
"Benar kata pepatah, kadang kamu harus menghilang supaya kamu mengetahui seberapa penting hadirmu untuknya" gumam Tiara pelan, dari balik jendela ruang tempat Rianti bertugas dia melihat betapa menyedihkannya Arzan.
Dia tampak berjalan menuju ruang rawat Qiana, diikuti Arga yang tak pernah jauh dari bossnya itu. Penampilannya begitu acak-acakan bukan seperti Arzan yang biasanya. Entah apa yang dilakukan lelaki itu beberapa hari ini hingga terlihat begitu kacau.
"Huft..." Tiara membuang nafasnya kasar.
Dia baru saja menemui Qiana secara diam-diam. Gadis kecil yang sebentar lagi akan naik kelas itu saat ini masih harus terbaring di rumah sakit dan belum bisa melanjutkan sekolah padahal di sekolah sedang berlangsung penilaian akhir tahun.
Hasil pemeriksaan dokter kondisi Qiana sudah cukup stabil namun masih harus mendapat pengawasan yang intens sehingga diputuskan jika gadis kecil itu belum bisa di bawa pulang namun sudah dibolehkan untuk sesekali melakukan aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan di ruang rawat rumah sakit.
Tiara mendapat telepon dari mami Ratna jika mulai hari ini Qiana akan mengikuti penilaian akhir tahun yang dilaksanakan dari jarak jauh dengan bantuan guru yang sengaja diminta datang ke rumah sakit dan mami meminta agar Tiara mau membersamai karena khawatir akan kondisinya.
Sampai menjelang makan siang Tiara berada di ruang rawat Qiana, menemaninya belajar, menyuapinya makan dan menungguinya beristirahat hingga dia terlelap dan barulah Tiara bisa beranjak.
Selama beberapa jam berada di ruangan itu hati Tiara sungguh tidak karuan karena khawatir jika Arzan akan datang tiba-tiba dan bertemu dengannya. Tiara masih belum siap untuk bertemu dengan suaminya itu.
Tiara pun meminta mami Ratna untuk tidak memberitahu suaminya perihal kedatangannya ke rumah sakit dan mami Ratna pun setuju. Dia mendukung apapun keputusan Tiara, sejak awal Tiara memang sudah banyak berkorban untuk anak dan cucunya. Mami Ratna tidak mau memaksakan kehendaknya pada Tiara, beliau pun menyerahkan sepenuhnya keputusan yang akan diambil Tiara perihal rumah tangganya dengan Arzan.
☘️☘️☘️
Arzan tiba di ruang rawat inap Qiana lepas makan siang bersama kliennya di restoran yang tidak jauh dari rumah sakit tempat Qiana dirawat, dia sengaja melakukannya agar segera bisa menemui gadis kecil itu.
Sudah tiga hari Arzan tidak berkunjung karena urusan pekerjaaan dan mencari Tiara. Arga sang asisten yang biasanya selalu gerak cepat kali ini diragukan kemampuannya oleh Arzan, terbukti sudah lebih dari sepuluh hari tidak ada informasi memuaskan yang Arga berikan. Dia turun sendiri mencari keberadaan Tiara yang sampai saat ini tidak terdeteksi olehnya.
__ADS_1
Arzan sudah menemui keluarga Tiara, dia juga mengunjungi ayah mertuanya. Bersilaturahmi menjadi dalih kedatangannya, tentu saja disambut gembira oleh keluarga Tiara yang juga menyampaikan jika Tiara sudah lama tidak datang karena katanya sibuk di kampus. Dari sana Arzan menyimpulkan jika keluarga Tiara tidak mengetahui perihal yang terjadi dalam rumah tangganya.
Lagi-lagi rasa bersalah dan penyesalan menyelimuti hati Arzan. Di usia yang terbilang masih muda Tiara sudah cukup dewasa dalam menghadapi masalah rumah tangga. Ingatan Arzan pun mundur ke masa lampau, di saat dirinya baru mengenal Tiara dan mengetahui latar belakang dan keadaannya saat itu. Sungguh wanita yang tangguh. Penyesalan semakin menyeruak, dirinya terlambat menyadari betapa istimewanya istrinya itu.
Arzan mengedarkan pandangannya. Tidak ada siapapun di ruangan tempat dirawat Qiana, selain gadis kecil itu yang sedang tertidur begitu lelapnya.
Arzan memandangi wajah tenang Qiana, perasaannya menghangat tatkala dia mengingat betapa berharganya gadis kecil itu. Dia sungguh sangat menyayanginya, persetan dengan kebenaran jika ternyata dirinya bukanlah ayah kandungnya. Dia menyadari kasih sayang yang dimilikinya untuk Qiana jauh lebih besar dibanding rasa kecewanya.
