Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Tiga Hari Serasa Tiga Minggu


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Arzan memasuki kamarnya dengan bernafas lega. Sang putri akhirnya bersedia makan dan tidur setelah bervideo call dengan Tiara cukup lama.


Dengan penuh kesabaran Tiara menemani Qiana makan dan shalat isya, selang satu jam setelahnya Qiana pun memejamkan matanya dengan dengkuran halus yang mulai terdengar.


Arzan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk yang sudah lebih dari lima tahun dia tempati seorang diri, sesekali Qiana memang suka meminta tidur bersamanya tapi Arzan selalu memindahkannya kala sang putri sudah terlelap.


Arzan mengusap lembut tempat tidur yang penuh kenangan itu, kepergian sang istri saat berjuang melahirkan putrinya membuat Arzan berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadikan Mitha sebagai penghuni hatinya selamanya.


Namun saat ini pikiran dan hati Arzan seolah berperang antara mempertahankan apa yang sudah ditekadkannya dengan apa yang akhir-akhir ini hatinya rasakan.


Arzan duduk bersandar pada headboard tempat tidurnya. Tangannya masih mengusap tempat kosong di sampingnya, bayangan Mitha kembali menghampiri, kenangan indah mereka berdua masih terekam jelas di benaknya.


Arzan memejamkan matanya, tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipi. Di saat sendiri mengenang semua tentang kebersamaannya dengan Mitha adalah obat untuk menyembuhkan kerinduannya.


Arzan tidak menampik jika selama ini pun dirinya merasakan kesepian, sebagai pria normal bohong jika dirinya tidak pernah tersiksa dalam melewati malam-malamnya dengan kesendirian.


Tapi cinta dan tekadnya untuk almarhumah istrinya selalu menjadi alasan Arzan untuk bertahan. Baginya pengorbanan Mitha jauh lebih besar dari apa yang dialaminya saat ini. Tidak adil rasanya jika dirinya harus menyerah.


"Sayang, aku sudah menjaga putri kita dengan baik, semoga kamu bahagia di sana" Arzan berbicara sendiri menatap foto sang istri yang terbingkai indah di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.


Arzan memeluk erat bingkai foto itu di dadanya, matanya dia pejamkan berharap bisa segera terlelap dan bertemu dengan istrinya meskipun hanya dalam mimpi.


Malam merangkak semakin larut, kesunyian kian mencekam. Namun entah mengapa mata Arzan masih enggan terpejam dengan lelap, dia kembali membuka matanya saat suara detik jarum jam di dinding kamarnya semakin jelas terdengar di telinga.


Arzan menyimpan kembali bingkai foto yang dipeluknya itu ke atas meja. Dia beranjak berniat untuk mengambil air minum yang biasa sudah tersedia di dekat tempat tidurnya. Namun kali ini nihil, gelas itu kosong.


Sekilas Arzan menatap sofa yang biasa digunakan Tiara untuk tidur, dia pun menarik nafas panjang saat merasakan ada yang hampa dalam hatinya.


Arzan turun dari tempat tidurnya, biasanya dia tidak perlu repot-repot beranjak saat haus di waktu malam seperti ini karena Tiara sudah menyiapkan air minum di dekat tempat tidurnya, namun tidak dengan malam ini.


Deg...Arzan memegang dadanya kaget saat membuka pintu kamar Bi Asih sudah berdiri di depan pintu.


"Maaf Den" ucap Bi Asih yang merasa bersalah karena melihat Arzan begitu terkaget saat melihatnya,

__ADS_1


"Apa yang bibi lakukan di sini?" tanyanya, dengan wajah yang masih menyisakan rasa kagetnya.


"Maaf Den, bibi hanya mau mengantarkan air minum buat Aden, sebelum berangkat non Tiara meminta bibi untuk menyiapkannya sebelum Aden tidur" jelas Bi Asih menjawab pertanyaan Arzan.


"Oh, kalau begitu biar saya yang bawa. Terima kasih bi, sekarang sebaiknya bibi tidur" Arzan mengambil nampan yang berisi sebotol besar air putih dan satu gelas kosong lengkap dengan penutupnya.


"Den, gelas kosongnya biar bibi bawa ke dapur" bi Asih menunjuk satu tangan Arzan yang memegang gelas kosong, awalnya Arzan memang mau turun ke dapur untuk mengambil air minum.


"Iya bi, ini. Terima kasih ya bi, selamat istirahat" Arzan pun menyerahkan gelas kosong itu pada bi Asih,


"Selamat malam, Den. Aden juga segera istirahat ya, tidur yang nyenyak, jaga kesehatan" bi Asih yang sudah sangat lama mengabdi di keluarga El-Malik sudah sangat mengetahui bagaimana karakter anak majikannya itu.


Bi Asih bisa melihat jika beberapa hari ini tuan mudanya itu terlihat gelisah dan tidak bergairah. Bi Asih bisa membedakan jika Arzan seperti itu pasti karena sedang banyak hal yang dipikirkannya. Sayangnya bi Asih hanya bisa memperhatikan tanpa berani menanyakan apakah gerangan yang menyebabkan anak majikannya itu terlihat begitu gelisah.


"Terima kasih, Bi" ucap Arzan mengakhiri percakapan mereka di ambang pintu.


Bi Asih pun membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan Arzan yang masih berdiri melihat kepergian wanita paruh baya itu.


