Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Sumber Bahagia


__ADS_3

Bayi tampan putra mahkota El-Malik kini tengah berada dalam dekapan sang nenek. Mami Ratna tak berhenti mengusap ujung matanya yang terus berair karena haru bahagia. Memiliki cucu laki-laki yang merupakan darah daging putranya sendiri membuatnya sangat bangga.


Mami Ratna larut dalam tangis bahagia sambil terus mendekap sang bayi yang baru saja dibersihkan dan di adzan oleh daddynya. Di sampingnya Ibu Tiara dan kedua adik laki-lakinya membersamai.


Mami Ratna pun tak luput dari ingatan tentang almarhum suaminya.


"Papi, ini cucu kita Pi. Cucu kita yang kedua, papi pasti bahagia kalau melihatnya. Tidak terasa aku sudah tua Pi, aku sudah punya dua cucu. Papi lihat kan aku bahagia? semoga di sana papi pun merasakan kebahagiaan yang sama denganku Pi. Pi, aku rindu" batin mami Ratna terus bermonolog, dia berbicara dalam hati sambil terus memandangi wajah sang cucu yang hampir sembilan puluh sembilan persen menjiplak sang putra.


"Alhamdulillah ya Bu, cucu kita selamat, sehat dan sangat tampan" Ibu nya Tiara mengurai keharuan, dia mengusap bahu mami Ratna yang terlihat bahagia sekaligus haru dengan kehadiran cucu laki-lakinya itu.


"Iya Jeng...saya sangat bahagia" ujarnya, sekilas menatap ibunya Tiara dengan mata yang masih berkaca-kaca namun bibir yak lupa tersenyum.


"Alhamdulillah" mereka pun bergiliran menggendong bayi tampan itu. Ungkapan syukur tak henti terucap dari keduanya atas keselamatan anak dan cucu mereka.


Sementara di kamar rawat, Tiara sudah dipindahkan ke tempat itu. Fasilitas mewah sudah langsung terlihat jelas saat baru memasuki kamar rawatnya. Atas permintaan Arzan, kamar rawat disulap seperti di rumah. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya, memastikan sang istri dan putranya nyaman dan aman.


"Mas, aku haus..." Tiara masih terbaring lemah setelah bersih-bersih dan dipindahkan ke ruang rawat.


"Iya sayang, sebentar" Arzan meraih gelas yang berisi air putih di atas meja kecil yang ada di samping tempat tidur Tiara, sejak tadi Arzan tak beranjak sedikitpun dari sisi istrinya. Dia pun membantu Tiara untuk bangun dan duduk dengan bersandar pada tubuhnya.


"Aku mau duduk saja Mas" ucap Tiara setelah hampir setengah gelas air diteguknya.


"Tidak sakit?" tanya Arzan khawatir, dia memegangi bahu sang istri,


"Tidak, aku ingin duduk bersandar. Bagaimana dengan anak kita Mas, tadi aku hanya melihatnya sebentar.


Saat di ruang bersalin, dokter langsung memberi arahan kepada Tiara agar melakukan inisiasi dini pada sang bayi. Tiara sangat takjub dengan makhluk kecil berbibir mungil yang mengerjap-ngerjap mencari sumber kehidupan di atas dadanya.


Tidak hanya Tiara yang tak kuasa menahan air mata bahagia saat melihat makhluk kecil yang selama sembilan bulan ini berada dalam perutnya, yang hanya bisa dia rasakan kini benar-benar nyata di depan mata. Arzan pun tak kalah haru menyaksikan keajaiban kuasa Allah tepat di hadapannya.


"Anak kita sedang bersama nenek-neneknya, tadi aku sudah mengadzaninya saat kamu sedang membersihkan diri" jelas Arzan, dia kembali mencium punggung tangan sang istri yang tidak dilepaskan dari genggamannya. Duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat tidur Tiara.