"Kemana semua orang?" gumamnya pelan, dia menoleh saat pintu kamar mandi terbuka. Tampak mami keluar dari sana dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Kamu sudah datang? Syukurlah, sejak tadi Qiana menanyakanmu, mami telepon ponsel kamu tidak aktif. Arga bilang ternyata kamu lagi meeting" Mami Ratna menjelaskan keadaan Qiana pada sang putra yang selalu menanyakannya.
"Iya Mi, aku ada pertemuan penting" jawab Arzan tanpa menoleh, tatapannya kembali fokus pada Qiana yang tampang tenang dalam tidurnya.
"Eumhh...mommy..." Qiana bergumam dan memanggil mommy dengan mata yang masih terpejam,
"Sayang, kamu sudah bangun? ini daddy Nak" Arzan berdiri dari duduknya, sudah hampir satu jam dia berada di sana menunggui Qiana. Arzan memilih berada di rumah sakit itu untuk menjaga putrinya, sementara urusan kantor diserahkan pada Arga.
Daddy, mommy dimana?" tanya Qiana dengan suara serak khas bangun tidur dengan mata yang belum terbuka sempurna. Dia merengek mencari keberadaan mommy yang entah siapa yang dimaksud Qiana. Arzan tidak mau salah pengertian antara Mitha atau Tiara.
Mengingat nama Mitha seketika membuat hatinya berdenyut. Bayang-bayang pengkhianatan kembali menghampirinya. Namun dia berusaha menahan diri di hadapan putrinya. Perasaan bersalah pun tak kalah menghujam hatinya tatkala mengingat bagaimana dia memperlakukan Tiara. Wanita yang tidak tahu apa-apa perihal masa lalunya, namun penuh ketulusan mencintai dan menyayangi dirinya dan putrinya namun masih dia diragukan.
"Mommy Tiara Dad, Mommy aku mommy Tiara. Aku enggak mau mommy yang lain." pekik Qiana dengan suara yang seperti yang mau menangis,
__ADS_1
"Eeh....sayang, tenang sayang. Mommy Tiara...." Arzan menghentikan ucapannya karena bingung mau menjawab apa.
"Aku mau bareng mommy Tiara lagi Dad...." sahut Qiana merajuk,
"Tapi sayang daddy belum menemukan mommy Tiara, Daddy janji akan segera menemukannya dan membawanya ke sini. Kita pulang bersama ke rumah ya" Arzan memeluk tubuh mungil putrinya, dia berbicara dengan tangis tertahan. Mengusap lembut kepala sang putri penuh kasih.
Qiana yang tampak masih mengantuk perlahan kembali terlelap setelah mendapat usapan lembut dari daddynya, sepertinya dia mengigau tadi.
Arzan pun bernafas lega melihat sang putri kembali terlelap. Dia bertekad untuk melupakan masa lalu yang selama ini membelenggunya, termasuk kenyataan yang sangat menyakitinya tentang Qiana yang bukan putrinya. Dia akan berusaha menerima keadaan ini sebagai takdir yang sudah dengan baik dirancang Tuhan untuknya.
Mencari Tiara dan meminta maaf padanya itulah rencananya. Arzan ingin kembali hidup tenang dan bahagia dengan keluarga kecilnya. Dia sungguh-sungguh menyesal telah bersikap bodoh selama ini, terlalu dibutakan dengan kenangan masa lalu yang telah usai dan ternyata berbuah pahit.
Kepergian Tiara dari sisinya membuatnya menyadari betapa pentingnya kehadiran wanita itu dalam hidupnya. Arzan sangat menyesal sudah menyia-nyiakannya.
"Sayang kamu dimana? maafkan aku dan pulanglah. Aku mencintaimu dan sangat membutuhkanmu dalam hidupku" Arzan berkata lirih, dia mengusap sudut mata yang tiba-tiba memanas dan basah.
Tanpa diketahui Arzan, Tiara menguping apa yang dikatakan suaminya itu. Pintu ruang rawat yang tidak tertutup sempurna pasca kepergian mami Ratna membuat Tiara dengan jelas mendengar obrolan ayah dan anak itu.
Tiara kembali ke ruangan itu karena mendapat telepon dari mami Ratna jika mami meninggalkan Qiana karena ada kepentingan. Tiara lupa jika tadi dia pun melihat Arzan mengunjungi Qiana. Ternyata kasih sayang dan kepeduliannya pada gadis kecil itu mengalahkan niatnya yang masih ingin menghindar dari Arzan.
"Jika aku memilih menyerah, percayalah aku pernah mati-matian untuk bertahan namun dikalahkan oleh keadaan, Mas" batin Tiara.
Dia bimbang. Tiara diam di antara dua pilihan. Menyerah lalu pergi, atau bertahan dan berpikir seberapa kuat lagi dia mampu berdiri.
__ADS_1