Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Cinta tapi Gengsi


__ADS_3

Hari yang ditunggu Tiara pun akhirnya tiba. Kamis pagi dia sudah siap dengan semua keperluannya untuk berada di Banten selama tiga hari nanti.


Sebuah koper sederhana dan tas ransel siap menemani Tiara melakukan perjalanannya. Sengaja Tiara menyiapkan semuanya sejak semalam. Pagi ini dia harus datang terlebih dahulu ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat karena besok harus sudah berada di Banten.


Arzan menggeliat saat mendengar alarm dari ponsel berbunyi. Dia menyipitkan mata melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima pagi. Alarm yang berasal dari ponsel Tiara masih terus berbunyi, membuat Arzan akhirnya memutuskan untuk bangun dan menghentikan bunyi ponsel yaang terletak di atas meja kecil di samping sofa yang masih menjadi tempat Tiara tidur sampai saat ini.


"Ckk...berisik!" umpatnya, dia mengusap layar ponsel yang langsung menyuguhkan wallpaper yang membuatnya menghangat.


Tiara menggunakan foto dirinya bersama Qiana saat mereka bermain di area bermain sebuah mall beberapa minggu yang lalu. Perasaan hangat menyeruak di dada Arzan, melihat Qiana yang memeluk Tiara dari belakang dengan senyum manis mengembang di wajah kedua wanita beda generasi itu membuatnya bahagia. Dia pun kembali menyimpan ponsel milik Tiara ke tempat semula.


Arzan melangkah menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah koper dan tas ransel berada di dekat lemari yang berisi pakaian Tiara.


"Dia mau pergi sepagi ini? bukankah sore baru dia akan berangkat?" gumamnya pelan, Arzan buru-buru memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, penasaran ingin segera mencari Tiara untuk menanyakan kepastian keberangkatannya.


Arzan keluar dari kamarnya dan dengan buru-buru menuruni tangga untuk mencari keberadaan Tiara setelah melaksanakan kewajiban subuhnya. Dapur adalah tujuannya, mengingat tempat itu selalu menjadi favorit gadis itu di kala berada di rumah.


"Mbak Tiara lama di sana?" Arzan menghentikan langkah saat mendengar suara bi Asih yang bertanya pada Tiara, dia pun berdiri di balik pintu penghubung antara ruang makan dan dapur,


"Enggak kok bi, saya hanya pergi tiga hari. Insya Allah Minggu sore sudah kembali lagi ke sini" jawab Tiara,


"Alhamdulillah, syukurlah Mbak. Saya hanya takut Non Qiana nanti kesepian ditinggal Mbak Tiara" ujar Bi Asih yang mengkhawatirkan keadaan majikan kecilnya jika Tiara pergi,


"Insya Allah enggak Bi, kan ada Mbak Ana dan Mami juga, Qia enggak akan kesepian. Bukankah sebelum ada saya juga Tiara sudah terbiasa dengan mereka?" ucap Tiara tidak mau berbesar hati,


"Iya mbak, tapi sejak Mbak Tiara berada di rumah ini Non Qia jadi lebih ceria. Bahkan sekarang dia sudah tumbuh menjadi anak yang lucu dan pengertian. Kalau dulu mah setiap mau apa-apa pasti ngamuk kalau gak langsung dituruti. Nyonya besar aja suka kewalahan. Hanya Tuan muda yang paling bisa menghentikan nangisnya non Qia. Kadang bibi suka kasihan sama Tuan, dia sampai harus bulak balik kantor rumah setiap kali Non Qia berulah" Bi Asih yang sudah menjadi asisten rumah tangga di rumah itu sejak Arzan masih kecil tahu betul bagaimana perjuangan pria itu menjadi seorang single parent,


"Alhamdulillah kalau begitu, setidaknya keberadaan saya di rumah ini tidak sia-sia" ucap Tiara mengakhiri aktivitasnya menyiapkan sarapan khusus untuk Qiana.

__ADS_1


"Bukan hanya non Qia yang berubah jadi lebih baik sejak kehadiran Mbak Tiara di rumah ini, rumah ini terasa semakin hidup. Makin hari tuan juga terlihat makin terurus, Nyonya sangat bersyukur, katanya beliau sangat beruntung Mbak Tiara menjadi ibu sambung non Qia daripada tuan mengakhiri masa lajangnya dengan perempuan-perempuan manja. Beliau pun pernah bilang semoga non Qia bisa segera punya adik biar ada temannya" bi Asih terus berceloteh sambil membantu Tiara menyiapkan semua keperluan Qiana.


Selama ini Qia hanya mau Tiara yang membuatkan menu sarapan dan bekalnya dan itu selalu Tiara lakukan. Dia pun mengatur strategi agar selama kepergiannya Qia tetap bisa menikmati masakannya.


Tiara menyiapkan beberapa bahan makanan yang siap di masak untuk persiapan keperluan Qia. Dia pun sudah memberi tahu bi Asih cara memasak dan bumbu apa saja yang dibutuhkan.


Deg......"adik?" gumam Tiara pelan, bagaimana bisa punya adik hampir dua bulan pernikahannya, dia masih saja tidur di sofa dan dia pun sadar diri untuk tidak berharap macam-macam. Arzan sudah menegaskan posisinya, dan Tiara cukup sadar diri untuk itu.