"Terima kasih sayang" entah sudah berapa kali Arzan mengucapkan kalimat itu, rasanya ribuan terima kasih pun tidak akan cukup mengimbangi perjuangan dan pengorbanan istrinya.

__ADS_1


"Sama-sama, Mas. Terima kasih juga sudah ada di sampingku dan membersamaiku melalui semua ini" ucap Tiara tak kalah tulus, dia sungguh bersyukur di saat seperti ini dibersamai orang-orang yang dicintai dan mencintainya.


"Tentu sayang, aku akan selalu bersamamu. Kalian adalah prioritas utamaku, kalian adalah sumber bahagiaku. Aku bersyukur memiliki kalian" Arzan berdiri dari duduknya, mencium bibir Tiara sekilas dengan tatapan lembut penuh cinta


"Mas Qiana dimana?" saat seperti ini Tiara teringat dengan putri sulungnya, dia ingat jika saat mereka pergi ke rumah sakit putrinya itu sedang terlelap.


"Dia masih di rumah, Insya Allah habis subuh Arga akan menjemputnya dan membawanya ke sini" jawab Arzan membuat Tiara bernafas lega.


Waktu pun menunjukkan pukul empat pagi, beberapa saat lagi adzan subuh akan segera menjelang. Kedua anak adam itu melanjutkan obrolan ringan sambil menunggu waktu shalat subuh tiba.


Tepat pukul tujuh pagi dokter sudah melakukan kunjungan ke ruang rawat Tiara bersama suster yang menggendong bayi mungil yang sudah tercium wangi karena sudah dibersihkan.


"Waktunya menyusui Nyonya, silahkan" perawat mengulurkan bayi mungil yang tampak mengerjap-erjapkan matanya ke hadapan Tiara.


Tatapan takjub kembali Tiara hadirkan, dia tidak menyangka akan diamanahi putra yang begitu tampan. Matanya, hidungnya, bibirnya bahkan dagunya sungguh duplikasi dari suaminya.


"Masya Allah, tabarakallah.... Bismillah" ucap Tiara saat kedua tangannya akan menerima bayi mungil itu dari tangan perawat. Bayi itu pun menyusu dengan begitu lahap. Tiara sudah faham bagaimana cara menyusui yang baik. Kelas Ibu Hamil persalinan dan menyusui Tiara ikuti untuk menambah keilmuan dan kesiapannya menjadi seorang ibu.


"Iya sayang.." Arzan merangkul Tiara yang bersiap akan menyusui. Dia membantu merapikan jilbab istrinya yang terulur panjang menutup dadanya.


"Assalamu'alaikum Mommy, Daddy dan adek bayi" suara Qiana terdengar cempreng memasuki ruang tempat Tiara dirawat. Di belakangnya terlihat Mami Ratna dan ibunya Tiara mengekori sang princes.


"Wa'alaikumsalam" kompak yang berada di ruangan itu menjawab, Arzan dan Tiara tersenyum bahagia menyambut kedatangan si sulung. Tidak lama Arga pun datang berbarengan dengan Rianti yang sengaja datang pagi sekali untuk menyapa sahabatnya sebelum bertugas.


Tiara senang karena melihat sahabatnya kembali ceria. Kedekatannya dengan Arga semakin terlihat, tentu saja Tiara turut bahagia melihat sahabatnya kembali seperti dulu.


Seluruh anggota keluarga berkumpul di kamar rawat bak kamar hotel itu. Tante Ratih yang merupakan adik dari Mami Ratna pun datang berkunjung setelah semalam mendapat berita istri keponakan tersayangnya akan melahirkan. Dia ditemani putri satu-satunya Hasna yang kini sudah menggandeng pasangan barunya. Arzan turut senang karena akhirnya sepupunya itu move on dari kegagalan pernikahannya.


"Kak, kenalin ini Ghifar, teman aku" tak sungkan Hasna pun mengenalkan Ghifar pada seluruh anggota keluarganya.


"Arzan, aku kakak sepupunya Hasna" balas Arzan ramah, dia pun memperkenalkan Tiara dengan tak lepas menunjukan keromantisannya bersama sang istri.


