Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring

Terjebak Cinta Tukang Cuci Piring
Terapi


__ADS_3

Hari Senin menjelang, sejak subuh Tiara sudah disibukkan dengan rutinitas yang selama tiga hari kemarin ditinggalkan karena harus mengikuti lokakarya program magangnya. Membangunkan Qiana, menyiapkan semua perlengkapan sekolah juga sarapannya.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam tepat. Qiana sudah siap untuk pergi ke sekolah, supaya tidak terjebak macet dia harus pergi lebih pagi hari ini karena akan mengikuti kegiatan upacara bendera yang dilaksanakan setiap hari Senin di sekolahnya.


Tiara kembali meminta pengertian putri sambungnya itu karena tidak bisa mengantarnya ke sekolah. Dia harus menyiapkan semua laporan kegiatan selama tiga hari kemarin dan melaporkannya kepada atasannya di perusahaan tempatnya magang. Pukul sembilan tepat dia harus menyerahkan laporan itu.


Hari Minggu dia habiskan bersama keluarganya, Tiara tidak sempat untuk membuat laporan karena tidak ingin kehilangan momen berharga yang sangat langka yaitu berkumpul bersama ibu dan kedua adiknya.


Seharian mereka melepas rindu dengan pergi berjalan-jalan ke tempat yang biasa mereka kunjungi dulu. Semua tugas dan pekerjaannya dia kesampingkan, fokus pada kebersamaan dengan ibu dan adik-adiknya.


Setelah Tiara memberikan pengertian dengan penuh kelembutan, Qiana pun mengerti dengan keadaan ibu sambungnya itu. Dia bersedia dan tetap bersemangat pergi ke sekolah setelah sekotak bekal istimewa disiapkan Tiara untuknya.


Tiara segera kembali ke ruang makan, dia menemani mami Ratna yang belum menghabiskan sarapan paginya setelah mengantar Qiana ke depan menuju mobil yang akan mengantarkannya ke sekolah bersama Ana.


"Qia sudah pergi?" tanya mami Ratna sambil menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng buatan Tiara pagi itu, dia makan begitu lahap karena rindu dengan nasi goreng buatan menantunya.


"Sudah Mi, Alhamdulillah Qia mau mengerti kalau pagi ini aku belum biasa mengantarnya karena ada pekerjaan yang harus aku kerjakan secepatnya sebelum pergi ke kantor" jawab Tiara panjang lebar, mami Ratna hanya manggut-manggut mendengarnya,


"Arzan belum turun? tanya mami Ratna kemudian, perhatiannya beralih pada sang putra yang tak kunjung turun untuk sarapan padahal hari sudah cukup siang untuknya pergi ke kantor di hari Senin seperti ini, tidak seperti biasanya.


"Eumh....belum Mi" jawab Tiara ragu, karena dirinya memang tidak berada di kamar suaminya sejak semalam. Tiara pun belum berani memasuki kamar Arzan untuk membangunkan dan menyiapkan pakaian kerjanya karena hatinya masih tidak karuan jika harus bertemu Arzan setelah peristiwa semalam.


Semalam.....


Setelah urusan di ruang kerja selesai Tiara segera keluar diikuti suaminya. Wajahnya merah merona karena merasa malu dengan apa saja yang baru dialaminya.


Dia lebih dulu berjalan dan bersiap untuk kembali ke kamar karena waktu sudah lewat tengah malam. Tapi saat Tiara akan memasuki kamar suaminya, tiba-tiba Qiana datang dan menghampirinya.


Tiara yang baru saja akan membuka pintu kamar Arzan terkejut dengan kehadiran tuan putri yang tiba-tiba dengan wajah bantalnya.


"Mommy.." Qiana langsung berhambur ke dalam pelukan Tiara ,


"Sayang, kenapa terbangun? ini masih malam, Nak" tanya Tiara sambil mengelus kepala Qia yang sedang memeluknya erat,


"Aku nyari mommy, aku kira mommy pergi lagi, aku mau bobo sama mommy" rajuk Qiana yang semakin erat memeluknya,


"Ouh....sayang, maafin mommy. Tadi mommy ngambil dulu air minum ke bawah" ucap Tiara berbohong, sekilas Tiara menatap Arzan yang hanya melihat interaksi keduanya sejak tadi,

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang ayo kita bobo lagi ya" ajak Tiara pada putri sambungnya,


"Tapi mommy bobonya sama aku" pinta Qiana dengan manjanya, sejak kepulangannya dari Banten anak itu terus menempel tidak mau jauh dari Tiara.