☘️☘️☘️


Pagi menyapa, kumandang adzan subuh terdengar merdu di telinga. Mengajak manusia untuk kembali pada kehidupannya, menyongsong hari baru diawali dengan menghadap pada Sang Pencipta agar menjalani hari dengan penuh harap dan suka cita.


Arzan mengerjapkan mata mengumpulkan kesadarannya. Memasuki kamar mandi sebelum memulai aktivitasnya.


"Rupanya kamu sudah menyiapkan segalanya" Arzan kembali mendapat kejutan saat pagi memasuki ruang ganti di kamarnya, Tiara susah menyiapkan semua keperluannya untuk dipakai selama tiga hari ke depan,


Tok...tok...tok....


Baru saja Arzan akan membuka pintu kamarnya, seseorang terdengar mengetuk pintu.


"Ada apa, An?" tanya Arzan setelah pintu terbuka lebar karena diapun memang akan keluar untuk sarapan,


"Maaf Tuan, di bawah Non Qiana kembali mogok makan dan merajuk" Ana memberitahukan keadaan pagi hari di ruang makan, Arzan pun bergegas menuruni tangga untuk menemui sang putri di ruang makan. Dan drama pagi yang akan membuat Arzan merasakan kembali pusing tujuh keliling pun dimulai.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Tiga hari berlalu, hari libur ini Arzan tidak memiliki agenda apa-apa. Dia sengaja mengosongkannya seperti sebelum kehadiran Tiara di rumahnya.


Tidak adanya Tiara di hari minggu ini membuat Arzan harus antisipasi dengan stay di rumah untuk menemani Qiana dan menuruti keinginan sang putri yang biasanya meminta untuk jalan-jalan atau sekedar bermain di taman belakang.


Kehadiran Tiara membuat Arzan leluasa dengan waktunya untuk bekerja, dia sudah tidak dipusingkan lagi harus membagi waktu antara pekerjaan dengan sang putri. Sebelumnya tidak jarang Arzan bahkan harus menunda rapat penting ketika sang putri menginginkan kehadirannya.


Arzan menjalani rutinitasnya seperti itu selama hampir lima tahun, tapi karena janjinya pada Almarhumah sang istri Arzan tidak pernah mengeluh. Dia begitu menjaga Qiana dan memastikan jika sang putri selalu menjadi prioritas utama.


Semenjak Tiara hadir dirinya sangatlah terbantu, beban yang ada di bahunya seakan berkurang banyak dan itu membuat Arzan lega. Dia pun lebih fokus saat bekerja karena yakin sang putri dalam keadaan baik dan bahagia bersama Tiara yang sudah dia gaji dengan nominal yang fantastis hingga diapun akhirnya bersedia menikahi gadis tukang cuci piring yang bekerja paruh waktu sebagai pengasuh putrinya itu atas permintaan sang putri dan maminya


Tetapi tiga hari kepergian Tiara kembali membuat dunianya berubah karena drama yang dibuat Qiana. Mulai dari tidak mau makan, susah tidur, berangkat sekolah tidak bersemangat bahkan cenderung enggan sampai drama Qiana mogok belajar di sekolah telah membuat Arzan benar-benar kewalahan, selain itu juga karena di hatinya merasakan rasa yang menurutnya masih sulit diartikan.


Arzan pun berpikir ternyata keberadaan seorang Tiara sangat berpengaruh besar dalam kehidupan keluarganya. Termasuk pikirannya yang selalu berperang ketika di hatinya merasakan ada kerinduan terhadap gadis itu, tiga hari yang telah dia lalui sungguh terasa tiga minggu tanpa kehadiran Tiara.


"Boss...." kedatangan Arga, sahabat sekaligus asistennya itu tidak disadari Arzan. Dia masih anteng dalam lamunannya, padahal Arga sudah berada di sana cukup lama.


"Tuan Arzan....." kali ini Arga memanggil dengan intonasi cukup tinggi membuat Arzan akhirnya tersadar dari lamunannya. Bukan tanpa alasan Arga melakukan itu, dia hanya jengah karena panggilan-panggilan sebelumnya tidak digubris oleh Arzan,


"Apa sih lu, bikin kaget aja pagi-pagi?" sentak Arzan sambil memercikan air ke arah Arga, yang di ambil dari kolam renang dengan tangannya. Pagi ini Arzan sedang menikmati hangatnya matahari pagi di pinggir kolam renang yang berada di belakang rumah mewahnya,


"Lu yang apaan, pagi-pagi gini sudah melamun" balas Arga tak kalah sengit, dia tahu jika sejak kepergian Tiara bossnya itu sangat kerepotan,


"Mikirin yang lagi pergi ya Boss, kalau kangen ngomong dong boss" Arga menggoda Arzan diakhiri dengan gelak tawa yang begitu puas,


"Sialan lu" Arzan kembali mengumpat sahabatnya itu sambil meninju bahunya,


"Hahahaha......masih gengsi ya Boss, pesan aku jangan lama-lama deh boss gengsinya entar doi benar-benar pergi lho. Lu mau lihat postingan di grup mahasiswa magang gak?" Arga merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel,


"Apa?" tanya Arzan penasaran. Arga pun membuka room chat yang ada di layar pipih miliknya,


"Ini!" Arga memperlihatkan sebuah foto di ponselnya yang berhasil membuat mata Arzan membulat sempurna dan wajah memerah serta tangan mengepal karena menahan amarah.

__ADS_1


__ADS_2