-laki yang paling baik memperlakukan istrinya?" Arzan menarik dagu Tiara.


Mereka beradu tatap, saling mengungkapkan rasa cinta yang mendalam melalui tatapannya.


"Aku mencintaimu...." ungkapan cinta kembali Arzan ucapkan dengan lembut, dan diangguki Tiara dengan wajah yang semakin merona.

__ADS_1


"Dan aku juga menginginkanmu....." tanpa aba-aba Arzan memangku tubuh mungil Tiara dan langsung membawanya ke atas tempat tidur king size yang ada di kamar VVIP itu.


__ADS_2