"Iya, ayo mommy temani" jawab Tiara, sambil kembali melirik ke arah suaminya. Dia senang akhirnya bisa menghindar dari suaminya, peristiwa yang terjadi beberapa saat yang lalu sangat membuatnya malu jika bertemu tatap dengan Arzan.


Sementara Arzan membulatkan matanya saat mendengar Tiara mengiyakan ajakan putrinya, dia seperti tidak rela jika Tiara tidur bersama putrinya.


"Sayang, kenapa jadi manja gini heumm? biasanya juga kan tidur sendiri, Qia kan sudah besar" bujuk Arzan yang jelas-jelas tidak ingin sang istri tidur di kamar putrinya, dia mengelus kepala sang putri yang masih memeluk Tiara penuh kelembutan.


Arzan tidak sadar jika jantung Tiara saat ini kembali berdegup begitu kencang karena posisi mereka lagi-lagi sangat dekat.


"Tapi aku mau sama mommy bobonya" jawab Qiana dengan suara bergetar menahan tangis, dia memeluk Tiara semakin erat,


"Eheum" Tiara berdehem untuk menormalkan kembali perasaannya,


"Kalau begitu ayo kita bobo, yuk sayang" Tiara mengurai pelukan Qiana dan menuntun tangan Qiana,


"Tuan, saya permisi menemani anona Qiana ke kamarnya" ucap Tiara tanpa menunggu jawaban Arzan dia pun berlalu, melangkah bersama Qiana ke kamar anak itu yang berada tepat di samping kamar Arzan,


"Heumm" jawab Arzan singkat,


Arzan pun masuk ke dalam kamarnya, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, bayangan kejadian di ruang kerja kembali melintas. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya, dia mengingat bagaimana dirinya menumpahkan semua kerinduannya selama tiga hari kemarin, dia menyerang Tiara dengan ciuman memabukkan tanpa henti.


Perasaan bahagia membuncah di hatinya, rasa bahagianya melebihi kebahagiaan saat dirinya mendapat penghargaan sebagai pengusaha muda tersukses seantero negeri setelah berhasil mempertahankan kejayaan kerajaan bisnis yang ditinggalkan ayahnya secara tiba-tiba.


Di raihnya foto almarhumah sang istri yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidut dan ditatapnya,


"Sayang, maaf....sepertinya aku sudah mulai mencintainya. Rasa hatiku saat berdekatan dengannya sama seperti dulu saat aku jatuh cinta padamu. Aku tidak mampu lagi mengelak, jika aku sudah terjebak dalam ketulusan cintanya untuk putri kita. Maafkan aku sayang" ucap Arzan sendu, dia seolah sedang melakukan pengakuan dosa di hadapan almarhumah istrinya, merasa bersalah karena telah mencintai wanita lain. Arzan pun akhirnya terlelap bersama foto almarhumah istrinya yang masih berada di pelukannya.


☘️☘️☘️


"Mami aku mau mengerjakan mengerjakan laporan dulu sebelum pergi ke kantor" pamit Tiara yang sudah merapikan bekas sarapan dirinya dan Qiana,


"Iya sayang, pergilah. Mami juga sebentar lagi selesai sarapannya, hari ini mau ke rumah Tante Ratih. Dia terus saja meneror mami karena tiga hari kemarin enggak datang ke rumahnya" jawab mami Ratna memberi tahukan pada menantunya kegiatannya hari ini diakhiri kekehan,


"Baiklah mami, kalau begitu aku pamit dulu" ucap Tiara, dia berjalan ke arah tangga menuju kamar Qiana untu mengerjakan laporan yang harus diserahkannya hari ini.