"Iya Mbak, ada apa?" tanya bi Asih yang


mendengar gumaman Tiara namun tidak jelas,


"Enggak apa-apa Bi" elak Tiara


"Dulu kan pernah ya Mbak ada temannya Nyonya yang mau jodohin putrinya dengan Tuan. Dia pernah datang ke sini beberapa kali, dan sikapnya itu manja banget. Nyonya juga kurang seneng sama dia, untunglah tuan menolak dengan tegas. Akhirnya dia pun mundur dan gak pernah datang ke rumah ini lagi"


"Oya, manja gimana bi? kenapa Nyonya gak senang?" Tiara lumayan penasaran dengan cerita bi Asih,


"Lagian sejak meninggalnya Non Mitha, bibi belum pernah melihat Tuan dekat dengan wanita manapun. Makanya pas Nyonya bilang tuan mau menikah bibi heran campur seneng. Apalagi pas tahu gadis yang akan dinikahinya adalah Mbak Tiara, bibi senang rasanya. Mbak Tiara baik, den Arga aja suka muji-muji Mbak Tiara"


"Hah, Den Arga? Mas Arga asistennya Tuan Arzan Bi? Tiara semakin penasaran dengan cerita Bi Asih, tanpa mereka ketahui jika di balik pintu seseorang tengah menguping obrolan mereka.


"Iya Mbak, den Arga adalah sahabat Tuan Arzan. Sudah sejak kecil mereka bersahabat, dia putra temannya Almarhum Tuan besar. den Arga sering menginap di sini dulu, selain den Arga ada den Nathan juga. Mereka sangat kompak dan akur, makanya Nyonya udah kayak punya tiga orang putra"


"Den Arga selalu muji-muji Mbak Tiara, cantiklah, sholehahlah, pinterlah, pekerja keras, pokoknya dia bilang wanita idamanlah. Bibi kira den Arga yang bakal nikah sama Mbak Tiara, taunya Tuan Muda. Gak apa-apalah sama aja, mereka berdua sama-sama baik dan ganteng. Walaupun den Arga lebih ramah dibanding Tuan. Tapi bibi mengerti kok sepertinya Tuan memang belum bisa melupakan masa lalunya, mudah-mudahan dengan kehadiran Mbak Tiara tuan kembali seperti dulu, hangat, penuh senyum dan selalu bahagia" pungkas bi Asih membuat Tiara tersenyum tipis mendengarnya,


"Sialan si Arga, ternyata dia menyukai istriku sampai segitunya" Arzan yang masih setia menguping pun membatin,

__ADS_1


"Bibi, saya sudah selesai, tolong sisanya bibi lanjutkan ya. Saya mau ke atas membangunkan Qia" Tiara mengelap tangannya setelah dicuci bersih, dia pun bergegas meninggalkan dapur dan naik ke lantai atas untuk membangunkan putri sambungnya itu,


Arzan yang mengetahui Tiara akan ke lantas atas segera membalikkan badan, dia menuju ruang keluarga untuk menghindar. Tidak ingin ketahuan jika dirinya dari tadi menguping obrolan Tiara dengan bi Asih.


"Lho....Arzan, tumben kamu sudah turun jam segini" Mami Ratna yang juga baru keluar kamar heran mendapati sang putra sudah berada di ruang keluarga sepagi ini, biasanya Arzan baru akan turun kalau mau sarapan dan sudah siap untuk pergi ke kantor,


"Kamu gak ke kantor hari ini?" tanya Nyonya Ratna lagi,


"Ke kantor Mi, aku ...aku...mencari sesuatu siapa tahu ada di ruangan ini, ketinggalan" Arzan tampak gugup saat ditanya sang ibu, dia menolehkan kepalanya ke kiri ke kanan tampak mencari sesuatu,


"Nyari apa?" tanya Mami Ratna penasaran,


"Eum...nyari...nyari..." Arzan berpikir keras mencari jawaban logis untuk menjelaskan keberadaannya di ruangan itu sepagi ini, hal yang sebelumnya belum pernah Arzan lakukan.


"Mencari jam tangan Mi, iya jam tangan. Aku lupa melepasnya di sini kemarin" jawab Arzan menjelaskan alasannya,


Tiara yang hendak ke lantai dua menghentikan langkahnya saat mendengar suara dari ruang tengah, dia pun berbalik arah dan menuju ke sana.


"Tuan kehilangan jam tangan?" tanya Tiara kaget, pasalnya selama ini dia tahu jika Arzan adalah orang yang sangat disiplin, meletakan sesuatu pada tempatnya apalagi menyangkut barang-barang pribadinya.


Arzan dan Nyonya Ratna menoleh bersamaan ke sumber suara, terlihat Arzan semakin gugup saat mengetahui jika Tiara berada di sana. Melihat situasi ini nyonya Ratna faham, jika sepertinya sang putra hanya mencari-cari alasan.


"Bukankah barang-barang kamu biasanya Tiara yang beresin, kamu tanya aja sama dia" Nyonya Ratna sengaja melempar umpan, berharap interaksi keduanya semakin intens.


"Tuan, jam tangan yang mana yang hilang. Nanti saya carikan" tanya Tiara cepat, perasaannya tak menentu saat mengetahui ada barang Arzan yang hilang,


"itu...itu yang kemarin saya pakai" jawab Arzan bohong,

__ADS_1


"Sebentar saya cari di kamar" Tiara berbalik arah, dia segera menaiki tangga menuju lantai atas,


"Susul sana, cinta kok gengsi" cibir nyonya Ratna pada putranya, dia tahu jika Arzan mulai menaruh hati pada Tiara. Nyonya Ratna pun berlalu meninggalkan sang putra yang masih mematung karena mendengar cibiran maminya,


__ADS_2