Para orang tua duduk di sofa, bersama para sahabat. Mereka semua mengobrol penuh tawa dan canda. Terasa sekali kebersamaan dan kekeluargaan di antara mereka. Tiara duduk di tempat tidur dengan memangku si kecil, bersandar pada tubuh sang suami yang merangkulnya hangat. Tidak lupa si sulung Qiana, duduk di samping mommynya sambil terus menggoda bayi yang mulai terlelap itu karena gemas.

__ADS_1


"Mommy, jangan biarin adek bayinya tidur, aku masih mau main sama dia" rengek Qiana yang tak tela saat melihat sang bayi perlahan kembali menutup matanya setelah kenyang menyusu.


"Sekarang adek bayinya sudah kenyang sayang, jadi dia kembali tidur. Nanti kalauapar dia pasti akan bangun lagi. Oya, ngomong-ngomong putri sholehahnya mommy ini mau dipanggil apa sama adek bayi?" Tiara mengalihkan pembicaraannya dengan sang putri.


"Eummh..." Qiana pun tampak berpikir dengan telunjuk yang diketuk-ketukan ke pelipis membuat Arzan tergelak melihat tingkah lucu sang putri.


"Aku mau dipanggil kakak aja mommy, biar aku cepat besar" ujarnya membuat Tiara dan Arzan tertawa.


"Baiklah kalau begitu, sekarang kakak coba ajarin adek bayi ngaji yang benar ya" Pinta Tiara yang mendapat anggukan setuju dari Qiana.


Alunan ta'awudz pun dilantunkan oleh Qiana memulai membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk diperdengarkan pada sang adik.


Arzan menyaksikan interaksi istri dan anaknya dengan tatapan bahagia. Matanya bahkan berkaca-kaca sungguh dia tidak bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya saat ini selain syukur tak terkira atas nikmat yang sudah Allah berikan untuknya.


Kehadiran Tiara dan putra kecilnya telah memberi warna baru dalam hidupnya. Arzan semakin memahami, bahwa keluarga adalah segalanya. Dia kini faham jika hidupnya terasa semakin berarti ketika dilalui bersama keluarga dan memberikan kebahagiaan untuk mereka.


Arzan menatap Qiana lembut, tidak peduli siapa ayah biologis dari putri kecilnya itu yang terpenting untuk Arzan sekarang dia adalah putrinya. Dia sudah mengurusnya sejak lahir dan mencurahkan semua kasih sayangnya untuk gadis kecil itu.


Pandangannya pun beralih pada Tiara, wanita yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya namun mampu membuat dunianya berubah. Dari Tiara dia belajar tentang sebuah ketulusan dan keikhlasan. Bagaimana menjalani hidup dengan ikhlas, menjalani setiap takdir yang sudah menjadi ketentuan sang Pencipta dan yakin bahwa skenarionya adalah yang terbaik untuk kita.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, terima kasih" ucapan syukur terus terucap dalam hatinya.


"Ga..." tiba-tiba suara Arzan mengalihkan fokus semua orang,


"Ya Boss" Arga langsung menyahut dan mendekati sang boss,


"Hubungi bagian keuangan di perusahaan, sampaikan padanya agar mengalokasikan anggaran untuk bonus semua karyawan baik di pusat maupun cabang senilai gaji mereka" perintah sang CEO dengan nada tegas tak terbantahkan,


"Siap Boss" jawab Arga sigap,


"Mas ..." Tiara memalingkan wajahnya ke arah sang suami,


"Iya sayang, aku ingin berbagi kebahagiaanku ini dengan semua karyawanku. Aku sungguh bahagia memiliki kalian, kalian adalah sumber bahagiaku." jelas Arzan lembut, Tiara pun mengangguk setuju dengan niat mulia suaminya diiringi senyum haru dan lafal syukur di lisannya.

__ADS_1


__ADS_2