__ADS_1


Grepp.....sebuah tangan kekar tiba-tiba melingkar di perutnya saat dia baru saja berdiri dan mematikan laptop setelah selesai mengerjakan tugasnya,


"Tuan ....." Tiara seketika mematung karena Arzan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Dia tidak mengetahui saat suaminya itu masuk ke dalam kamar Qiana.


"Ck....kenapa masih memanggilku dengan panggilan itu, bukankah semalam sudah aku bilang untuk mengganti panggilanmu, heumm?" tanya Arzan tepat di telinga Tiara, dia berdecak saat mendengar Tiara kembali memanggilnya dengan panggilan itu,


"Maa...maaf tu, eum...maaf" ucap Tiara gugup, tubuhnya menegang karena saat ini Arzan menjatuhkan dagunya di atas bahu Tiara, pipi mereka bahkan sudah beradu dan kedua tangan Arzan bahkan sudah melingkar sempurna di perutnya.


Setelah membersihkan diri Arzan keluar dari kamarnya masih dengan baju santai untuk mencari keberadaan Tiara. Dia tidak mendapati pakaian kantor yang biasanya sudah Tiara siapkan, itu artinya Tiara belum kembali ke kamarnya sejak semalam.


Bukan tanpa alasan Tiara tidak menyiapkan pakaian kerja Arzan, dia sungguh masih sangat malu harus bertemu dengan Arzan setelah peristiwa semalam. Tiara bahkan beberapa kali menggelengkan kepalanya saat sedang mengerjakan tugas karena bayangan peristiwa semalam di ruang kerja Arzan kembali melintas di pikirannya. Fokusnya sungguh sangat terganggu.


"Maaf? sepertinya bibirmu harus diterapi agar terbiasa mengucapkannya" Arzan membalikkan tubuh Tiara hingga mereka kini berhadapan, Tiara pun menundukkan pandangannya tak kuasa jika harus beradu tatap dengan suaminya itu.


"Lihat aku" Arzan meraih dagu Tiara dan mengangkatnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih erat memeluk pinggang Tiara,


Pandangan keduanya pun kembali bertemu, dan blusshhh.....wajah Tiara pun kembali merona.


"Panggil aku apa?" tanya Arzan lembut, tangannya beralih mengusap pipi Tiara yang sudah memanas itu,


"Mmmm.....mmmm...." gumam Tiara masih ragu,


"Panggil aku apa?" Arzan kembali bertanya kali ini terdengar lebih tegas karena Tiara yang masih tampak ragu-ragu,


"Mas.... mas Arzan" ucapnya, seiring hembusan nafas yang perlahan Tiara keluarkan agar kegugupannya sedikit menghilang.


Senyum tipis menghiasi wajah Arzan saat Tiara memanggilnya dengan panggilan itu, jempolnya sudah beralih mengusap bibir bawah Tiara yang terlihat begitu sulit mengucapkan panggilan itu.


"Sepertinya bibirmu harus benar-benar diterapi agar terbiasa..." Arzan menyeringai menatap bibir yang jejak rasanya semakin terasa di bibirnya, membuat dia ingin kembali merasakannya pagi ini.


"Tuan.....hummppp" bibir Tiara yang kembali keceplosan memanggil Arzan dengan panggilan Tuan langsung dibungkam oleh Arzan dengan bibirnya, dia benar-benar memulai sarapannya pagi ini dengan sesuatu yang manis menurutnya.


Dan peristiwa semalam pun kembali terulang, Arzan benar-benar memulai menerapi bibir Tiara....


Perlahan mami Ratna menutup kembali pintu kamar Qiana pelan, dia bermaksud untuk pamit pada menantunya karena akan pergi ke rumah adiknya. Mami Ratna langsung memasuki kamar cucunya karena melihat pintu yang sedikit terbuka. Tapi urung saat melihat sang putra tengah beraksi mengawali sarapan paginya.


Seulas senyum menghiasi wajah wanita paru baya yang masih terlihat cantik dan enerjik itu. Hatinya menghangat, bahagia mengetahui putra semata wayangnya kini mulai kembali membuka hatinya untuk cinta yang lain.

__ADS_1


"Berbahagialah sayang..." ucapnya pelan,


__ADS_2